Namaku Gina aku ibu rumah tangga mempunyai 2 orang anak balita berumur 4tahun dan 2tahun, kami tinggal di desa yang terpencil.
Aku punya pekerjaan sampingan di sela sela mengurus anak dan rumah yaitu menjual ketela pohon atau biasa di sebut singkong di desaku.
Bermodalkan timbangan gantung jadul dan singkong kulakan dari panen tetangga sebelah rumah banyak pedagang jajanan membeli singkong di rumah kami.
Kemarin ada anak tetanggaku yang tiba-tiba kejang dan matanya melotot terus seakan-akan dia sedang memperhatikan sesuatu dan ketakutan.
Orang tuanya memanggil orang pintar yang biasa di panggil Ki dukun di desa kami.
Setelah orang pintar itu datang dan mengobati anak itu dengan jampi jampinya juga beberapa macam sesajen yang ditaruh di bawah pohon beringin besar di ujung jalan desa kami akhirnya anak itu kembali tenang dan sembuh dari sakitnya.
Sakti dan pintar ya Ki dukun itu? Itu lah sebabnya warga desa kami tidak begitu mempercayai Dokter.
Jangankan Dokter Imunisasi pada balita pun di desa ini jarang ada yang datang ke posyandu untuk memberikan imunisasi pada anak anaknya.
Hari ini tanggal 5 waktunya imunisasi di desa kami, aku sebagai warga dan ibu yang baik pun bersiap untuk memberikan imunisasi lengkap untuk anak keduaku.
Anak pertamaku dulu tidak mendapatkan imunisasi lengkap karena jarak rumah kami yang sangat jauh dengan tempat posyandu jalanan juga lumayan sulit untuk di lalui serta dulu aku masih satu rumah dengan mertua yang tidak begitu mementingkan imunisasi, katanya kalau anakku sakit ada Ki dukun yang bisa mengobati.
Aku menutup pintu rumah dan menguncinya karena tidak ada orang di rumah, suamiku kerja jadi tukang bangunan pulangnya nanti sore tapi biasanya setiap siang juga pulang untuk makan siang.
Aku gendong anak keduaku dan aku tuntun anak pertamaku, kami meliwati jalan yang lumayan licin karena semalam hujan, meliwati pematang sawah, untungnya anak pertamaku pintar dan kami pun berhasil melewati jalan itu hingga kini kami sudah sampai di dekat pohon beringin besar di ujung jalan desa kami yang katanya angker, di bawah pohon itu banyak terdapat sesajen aku menggenggam erat tangan kecil putraku dan mempercepat jalan kami.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 45 menit kami sampai di tempat posyandu, aku pun antri untuk mengimunisasi anakku.
Putraku terlihat sedang asyik bermain sendiri hingga tiba giliran adiknya di imunisasi dia pun datang mendekatiku.
Aku bersiap siap untuk memasukkan adiknya ke dalam sarung yang di gantung pada alat penimbang untuk menimbang anak keduaku tapi tangan putraku menghentikan tindakanku.
"Bu jangan ... ayo pergi dari sini! Bawa adik pergi," ucap putraku sambil menarik tanganku.
Mata putraku melihat sekeliling dan sesekali melihat bidan bidan yang bertugas di posyandu itu.
Putraku seakan akan ketakutan entah apa yang dia takutkan.
"Iya Kak ... kita akan pulang tunggu sebentar ibu mau nimbang adik dulu," jawabku lembut agar putraku kembali tenang.
Bukannya tenang putraku semakin menjadi dia mendorong kursi kursi plastik yang ada di sana dan melemparnya ke segala arah serta terus menangis dan menjerit sejadi-jadinya.
Kami semua yang ada di sana bingung, kami. mencoba menenangkan tapi tidak berhasil.
Karena melihat kakaknya yang terus menangis putri keduaku pun ikut menangis juga, aku semakin bingung di buatnya.
Tetanggaku yang berada di sana pun ikut kebingungan dan dia pun memberi tahuku sesuatu yang semakin membuatku panik.
"Gin, apakah tadi kamu liwat bawah pohon beringin besar di ujung jalan?" tanya tetanggaku itu.
"Iya Bu, memangnya kenapa?" tanyaku.
"Waduh Gin gawat ... jangan jangan anakmu kesurupan, kemarin keponakanku kesurupan juga katanya di ganggu penghuni pohon itu," ucap tetanggaku itu.
Aku yang panik dan melihat anak pertamaku yang terus menangis dan menarik-narik tanganku mengajak pergi dari sana, dan sesekali melempar kursi ke arah petugas posyandu akhirnya aku memutuskan untuk membawa pulang anak anakku.
Aku gendong kedua anakku dan aku berusaha menenangkan mereka berdua yang terus menangis.
Aku tiba di bawah pohon beringin itu lagi aku dekap kedua anakku dengan erat, aku bacakan ayat suci Alquran yang aku bisa berharap jin dan setan penghuni pohon itu tidak merasuki anak anakku.
Aku percepat langkah berharap cepat sampai rumah, ini sudah jam 12 biasanya suamiku sudah pulang dan akan kembali bekerja jam 12,30 aku berharap ketika aku sampai di rumah nanti suamiku masih ada di rumah.
Suamiku sosok yang realistis dia tidak begitu percaya dengan namanya kesurupan atau kerasukan tapi mau gimana lagi aku tinggal di desa terpencil seperti ini mau tidak mau aku pun percaya pada kata kata orang desa ini karena aku sudah pernah melihat sendiri orang kesurupan.
Penampilanku sudah tidak layak lagi kerudung yang aku pakai sudah tidak berbentuk, tubuhku basah oleh keringat karena menggendong dua anak sekaligus, apalagi dengan medan jalanan yang lumayan sulit.
Untunglah ketika aku sampai di rumah suamiku masih ada di rumah, ketika melihatku kerepotan menggendong kedua anak kami yang dalam kondisi menangis keduanya diapun menghampiriku dan mengambil anak pertamaku membantu menenangkan.
Anak pertamaku berada di gendongan ayahnya, aku pun menenangkan putri kami.
Aku menyusuinya hingga merasa tenang dan tertidur dalam gendonganku.
Aku lihat putraku pun sudah sedikit tenang dalam gendongan ayahnya, suamiku mengelus punggung putranya dan mengajaknya berbicara.
"Tadi cerita Ibu Kakak mengamuk di posyandu ya, memangnya kenapa kok sampai Kakak mengamuk, Nak?" tanya suamiku lembut.
Aku melihat anak pertamaku menyeka air matanya dan mulai membuka mulutnya.
"Kakak ingin menyelamatkan adik Yah, Ibu akan menjual adik tadi adikku di timbang sama ibu mau di jual sebab itu aku mengamuk agar Ibu tidak jadi menjualnya dan aku berhasil Yah," jawab anakku.
Suamiku yang mendengar jawaban anakku pun tertawa sambil melihat ke arahku.
Sebenarnya aku pun ingin tertawa tapi apalah daya tubuhku terlalu lemas, Nasibku sungguh tragis aku sudah panik dan berlarian sampai tidak menghiraukan lagi penampilanku karena beranggapan anak pertamaku kesurupan ternyata aku di sangka mau menjual adiknya karena sang adik di timbang menggunakan timbangan singkong yang aku gunakan di rumah.
Oh nasib ... nasib.