Judith, gadis yang tidak begitu populer di sekolah. Namun hatiku memilihnya dari ribuan perempuan di Kota Jaden.
***
Sudah satu minggu Judith absen dari sekolah. Jujur, aku sudah mencarinya kemana-mana. Namun tidak kunjung bertemu. Bahkan kedua orang tuanya pun tak tahu, mereka sudah melaporkan hilangnya Judith kepada polisi. Sekarang pihak yang berwajib sedang berjuang melakukan pencarian.
Sekarang aku sedang melakukan pekerjaan paruh waktu di mini market dekat rumah. Sejak hilangnya Judith, aku menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Aku harap Judith baik-baik saja. Ya Tuhan, aku tidak pernah menyangka hal ini terjadi. Seandainya tahu, aku pasti sudah menyatakan cinta kepadanya. Kumohon! aku butuh kesempatan kedua.
"Hei Daryl!" suara wanita mengagetkanku yang tengah melamun. Lantas aku pun menatap sang pemilik sumber suara.
Deg!
Jantungku langsung berdetak kencang tatkala melihat kebaradaan Judith di depan mata. Dia tersenyum lebar dengan wajah cantiknya. Secepat inikah Tuhan mengabulkan doaku?
"Ju-Jude! kau kemana saja? semua orang mencari-carimu!" ujarku sembari berjalan mendekatinya.
"Hanya ke suatu tempat yang tenang. . ." sahutnya pelan.
"Ya sudah, aku akan mengantarmu pulang!" ajakku sambil melangkah menuju pintu.
"Daryl! aku tidak ingin pulang. . ." lirih Judith, yang sontak membuatku kembali berbalik untuk menatapnya.
"Ke-ke-kenapa?" tanyaku.
"Tidak ingin saja. . . pokoknya aku akan jelaskan nanti! tetapi kamu harus ikut denganku!" terang Judith yang tengah memandangku dengan wajah sendunya.
"Tentu!" aku langsung menganggukkan kepala, toh aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. "Tunggulah! aku akan ijin dulu!" sambungku sambil melepaskan topi khas karyawan mini market.
***
Malam tampak mendung tanpa adanya bintang di langit, kala itu aku dan Judith tengah menyusuri jalanan bersama. Aku tidak bisa menahan diri untuk terus melirik wajah cantiknya. Aku sangat merindukannya!
"Jadi, kamu mau aku melakukan apa Jude?" aku mencoba memecah kesunyian yang terjadi.
"Menghabiskan waktu denganku!" Judith menghentikan langkahnya, lalu menatapku dengan pancaran mata yang meneduhkan. Apa tatapan itu memiliki arti tersembunyi? aku harap begitu.
"Daryl. . . kau mau kan?" sambungnya lagi.
"Benarkah? kenapa. . . kenapa aku Jude? masih banyak lelaki yang lebih keren dariku, iyakan?" tanyaku serius.
Judith terlihat menghela nafas panjang dan berucap, "Karena. . . aku mempercayaimu, selain itu aku juga. . . menyukaimu. Maksudku, aku mencintaimu Daryl! aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu!"
Mataku seketika membulat, apa ini mimpi? bukan kan? astaga Judith juga menyukaiku! keajaiban apa yang telah aku dapatkan sekarang?
"Kau yakin Jude? aku kira kamu menyukai Julian!" aku mencoba memastikan.
"Apa? Julian? haha! dia itu sepupuku Daryl. . . oh iya, rahasiakan ini ya! dia tidak ingin semua orang tahu bahwa aku salah satu keluarganya!" terang Judith santai. Senang rasanya melihat tawanya kembali.
"Oh aku kira dia. . . hehe!" aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal, karena merasa malu.
"Terus?" ujar Judith.
"Terus? apa?" aku merasa bingung.
"Kau tidak menyukaiku ya?. . ." raut wajah Judith kembali berubah menjadi serius.
"Hah! siapa bilang! aku sangat menyukaimu!. . . aku suka segalanya tentang dirimu Jude! . . . aku suka tawamu, rambutmu, wajahmu, bahkan aku suka saat dirimu bermain musik. Aku tahu buku favoritmu, dan juga makanan favorit. . ."
Aku berhenti bicara ketika Judith menggenggam erat jari-jemariku erat. Dia kemudian tersenyum tipis dan berucap, "Sudahlah! aku percaya, ayo kita pergi!" dia berjalan lebih dulu ke depan. Sedangkan diriku masih berusaha mengatur detak jantung yang masih berdebar tidak karuan. Kemudian segera menyamakan langkah dengannya.
***
"Daryl! kamu bersedia memakai mobil ayahmu kan demi diriku?" ujar Judith. Awalnya aku agak ragu, tetapi apa salahnya sekali-kali membangkang aturan orang tua. Toh aku sudah menjadi anak yang baik dan patuh sejak lahir. Alhasil aku dan judith segera pergi menggunakan mobil cadilac ayah.
"Daryl! kau ternyata sangat mahir mengemudi!" ucap Judith dengan raut wajah semringah.
"Haha! tentu saja! aku sering berlatih bersama Mr. Smith!" sahutku dengan semangat yang menggebu.
"Kamu anak yang beruntung punya seorang ayah sepertinya!" imbuh Judith.
"Aku rasa, akulah yang paling beruntung saat ini!" pekikku sembari melajukan kemudi. Namun Judith hanya tertawa malu mendengar ocehanku.
"Sekarang, beritahu aku, kita akan kemana?" tanyaku.
"Ikuti saja arahanku, pertama-tama kita ke cafe dulu deh! aku yakin kamu pasti belum makan!" lanjut-nya lagi. Tanpa pikir panjang aku pun setuju. Apa yang tidak sih buat seorang Judith!
***
Aku duduk saling berhadapan dengan Judith. Sekali-kali kami bertukar pandang satu sama lain. Cinta Judith kepadaku terbukti dari rona merah di pipinya. Apa wajahku juga terlihat begitu? lantas aku pun menyentuh wajah seraya memalingkan muka darinya.
"Kenapa? ada yang salah?" tegur Judith yang merasa aneh melihat gelagatku.
"Tidak apa-apa! aku hanya melihat jalan raya, sepi ya!"
"Idih! ya iyalah sepi, ini kan sudah jam sepuluh malam!"
"Benar juga, hehe. . ." ungkapku, lalu melontarkan pertanyaan untuknya, "Jude, boleh aku bertanya?" aku menatap Judith serius. Dia pun segera memusatkan seluruh atensinya kepadaku.
"Kenapa kamu pergi dari rumah? apa terjadi sesuatu dengan kedua orang tuamu? atau ada hal lainnya?"
Wajah Judith kembali sendu, matanya mulai berembun. Alhasil aku merasa tidak tega melihatnya dan segera berucap, "Tidak usah di jawab deh, yang penting kau kembali sekarang! iya kan?"
Judith hanya membalas dengan senyum tipisnya. Dia terdiam seribu bahasa.
***
Malam semakin larut, syukur saja cafe yang kami datangi buka 24 jam. Aku dan Judith larut dengan suasana, kami juga sangat menikmati suguhan musik di cafe tersebut.
"Daryl!" Judith tersenyum smirk.
"Apa?" aku menatapnya lekat.
"Aku tantang kamu bernyanyi untukku!" ujarnya masih dengan smirk-nya. Tanpa pikir panjang aku pun langsung berdiri dan berjalan menaiki panggung. Judith tampak terkesiap dengan mulut yang menganga. Dia menatap tak percaya.
Setelah memberitahu pemain musik lagu yang akan di nyanyikan, aku pun langsung memegangi mic. Mataku hanya tertuju pada Judith seorang. Gadis itu terlihat tersenyum lebar.
Dengan suara yang pas-pasan, aku menyanyikan lagu Runaway Baby-Bruno Mars dengan percaya diri. Judith tertawa sampai terpingkal-pingkal kala melihatku bernyanyi. Berbeda dengan penonton lainnya yang tampak terganggu dengan penampilanku.
Lagu selesai beberapa saat kemudian. Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun segera turun dari panggung. Judith masih saja tertawa bahkan hingga air matanya keluar. Melihatnya tentu aku juga ikut tertawa. Aku akui, tertawa memang menular terutama dari gadis yang kita sukai.
Tanpa diduga Judith menyeretku keluar dari cafe. Otomatis aku pun mengikutinya. Saat berada diluar, dia membawaku ke dalam pelukannya, masih dengan sisa tawa yang ada.
Perlahan kami mulai terdiam, masih dalam keadaan saling memeluk satu sama lain. Jantungku berdetak bagai gendang yang ditabuh. Kemudian Judith melepas pelukannya pelan, sekarang kami saling menatap lekat satu sama lain.
Tanpa pikir panjang, aku segera mengecup keningnya dengan lembut. Judith terlihat memejamkan mata. Tidak lama kemudian, Judith tiba-tiba saja mendorongku menjauh.
"Ada apa Jude?" tanyaku dengan dahi yang berkerut.
"Aku tidak ingin kamu menyesal!. . . sekarang lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita saja!" jelasnya, yang tentu membuatku bingung.
"Apa? menyesal? aku tidak akan pernah menyesal memiliki seorang gadis sepertimu!" pekikku pada Judith yang sudah berjalan menuju mobil. Dia pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku dengan air mata yang sudah berlinang. Aku segera berlari menghampirinya dengan perasaan khawatir.
"Judith! katakan padaku apa yang mengganggumu?" tanyaku serius.
"Baiklah! aku akan jujur," Judith menjeda perkataannya sesaat, lalu kembali melanjutkan, "aku sudah mati Daryl!"
Perkataan anehnya sontak membuatku tertawa geli. "Apa? kamu jangan mengada-ngada Jude! mana ada hantu bisa senyata ini!" terangku seraya menunjuk ke arahnya.
"Maka itu, aku mengajakmu pergi hari ini! ayo masuklah ke mobil!" ucap Judith, yang langsung membuatku menghentikan tawa. Aku pun masuk ke dalam mobil dengan memasang wajah cemberut.
Aku merasa kecewa, sepertinya Judith menyembunyikan sesuatu. Tetapi dia berusaha terus menutupinya. Mencintaiku? sudah mati? aku sekarang ragu untuk percaya.
"Pergilah ke hutan Jaden sebelah utara!" titah-nya.
"Kenapa ke sana?" tanyaku menatapnya dengan sudut mata.
"Sudah ku-bilang, penjelasannya ada di sana!"
"Terserah!" balasku sembari menjalankan mobil.
***
Dua jam kemudian, aku dan Judith tiba di tempat tujuan. Judith terlihat berjalan lebih dulu memasuki hutan tanpa penerangan sedikit pun.
"Jude! berhenti! apa kau gila? menorobos hutan tanpa penerangan?!" aku segera bergegas mengambil senter yang tersimpan di bagasi.
Sekarang kami berdua menyusuri hutan. Perasaanku mulai tidak enak, sedari tadi Judith tidak bicara sama sekali. Apa aku sudah percaya dirinya sudah mati? tidak! tidak! aku harap semuanya tidak benar!
Setelah lumayan lama berjalan, Judith tiba-tiba menghentikan langkah dan berbalik untuk menatapku. "Daryl, aku benar-benar minta maaf. . . aku tidak menyangka dari semua orang yang aku kenal dirimulah yang terpilih! aku mohon, jalanilah kehidupanmu dengan baik setelah kamu mengetahui yang sebenarnya. . ." ungkap Judith dengan isak tangisnya.
"Judith? kenapa? ada apa? aku masih belum paham?" aku mengerutkan dahi.
Perlahan tangan Judith menunjuk pohon berukuran sedang. "Di sanalah penjelasannya!" ujarnya. Tanpa ba-bi-bu, aku pun segera menuju pohon itu.
Ketika sampai di sana, indera penciumanku langsung disambut dengan bau busuk yang menguar. Lantas aku segera mencari sumber bau tersebut. Namun bunyi lalat yang dapat terdengar jelas seketika menarik perhatian.
Bisa terlihat di semak-semak belukar terdapat lalat yang beterbangan. Aku ingin melangkah, tetapi ragu karena perasaan tidak enak yang sedari tadi melanda.
"Jude?" aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Dan Judith tiba-tiba saja menghilang. Jantungku mulai berpacu lebih cepat. Akhirnya aku putuskan untuk melihat benda apa yang tengah dikerubuti lalat itu.
Pupil mataku membesar tatkala melihat mayat seorang perempuan, yang mengenakan baju sama persis dengan Judith tadi. Mayat tersebut tampak sudah membusuk dengan darah beku yang sudah berceceran di rumput.
"TIDAK! TIDAK! Ini tidak mungkin! JUDITH!!! katakan padaku ini hanya mimpi!" aku berteriak histeris dengan air mata yang perlahan menetes.
"Judith!" tangisku sudah sampai sesegukan. Aku menyesal, harusnya aku mengungkapkan cinta padanya sejak pertama kali hati ini memilihnya.
~SELESAI~