Aku Dhira Adhitama aku terlahir di keluarga yang sederhana.
Dan kekasihku Leo Wijaya yang terlahir dari keluaraga berada dan ternama.
Cinta kami awalnya dilarang oleh kedua orang tua Leo. Namun dengan sekuat tenaga Leo berusaha dan mampu meluluhkan hati orang tuanya. Kami sudah berpacaran hampir tiga tahun lebih.
Di suatu hari tepatnya berada di dalam rumah sakit Healthy aku terbaring di ranjang rumah sakit berada di ruangan VIP itu semua karena permintaan Leo awalnya aku menolak tapi Leo memaksa. Sebelumnya aku berada di taman Kenangan bersama Leo saat itu Leo melamarku untuk menjadikanku sebagai istrinya dan setelah aku menerimanya tiba tiba aku pingsan dalam pelukannya dan hari ini dimana semua harapanku seketika hancur karena dokter memfonis diriku terkena kanker otak stadium tiga. Aku merasa hidupku tak lagi lama.
Sebelumnya aku diberikan begitu banyak kebahagiaan dan seketika hancur karena ini.
"Kamu jangan patah semangat ya aku yakin kalau kamu akan sembuh" ucap Leo menyemangati
"Aku gk yakin Le aku merasa aku gk akan bisa bertahan lebih lama lagi" ucapku putus asa
Leo menunduk sedih dan aku pun hanya bisa pasrah jika aku harus mati dan cinta kami harus terpisah seperti ini aku yakin Leo akan mendapatkan penggantiku yang lebih baik lagi
Satu minggu sudah aku dirawat di rumah sakit ini dan Leo selalu bergantian menjagaku bergantian dengan Celina sahabatku
Aku dikota ini sendirian karena aku pergi merantau ke luar negeri aku pergi ke Singapura sementara kedua orang tuaku di Indonesia
"Aku pergi dulu ya sayang besok aku akan kembali" ucap Leo dan aku mengangguk
"Maafkan aku karena tidak bisa membahagiakan kamu seutuhnya maafkan aku jika aku mengecewakanmu" lanjut Leo kemudian mencium punggung tanganku
Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dari sikap Leo saat ini namun perasaan itu segara kutepis
"Iya hati hati ya dijalan" ucapku tak lama Celine masuk
"Hai Dhir gimana keadaanmu" tanya Celine
"Seperti yang kamu lihat saat ini" ucapku
"Mm Le kamu... " ucap Celina terputus
"Iya kenapa?" tanya Leo
"Bisa kita bicara berdua" tanya Celina
"Ok, sayang aku keluar dulu ya" ucap Leo dan aku mengangguk
Entah apa yang mereka bicarakan aku tak ingin tau sama sekali
Sementara diluar ruangan Dhira berdirilah Leo dan Celina
"Apa benar yang aku liat di..."
"Benar" potong Leo
"Apa kau akan menghinati Dhira" tanya Celina
"Mau bagaimana lagi ini permintaan kedua orang tuaku dan aku gk bisa mengelak" ucap Leo gusar
Leo mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Ah shitt!!" umpat Leo
"Bahkan aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan" ucap Leo
Celina hanya menghela nafasnya mendengar cerita Leo ia kasihan pada sahabatnya Dhira sekaligus merasa bersalah
"Tapi aku tak bisa menyembunyikan kebenaran ini dari Dhira bagaimanapun dia harus tau entah seberapa kecewanya dia nanti" ucap Celina
"....."
"....."
Setelah berbicara Celina kembali masuk ke dalam ruangan Dhira sementara Leo pulang ke kediamannya
"Cel... Leo..."
"Dia sudah pulang" jelas Celina
" Oh"
"Lebih baik kamu istirahat ini sudah malam dhir" ucap Celina dan tak lama akupun terlelap
Keesokan harinya
"Leooo...." jeritku tanpa sadar dan bangun dari tidurku
"Dhir kamu kenapa" tanya Celina
"Tidak aku hanya bermimpi buruk" ucapku
Celina memberiku segalas air putih agar aku lebih tenang
Disaat aku meminum air putih tanpa sengaja mataku mengarah kearah jam dinding
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi tapi kenapa Leo masih belum sampai
"Cel.. Leo kemana kenapa belum sampai" tanyaku penasaran
Celina seketika gugup dan membuatku curiga
"Dia.. mmm... dia lagi ada pekerjaan sedikit di kantor jadi dia selesaikan dulu nanti baru kesini" ucap Celina
-Maafkan aku Dhira maaf karena telah berbohong ke kamu- batin Celina
Entah kenapa aku setengah percaya dan setengah tidak dengan penjelasan Celina
Aku mengambil Handphone ku yang berada di atas nakas
Aku mengirim beberapa pesan pada Leo namun sepertinya handphone nya mati
"Dhir aku harus ke kampus dulu apa kamu gk masalah aku tinggal sendirian" tanya Celina
" Aku tidak masalah kamu bisa pergi" ucapku
"Baiklah aku pergi dulu" ucap Celina kemudian pergi
Aku kembali membuka handphone namun aku dikejutkan oleh sebuah berita
Dengan cepat aku pergi keluar dari ruangan ini namun aku dihadang oleh seorang perawat
"Anda mau kemana nyonya" tanyanya
"Aku harus pergi" ucapku tergesa gesa
" Biarkan kami mengikuti nyonya" ucapnya
" Terserah cepatlah" ucapku tak sabar
Leo telah meminta pihak rumah sakit untuk menjagaku dengan benar jika tidak maka rumah sakit ini akan ia tuntut
Dalam waktu sepuluh menit aku telah sampai di tempat yang aku tuju
Dengan memakai pakaian rumah sakit aku masuk ke dalam sebuah ruangan yang tengah mengadakan sebuah acara
Sebuah acara yang membuat hatiku begitu sakit
"Celina.." lirihku
Dan disisi lain aku melihat sosok tampan yang sedang menyematkan sebuah cincin ke tangan seorang wanita cantik yang ia kenal
"Leo.." tak terasa air mataku jatuh membasahi pipiku
Hatiku begitu hancur seakan semua harapan hidupku telah hilang
Leo saat ini bertunangan dengan Fira yang merupakan pengusaha yang cukup ternama
Leo melakukan ini karena desakan dari kedua orang tuanya
Ia harus terpaksa melakukan ini dan setelah cincin itu tersemat di jari manis Fira,, Leo merasa sangat bersalah pada kekasihnya Dhira dan dia menatap ke arah lain agar tidak menatap wajah Fira yang lama lama membuatnya semakin merasa bersalah pada Dhira
Namun ternyata dia dikejutkan dengan kehadiran sosok yang membuatnya merasa bersalah. DHIRA. Ya Dhira berdiri dengan menggunakan pakaian rumah sakit sambil menangis
"Dhira" lirih Leo
Dhira berlari keluar dari ruangan itu yang membuatnya sesak
Bahkan satu satunya alasan yang membuatnya semangat hidup saat ini telah menghianatinya
Leo berlari mengejar Dhira namun tangan Fira menghentikannya
"Kau mau kemana" tanya Fira lembut
" Bukan urusanmu" ucap Leo kasar
Fira menunduk lesu ia nerasakan sakit hati karena telah ditinggal sendiri di acara pertunangannya dan hal itu karena wanita lain
Hati wanita mana yang tidak sakit melihat tunangannya tega meninggalkan dirinya demi wanita lain
Di lain sisi Dhira kembali masuk ke dalam mobil rumah sakit yang dibawa oleh seorang petugas yang menjaganya
Air matanya tak bisa berhenti melihat kenyataan yang baru saja ia dapati
Dan yang membuatnya kecewa lagi sahabatnya Celina menutupi ini semua dari dirinya
Namun semua ini harus ia hadapi karena dia tidak bisa lari dari kenyataan ini
Dhira berharap jika ia hanya bermimpi seperti tadi pagi tapi kenyataannya tidak
Ini semuanya nyata...
Leo pergi mengejar Dhira menggunakan mobilnya dia melaju dengan sangat cepat agar bisa menyusul mobil Dhira
"Dhir maafkan aku" ucap Leo
Saat hendak menyalip kendaraan yang ada di depannya tiba tiba sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggi
Brakkkk.....
Kecelakaan tak bisa dihindari mobil Leo benting setir dan menghantam sebuah pohon namun truk tersebut ternyata menabrak mobil Leo hingga terbalik
"Leooo....." jerit seorang wanita yang merupakan ibu Leo
Ternyata kepergian Leo diikuti oleh Kedua orang tua Leo bersama Fira dan juga Celina yang beda mobil
Di mobil lain
"Awww..." Dhira merasakan sakit di kepalanya
"Nyonya" teriak perawat yang ada disampingnya
Namun Dhira pingsan dan kepalanya membentur kaca mobil
Hanya sebuah benturan namun mengeluarakan darah
"Dhira.." ucap Leo lirih dengan darah membasahi kepalanya dan sekujur tubuhnya
Kini keadaan Leo dan Dhira sama sama kritis
Leo dan Dhira segera dilarikan ke rumah sakit dan secara bersamaan Leo dan Dhira berada di rumah sakit secara bersamaan
Celina yang melihat Dhira berada di atas brangkar membuatnya terkejut
"Dhira bagaimana bisa dia seperti ini" ucap Celina
"Kenapa bisa bersamaan" lirih Fira
"Apa ini yang dinamakan cinta sehidup semati" lirih Fira lagi
Jujur hati Fira mencelos sakit melihat hal ini
Leo dan Dhira dibawa ke IGD dengan tergesa gesa diikuti oleh keluarga Leo dan juga sahabat Dhira, Celina
"Maafkan aku Dhir" ucap Leo lirih lalu pingsan
Dua puluh menit kemudian seorang dokter keluar setelah memeriksa keadaan Dhira dan juga Leo
"Maaf saya sudah berusaha semampu saya tapi tuhan berkehendak lain" ucap sang dokter
"Maksud dokter apa" tanya ibu Leo
"Nyawanya tidak terselamatkan" jelas sang dokter
"Nyawa siapa yang tidak tertolong" kini Celina angkat bicara
"Nyawa nona Dhira dan tuan Leo" jawab sang dokter
Kini di depan ruangan IGD hujan air mata karena kehilangan sosok yang mereka cintai
Tara yang merupakan ibu dari Leo dan Deev ayah dari Leo masuk ke ruang IGD
"Leo maafkan mama karena sudah memaksa kamu jika saja mama mau mengalah sedikit saja pasti ino semua tidak akan terjadi" ucap Tara dengan derai air mata
"Sudahlah semuanya telah terjadi kita sudah kehilangan Leo dan kita harus ikhlas" ucap Deev menenangkan
Kini Tara dan Deev beralih ke Dhira yang berada di sebelah Leo
"Nak maafkan tante sudah memisahkan kamu dari cintamu"
Tara melihat ke jari manis Dhira disana sudah tersemat sebuah cincin berwarna emas dan ia yakini jika itu dari Leo
"Bahkan kalian sudah bertunangan tapi tante..." Tara kembali menangis
Kini hanya ada penyeselan dan semua telah terjadi
"Kau harus menanggung banyak beban karena tante,,, tante tau jika kamu menderita sebuah penyakit tapi tante hanya bisa membuatmu tersiksa dengan memisahkanmu dari Leo"
"Terlambat semuanya telah berakhir meskipun sekuat tenaga kau memisahkan mereka tapi mereka malah bersama selamanya di keabadian" ucap Celina yang ikut masuk dan mendengar kata kata sesal dari Tara
( Terima kasih tuhan telah menciptakan sosok lelaki yang begitu baik di dunia ini dan terima kasih dunia telah menjadi tempat kebahagiaanku sesaat. Aku bersyukur bisa bahagia sebelum kematian menghampiriku dan kini aku sudah berada di alam lain bersama dengan lelaki itu. Lelaki yang begitu kupuja dan ku cintai. Maut membawa kita untuk bersatu. Cintaku untukmu Cinta sehidup semati - Dhira)
( Kebahagiaanku di dunia berawal sejak aku bertemu denganmu wahai sang pujaan hati. Kehampaanku berubah menjadi warna yang cerah dalam keseharianku. Kau semangat hidupku. Wanita yang mampu membuatku tak bisa berpaling. DHIRA. Namamu telah terukir di dalam hatiku yang paling dalam. Nafasku berhembus karena adanya dirimu. Jantungku berdetak hanya karenamu. Dan hingga kini jantungku tak lagi berdetak karena dirimu telah pergi. Namun kepergianmu tidaklah sendiri, ada aku yang ikut bersamamu - Leo )