Aku duduk di tepi danau yang terlihat tenang, dengan secangkir kopi hangat aku seruput perlahan. Sepasang mataku mengadah ke langit berawan biru, setelah sekian lama di masa laluku, setiap hariku hanya mendapatkan malam hujan yang dingin.
Kata Kunci : Peramal -Malam Hujan Yang Dingin- Cafe
***
Aku menatap ujung sepatu yang tenggelam dalam genangan air hujan. Di bawah payung bewarna merah, aku menunggu seseorang yang telah berjanji padaku.
Malam makin larut, malam makin dingin. Hujan terus membasahi bumi dengan air matanya. Pria itu belum datang. Tepatnya, dia telah ingkar janji untuk kesekian kalinya.
Aku lelah menunggu. Untuk pertama kalinya aku melangkah mundur sebelum fajar datang. Aku melempar payung ke tanah, dan membiarkan air mata langit membasahi diriku dan mengaburkan air mataku yang terus jatuh menetes bersama-sama ke tanah membentuk genangan air kotor yang berlumpur.
Aku meninggalkan hujan , telapak kakiku menginjak setiap genangan air mata langit. Aku memutar langkah ku, kembali masuk ke sebuah cafe Devilion. Meminta seseorang pelayan yang menyambutku, untuk menggantung mantelku yang basah.
Aku berjalan masuk di atas karpet yang tergulung mewah menyambut kakiku, dan dengan banyak suara burung gagak terdengar menjerit takut melihat kehadiranku muncul dari gelapnya malam. Setiap gagak terlihat bertengger pada pundak tuannya masing-masing. Lalu, salah satu pelayanku segera menyerahkan satu gagak yang terlihat sangat takut untuk bertengger di pundak kiriku. Hanya dengan sihir, aku mampu menundukkan dan membuat mulut burung gagak terkunci, dan membisukan burung gagak itu dalam keheningan panjang dan kesuraman yang aku miliki.
Setiap orang yang duduk maupun berdiri, menatap kehadiranku dengan takjub. Aku adalah seorang peramal tersohor di negeri ini dengan kekuatan supranatural yang dahsyat, dan aku adalah pemilik cafe perkumpulan para okultisme sadis dan peminta tumbal.
Cafe menjadi senyap. Setiap gelas tinggi yang mereka pegang, mereka acungkan tinggi. Isinya adalah darah segar yang akan siap mereka tumpahkan dalam mulut mereka.
Aku mengedarkan seluruh mataku menatap semua yang hadir dalam Cafe Devilion, membuat setiap mata yang memandangku, agar tertunduk segera takut melihat kehadiranku.
Hanya sepasang mata yang berani menatapku dengan lantangnya, dengan seberkas cahaya yang menyembunyikan dirinya sebagai pengamat dewa selama ini. Tetapi, sepasang mata itu hanya menjadi momok rindu yang menyakitkan ku. Dia tidak pernah datang lagi, hanya sekedar menyapa.
Aku menghela napas. Menuju altar persembahan. Aku memutuskan menyerah menunggu di setiap malam hujan yang dingin setiap tanggal 15 Maret. Aku menyerah, dia tidak datang. Dia lenyap bagai di telan bumi. Rasanya sakit untuk mengenalnya, jadi aku memutuskan untuk melupakannya.
"Aku akan kembali ke masa lalu, dan menghapus dirimu," tegarku berdiri di Altar dengan sepasang tangan menaikkan pastula dengan kepala ular menjadi mahkotanya.
Aku meraih burung gagak hitam, dan Jleb! Aku menusuk ujung pastula menembus daging burung gagak.
Kwak! Kwak ! Kwka! Jerit burung gagak nyaring untuk terakhir kalinya.
Akupun mengangkat tinggi ke udara pastula dengan burung gagak yang menancap pada kepala pastula yang melubangi burung gagak.
Duarrr! Suara petir menggelegar dan pekak terdengar pecah seakan menembak sesuatu ke bumi, kala ujung pastula aku angkat tinggi seakan menunjuk penguasa semesta di langit.
Duaaar! Tembakan petir ke dua yang mengejutkan jantungku kala kilatan cahaya itu terlihat begitu jelas turun dari atas kepalaku, dan ragaku perlahan seperti telah di dorong jatuh ke belakang menabrak lantai.
***
Aku merasakan kepalaku berdenyut sesaat setelah ledakan di atas kepalaku. Perlahan, rasa pusing dan berdenyut itu hilang, kala napasku terembus hilang, dan jantungku berhenti berdetak, dan petualangan itu dimulai. Aku kembali di hari di tiga Tahun Yang Lalu mengenalmu.
Aku membuka mataku perlahan dan aku menemukan ujung sepatu pria yang aku kenal. Sepatu Pantofel pria bewarna cokelat tua dengan aksen huruf "D" pada tumit sepatu yang menjadi ciri khasnya.
'Aku kembali ke masalalu, dan bertemu dirimu lagi, untuk pertama kalinya,' pekikku ingin memeluk kaki pria ini. Tetapi, bukankah aku bertekad menghapus dirinya dari ingatanku. Aku tidak harus memeluk. Namun, harus meludah wajahnya. Aku sangat mengenal pria ini, dia menyukai keindahan yang aku miliki dan kelembutan setiap tutur kataku.
Aku bangkit berdiri, mengurungkan niatku dan memilih menjauh darinya. Aku memilih duduk di sudut terpojok dalam cafe. Tiga tahun yang lalu, Cafe ini bukan milikku. Namun, milik seorang teman baikku.
Aku menggengam cangkir kopi dalam tanganku yang terasa membeku, dan di saat itu sepasang mata terasa mengamatiku. Aku memutuskan untuk diam dan tidak menegur kehadiran Dimitri yang terlihat tertarik akan sosokku diam.
Seperti tiga yang lalu, dia datang padaku dengan tatapan tajam dan mengulurkan tangannya. Jika dulu, aku menerima uluran tangan itu. Maka, saat ini aku menepis dingin tangan tersebut dan berkata sombong, "Aku tidak bisa memberikan tanganku kepada sembarang orang."
Aku bangkit berdiri dari tempat dudukku, dan menghindari tatapan tajam itu yang terasa ingin menguliti hidupku, karena telah berani mengabaikan seorang pria tehormat dengan mata hijau, yang menunjukkan betapa bangsawannya dirinya.
"Alice!" serunya mengejutkanku. Aku berhenti pada satu titik ubin. Tubuhku kaku dan aku mematung akan nama yang terlontar dari mulut pria itu. Bagaimana dia mengenalku, jika ini adalah masalalu. Dimana kami belum berkenalan. Bagaimana dia bisa mengetahui namaku?
"Alice!" serunya sekali lagi menyakinkan pendengaranku. Aku berbalik dengan ragaku yang seluruhnya bergetar. Aku menatap manik hijau itu, dia mengulas senyum garis pendek yang menunjukkan betapa dia terlihat dingin dan misterius dirinya.
"Kau masih mengenalku. Lalu, mengapa tidak kembali?" tanyaku isak. Mendekat padanya, dan menyentuh dirinya. Namun, hanya ilusi yang aku dapat. Aku tidak bisa menyentuhnya. Aku kehilangan apa yang ingin aku tangkap dalam genggaman.
"Dari awal aku hanyalah sosok yang kau inginkan, dan tidak pernah ada Alice. Aku hanyalah bagian terjantan dari dirimu. Aku hanyalah bagian maskulin dirimu. Kau menyukai kesempurnaan dirimu, dan menciptakan diriku. Aku adalah dosamu. Iblis dalam dirimu, yang kau lihat begitu tampan dan sempurna."
Aku terhenyak. "Kau adalah diriku? Bagaimana mungkin?"
"Kau mencintai dirimu sendiri, Alice. Kau hanya menganggungkan dirimu Alice."
"Mustahil!" decakku marah, dan aku mendapatkan sosok pria di depanku berubah menjadi sosok yang mengerikan dengan tubuh yang begitu tinggi menjulang menyentuh langit-langit cafe, dengan setiap jemarinya berkuku panjang dan lidah yang menjulur panjang, dengan sepasang mata yang terjahit mengatup sempurna, menyembunyikan matanya.
"Kau menjijikan!"
"Aku adalah iblis dalam dirimu. Kesombonganmu adalah raksasa bagiku." Brak! Sosok itu menjadi lebih besar menghancurkan langit dan atap cafe tersebut, dia menjulang tinggi bak menyentuh langit malam yang dingin.
"..." Aku menggertakan gigi. Tidak mungkin! Mustahil, pria yang aku puja adalah bagian diriku. Aku tidak mempercayai hal ini.
Tiba-tiba saja dia menjulurkan lidahnya yang panjang dan melilitkannya padaku, seakan-akan dia ingin meremukkan setiap sendi tulangku dengan mencengkram ketat.
"Awww! Sa-sakit!" pekikku merintih. Sosok iblis tersebut melonggarkan cengkraman lidahnya, dan menjulurkan diriku jatuh ke satu titik ubin lantai.
"Lidah ini adalah racun untuk setiap lawan dan setiap orang yang kau benci. Kau mampu menyakiti setiap lawanmu, hanya dengan satu kata. Lidah ini adalah jerat manis setiap orang. Dengan satu kata, kau mampu melenyapkan siapapun yang kau benci."
Aku menggelengkan kepalaku. Aku perlahan merangkak menjauh dari kaki besar yang terlihat tangguh dan mampu membuatku tewas di kehidupan ini hanya dalam satu kali injak.
Bergindik! Aku bergindik takut untuk pertama kalinya, pada sosok lain dalam diriku. Dia adalah iblis tampan yang aku ciptakan dan akan menghancurkan diriku sendiri.
"Sepasang mata ini telah buta semenjak lama.Karena kau akan menutup mata atas semua orang yang meminta belas kasihan dan akan setiap orang yang teraniaya. Itulah aku yang kau ciptakan!"
Aku menelan ludahku. Mendongakkan kepalaku Menatap sepasang mata yang terjahit dengan benang hitam yang terjahit sempurna di ikuti dengan darah segar yang terlihat menangis dari setiap celah daging mata yang terjahit.
Sosok itupun menunjukkan kukunya panjang dan runcing padaku. Ujung kukunya menyentuh perutku, dan terlihat mengancam nyawa. Aku berhenti bernapas sesaat.
"Kau menyukai pembunuhan yang instan. Kau tidak suka teriakan. Kau hanya suka menusuk setiap jantung dalam satu tikaman. Lalu, bagaimana dengan ini? apakah kau ingin mencoba bagaimana runcingnya kuku yang kau ciptakan ini, mencongkel jantungmu! dan aku mencabiknya dalam setiap gigiku."
Aku meludah dan berteriak, "Kau iblis dalam diriku. Tidak akan mampu membunuh tuannya. Enyahlah kau!"
"Enyah?" Sosok itu merosotkan tubuhnya mengerdilkan tubuhnya kembali menjadi sosok pria dengan postur normal dan tampan. Sepasang mata hijau dengan kilatan kehormatan bangsawan tecermin indah menyejukkan hatiku.
"Bukankah kau selalu menyebutku sebagai keindahan yang kau tunggu dan puja. Bukankah aku kekasih yang sangat kau cintai."
'Cih!' Aku bangkit berdiri dan meludah, "Aku tidak akan tertipu dengan pesona tampan penuh tipuan milikmu. Aku tidak akan terbunuh dengan mudah. Aku tidak akan tertipu!" Aku memutar langkahku, pencarian ku adalah kebodohanku dan sia-sia. Aku mencintai dosaku sendiri, mencintai kejahatan ku sendiri. Setiap apa yang jahat adalah indah di depan mataku. Namun, saat ini hati kecilku mengetukku dan meminta meninggalkan pria dengan wajah laksana dewa itu.
Aku meninggalkan cafe. Hanya malam hujan yang dingin menyambutku. Air mata langit jatuh dan menghujam basah diriku. Aku berjalan di antara setiap genangan air yang menenggelamkan telapak kakiku.
Ciprak! Ciprak! Bunyi air yang terinjak mengejar diriku. Aku berbalik dan melihat sosok pria tampan itu mengejarku, dan sepasang matanya terlihat hijau basah, menginginkanku tinggal.
"Jangan tinggalkan aku! Kau telah jauh datang, maka kembalilah padaku. Ketahuilah bukan aku yang meninggalkanmu. Namun, kau lah yang membuangku. Pungutlah aku kembali, wahai Tuan belahan jiwaku."
Aku menatap nanar pada pria dengan pesona dewa yang pernah meruntuhkan setiap hari nuraniku. Dia adalah kejahatan berselubung keindahan. Dia adalah dosa besarku. Akupun tidak ingat, kapan aku meninggalkannya dan membuangnya?
Dimitri maju perlahan, memelukku erat dan berbisik, "Jika kau mencampakkanku. Maka kau akan mati menggenaskan."
Aku terkesiap. Tiba-tiba hatiku menjadi jijik. Hati kecilku mendorong keberanian padaku. Aku mendorong Dimitri, jatuh ke tanah penuh genang air kotor. Dia terlihat kotor bersama genangan air yang menenggelamkan sebagian tubuhnya.
"Kau kotor! Aku tidak akan mencintaimu lagi!"
'Cih!' ludahnya padaku. Tanpa ku sangka setelah ludahan itu, dia mengeluarkan satu belati dari balik mantelnya, dan Jleb! Belati itu menembus dadaku, menusuk jantungku.
Kresssh! Jantung itu keluar dengan utuh dari setiap daging dadaku. Aku hanya nelangsa menatap jantungku berdetak di depan mataku.
"Lebih baik kau mati!" peliknya menampar dan merenggut nyawaku. Saat ini, perlahan aku merasakan napasku yang tersisa satu dan hanya satu. Namun, aku memiliki kelegaan di sana, di saat jantungku telah berpisah dengan diriku.
"Dosa itu bagaikan jantung yang berdetak di dalam dadamu. Kau tidak akan mudah mencampakakn jantungmu, jika kau selalu takut akan kematian."
***
Matahari terlihat naik merangkak di balik gunung yang terlihat bersisian. Burung-burung terdengar berkicau senang, dan mengetuk jendela.
Aku serasa di undang bangun kembali dari kematianmu, saat aku merasakan udara yang bersih mengisi paru-paruku kembali. Di saat itulah, aku merasaka kelegaan luar biasa di saat itu aku telah berhenti bernapas.
Aku membuka kelopak mataku perlahan , dan mengedarkan mataku secara acak, menatap setiap benda di dalam ruangan ini. Tua dan kumuh. Aku telah meninggalkan cafe mewahku dan para pengikut setiaku. Aku telah lama bertobat dan mengasingkan diriku menjadi seseorang baru di desa kecil. Dimana aku hanya menghabiskan waktu duduk di tepi danau, dengan menunggu ikan mematuk umpan di pancinganku. Aku menyukai kehidupan damai seperti ini. Aku telah memutuskan berhenti mencintai dosaku sendiri. Aku hanya ingin bernapas seperti manusia normal lainnya, yang selalu berbahagia dengan mudahnya hanya karena mendapatkan lauk mematuk umpannya.
Aku tertawa terbahak kemudian, "Ternyata aku hanya bermimpi menyeramkan. Maaf aku tidak akan pernah kembali memuja dosaku sendiri. Aku memutuskan menjadi orang yang baru, dan meninggalkan yang lama."
Aku meraba dada kiriku, aku merasakan jantungku masih berdetak di sana, "Aku mendapatkan jantung baru. Jangan pernah takut untuk melepas apapun menjerat kaki tanganmu. Beranilah terhadap kematian, untuk memulai hidup baru."
***
Tamat.