Di usiaku yang sudah menginjak 28 tahun, akhirnya ku putuskan untuk menikah. Aku memilih seorang gadis desa yang berusia 3 tahun lebih muda dariku. Wanita yang
Cukup soleha menurutku. Apalagi ayahnya adalah seorang pensiunan guru di sebuah pesantren. Hingga akhirnya, ku beranikan diri untuk mempersunting gadis cantik berhijab tersebut.
Satu Minggu sudah pernikahan ini, aku selalu mendapatkan pelayanan yang baik dari istriku. Mulai dari menyiapkan sarapan, menyediakan pakaian yang bersih, dan lain sebagainya layaknya istri istri pada umunya. Meskipun terkadang aku merasa kasihan melihat dia harus keteteran mengurus semua pekerjaan rumah, dan merawat bu Narti, ibu mertuaku yang mengidap stroke.
Sebenarnya Bu Narti dan Pak Rahman (bapak mertuaku) bukanlah orang tua kandung dari Istriku. Istriku adalah anak dari adik perempuan pak Rahman yang sudah meninggal. Lalu pak Rahman dan buk Narti lah yang merawat dan membesarkannya, seperti anak kandung sendiri.
Hari ke hari berlalu, tak terasa sebulan sudah pernikahan kami.
"Pak, saya mau bicara sebentar, ini termasuk penting bagi saya. Karena saya tak berani menanyakan hal ini sebelumnya. Tapi karena sekarang saya sudah menjadi menantu bapak, saya rasa bapak tidak akan keberatan dengan pertanyaan saya.." ucapku kepada bapak.
Beliau mengangguk.
"Tanyakanlah, apa yang ingin kau ketahui, Bapak akan menjawab apa yang bapak tau juga."
Perlahan ku tarik nafas dan menghembuskannya kembali.
"Aku ingin menanyakan perihal sebuah nama pak. Mengapa istriku bernama ZINA? Bukankah nama adalaah sebuah doa. Dan bapak adalah orang yang paham agama atau ada arti tersendiri dari nama tersebut?" Tanyaku penasaran.
Ku lihat ada air tergenang di mata laki laki tua itu.
Dan mulailah bapak mertuaku menceritakan kisah di masa lalu yang pernah terjadi.
"Aku seorang guru di pesantren, di luar kota, sekali sebulan aku pulang ke kampung mengunjungi istri dan anakku. Namun, pekerjaanku yang menuntutku untuk bolak balik ke luar kota, membuatku lalai dan gagal dalam membimbing keluargaku sendiri. Adik Perempuanku salah pergaulan, hingga pada akhirnya hamil di luar nikah. Dan setelah dinikahi oleh orang yang menghamilinya, akhirnya ia di bawa kerumah mertuanya, oleh suaminya."
Bapak mertuaku mengambil segelas teh yang terletak di meja dan meminumnya, dan setelah itu melanjutkan ceritanya kembali.
"Namun siapa sangka, ternyata dia mendapat perlakuan yang tak wajar dari suami dan mertuanya, hingga akhirnya dia kabur dan kembali ke sini, ke rumah ini.
Meskipun dia sudah bartaubat, istriku tidak mau menerimanya, karena aib yang pernah ia buat. Di usia kehamilannya yang sudah 9 bulan, terjadilah sebuah peristiwa yang tragis. Sekumpulan warga datang dan melempari rumahku dengan batu. Mereka tidak terima dengan adanya adikku di kampung ini. Mereka tidak mau kampung ini terkena aib karena ada seorang pezina.
Istriku menelponku yang sedang mengajar, dan menceritakan kejadian itu. Hingga akhirnya aku pulang dari luar kota. Sesampai aku di depan rumah, warga masih berkerumunan di halaman. Ku dapati adikku tak sadarkan diri, bersimbah darah karena terkena lemparan batu. Seketika aku melarikan adikku kerumah sakit dengan menggunakan mobil pick up milik pak RT. Tindakan operasi di lakukan, adikku melahirkan secara normal, namun, nyawanya tak bisa di selamatkan.
Seminggu berlalu, aku harus kembali ke luar kota, ku minta kepada istriku untuk merawat anak dari adikku yang sudah meninggal. Awalnya dia menolak, karena dia menganggap anak itu adalah anak haram. Tapi dengan beberapa pencerahan, akhirnya dia mau. Ku beri gadis kecil yang baru berusia seminggu itu nama Fatimah, dan kutitipkan pada istriku.
Namun, siapa sangka, setelah aku keluar kota, istriku menambahkan kepanjangan pada nama bayi itu. "Zina Putri Fatimah," Itu nama yang dia berikan. Rupanya dia tetap belum bisa menerima bayi itu di sini. Bahkan, dia mengolok olok kan nama bayi tersebut dan memberi tahukannya kepada warga sekitar.
Mengosip kesana gosip kesini, itu lanuang dia lakukan.Dia tak sadar, bahwa ia sudah membuka dan menertawakan aib keluarganya sendiri.
Aku berusaha semaksimal mungkin untuk mengubah kembali nama anak itu, di mulai dari mengurus akte kelahiran, dan membujuk warga agar tidak memanggil sebutan zina lagi pada Fatimah.
Namun usahaku gagal, meskipun di akte kelahiran tertera Fatimah, namun di hati warga sudah melekat kata zina dan tak bisa di rubah lagi.
Singkat cerita, pada usianya yang ke 15, dia mendengarkan pertengkaranku dengan istriku yang masih mengungkit perihal namanya. Lalu dia datang menghampiri kami dan mengucapkan kata.
"Sudahlah pak, Buk, jangan bertengkar lagi, aku ikhlas dengan namaku ini. Tak perlu di rubah lagi, apalah arti sebuah nama. Yang penting kalian sudah merawatku sedari bayi hingga besar, aku sudah sangat bersyukur atas itu semua. Dan dengan panggilan namaku ini, mungkin sebagian orang akan ada yang sadar agar tidak mendekati yang namanya zina." itu ucapnya.
Mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari istriku tidak membuatnya marah dan dendam. Bahkan setelah istriku mengalami stroke, dia tetap merawat dan menjaga istriku seperti ibu kandungnya sendiri.
"Begitulah ceritanya nak....."
Kulihat bapak mertuaku menyeka air matanya, begitupun dengan ku, yang tak kuasa ku bendung air mata ini. Ku rangkul dan ku peluk bapak mertuaku dengan tangis hari.
Terjawab sudah pertanyaanku, dan ku putuskan, tidak
Akan pernah ku sakiti istriku. Karena dia tak seperti namanya, Aku akan selalu menyanyanginya hingga akhir hayatku.
Aku mencintaimu, ZINA,istriku.
Satu pesan, dari cerpen ini, janganlah sembarangan memberikan nama dan panggilan kepada seorang anak yang terlahir dari orang tua yang pernah melakukan kesalahan.