Kata Kunci: Detektif~Tepi danau~Loteng
🎞️🎞️🎞️
Aku hampa, tidak ada yang bisa ku lakukan. Aku hanya bisa berlari dalam ketakutan dan rasa jijik yang menjalar ke seluruh nadiku.
Oh ... siapapun tolong lah aku! Selamatkan aku dari manusia berhati iblis itu. Aku buta selama ini, ku tak bisa melihat kemunafikan dibalik senyumnya itu.
Sekarang, aku hanya bisa berlari dengan kaki yang rapuh. Tidak ada tutupan dari wajah takutku ini. Aku terus memijak tanah yang lembab, tanah yang lengket.
Hawa dingin malam penuh hujan seakan tak mampu menembus kulit tipis ku. Aku hanya bisa terus melihat kedepan, melihat peluang dan sedikit harapan untuk hidup. Itu pun, jika dia tak segera menjemput kematian ku.
******
5 jam 25 menit yang lalu ...
Karna lembur, aku harus pulang sedikit terlambat dari kerja paruh waktu di toko obat herbal di pusat kota.
Bos baru saja membagikan gaji bulanan, aku ingin membeli sedikit danging untuk makan malam. Eric pasti akan menyukainya, putusku.
Segera ku alihkan haluan menuju ke sebuah supermarket kecil untuk membeli daging. Sekilo daging sapi serta beberapa isian sup lainnya sudah ku dapatkan. Kini aku harus cepat pulang dan segera memasak.
Rasa bahagia dan antusias begitu menyelimuti ku sore ini. Melihat angkasa sudah menjingga, segera ku cepatkan langkah menuju terminal bus.
Berselang lima belas menit, bus berhenti di halte. Ku langkah keluar bus dan segera bergegas menuju ke rumah.
Aku tersenyum puas saat melihat lampu rumah sudah menyala, itu menandakan dia sudah pulang. Aku menyuruhnya untuk menjemput Alice dari sekolah, karna aku lembur hari ini.
Rasanya tidak sabar ingin ku peluk mereka berdua dengan erat.
Saat sudah berada di depan pintu, segera ku buka dengan lebar pintu kayu itu.
"Sayang ... mama pulang ...!" seru ku antusias memanggil malaikat kecil kesayanganku.
"Mama ...!!!" Dia berlari kearah ku dengan begitu menggemaskan.
Ku peluk Alice kecil ku dengan erat. Aku sangat merindukannya.
"Selamat datang, sayang ..." ucap lelaki yang telah menjadi suami ku selama lima tahun ini.
Aku tersenyum kearahnya dengan lembut. Dikecupnya keningku sekali. Tak ingin membuat kedua orang yang amat ku cintai ini kelaparan, aku segera menuju dapur untuk memasak.
Setelah dua puluh menit, sup daging spesial sudah siap dihidangkan. Segera ku panggil Alice dan Eric ke meja makan.
Malam yang penuh kehangatan. Sangat bahagia rasanya bisa melihat mereka tersenyum. Walau hidup sederhana, tapi setidaknya aku punya mereka.
*****
3 jam 25 menit yang lalu ...
Dengan lembut, ku peluk tubuh kecil Alice hingga dia tertidur dalam pelukanku. Dia begitu hangat dan halus. Setelah menyelimutinya, aku kembali ke kamar.
Melihat Eric sudah terlelap, ku pelan kan langkahku berharap dia tidak terganggu.
"Selamat malam, sayang ..." bisik ku padanya.
Bulir air langit yang terus jatuh, membuat malam semakin dingin. Aku terjaga saat tiba-tiba aku bermimpi aneh. Mimpi yang membuat debaran jantungku tak berirama.
Ku palingkan wajahku melirik kearah Eric. Dia tidak ada di sana. Eric tidak ada di sampingku. Hatiku mulai khawatir, karna mengingat mimpi kelam itu.
Segera ku turun dari ranjang dan melangkah ke luar kamar. Lampu kamar mandi tidak menyala, itu mengartikan Eric tak kesana. Lampu dapur juga tidak menyala.
Aku bingung, kemana perginya Eric? Saat ingin ke kamar Alice, langkah ku terhenti melihat pintu kamar putriku itu sedikit terbuka.
Perlahan, ku berjalan kearah pintu tersebut. Cahaya remang lampu kamar menyentuh wajah ku dari sela pintu yang terbuka.
DEG!!!
Aku terpaku dengan nafas yang tercekat. Pemandangan apa yang tengah ku lihat ini? Kenapa Alice meronta-ronta? Kenapa Eric disana?
Berbagai bentuk pertanyaan keluar dari benakku yang kacau.
DEG!!!
Seketika tubuhku lunglai saat cairan kental merah itu terciprat kemana-mana. Mengenai dinding, mengenai kasur, mengenai lantai. Dia ... mencabik-cabik isi perut manusia kecil itu.
Tubuhku masih tak bisa merespon. Bahkan mulut ku seperti terkunci rapat. Perlahan ku coba untuk mundur.
Walau kaku dan berat, ku paksakan tubuhku untuk bergerak cepat menuju dapur. Aku mulai mencari letak kapak pemotong kayu di sana.
Ku genggam erat gagang kapak di tangan ku. Tubuhku mulai bergetar tak karuan. Detak jantung bahkan bisa ku dengar ke telinga.
Hanya beberapa langkah menuju kamar bersimbah darah itu.
"Alice ... ma-mama ... akan menyelamatkanmu!" Gumam ku menguatkan hati.
Ku lihat Eric masih di sana. Dia masih duduk di tepi ranjang penuh darah. Eric tidak bergerak sama sekali. Ini kesempatanku untuk mengakhirinya.
Ku angkat langkah ku pelan. Saat jangkauan ku sudah bisa mengenai Eric, segera ku angkat kapak itu dan mengayunkan kapak itu kearah lehernya.
Criiieeetttt ....!!!
Suara cipratan darah yang keluar dari leher yang terpisah dari kepala.
Tangan ku lemas seketika dan menjatuhkan kapak itu ke lantai. Namun, saat aku ingin mendekat, tubuh Eric kembali bergerak!
Dia bergerak dengan kepala yang sudah terpisah. Dia bergerak kearah ku!
Ah! Aku tak bisa menggerakkan kaki dan tubuhku yang membeku. Air mata ketakutan menjalar ke luar membasahi pipi dan leher ku.
Aku kacau, aku tidak tau harus kemana. Haruskah aku meninggalkan Alice? Haruskah aku selamatkan Alice? Bagaimana ini ... aku buntu.
Otakku merespon untuk segera menjauh dari jangkauan manusia mengerikan itu. Ku putuskan untuk keluar dari rumah.
Dengan tangan yang bergetar serta mata yang kabur karna genangan air mata, ku buka cepat pintu itu. Tanpa alas yang membalut kakiku, serta dengan gaun malam yang tipis, ku lari dengan cepat menjauh dari sana.
*****
1 jam 25 menit yang lalu ...
Aku tidak bisa bersuara. Tidak ada yang bisa menolong. Dunia ini begitu sepi disaat aku butuh pertolongan. Kemana semua orang? Kenapa tidak ada seorang pun yang datang menolongku?
Aku terus berlari hingga sampai di sebuah gubuk tua di dekat danau kecil. Mungkin hutan ini akan melindungiku hingga esok pagi.
Langsung ku masuki gubuk itu. Bersembunyi di atas loteng berongga. Ku harap dia tak menemukanku.
*****
25 menit yang lalu ...
Dua mobil polisi terparkir di depan rumah Tuan Eric. Garis polisi sudah membentang mengelilingi rumah itu.
"Kapten, tersangka sudah melarikan diri sekitar satu jam yang lalu. Menurut pengakuan Tuan Eric, terakhir kali dia melihat bahwa istrinya memegang kapak dan ingin membunuh Tuan Eric. Namun, dia selamat, hanya saja tangan kanannya terputus." Jelas seorang polisi pada seorang detektif senior.
"Apa motif pelaku melakukannya?" tanya sang Detektif.
"Sebelum Tuan Eric tidak sadarkan diri, dia mengatakan bahwa, tiba-tiba istrinya atau Nyonya Amy berteriak histeris dan masuk ke kamar putrinya serta hampir saja dia membunuh putrinya dengan cekikan. Melihat kejadian tersebut, Tuan Eric segera mendorong istrinya menjauh. Dan setelah itu, tiba-tiba Nyonya Amy ke dapur mencari kapak. Sedangkan penyebab lainnya tidak di ketahui." Papar polisi tersebut.
"Baiklah, besok kita tanyakan langsung pada Tuan Eric di Rumah Sakit." Segera Detektif dan para polisi yang bertugas dalam penyelidikan menemui Tuan Eric di Rumah Sakit.
*****
Keesokan harinya ...
"Tuan Eric, bisa saya tanyakan beberapa pertanyaan?" Pinta sang Detektif pada Eric yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Tentu Tuan, saya akan menjawab apa yang bisa saya jawab." sahut Eric dengan suara yang parau.
"Saya sudah mendengar sebagian cerita awal dari kejadian ini. Tapi saya masih kurang yakin, sebelumnya Anda mengatakan bahwa tiba-tiba istri Anda histeris dan melakukan hal demikian. Selain itu, apa adakah penyebab yang paling besar, atau cekcok dalam hubungan rumah tangga kalian berdua?" Papar sang Detektif memulai penyelidikan.
"Tidak ada, Tuan. Saya berani bersumpah, kalau saya dan istri saya tidak ada cekcok sama sekali. Saya juga sangat terkejut melihat sikap dari istri saya dalam satu Minggu ini. Dia tiba-tiba suka berteriak, berbicara sendiri, bahkan meninggalkan putri saya sendiri di sekolah. Jadi, malam kejadian itu, saat saya melihat tingkah istri saya mulai di luar batas, segera saya hubungi polisi. Dan saat polisi sampai, dia sudah melarikan diri." Eric mengusap kasar wajahnya dengan tangan kiri yang masih utuh.
"Baiklah, serahkan semua ini pada kami. Nona Alice sekarang masih dalam tahap pembinaan sikologis. Tuan Eric beristirahat lah disini." putus sang Detektif dan segera keluar dari ruangan bau infus tersebut.
*****
Di ruang interogasi ...
"Jangan! Jangan bunuh aku ...! Jangan lukai putriku ...! Pergi! Pergi!" Amy berteriak serta menjambak-jambak rambutnya.
"Nyonya ...! Tenang lah ...!" bujuk seorang petugas kepolisian.
"A-aku ... me-melihat darah ... darah yang banyak! Di dinding ... di lantai! Semua berdarah ...! Aakhh!!!! Tolong! Tolong aku ...!" Tak ada yang bisa menenangkan Amy yang tampak seperti orang kerasukan.
"Kapten, ini sudah di luar kendali. Kita tidak bisa melakukan interogasi jika tersangka seperti ini." ujar seorang petugas interogasi.
"Baiklah, saya rasa ... ini bukan tindak kriminal di sengaja. Nyonya Amy terkena sindrom delusi akut. Sesuai dengan laporan medis yang diterima, Tersangka telah mengalami gangguan kepribadian yang membuatnya tak dapat membedakan kenyataan dan hayalan. Penjara takkan berefek padanya. Kita perlu mengirim Nyonya Amy ke Badan Rehabilitas Kejiwaan. Segera keluarkan surat perintah." Putus sang Detektif kepada para rekannya.
*****
Mata adalah saksi dalam kebisuan. Kadang mata, harus menerima kenyataan. Semua telah berakhir dalam jiwa yang palsu.
Tidak ada malam yang indah, tidak ada keluarga yang hangat. Tidak ada pelukan kerinduan, tidak ada kecupan sayang. Tidak pernah ada senyuman bahagia, tidak pernah ada sup daging yang lezat. Semua sirna ditelan ilusi kematian. Malam hujan, yang penuh kepalsuan bagi Amy. Dimana kebahagiaan? Itu hanya tinggal kenangan. Jiwanya yang hancur di masa kecil, menelannya utuh ke dalam kehancuran.
TAMAT~
Terimakasih atas kedatangannya para pembaca🙏
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA💋