Kata Kunci : Minuman Soda (Detektif) , Kota (Ruang Waktu Lain) , Leo (Loteng).
CEPRET! CEPRET!
Suara kamera yang mengambil gambar lokasi kejadian. Baru saja beberapa menit yang lalu, loteng itu dipenuhi canda tawa, seorang lelaki yang merupakan sutradara terkenal telah tewas tiba-tiba dikarenakan keracunan. Bekas botol ataupun secarik kertas yang ditempati racun di tempat itu bahkan tidak ada satupun yang didapatkan. Semua tertata rapi tanpa ada yang mencurigakan. Tapi bukti malah mengarah kepada seorang detektif.
"Tunggu! Ada yang menjebakku! Bukan aku pelakunya, aku ini seorang detektif!" kata Ran, lelaki SMA.
Kedua tangannya langsung diborgol.
"Ran-kun, aku sangat kecewa, padahal kau selalu membantu kepolisian memecahkan kasus pembunuhan," kata Petugas Ruki.
"Ruki-san! Bukan aku yang benar-benar membunuhnya, lepaskan dulu borgol ini maka aku akan memecahkan kasusnya!" kata Ran memohon.
"Setelah diperiksa oleh tim forensik, racun yang ada di pakaianmu dan racun yang membunuh sutradara adalah racun yang sama, itu tidak akan mengubah faktanya," kata Inspektur.
Ran berdecih, ia lalu menatap kedua sahabat masa kecilnya.
"Reiss? Hange? Kalian berdua percaya padaku, 'kan?"
"Ran? Kenapa kau melakukannya?" tanya Reiss kecewa.
"Lebih baik kau putuskan Ran saja, aku tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti ini," kata Hange.
Ran terbelalak saat kedua gadis itu malah meragukannya.
"Kalau begitu kami permisi dulu," kata Inspektur.
"Tidak! Tunggu dulu! Bukan aku yang membunuhnya! Aku benar-benar dijebak!" berontak Ran.
Rombongan mobil telah melaju. Ran mengepalkan tangan karena dirinya tidak diberi sedikitpun kesempatan untuk membela diri.
"Apa yang terjadi? Kenapa sutradara itu tiba-tiba tewas? Petugas Ruki dan anggota kepolisian sudah mencarinya diseluruh sisi loteng tapi kenapa bubuk racunnya malah ada dipakaianku? Cih!" kata Ran dalam hati disertai gertakan gigi.
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menghalangi mereka.
SRETTT!! CISTT!!
"AWASSS!!!" teriak Petugas Ruki yang melihat keluar jendela mobil.
BYURR!!!
Mobil yang ditumpangi Ran tadi langsung terjun ke laut.
Ran berusaha melepaskan borgol ditangannya sambil berusaha mengayunkan kakinya di dalam air.
"Brurr, brurr,"
"Sial! Aku sudah tidak tahan lagi, sepertinya aku mulai kehabisan nafas," kata Ran dalam hati.
Tidak menghasilkan apa pun, Ran menyerah. Ia membiarkan dirinya tenggelam sambil menatap keatas.
"Kurasa dengan mati, hidupku jauh lebih baik daripada dipenjara karena jebakan," katanya dalam hati.
Secara perlahan, kesadarannya mulai menurun. Ran memejamkan mata.
"Reiss, aku mencintaimu,"
•••••••••
DEG!!
Ran membuka matanya dan melihat semua orang tengah memilih cangkir di lemari.
"Eh? Apa yang terjadi?" tanyanya bingung melihat kejadian yang sama beberapa jam yang lalu.
Pandangannya tertuju ke arah cangkir yang masih dipegangnya. Cangkir yang sama dipilihnya beberapa jam yang lalu.
"Apakah ini mimpi?" kata Ran dalam hati.
"Aku ambil ini, tidak, apa yang ini saja?" tatap Sutradara.
Ran melotot melihat Sutradara masih hidup. Ia lalu mencubit dirinya dan itu benar-benar sakit. Ran kembali teringat saat mobil yang ditumpanginya terjun ke laut.
"Jangan-jangan, aku melintasi waktu setelah kecelakaan itu?" tanya Ran dalam hati.
"Ran-kun! Kenapa kau bengong di situ?" teriak Reiss.
"O-Oh, aku ke sana," kata Ran menutup lemari.
Semuanya duduk sambil dituangkan teh oleh pelayan wanita.
"Harumnya, ini adalah teh Chamomile dari Mesir," Kata Reiss.
Pelayan wanita itu hanya tersenyum dan beranjak pergi.
"Baiklah, silahkan menikmati waktu minum tehnya," kata Sutradara.
"Tunggu dulu, potongan gula Ponisshu kesukaanmu, saat minum teh di rumah, kau selalu menggunakan ini, 'kan?" kata Haruka sambil mengaduk.
"Wanita j****g tidak mungkin tahu," kata Haruka menyindir.
"Kau iri kalau aku pacaran dengan suamimu, atau jangan-jangan kau berniat meracuninya?" tanya Makoto membalas.
"Aduh, yang kumasukkan itu cuma cinta," kata Haruka meminum teh itu.
"Iya, kan? Tidak ada racun?"
Makoto berdecih dan membuang muka.
"Baiklah, ayo silahkan," kata Sutradara.
Ran benar-benar tercengang, kejadian itu sudah dilaluinya 2x berturut-turut.
"Tidak salah lagi, aku melintasi ruang waktu, dengan kembali ke kejadian sebelum pembunuhan di loteng ini terjadi, kalau begitu, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk membuktikan diriku tidak bersalah!" Kata Ran dalam hati.
Sambil mencicipi teh, pandangan Ran tak pernah terlewatkan sedetikpun mengawasi satu persatu orang di loteng tersebut.
"Sayang?!" pekik Haruka.
"Sutradara!" pekik Makoto.
Ran terbelalak karena Sutradara sudah terjatuh ke lantai dengan busa dimulutnya sejak tadi.
"Eh? Tidak ada satupun dari mereka yang melakukan pembunuhan? Ada apa ini?" tanya Ran dalam hati.
Ia lalu menatap seragam SMA-nya. Menyadari saat itu, bukti tertempel dibajunya, Ran sengaja menyenggol teh.
"Ran-kun, pakaianmu jadi basah," kata Reiss.
"Maaf, apakah aku bisa meminjam pakaian lain?" tanya Ran.
"T-Tentu, Saori? Pinjamkan baju mendiang suamiku ke lelaki muda ini," kata Haruka.
"Baik, Nyonya," kata Saori pelayan wanita.
"Meskipun tidak tahu, apakah kejadian bisa terubah jika seragamku terganti," kata Ran dalam hati.
Setelah mayat sutradara dibawa pergi, pihak kepolisian telah datang lebih cepat dari sebelumnya.
"Jadi keenam orang ini adalah tersangka utamanya?" tatap Inspektur.
Petugas Ruki membetulkan.
"Tapi bagaimana bisa Ran-kun ikut serta sebagai tersangka?" tanya Inspektur.
"Hanya keenam orang ini yang ada ditempat kejadian saat korban tewas," kata Petugas Ruki.
"Inspektur? Meskipun masuk dalam tersangka, aku akan memecahkan kasus ini, aku mohon!" kata Ran membungkuk.
"Hahaha, tentu saja, meskipun kau seorang siswa SMA, tapi kau telah banyak membantu kami memecahkan kasus," kata Inspektur.
Ran mengangguk sambil mengepalkan tangan.
"Akan kutemukan pelaku yang telah menjebakku," katanya dalam hati.
"Tapi, kenapa kita harus menjadi tersangka? Sutradara itu tewas tiba-tiba," kata Reiss.
"Percaya padaku, aku akan memecahkan kasus ini," Kata Ran.
"Hei? Jangan lupakan aku, mentang-mentang kalian berdua pacaran," kata Hange.
"Dilihat dari situasinya, seseorang dengan sengaja membunuh sutradara dengan mencampurkan racun ke dalam tehnya," kata Ran.
"Kau menuduhku yang meracuni suamiku sendiri?!" tidak terima Haruka.
"Mungkin memang benar, kau memberinya tadi gumpalan gula," kata Makoto memprovokasi.
"Kalian semua melihatnya, aku meminumnya sebelum suamiku meminumnya! Kalau itupun benar, seharusnya aku sudah tewas terlebih dahulu saat meminumnya," kata Haruka.
"Kalau begitu, masalahnya adalah siapa dan bagaimana caranya mencampurkan potassium sianida ke dalam teh?" kata Ran.
"Yang pertama harus dicurigai adalah pelayan wanita yang membuat tehnya," kata Hange.
"Tapi, Saori-san menuangkan teh dari teko yang sama untuk semua orang, jika teh yang disajikan mengandung potassium sianida di dalamnya, maka kita semua sudah mati," kata Reiss.
"Benar juga yang dikatakan Nona Reiss," kata Petugas Ruki.
"Atau mungkin, racunnya sudah dituangkan terlebih dahulu ke cangkir?" kata Hange.
"Tidak mungkin, kita semua memilih secara acak cangkir teh yang disukai dari lemari, mustahil untuk memperkirakan cangkir yang mana sutradara pilih dan memasukkannya racun, jika perkiraannya meleset maka orang lain yang akan mati," kata Ran.
Inspektur dan Petugas Ruki masih menugaskan anggota kepolisian yang lain untuk mencari bukti.
"Ada yang aneh di sini, hanya sutradara itu yang tewas selain kami, arghh, tapi apa? Kenapa aku tidak bisa menemukannya?!" umpat Ran dalam hati.
Ia kembali mengingat saat dimana mereka berkumpul mencicipi teh.
DEG!
Ran tersadar.
"Sutradara itu minum dengan..." kata Ran dalam hati.
Ia lalu berbalik menatap seseorang.
"Dialah pelakunya, kalau begitu, dia orang yang menjebakku, tapi kenapa?" kata Ran dalam hati.
"Jadi ini kasus bunuh diri?" tanya Inspektur.
"Benar, kami menemukan bubuk potassium sianida disaku celana milik korban," kata Petugas Ruki.
"Salah, ini bukan kasus bunuh diri tapi murni kasus pembunuhan," kata Ran.
"Tapi, buktinya ditemukan disaku celana korban," kata Petugas Ruki.
"Saori-san? Pelakunya adalah Anda!" kata Ran membuat semua orang tertegun terutama Saori.
"E-Eh? Kau menuduhku yang mencampur potassium sianida ke dalam teh? Itu bohong!" kata Saori mengelak.
"Tapi Ran-kun, kita semua melihat sutradara jatuh sendiri ke lantai tanpa ada yang mendekatinya," kata Reiss.
"Lalu, bagaimana jika potasium sianida tidak di campur ke dalam teh, tetapi dilumuri pada pinggir cangkir?" tanya Ran.
"Itu berarti..." kata Hange melihat Ran mengambil cangkir.
"Benar, lebih tepatnya hanya pada bagian ini, setengah cangkir, jika mengangkat cangkir menggunakan tangan kanan, minum disepanjang area ini tidak akan tersentuh bibir, dengan begitu, walaupun istrinya mencoba teh sutradara, dia tidak akan mati," kata Ran.
"Biasanya, kita memegang cangkir dengan tangan kanan yang dominan, sutradara satu-satunya di jamuan ini yang menggunakan tangan kiri, jadi apa pun cangkir yang dia pilih dari lemari, hasilnya hanya sutradara yang terkena dampak potassium sianida,"
"Ketahuan, ya?" kata Saori tersenyum pasrah.
"Itu berarti semua cangkir di lemari itu dilumuri racun di bagian kiri?! Kau berniat membunuh kami semua? Bagaimana jika aku salah sedikit menyentuhnya?!" pekik Makoto.
"Saori-san? Anda ditangkap karena telah melakukan pembunuhan terhadap sutradara, harap ikut kami ke kantor polisi," kata Inspektur.
Setelah Saori dibawa pergi, semuanya menghela nafas.
"Ran-san memang jenius!" kata Hange.
"Aku jadi semakin menyukaimu," kata Reiss.
Ran tersenyum, namun tiba-tiba ia merasa pusing.
"Ran-kun?" panggil Reiss.
BUGH!
Ran terjatuh tak sadarkan diri membuat semua orang panik.
•••••••••
"HHAH!" pekik Ran membuka mata.
"Ran-kun? Hikss, hikss, akhirnya kau sadar," isak Reiss.
"Kami kira kau telah tewas setelah mobil yang kau tumpangi terjun ke laut," kata Hange.
Ran masih dibuat bingung, ia menatap kesekeliling ruangan, melihat tangannya diinfus.
"Ran-kun? Maaf telah menuduhmu yang melakukan pembunuhan itu," kata Inspektur.
"Benar, setelah kau kecelakaan, pelayan wanita itu langsung membunuh istri korban dan mengaku kalau sutradara dan istrinya pernah menabrak suami Saori-san tanpa mempertanggungjawabkan ulah mereka, jadi Saori-san menyamar menjadi pelayan untuk membunuh mereka berdua," kata Petugas Ruki.
Ran merasa lega, jika saja ia tidak melintasi ruang waktu ke kejadian saat itu, sepertinya dia akan berakhir di penjara.
"Jadi kasusnya telah selesai, kami semua meminta maaf," kata Inspektur.
"Tidak Inspektur, hal ini memang biasa terjadi," kata Ran.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, semoga kau cepat sembuh," kata Inspektur.
Selepas kepergian Inspektur dan Petugas Ruki, Ran menoleh ke Reiss.
"Kenapa kau masih menangis?" tanya Ran.
"Kita tidak jadi putus, 'kan?" tanya Reiss.
Ran terbelalak dan terkikik.
"Haaa, aku benar-benar kecewa dengan kalian berdua yang tidak mempercayai sahabat masa kecil kalian," kata Ran pura-pura.
"Tapi, buktinya mengarah padamu, kami berdua juga sebenarnya tidak percaya," kata Hange.
Ran berakting dengan merasa begitu kecewa membuat tangisan Reiss menjadi-jadi.
"Puff, aku hanya bercanda,"
Reiss dan Hange serentak memukul Ran membuat lelaki itu meringis.
"Hei! Aku ini sedang di rawat!"