Embun membuka matanya perlahan, menggeliat membuang selimut yang melilit tubuhnya dengan risih.
Tangannya mengucek kedua matanya sebelum kaki jenjangnya turun dari ranjang dan melangkah mendekati jendela.
Bibir merahnya tersenyum, hidungnya menghidu aroma petrichor yang menguap dari luar memasuki jendela yang sejak semalam terbuka sedikit.
Kesegaran itu sudah lama tidak ia rasakan, mengingat musim panas kemarin sangatlah menyiksa dirinya lantaran hawa panas yang menusuk dan membuatnya selalu berkeringat saat melakukan aktifitas.
Akan tetapi ada kebahagiaan tersendiri pada saat itu.
Apalagi jika bukan karena Jasson yang menghidupkan suasana hatinya yang buruk.
Ngomong-ngomong, dimana pria yang telah menjadi suaminya itu?
Kepalanya menoleh mencari keberadaan pria yang amat sangat ia cinta yang ia sebut sebagai suami sejak pertengahan musim panas kemarin, tepatnya tiga bulan yang lalu, dan hari ini musim panas itu berakhir di tandai dengan turunnya gerimis semalam yang membuat udara terasa sejuk.
"Hmmm, dia selalu meninggalkanku tanpa sapaan setiap pagi," gumamnya sambil tersenyum.
Bukan hanya hari ini, tetapi hari-hari sebelumnya Jasson selalu bangun terlebih dahulu dan meninggalkannya begitu saja.
Pikir Embun, Jasson ada urusan dengan papanya embun, karena mereka mengerjakan bisnis mereka bersama. Dan yang dipikirkan Embun tidaklah salah, memang itulah kenyataannya.
Kembali Embun tersenyum sambil menaruh kedua tangannya di belakang kepala, masih merasakan aroma tanah basah yang dihasilkan dari luar kamarnya.
Sekilas ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Jasson semasa dia masih berusia lima tahun dan Jasson enam tahun waktu itu.
Anak laki-laki itu telah menolong nyawanya saat beberapa perampok keluar dari rumahnya setelah berhasil membawa beberapa karung berisi barang jualan papanya.
Saat itu Embun memergoki mereka dan hampir saja salah satu perampok itu melukai dirinya andai saja Jasson tidak tepat waktu menolongnya.
Merasa banyak orang yang datang, para perampok itu memilih pergi tanpa melepaskan karung yang mereka bawa.
Papa Embun marah dan mengumpati semua penjaga rumahnya yang tidak becus menangkap para bandit itu.
"Kalian? Apa yang kalian lakukan sejak tadi, Hah? Bahkan putriku hampir saja menjadi korban jika anak kecil ini tidak menolongnya?!"
Rahang papa Embun mengeras dengan wajah merah padam. Semua penjaga rumahnya ketakutan, gemetaran dan hanya menunduk tanpa berani menjawab atapun menatap papa Embun.
Papa Embun menghela napas sebelum merangkul Embun dan menciumi wajahnya. Ia memastikan tubuh Embun tidak terluka bahkan tidak tergores sedikitpun, barulah ia bisa bernapas lega dan kembali berpikir jernih.
"Jasson, terima kasih kau sudah menolong putriku. Jika sesuatu terjadi pada anakku, aku tidak tahu harus bagaimana?" tangannya merengkuh Jasson dan memeluknya sembari bergumam terima kasih berkali-kali.
Setelah kejadian itulah, Jasson diangkat menjadi anggota keluarga Embun yang keberadaannya sangat dinantikan oleh papa Embun.
Dia mendapatkan perlakuan spesial dari papa Embun seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan ia mendapatkan jabatan tinggi saat dirinya sudah menginjak usia tujuh belas tahun.
Jasson tumbuh menjadi pria gagah dan tampan diusia tujuh belasnya. Selain itu ia juga memiliki otak yang cerdas sehingga bisnis milik papa Embun berkembang pesat karena kehadirannya.
Papa Embun semakin bangga pada Jasson dan keterampilannya dalam berbisnis dan ilmu beladiri. Tidak ada yang kurang dari Jasson di mata papa Embun. Dia terlihat begitu dewasa terlepas dari usianya yang masih belasan, sehingga banyak orang yang berpikir bahwa Jasson berusia dua puluh lima tahun bisa jadi lebih, sehingga banyak sekali wanita yang bahkan berada di atas usia Jasson selalu berusaha mendekati dirinya.
Itu membuat Embun kesal pada saat itu.
"Kau senang kan banyak wanita yang mendekati dirimu!" kata Embun sewot. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang wajahnya dari Jasson yang kini berjalan mendekati dirinya.
"Jangan hiraukan mereka, di antara banyaknya wanita, hanya kau yang aku cinta, dear!"
Kalimat itu membuat Embun tersenyum tipis.
"Papamu sudah sangat baik padaku yang yatim piatu ini, kau juga memberikan cintamu yang tulus kepadaku, bagaimana bisa aku memberikan kasih sayang ku kepada orang lain?"
Kedua tangan Jasson merengkuh tubuh indah Embun dari belakang dan bibir basahnya mengecup pipi Embun yang merah karena tersipu.
Embun tersenyum sendiri mengingat kenangan itu. Ia pun berjalan mendekati gantungan baju dan mengambil baju panjangnya.
Ia ingin jalan-jalan di luar rumah menikmati indahnya pagi itu.
Dengan senyum ramah nan indah, ia membalas sapaanl beberapa pelayan yang menyapanya lebih dulu.
Rambut pirang nya bergerak mengikuti gerakan tubuhnya yang menuruni anak tangga. Pun suara ketukan sandal Embun membuat pelayan rumah mewahnya segera membuka jalan untuk tuan putrinya yang sedang berjalan hendak keluar.
Sangat anggun dan ramah. Itulah Embun dimata para pelayannya.
Kaki mungilnya melangkah pergi ke taman belakang rumah. Entah kenapa hatinya ingin mengajak tubuhnya ke sana. Ada apa di sana?
Mata Embun menangkap tubuh Jasson yang berdiri menghadap ke arah barat, sedikit tertutup pohon namun wajah Jasson terlihat dimata Embun.
"Jasson? Apa yang dia lakukan di sana?"
Langkah kaki embun semakin cepat mendekati Jasson.
Ada yang berbeda dari yang dilihatnya saat ini dan Embun semakin penasaran dibuatnya.
Tubuh Jasson setengah tertutup daun pohon sehingga Embun tidak terlalu jelas melihat apa yang dilakukan Jasson saat ini.
Setelah ia dan Jasson berjarak sekitar sepuluh meter barulah Embun menyadari Jasson sedang membawa pistol di tangannya dan menodongkannya pada,
"Astaga?" Embun berteriak sambil menutup mulutnya."Jasson apa yang kau lakukan?" Embun berlari ke arah Jasson, namun suara tembakan terdengar di telinga Embun membuat langkahnya berhenti seketika.
Tubuh papanya terkulai di tanah.
Embun masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, bahkan ia berharap ini adalah mimpi dan ia ingin segera terbangun dari tidurnya.
"Jasson," ucapnya lirih.
Jasson menoleh pada Embun yang membeku pada tempatnya.
Jasson tersenyum." Maafkan aku. Embun!" tangannya mengarahkan pistol pada kepalanya sendiri dan Embun berteriak seketika.
"Hentikan Jasson, hentikan!"
Jasson masih tersenyum." Aku bukan pria baik untukmu! Dan inilah tujuan utama ku masuk ke dalam rumahmu, MEMBUNUH PAPAMU!"
Embun menggelengkan kepala dengan derai air mata yang tak tertahan.
Paginya berubah buruk seketika. Ia tak pernah membayangkan kehidupan yang ia jalani selalu bahagia sejak kecil, nyatanya menyimpan luka bagi orang lain yang tidak ia mengerti.
"Jelaskan kepadaku! Aku mohon jangan meninggalkan diriku Jasson!" teriaknya putus asa. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lutut. Matanya masih menatap nanar Jasson sekaligus menatap penuh permohonan agar Jasson tidak membunuh dirinya sendiri.
"Kau tidak perlu tahu alasan ku membunuh papamu, yang perlu kau tahu hanya satu, aku tulus mencintaimu!"
Dorrr
Tubuh Jasson terkulai di atas tanah berumput hijau yang masih menyimpan embun nya.