Kata Kunci : Peramal, malam hujan yang dingin, Bioskop.
*************
Bulan purnama sempurna pelan bergerak, cahayanya berwarna perak timbul tenggelam di sela-sela gedung pencakar langit sebuah kota Nekropolis. Sisa-sisa bangunan kejayaan yang ditinggalkan penghuninya tampak seperti wajah kusut mayat wanita lanjut usia.
Seorang laki-laki tua duduk di atas kursi roda, menatap bangunan megah yang pernah dia bangun itu dengan pandangan sayu tak berdaya. Berdiri di belakangnya pria muda yang dia sebut anak memegang gagang kursi.
Kelelawar beterbangan dari bangunan gelap itu, menambah aroma keseraman semakin terasa pekat. Nyala lampu di sebagian sisi kota seperti tak mampu membuat kota ini disebut memiliki kehidupan.
"Terima Kasih James, kau sudah kesekian kalinya mengantar Papa untuk melihat kembali kota ini, mungkin ini akan menjadi saat terakhir Papamu memandang kota ini!" Kata Edward kepada James anaknya.
"Jangan bilang begitu Pa, aku selalu siap mengantar Papa melihat kembali kota ini" James membesarkan hati ayahnya.
Edward kembali diam menatap cahaya rembulan, mengenang masa kejayaannya.
Tiga puluh tahun lalu..
"Ayo-Ayo kerja lebih giat, lelet sekali kerja kalian, bulan depan gedung ini harus sudah diresmikan gubernur!" Teriakan Edward meminta anak buahnya bekerja dan bekerja dengan keras.
Lima blok bangunan lima lantai itu akhirnya selesai, Edward begitu bangga berdiri di dekat pengusaha-pengusaha milyader pemegang saham. Namanya tercatat sebagai arsitek dengan bayaran mahal, dia sangat bangga dengan pencapaiannya.
Gubernur meresmikan kota baru itu yang diberi nama Marlina City. Tepuk tangan undangan di ballroom gedung baru itu sangat gempita, Edward membusungkan dadanya penuh percaya diri saat gubernur menyalaminya kemudian diambil gambarnya oleh fotografer.
Wajahnya terpasang di beberapa media cetak, dan media televisi menayangkan acara tersebut secara live maupun record. Hampir semua penduduk kota mengenal Edward sang arsitek berbakat luar biasa.
Suatu malam, Edward sengaja ingin menikmati udara malam Marlina City bersama Lisa istrinya, tak peduli mendung mulai berarak menyelimuti langit, Edward tetap saja ingin keluar.
"Butuh waktu tiga jam untuk sampai di Marlina City, sebaiknya kita tunda besok saja!" Lisa merasa hawatir karena cuaca tidak mendukung untuk pergi ke luar kota.
"Kita kan membawa mobil, tidak akan basah sayang?!" Edward keras dengan kemauannya, akhirnya Lisa menurut.
Sore mereka berangkat, hujan mulai turun, mobil Edward meliuk-liuk di jalanan licin di sisi bukit. Hujan turun semakin lebat.
Braaakk !!
Pohon tumbang menghentikan mobil yang semula bergerak lancar di depan Edward.
Ciiiiiit!!... Ciiiiiit !!
Rem mendadak, suara berderit ban beradu dengan aspal yang licin dari mobil yang semula melaju kencang di belakangnya.
Braaakk!!
Tanah longsor menutupi jalanan menyusul kemudian. Tidak ada jalan lain, kemacetan mengular panjang menunggu bantuan alat berat.
Hujan terus turun, udara semakin dingin, "Aku ingin buang air" Lisa sudah tak bisa menahan kandung kemihnya yang penuh.
"Waduh, dimana tempatnya?!" Edward kebingungan, menengok kanan kiri hanyalah hutan perbukitan. Dia mengeluarkan payungnya mengajak Lisa mencari toilet di rumah penduduk yang mungkin bisa dia temukan.
Senja mulai datang, cahaya matahari hampir tak lagi tampak. Lisa berjalan cepat di depan, dia menemukan sebuah warung kecil di tepi jurang. "Permisi, numpang ke toilet Bu, bisa?" Lisa segera berlari setelah pemilik warung menunjukkan tempatnya. Tak ada rotan akar pun jadi, itulah pepatah yang cocok untuk Lisa.
Sementara Edward tetap berdiri meskipun dia sudah berada di dalam warung, dia tampak enggan menempelkan baju mahalnya di atas kursi sederhana.
Seorang laki-laki tua berjenggot duduk di salah satu warung memandang tajam ke arah Edward. Kemudian dia berdiri.
"Mengapa anda tidak duduk tuan?" Tanya lelaki tua itu, Edward hanya diam tanpa jawab.
"Marlina City akan menjadi kota mati" sebuah ucapan mengejutkan Edward keluar dari laki-laki tua itu.
"Apa katamu Pak Tua ?!" Edward memperjelas pendengarannya, lelaki tua itu kembali mengulangi ucapannya.
"Haah, apakah anda seorang peramal, jika iya , berikan saja jasamu pada orang-orang di luar sana, kau akan diberi uang Pak Tua, jangan kepadaku karena aku tidak akan percaya!!" Kata Edward kesal dengan orang yang meremehkan bangunan kebanggaannya.
"Aku hanya tahu masa depan, janganlah sombong tuan!" Kata lelaki tua itu sambil keluar meninggalkan warung, tanpa payung maupun jas hujan.
Lisa keluar dari ruang belakang, "Huuh, akhirnya bisa lega!" Kata Lisa sambil memegang perutnya yang rata. Edward tampak masih berwajah bingung dan kesal dengan ucapan Peramal.
"Ada apa Edward, seperti ada sesuatu yang membuatmu kesal?" Lisa heran dengan ekspresi suaminya yang tampak tidak senang.
"Ah, sudahlah dasar orang gila!" Edward masih melampiaskan kekesalannya dengan kata-kata. Lisa mengucapkan terima kasih lalu berpamitan meninggalkan warung dan kembali ke mobilnya.
"Ada apa sih??" Lisa memperjelas masalah suaminya yang masih menggerutu. Edward menjelaskan dengan emosinya.
"Ya sudahlah, anggap saja angin lewat!" Lisa berusaha memperbaiki mood Edward.
Beberapa saat berjalan dalam rintik hujan, akhirnya mereka sampai kembali ke mobil. Alat berat sudah bekerja menggusur timbunan tanah, jalan mulai terbuka meski hanya satu arah. Satu persatu mobil bergerak meninggalkan kemacetan yang menjemukan.
Edward memperlambat gerak rodanya ketika Marlina City sudah tampak dari kejauhan.
"Lihatlah karyaku!" Kata Edward dengan bangga memandang kerlap-kerlip lampu kota di dari kejauhan. Bangunan tinggi dengan arsitektur yang membuat orang berdecak kagum ketika melihatnya.
Ciiiit!!
Edward kaget dan menekan remnya mendadak, lelaki tua yang dia temui di warung tiba-tiba menyeberang tepat di depannya, dia memandang sejenak ke arah Edward, kemudian berlalu tanpa kata.
"Peramal gila, lewat nggak lihat-lihat!" Edward mengumpat keras sambil mukul setirnya.
"Sudahlah sayang, jalan yuk!" Lisa berusaha meredam emosi mantan kekasihnya. Mobil kembali melaju di aspal mulus Marlina City, Edward kembali mengagumi dirinya. Dia berhenti di sebuah tempat dimana dia bisa memandang seluruh bangunan yang dia sebut karyanya.
"Nonton yuk, hari ini ada pemutaran film box office dan sebuah film drama yang settingnya disini sayang !" Lisa merayu agar suaminya mau diajak masuk bioskop Marlina City.
Tanpa banyak kata Edward mengikuti keinginan Lisa. Di dalam bioskop Edward juga melihat Peramal itu duduk santai di salah satu kursi, tapi dia tak ambil peduli.
Malam semakin larut ketika mereka keluar dari bioskop, akhirnya sepasang suami istri itu menginap di Marlina City. Keesokan paginya baru kembali ke kota asal.
Satu bulan berlalu setelah kunjungan Edward dan Lisa, dikabarkan Marlina City ditutup total karena virus yang mematikan. Pagi terjangkit sore meninggal dunia.
Seluruh penduduk diisolasi dalam kota, tak ada yang boleh keluar atau masuk. Hampir seluruh penduduk Marlina City mati, yang masih hidup pergi karena tidak kuat dengan kepedihan. Marlina City yang metropolis berubah menjadi nekropolis yang menyeramkan.
********
"Mari pergi dari sini Papa, udara di sini semakin dingin!" James mengajak ayahnya meninggalkan Marlina City, Edward diam tak menjawab ketika putranya mendorong kursi roda menuju mobil, kepalanya tertunduk.
Ketika tubuh yang sudah tak berdaya itu dipindahkan, James kaget karena ayahnya sudah tak ada daya, Edward meninggal dunia di kota mati yang pernah dia banggakan.
------END-------
catatan: Kota tersebut hanya karangan penulis belaka, tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.