TUHAN YANG MEMILIHMU
Karya Ilawati Dayinta
"Geraaahhh", sungutku panjang, sepanjang tulisan di bukuku yang sekarang lebih mirip rumput liar yang bergoyang diterjang badai. Iya, badai! Gimana enggak. Bener, deh! Pak Hasan, guru satu ini, sudah tampang kaya si Joned dangdut, penjual batagor yang rajin jualan di dekat gerbang sekolah sambil nyetel lagu 'terajana'nya, ditambah siang ini tingkah konyolnya bikin sekelas eneg lahir batin. Why? Meringkas! Bayangkan! Pelajaran bahasa Inggris disuruh meringkas. Meringkas apa coba? Halooo! Mana aku paling malas bawa buku itu lagi. Lihat sekarang! Aku harus berebut buku dengan Emita. Iyalah, teman sebangkuku itu paling setia dengan semua buku pelajaran. Kapanpun, di manapun selalu ada di pelukannya. Ups, di tasnya!
"Segarrrrr," kulangkahkan kaki seringan semilir angin di belakang kelas. Ya, sudah kuniati, aku perlu mencicipi batagor Bang Joned. Siapa tahu bisa mengobati derita tanganku yang hampir dua jam pelajaran mencatat. Eh, melukis mungkin lebih tepat! Terserah deh, yang jelas aku benar-bener nggak demen dengan Mr.Hasan. Apalagi sebelum habis pelajaran dia justru ngasih PR. Perlu didoain supaya insyaf ga sih nih guru? Ups, emang dia salah? Hehe.
Aduh! Kenapa dia di situ sih? Kulihat dari jauh dia berjalan berlawanan arah mendekatiku. Dia yang sudah tiga bulan mengisi otakku. Senyumnya sumber energi yang selalu mengingatkanku untuk selalu hadir di sekolah. Biar hujan. Biar gempa. Asal bukan tsunami. Segitunya, dia berarti bagiku. Kakak kelas yang bahkan sama sekali tidak tahu namaku. Sepuluh langkah lagi dia sampai di depanku. Dentuman jantungku menggila. Bener! Harus gimana nih? Tuhan? Tolong? Ah! Lebih baik kupalingkan wajah saja seakan melihat ke lapangan. Dia tidak akan perhatikan aku. Aku pun tidak malu. Sempurna. Duk! Aduh, kepalaku membentur tiang persis di depanku dan dia. Keras lho. Tapi, dia tertawa melihatku. Sungguh itu pertama kali dia melihatku. Tuhan! Aku mencintaiMu!
Dulu dia orang yang hampir tidak mengenalku. Itu sepuluh tahun lalu, bolehlah itu cinta pertamaku. Cinta monyet. Betulan kayak monyet. Rindu yang tidak jelas, rasa yang tidak pasti, persis bergelantungan. Pantas saja dibilang "monyet". Kini beda! Dia bawahanku. Meski usianya lebih tua, tapi pendidikanku lebih tinggi. Duh, songong dikit nih. Tepatnya sudah seminggu aku jadi manajer di kantor ini. Sedangkan dia cuma staf. Lalu, rasa itu? Jelas telah lama tertelan bumi.
Aku seorang janda dengan satu anak. Suamiku meninggal dalam kecelakaan pelayaran tiga tahun lalu, saat anakku berusia satu tahun. Dari pada mikir nasib pilu, kusibukkan dengan tekun bekerja dan meruskan pendidikan S2 berbekal uang warisan dari suami yang lebih dari cukup. Di sinilah aku sekarang, manager keuangan bank di kota kecilku. Dia? Bahkan masih lajang. Padahal meski tidak tampan sekali, standarlah, tapi dengan kulit putih, tubuh atletis dan postur tinggi, jelas tampilannya cukup mengundang kaum hawa lho. Entahlah, kenapa awet jomblo.
Pagi tadi saat meeting mendadak dengan divisi marketing, dia menyapaku dengan manis.
"Pagi, Bu Nina."
"Pagi, Pak Panji," balasku santun. Ingat aku manajer lho.
"Kalau tidak salah, Ibu dulu adik kelas saya di SMA. Jurusan IPA-kan? Kon banting setir milih perbankan? Maaf, Bu. Cuma ingin tahu," dia garuk-garuk rambut sambil nyengir kecil. Aku malah kaget dengar itu. Kok tahu, pikirku. Kukira dia tidak pernah mengenalku dulu. Jangan-jangan dia juga tahu, aku pernah naksir dia. Hufftt. Ingat itu, wajahku berubah mirip kepiting rebus. Malu!
Obrolan tadi pagi terputus oleh meeting panjang membosankan. Bicara dengan orang-orang marketing pagi ini harus berujung debat unfaedah. Bisa ya? Iyalah, jawaban kurang diplomatis saat ditanya strategi market mereka, muter persis kipas angin. Pantas saja angka target market mereka cuma sedikit bertambah 3 bulan terakhir. Sudah begitu, manajer marketing, Pak Bowo hanya bolak balik ke toilet. Ngapain coba? Tiga jam percuma. Aku beranjak malas dengan muka ditekuk meliriknya sinis. Sebaliknya di sudut ruang, Panji malah melempar senyum manis nan legit padaku. Meleleh deh. Lama-lama aku bisa kena diabetes nih!
Makan siangku diantar bang ojol. Asli malas ketemu orang-orang marketing di kantin. Saat bersantap ria, terdengar suara pintu diketuk. Kuhentikan makan. Kubuka. Panji nyelonong masuk membawa sedus kue brownies. Tahu dari mana aku suka brownies? Umikah? Dasar sekretaris ga peka! Asal bocor. Ah, bukan salahnya. Dia kan tidak tahu aku naksir Panji dulu. Lalu dari siapa?
"Dulu kamu pernah ngabisin brownies Meta pas ultah di kelas, terus Meta minta ganti rugi pada pacarnya, Ega, buat ngebeliin lagi. Aku duduk bareng Ega di IPS 1. Nih, obat suntuk buat Bos cantik. Pak Bowo kalau mikir berat suka payah diajak fokus. Sabar ya." Aku paksain tersenyum dengar penjelasannya. Kulirik kue di tanganku, modus ga nih? Hatiku malah bersyukur jika memang benar. Tanpa sadar senyumku tersungging lebar dan jantungku mulai berulah. Cepat kuucapkan terima kasih. Panji membalas dengan tatapan lembut. Lho? Apa aku salah lihat ya?
Tok. Tok. Tok.
"Masuk," aku menuju pintu, sementara Panji malah duduk nyaman di sofaku.
"Ada yang cari Pak Panji, Bu," di belakang Umi berdiri anak marketing yang ikut rapat tadi, mungkin sama-sama staf marketing seperti Panji.
"O," ujarku disusul Panji yang bangkit melihat nya. Sesaat terhenti. Berbalik.
"Aku pergi dulu," bisiknya lirih. Kok? Alisku sedikit terangkat. Tapi, dia melenggang pergi, diikuti temannya. Cewek. Tinggi, kuning langsat, dan berambut lurus sebahu. Cantik. Hatiku tercubit. Brownies ditanganku pasti tidak semanis biasanya. Kenapa? Entah!
"Dia, mantan pacar Pak Panji, Bu. Mba Lilis. Sudah setahunan putus sih. Kabarnya mau nikah bulan depan. Calon mertuanya orang penting di kota ini. Mungkin Pak Panji dianggap kurang kaya, padahal sudah lama pacaran. Tapi, kayaknya Mba Lilis belum bisa move on deh. Lihat tuh, nempel aja," ungkap Umi panjang tanpa kuminta.
Apa urusannya denganku. Bodo ah. Kuulurkan brownies kepada Umi, lalu menyuruhnya membagi dengan teman di divisi keuangan. Rejeki gadis saleh, batinnya. Sambil tersenyum Umi melangkah keluar ruanganku.
Ingatanku kembali sepuluh tahun lalu, sewaktu duduk di bangku lanjutan. Panji, kakak kelas yang mengambil jurusan IPS. Bukan cowok yang terkenal. Biasa saja. Supel. Ramah. Bukan tokoh idola di sekolah, tapi bagiku dia idaman. Tak pernah kulihat punya gandengan sampai lulus. Dia sosok sederhana. Tulus, sikap itu masih tampak sekarang. O, jadi dia pernah pacaran juga. Aku penasaran dengan Lilis. Bagaimana bisa membuat Panji jatuh hati. Kuhubungi bagian HRD. Ada satu nama yang kukenal baik, Santi.
"Tumben, baru telpon. Betah ya di situ? Banyak yang bening kan? Haha," tawa Santi mendorongku menjauhkan HP dari telinga.
"Tahu banget ya."
"Iyalah, kan kita yang naruh mereka di situ. Lupa?" kekehnya lagi.
"Ya, ya. Eh, San, tolong nih. Aku lagi butuh info," pintaku pelan. Dia diam dan berubah serius. Santi sangat paham watakku. Aku tidak suka buang waktu jika menyangkut pekerjaan. Tidak suka bergunjing, apalagi ghibah. Anti.
"Oke. Tunggu ya." Dia menutup telpon.
Sabar, gumamku. Tidak selang satu jam Santi menelepon. Sebelumnya aku sudah membayangkan jika Lilis gadis luar biasa. Pasti banyak kelebihannya hingga bisa menaklukkan hati Panji. Lelaki cool itu.
"Sarjana ekonomi, IP lumayan, tidak terlalu pintar, tapi pandai berkomunikasi. Sejak masuk sudah ditaruh di marketing. Pintar ngrayu konsumen kali. Dia juga nyaman di divisi itu sampai sekarang."
"Begitu ya," timpalku lirih.
"Kenapa tertarik dia, Nin?" Langsung kujawab bahwa tadi pagi meeting dengan divisi mereka, aku butuh tahu orang-orangnya. Santi cuma ber-O ria. Setelah berterima kasih, kututup HP. Tidak ada yang istimewa. Panji yang kutahu bukan penyuka gadis pesolek. Apa sih yang bikin dia bertekuk pada Lilis? Terus ngapain juga aku mikirin mereka berdua. Ah, sampai lupa, aku harus jemput Budi. Kalau ngambek, payah lagi!
Kutinggalkan kamar anakku yang sudah lelap di alam mimpi. Kuangkat HP dengan tergesa, jeritannya bisa membangunkan Budi. Setelah lelah berlatih menyanyi, PR dari TK-nya, dia lupa makan, malah tidur telentang di depan laptop mungil hadiah dari kakakku, Lindu. Sejak suamiku meninggal, Mas Lindu sangat perhatian pada anakku, istrinya juga. Mungkin mereka takut Budi kurang kasih sayang. Tidak cuma itu, Mas Lindu sudah dua kali menjodohkan aku, katanya supaya Budi cepat dapat ayah baru. Perlukah? Separah itukah aku? Bener deh, jomblo ngenes. Nasib!
"Gimana, Nin?" Ah, Mas Lindu belum berubah juga. Kuhembuskan napas kasar.
"Kapan?"
"Dia sedang banyak kerjaan di kantornya. Paling bisa minggu depan, Nin." Mas Lindu kok tidak lelah cari jodoh buatku. Tapi, kuanggap itu wujud perhatiannya padaku. Dia begitu pasti karena merasa dialah pengganti almarhum ayah.
"Emang dia kerja di mana, Mas?"
"Tidak tahu persis. Di kantor swasta, kata Pak Hasan, ayahnya. Dia sekantor dengan Mas. Sering curhat, anaknya belum nemu istri yang cocok. Pernah pacaran, eh, putus. Kasihan. Siapa tahu, kalian jodoh. Usaha nggak papa kan, Nin?" Lagi-lagi aku cuma bisa diam dengar ucapan kakakku. Bingung mau menolak. Kupikir kakak berniat baik. Yah, pasrah pada Tuhan saja. Kalau bukan jodoh, kuyakin kami nggak bakal dipersatukan.
"Kalau dia nggak suka Budi, gimana?"
"Aku sudah cari tahu. Dia baik. Perhatian. Ayahnya bahkan siap terima Budi jadi cucunya. Jangan khawatir."
Sudah sejauh mana sih Mas Lindu berembug dengan teman kantornya itu? Kok yakin betul kali ini perjodohan bakal sukses. Apa mereka tidak berpikir ini tentang dua orang yang disatukan. Gimana kalau nggak cinta? Nggak cocok? Ini bukan cuma soal Budi yang cari ayah dan butuh kasih sayang. Tapi, jika ini demi kebaikan anakku, rasanya aku sulit menampik. Budi segalanya bagiku. Akhirnya kuputuskan mengiyakan pertemuan itu. Sabtu depan. Bismillah, bisikku di hati.
Baru saja kuakhiri percakapan dengan Mas Lindu, HP-ku berdering lagi. Kulihat layar di depanku. Vicall. Pak Panji! Kepalaku tiba-tiba berputar hebat. Apa lebih baik kubanting saja HP ini?
"Kamu tahu, Bu Nina janda?"
"Tahu, Lis. Terus kenapa? Masalah?" tanya Panji dengan kening berlipat.
"Biar manager, tapi kalau janda pastilah laki-laki mikir dua kali, punya anak lagi,"
"Kamu dulu nggak suka nyinyir, Lis."
"Bukan begitu, Mas. Kamu tuh lajang, cukup keren, karier lumayan. Sayangkan deket-dekat janda."
Nada bicara Lilis makin tinggi. Kesabaran Panji pun mulai menipis. Sejak Nina hadir di kantor cabang mereka, seminggu lebih, entah kenapa Lilis mulai nyinyir. Apa dia begitu cepat berubah dari saat pacaran dulu? Sifat manusia, kadang sulit ditebak, meski kita pernah dekat sekalipun. Panji menghembus napas berat. Toh, Lilis mau menikah, apa keberatannya jika dia mendekati Nina? Abaikan. Panji melangkah meninggalkan mejanya. Lilis yang duduk di depannya kaget, tidak pernah mantan pacarnya bersikap seperti itu. Dia sudah berubah, batinnya. Rekan-rekan di divisi itu pura-pura tak mendengar panasnya pembicaraan Lilis dan Panji, mereka bersikap sibuk di kubikelnya masing-masing.
Nina baru keluar dari ruang audithor ketika hampir menabrak Lilis. Segera dia minggir. Dia coba tersenyum, Lilis membalas tidak kurang ramahnya. Dia mendekat dan berbicara pelan.
"Ikut saya ke ruang Pak Bowo, Mbak." Lilis sedikit kaget tapi tetap mengekor pada Nina menuju pimpinan divisinya. Hatinya agak deg-degan. Mau apa nih janda? Matanya tidak lagi ramah.
"Apa maksudmu? Kau kan yang membawa nasabah itu ke sini. Kenapa tidak tahu kalau dia sudah diblacklist? Lihat ini, hampir 400 juta macet!" Pak Bowo betul-betul kehilangan kendali. Lilis hanya menunduk. Setitik air mata jatuh. Nina yang sedari tadi berdiri di belakang kursinya memberi tanda pada Pak Bowo agar merendahkan suara. Terlanjur. Suara tinggi itu sudah memenuhi ruang marketing. Panji tersentak mendengarnya. Dia yang baru kembali dari luar segera menuju mejanya. Mengapa Pak Bowo terdengar marah? Rasanya ada yang tidak beres. Dia melirik ke arah pintu yang terbuka sedikit, yang tampak justru punggung Nina. Ada Nina juga? Hati Panji makin tidak enak. Tapi kemudian tak terdengar suara lagi dari ruang itu. Senyap malah. Ada apa sih? Dia hendak bertanya pada rekannya, sungkan. Coba nanti dia temui Nina.
Hampir pukul 4 saat Nina menuju parkir mobil. Terdengar Panji memanggil dengan suara kecil. Dia berbalik. Panji sudah di depannya dengan napas sedikit terengah, seperti habis berlari.
"Boleh numpang?" Mau tak mau Nina mengernyitkan kening. Kenapa mobil Panji? Emang tidak malu numpang mobil janda? Apa kata teman-teman? Belum selesai tanya di hatinya, Panji sudah menyambar kunci di tangannya. Tidak sopan. Siapa yang mengizinkan dia numpang? Panji bahkan mempersilakan dia naik ke mobilnya sendiri. Maaf, meski janda, dia kan manager.
Waktu dia mau protes, Panji buru-buru berkata, "TK Mulia dekat mall AGS kan?"
Kok dia tahu?
"Apa perlu kamu datang?"
"Mereka yang minta, Nin. 400 bukan angka kecil." Elang menekankan pada angkanya. Aku tahu dia menjalankan tugas semata. Profesional.
"Kami bisa menyelesaikan, beri waktu dong."
"Tentu. Ini prosedur, Nin. Kamu tahu kan kenapa ditaruh di sini. Mereka ingin cabang ini lebih banyak progresnya." Aku paham itu, Elang. Cuma kalau harus ketemu kamu terus seminggu ini bikin aku sangat tidak nyaman. Masih kuingat dua bulan lalu, sebelum kuterima tawaran kantor pusat untuk pindah, aku menolak pinangan Elang. Perbedaan keyakinan. Itu final. Aku tidak akan berani mencoba. Di sisi lain aku menghargai keyakinan Elang. Biarlah berakhir dengan kedewasaan. Elang baik, matang, dan kariernya sedang bagus-bagusnya. Pasti banyak wanita tertarik. Sudahlah. Aku malas memikirkan itu.
Aku mengarahkan Elang ke divisi marketing. Dia ingin bertemu Pak Bowo dan Lilis. Kupikir nanti saja kutemui Lilis di ruanganku. Pasti ada jalan untuk masalah ini. Memang bank swasta seperti kami sangat serius membahas pelanggaran jenis ini. Aku jadi kasihan dengan Lilis. Sudah kupelajari kemarin, ini bisa terjadi karena nasabah berusaha menipu data pengajuan. Kasus seperti ini beberapa kali terjadi, di kantor pusat sekalipun.
"Bu, Pak Elang ingin bertemu," Umi berkata di saluran telepon ruangku. Kuizinkan dia masuk.
"Dua hari. Jika tidak kelar, aku datang lagi," kata Elang setajam tatapannya padaku. Kubalas dengan senyum teramat manis, optimis. Aku mengangguk yakin. Dia ulurkan tangan, kusambut dengan ucapan terima kasih. Lama. Terdengar hembusan napasnya lemah. Dia pun meninggalkan ruang setelah memberi sejumput senyum. Senyum yang pernah kusuka. Ah.
"Duduklah." Lilis segera duduk di depanku.
"Saya ingin dengar versi Mbak. Jangan ditambah, seadanya saja. Serius, saya ingin ini selesai dengan baik dan cepat." Aku lebih suka fokus. Lilis sepertinya mengerti tujuanku.
Hampir satu jam dia beberkan dengan gamblang. Aku cukup mendengarkan. Otakku berusaha menyambungkan dengan data dan hatiku mencari celah solusi terbaik. Pasti ada jalan. Lilis, kusimpulkan sudah bekerja sesuai aturan. Tidak ada prosedur dibelokkan. Dia jelas tidak salah. Kuputuskan seorang staf menjemput nasabah, sumber masalah.
Panji numpang mobil lagi. Mobilnya masih di bengkel. Aku tak punya alasan menolak, apalagi kami searah. Dia pegang setir dengan santai seakan mobil ini miliknya. Aku melirik, dia terlihat lebih menarik. Sepuluh tahun mengubah dia menjadi sangat dewasa. Wangi lagi. Eh.
"Terima kasih, ya?"
"Untuk?"
"Membantu Lilis."
"Itu tugasku." Malas mendengar dia menyebut nama itu. Kulempar wajah ke samping kiri.
Saat lampu merah, dia memandangku lama. Aku sedikit salah tingkah. Lalu dengan lembut, seakan takut menyinggung, dia bertanya, "Kamu pernah dekat dengan Pak Elang, Nin?"
"Dekat? Ya. Pacaran? Tidak," jawabku singkat dan jelas. Semoga dia tidak mengorek lebih jauh. Jujur kuyakin nama Elang sudah tutup buku. Tolong, jangan diungkit. Panji pun mengerti. Buktinya dia tak bertanya lebih jauh lagi. Tapi, kenapa arah rumahnya terlewati. Dia fokus nyetirkan?
"Aku pengin ketemu Budi. Dia ingin robot. Tuh, sudah kubawain."
Kemarin saat kenalan dengan Budi, Panji memang janji akan membelikan mainan. Ya, dia rupanya sudah tahu kelemahan anakku itu, robot mainan. Kini arah mobil jelas mengarah ke TK Mulia, tempat Budi bersekolah. Sekolahnya juga menerima penitipan anak hingga sore. Aku biasa menjemputnya sepulang kantor. Tiba-tiba HP-ku menyala, sebuah panggilan. Kugeser layar dan terdengar suara Mas Lindu.
"Jangan lupa, ya, Nin?" Setelah bersalam ria, suara Mas Lindu mengingatkan perjodohan itu. Tiga hari lagi.
Kutengok Panji. Ah, masa orang sehamble ini aku abaikan. Dia asyik nyetir, sepertinya tidak dengar apa-apa. Tetap saja, aku pening!
"Aku tidak salah, Bu Nina tahu itu. Jadi tak perlulah terima kasih," ucap Lilis sedikit emosi siang ini.
Panji menggeleng kepala sambil beranjak dari samping kubikel Lilis. Percuma, pikirnya. Ada hikmahnya juga putus dari Lilis, sekarang baru terasa. Andai dia mau jujur, Lilis pasti malu.
Tadi pagi nasabah bermasalah itu mengatakan di depannya jika dia saudara Lilis. Dia memang niat menipu, tapi kelemahan teknis pengajuan didapatnya dari informasi Lilis. Jadi, Lilis andil dalam kejahatan nasabah ini. Nina meminta Panji untuk diam, soal internal biar ditangani Pak Bowo. Mereka akan bicara pribadi, lebih etis. Ingat Nina, Panji teringat percakapan yang didengarnya kemarin di mobil. Kira-kira Nina setuju tidak ya? Wajah Panji berubah kalut. Dua hari lagi. Dia ikut menunggu dan berdebar. Untung saja Elang sudah tidak masuk hitungan. Fyuh.
Budi berlari menuju pelukan Panji. Nina lembur, dia dengan suka hati menawarkan bantuan menjemput Budi. Ada bibi Siti di rumah Nina, dia bisa mengantar Budi padanya. Anak ini terus berceloteh sepanjang jalan. Kelihatannya dia mudah akrab dengan Panji. Bahkan dia minta dibelikan robot baru. Panji tersenyum, sepertinya tidak keberatan meski Budi minta jadi ayahnya sekalipun. Ah, seandainya bisa, dia lebih bahagia.
Malam ini sungguh melelahkan. Nina memaksakan masalah harus selesai besok, maka keputusan ditentukan hari ini. Sudah 30 menit lebih Lilis menangis di hadapan Pak Bowo. Nina pusing, Pak Bowo apalagi, hampir 5 kali ke toilet. Dari pada berlarut, Nina memutuskan nasabah itu diberi pilihan mengembalikan dengan kebijakan baru atau dimasukkan bui dengan tuduhan penipuan. Dia mengambil jalan tengah, meski berisiko dimarahi Elang atau jajaran petinggi kantor lainnya.
Panji yang diberitahu putusannya sempat protes. Mengapa membela Lilis? Aku tidak membela. Aku cuma memilih jalan terbaik. Banknya tidak akan kolaps gara-gara ini. Nasabah juga masih berniat baik, dan Lilis, kuyakin akan berubah. Semoga saja aku tidak salah, Nina berdoa di hatinya.
Dia ingin segera berada di rumah. Budi sudah dua kali telepon minta dia pulang. Ternyata Budi sudah tidur saat dia sampai di rumah. Panji masih menunggunya di ruang tamu. Nina meminta Panji untuk pulang dan beristirahat.
"Lain kali tidak perlu menungguku, Budi biasa kutinggal dengan Bi Siti." Panji malah tersenyum.
"Aku senang kok menemaninya. Dia juga senang, tadi makan minta kusuapi. Ya, itung-itung ujian jadi ayah. Siapa tahu aku lulus," seloroh Panji. Nina yang mendengar sedikit tersipu, lalu membuang muka malu. Seandainya saja dia bisa membatalkan pertemuan besok. Dia sudah yakin setelah melihat kedekatan Panji dan Budi.
Sepulang Panji, Nina menghubungi Mas Lindu. Setelah mengucap salam, diutarakannya dengan halus niat membatalkan pertemuan lusa malam. Tapi, jawaban kakaknya di luar dugaan.
"Kau mengerti kan, Nin. Kita sama-sama dewasa. Tidak mungkin semudah itu membatalkan janji. Mas bilangkan dicoba dulu. Nantinya tidak cocok, ya tak apa. Tidak enak juga dengan Pak Hasan." Nina cuma bisa membenarkan kata-kata Mas Lindu. Tidak tahu esok kan seperti apa, dia pasrah saja. Malam nanti diniatkan akan diadukan semua di hadapan Tuhannya.
Esoknya pukul 9 Elang meminta Nina datang ke kantor pusat. Nina bergegas berangkat ditemani Pak Bowo. Lilis melihat mereka dengan pasrah. Meski semalam Nina membesarkan hatinya, sepertinya nasibnya kini benar-benar di ujung tanduk.
Nina kembali ke kantor menjelang magrib. Sore tadi dia meminta tolong Panji menjemput anaknya lagi. Sebetulnya dia sangat tidak enak, tapi harus bagaimana? Kantor Mas Lindu jauh, kasihan kalau harus jemput Budi. Bi Siti belum hapal jalan, kan mereka baru ngontrak rumah dua mingguan di kota ini. Panji sendiri sangat senang. Hal ini makin membebani Nina. Besok dia harus menemui calon yang dijodohkan kakaknya.
Tok.Tok.Tok.
Siapa? Pak Bowo baru pamit habis salat jamaah di musala kantor tadi. Nina melirik jam di tangan, pukul 19.00 kurang. Niatnya juga segera pulang. Dikiranya, dia yang terakhir di kantor malam ini. Ternyata masih ada orang lain ya? Bergegas dibukanya pintu. Dia tertegun.
"Kamu?"
Tiba-tiba Lilis memeluk dan menangis di bahunya. Ditepuknya punggung Lilis pelan untuk menenangkan. Pasti Lilis sangat lelah menunggu seharian keputusan kantor pusat. Syukurlah tidak ada pemberhentian, tapi pimpinan menegaskan jangan sampai berulang di kemudian hari. Nina sangat lega.
"Terima kasih ya, Mbak," ujar Lilis sesenggukan. Nina tersenyum sambil mengiyakan. Dia berharap ini menjadi pelajaran berharga bagi Lilis. Tuhan memberi ujian lewat banyak hal. Jika kita lulus, kedewasaan akan kita raih. Semoga Lilis makin dewasa. Nina mengajak Lilis pulang bersama. Ia tahu Lilis tidak membawa kendaraan.
"Panji, laki-laki yang baik, Mbak. Meski, kariernya tidak sebagus Mbak, dia jujur dan perhatian. Kami putus, mungkin karena saya yang serakah," Lilis berkata lirih di atas mobil. Nina menoleh sebentar. Hari makin gelap, pikiran Nina juga masih gelap. Entahlah, hembusnya pelan.
Pagi ini Nina mengantar Budi ke sekolah, dia berpesan bahwa nanti yang menjemput Tante Esi, istri Mas Lindu. Nina berencana pergi menghadiri pertemuan dengan keluarga Pak Hasan di rumah Mas Lindu, sementara dia juga harus menuntaskan urusan Lilis dengan si nasabah hari ini. Biar semua segera selesai dan dia tenang. Energi dan pikirannya betul-betul terkuras minggu ini. Kepindahannya tidak diduga disambut bertubi masalah, kantor dan pribadi. Dia yakin kuat. Dia ingat kepergian suami saat anaknya berusia setahun. Kemudian keputusannya tetap bekerja sambil menyelesaikan S2-nya. Dia mampu. Semoga semua akan berakhir baik. Ya, nanti saat makan siang dia akan berterus terang pada Panji. Dia tak tega, tapi tidak mau membohongi laki-laki itu lagi.
"Pergilah," kata Panji dengan wajah tenang. Tidak ada keberatan sedikitpun. Mengapa hati Nina agak sakit mendengarnya. Ya, kupikir Panji menyukaiku. Ah, mungkin dia cuma kasihan pada Budi. Aku yang terlalu berharap.
Ingatan sepuluh tahun lalu, perasaan yang sama, pada orang yang sama, akankah bertepuk sebelah tangan? Dulu dia malu mengungkapkan. Sekarang juga masih. Tapi, melihat tingkah Panji setelah dia pindah ke sini, wajarlah dia berharap lebih. Ternyata, sama. Dejavu.
Panji sudah pulang duluan. Dia berpesan, jika laki-laki itu memang baik dan dari keluarga yang baik, maka lebih baik dipertimbangkan. Dia tidak tahu, Nina makin sakit mendengarnya. Bodoh, umpat Nina. Dia berharap Panji akan berjuang. Melarang, boleh. Cemburu, boleh. Marah, juga boleh. Jangan menyerah! Apa Panji memang payah? Tapi, dia tidak bersalah. Bukankah Panji tidak pernah mengungkapkan isi hatinya pada Nina. Ah, aku saja yang berlebihan, bisiknya di hati.
Malam ini Budi diajak Erlan, anak semata wayang Mas Lindu nonton film baru secara online di kamarnya. Nina berharap Budi tidak banyak bertanya dan kecewa jika melihat calon ayah barunya. Nina berdoa Tuhan memberi yang terbaik untuk mereka berdua. Kalau pilihan Mas Lindu bisa menyayangi Budi, dia akan terima. Percuma juga mengharap Panji.
"Ayo, Nin, duduk di depan, tamunya sudah datang," ajak Mbak Esi lembut. Sepertinya dia membaca keengganan Nina. Nina tersenyum mengangguk. Senyum sedikit dipoles kebohongan. Dia mengikuti kakak iparnya menuju ruang tamu.
"O ya, Nin, ini Pak Hasan, Bu Hasan, dan ini ...," suara Mas Lindu mengenalkan tamunya satu per satu pada adiknya.
"Aduh, kok saya juga belum tahu nama anaknya, Pak Hasan," sambil terkekeh malu kakakknya menggandeng Nina ke depan persis di hadapan laki-laki itu. Nina menahan napas, tatapannya kosong seketika!
Pagi ini udara terasa segar, berbeda dengan udara yang kemarin dihirup Nina. Embun yang menjatuhkan diri dari daun-daun menghias bumi menjadi lebih indah. Angin yang bergerak malas makin membuai penghuni rumah Nina untuk bertahan bergelung di dalam selimut. Suara azan seperti ketukan halus di rongga pikiran Nina, seakan menyeretnya ke sebuah labirin bermuara di kerinduan. Makin lama, makin jelas mengetuk telinga, menggugah kesadaran untuk beranjak mengambil air lalu bersuci dan menghadirkan diri di depan Ilahi, penguasa kerinduan setiap hati. Damai mengalir dalam alunan zikir, Nina pun tak lupa berucap syukur. Air mata jatuh menandai hatinya yang rapuh, tapi selalu kekuatan Tuhan membentengi sejuta kelemahan untuk tegar menghadapi cobaanNya. Sekarang dia bersimpuh, setelah lelah mendera, Tuhan telah menghela kegundahannya.
Senin dimulai. Hari baru diawali. Melambaikan tangan saat Budi masuk gerbang sekolah dibekali sederet pesan agar senang belajar bersama teman, Nina melajukan mobilnya menuju kantor. Pukul 07.00 dia harus segera sampai, memberi teladan pada bawahan. Hatinya berharap hari ini akan memberi napas baru baginya, Lilis, semua penghuni kantor, dan ... Panji. Ah, nama itu. Sungguh, dia sangat berharap.
Kakinya terasa ringan saat masuk ke ruangan. Parfum Umi dirasa lebih wangi dari biasanya. Senyum sejawat seakan mengirim sinyal keceriaan baru. Melewati minggu melelahkan kemarin sepertinya saat ini semua penghuni kantor bank ini sepakat melupakan serentetan peristiwa itu.
Nina membuka agenda pagi ini, rapat dengan divisi marketing. Lagi! Ketemu Panji nih. Kira-kira gimana nanti? Nina mengetuk-ketuk pulpen di atas meja. Pikirannya tidak kalut lagi. Dia cuma sedang merancang kata-kata yang harus diucapkan nanti. Sungkan, pastilah.
Umi mengetuk pintu. Dia pasti mengingatkan Nina untuk segera rapat. Pukul 9 kurang sepuluh menit. Diraihnya buku catatan, dia berharap bisa menulis hal-hal positif tentang rencana kerja divisi marketing di ruang meeting sesaat lagi. Dia optimis.
Rapat berlangsung serius, meski tidak tegang. Ada yang berbeda sekarang. Lilis lebih ramah. Sementara rekan marketing lainnya berlomba mengeluarkan ide-idenya. Pak Bowo tak kalah sumringah, tidak sekali pun dia terlihat ke toliet. Rekor deh. Panji? Dia tetap rajin melempar senyum pada Nina di sudut ruangan, seperti minggu lalu. Tanpa beban. Ah, dia tak pernah berubah. Entah mengapa Nina merasa malu setelah tahu kenyataan itu.
Setelah menutup dialog panjang divisinya dengan salam, Pak Bowo membubarkan pertemuan.
Lilis mendekati Nina, berbisik pelan di telinganya, "Selamat, ya." Kemudian berlalu sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mata. Apa dia tahu? Nina berujar di hati. Semburat merah menghias pipinya.
"Kapan undangannya dikirim?" Ucapan Pak Bowo benar-benar mengagetkannya. Duh, siapa nih yang menyebar gosip? Aku memang sudah setuju untuk mencoba menjalani hubungan baru saat pertemuan kemarin di rumah Mas Lindu, bukan berarti mau menikah kan? Terus dari mana Lilis dan Pak Bowo tahu coba? Jangan-jangan?
Ruangan hampir kosong, Nina beranjak keluar. Tiba-tiba tepukan halus dirasa menyentuh bahunya. Diputar kepalanya, tampak senyum tulus Pandu terukir di wajah teduh itu.
Dia akan terus bertambah merindukan senyum itu. Bagaimana tidak?
Pandu mengajaknya menuju ruang pimpinan kantor di lantai dua. Mau apa? Tak menolak, Nina mengikuti langkah Pandu di depannya. Hatinya penuh tanya, tapi dia yakin laki-laki itu tak akan menyalahi kepercayaannya. Pandu selalu bertanggung jawab. Kata-katanya selalu bisa dibuktikan. Pantas, Lilis menyebutnya jujur.
Pimpinan menyuruh mereka duduk. Nina membuka percakapan dengan menyampaikan hasil rapat dengan divisi marketing. Kemudian, dirasakan Pandu memegang tangannya pelan menyuruh untuk mencukupkan bicara. Nina menoleh padanya. Kemudian, kata-kata itu meluncur dan membuat suasana sontak menjadi hening, "Kami akan menikah, Pak."
Nina terhenyak tidak percaya. Sedetik. Tiga detik. Suara pimpinan tertawa memecahkan suasana dan berujar cukup keras, "Akhirnya!"
Panji tersipu sambil melanjutkan bicara, "Kami berencana bulan depan melangsungkan pernikahan." Nina masih tidak percaya dengan pendengarannya. Secepat itu? Panji bahkan tidak minta pendapatnya. Dia mendengus kesal, tapi dipaksakan tersenyum sebelum keluar dari ruang pimpinan mereka.
Pertemuan di rumah Mas Lindu dua hari lalu menjawab semua tanya di hati Nina. Mas Lindu sama sekali tidak mengira, apalagi dia. Pak Hasan ternyata ayah Panji. Dia nyaris pingsan saat tahu hal itu. Ketika kakaknya mengenalkan Panji padanya, laki-laki itu tak berhenti tersenyum. Gila. Cuma itu, kata yang muncul di otak Nina. Meski begitu, sejuta syukur membuncah di hatinya.
Ternyata semua ide Panji. Dia dari mula sudah tahu jika ayahnya satu kantor dengan Mas Lindu. Hal itu berawal dari kedatangan Mas Lindu ke rumahnya untuk menjenguk ayahnya yang sakit. Waktu itu, dia bercerita kalau adiknya pindah dari kota lain. Dia sempat mengungkapkan keprihatinan pada Pak Hasan tentang nasib adiknya yang hidup sendiri. Ya, Mas Lindu memang sangat dekat dengan ayahnya. Pak Hasan bahkan sudah seperti orang tua bagi Mas Lindu. Meski sekantor, perbedaan usia mereka cukup jauh. Tak heran, Pak Hasan juga sering menceritakan problem keluarganya, termasuk anaknya yang masih lajang di usia hampir kepala tiga. Begitulah awalnya.
Panji yang tertarik dengan cerita kepindahan adik teman ayahnya menyuruh ayahnya menanyakan nama sang adik. Saat mengetahui dia adalah Nina, timbul keberaniannya mendekati Nina tanpa sepengetahuan mereka.
Nina, adik kelasnya di SMA. Dulu, dia gadis ceria, lincah, dan cukup pintar. Terbukti setelah lulus, Nina mampu menembus perguruan tinggi bergengsi. Gadis itu tidak tahu, jika Panji sering memperhatikannya. Laki-laki itu memang pemalu. Dia tidak pandai bicara, sama seperti kini. Yang berbeda, sekarang dia ingin menunjukkan keseriusannya.
Akhirnya, dia merancang sebuah pertemuan dengan Nina lewat rencana perjodohan. Masih terbayang wajah Nina kaget dengan sempurna malam itu. Ingat itu, Panji tersenyum simpul. Diliriknya perempuan itu, berjalan di samping dengan muka setengah cemberut. Tapi, Panji yakin, Nina bahagia. Kemarin saat diminta ayahnya untuk jadi pendamping Panji, dia tampak mengangguk malu. Digenggamnya tangan Nina erat berjalan di lorong lantai dua kantor mereka, sepertinya perjalanan mereka kini akan berakhir di tujuan yang sama. Setelah sepuluh tahun menunggu, Tuhan memberi tujuan yang indah untuknya. Ninalah tujuannya. Tak terucap, memang, karena Panji lebih menyukai pembuktian. Pilihan Tuhan tak pernah salah, bukan?