Kata kunci: kekuatan super, Dimalam hujan yang dingin, Aries - Cafe.
# Mungkin ini bukanlah sebuah pilihan, tapi inilah takdirku. Berubah menjadi manusia berkekuatan super. Di malam hujan yang dingin ini aku merenung, menerawang mengingat masalalu, ketika aku di campakkan oleh seorang wanita di sebuah Cafe terkenal di pusat kota. #
Deru kendaraan bermotor saling bersahutan di jalanan yang penuh sesak ini, kulihat seorang bapak tua bertongkat ingin menyebrang jalan. Kuhentikan di pinggir jalan kendaraan roda duaku, setengah berlari aku menghampiri beliau.
" embah mau nyebrang ya?? sini saya bantu !! kendaraan nya padat mbah", tawarku padanya sambil memegang lengannya.
Si embah tidak menyahut, beliau hanya mengangguk tanda setuju.
Kenapa si bapak tua ini harus berjalan sendirian?? kemana keluarganya?? aku berpikir sambil melangkah menuntun beliau.
Setelah menyebrang, beliau hanya tersenyum dan memberikan sebuah jam tangan kuno padaku.
" Maaf ya mbah, saya hanya mau menolong, tidak perlu memberikan ini embah!!, tolakku secara halus sembari menyodorkan jam itu padanya.
Bapak tua itu menggeleng perlahan dan mulai berkata.
" Terima saja nak, suatu saat kau pasti membutuhkannya, ini sudah menjadi jalanmu".
Beliau tersenyum dan berjalan perlahan ke sebuah taman yg ada di pinggiran kota.
Terpaksa aku menerima maksud baik dari beliau, sebelum berbalik pergi, aku lupa menanyakan nama beliau, ku balikkan badanku dan bapak tua itu sudah menghilang dari pandangan.
" Cepet amat si embah ngilangnya, perasaan tadi baru jalan di pinggir pohon itu deh", gumamku seorang diri sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Ku lajukan lagi kendaraanku menuju tempat kerja.
Derttt.... dertttt....dertttt...
Kudengar suara gawai, ternyata pujaan hatiku menelpon " Ada apa Yang??" jawabku Ramah dan mesra.
" Mas Hendra, aku pengen ngobrol, penting banget mas, kita ketemu sekarang ya!!!" Widia berkata tidak sabar dan terburu buru.
" Kalau sekarang gak bisa Yang, kerjaanku masih numpuk, gimana kalau Rabu malem kamis??" usulku pada widia.
" Ya udah deh mas, deal ya malam kamis, aku tunggu di cafe el pacino jam 8 malam, oke !!" widia langsung menutup panggilannya.
" Yeyyy ini orang buru buru amat sih, belum juga gue gombalin, huuhhhh", Gumamku seraya meletakkan gawai di atas nakas.
Malam hari setelah pulang kerja.
Kulemparkan tas punggung yang selalu bertengger di pundakku, malam ini aku harus tidur dengan nyenyak, besok malam aku akan berkencan dengan widia, jadi aku harus menjaga penampilan dan kesehatanku agar bugar.
Di dalam kamar, setelah membersihkan diri, kudengar sayup sayup suara lirih seorang wanita.
" Gunakan aku, aku akan membuatmu kuat, aku akan membantumu", kira kira seperti itulah suaranya.
" Ah ....mungkin itu hanya suara televisi di kamar sebelah", gumamku seorang diri sambil merebahkan badanku di atas kasur yang nyaman.
Tidak butuh waktu lama, akupun terpejam.
Disaat bersamaan sebuah jam tangan kuno terjatuh dari kantong celana yang Hendra pakai tadi pagi.
Jam kuno itu terbuka, berdetak, menimbulkan suara yang berbeda dari jenis jam lainnya, jarum jam menunjukkan angka 12 romawi kuno.
Sebuah catatan menyembul dari balik jam kuno. menunggu sang empunya membacanya.
Entah apa maksudnya, di sisi lain, Hendra yang tidur dengan lelapnya bermimpi di kejar seorang pendekar wanita, wanita itu terus mengejar dan memanggil namanya, " Hendra, Kau harus ikuti semua petunjukku, Hendra, cuma kamulah satu satunya yang bisa menjadi penerusku".
Hendra berlari dan terus berlari tak terasa dia sudah berada di pinggir jurang, karena angin bertiup kencang, keseimbangannya runtuh dan jatuh seketika.
" Hah....hah....hah...." suara nafasku berderu. "Astaga, semua ini cuma mimpi, syukurlah", Hendra melanjutkan kembali tidurnya setelah minum air putih karena efek terkejut akibat mimpi tadi.
**********
Malam kencan pun tiba.
Sambil bersiul aku merapikan rambut, dan mematut diriku di cermin," wah aku ganteng sekali malam ini, Widi pasti kaget aku berdandan ala bos besar seperti ini".
Ku kendarai motor kesayanganku menuju Cafe el pacino.
Kulangkahkan kaki masuk ke ruangan Cafe, disana Widi sudah menungguku.
Dia cantik sekali malam ini, gaunnya cocok sekali, tak kusangka pujaan hatiku secantik ini.
" Udah lama nunggu yang??" tanyaku memulai obrolan.
" Gak kok mas, gak sampe lima menit aku disini,
bentar lagi makanan yang aku pesan akan datang, duduklah dengan nyaman" senyum nya ramah.
" Kamu cantik banget yang malam ini, gaun itu cocok sekali kamu pakai", aku berkata kagum.
Widia hanya tersenyum kaku.
Kami memakan makanan malam ini dengan khidmat dan santai, sesekali kulirik widia di depanku.
Dia merasa gelisah dan memikirkan sesuatu.
Ini pertama kalinya aku merasakan makan malam di Cafe mewah. Sungguh pengalaman baru buatku.
" Habiskan makannya mas, malam ini aku yang traktir", Widia tersenyum getir.
" Gak boleh gitu dong, harus aku yang bayar, masak lama gak ketemu, malah kamu yang bayar", aku menolak tak terima.
" Sudahlah mas, gak usah di pikirkan, aku sudah bayar dari awal aku memesan meja ini", sahutnya enteng.
" kembali ke topik yang mau aku bicarakan sama kamu, selama kita tidak bertemu, aku berpikir seharusnya kita tidak usah bertemu lagi mas, hubungan kita sampai disini saja, kalau kita berpapasan di jalan, anggap saja kamu tidak mengenalku, Maaf aku harus pergi". Widia beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan aku yang terperangah seorang diri.
Aku berdiri, setengah berlari mengejar Widia,
aku harus minta penjelasan darinya. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, terlihat Widia memasuki mobil porsche, seorang pria di dalam mobil itu tersenyum sambil memegang tangannya.
Ternyata aku di campakkan karena aku hanyalah pria biasa yang sederhana.
Aku hanyalah karyawan di sebuah anak perusahaan yang bergerak di bidang pengantaran barang.
Ku berjalan dengan langkah gontai menuju kendaraanku. Sungguh di sayangkan, hubungan kami selama 2 tahun ini sia sia belaka.
Malam ini aku tak bisa memejamkan mata. Hati ini sakit bagai di sayat sembilu, mungkin selama ini cuma aku sepihak yang mencintainya.
Ku ambil gawai di atas nakas, mencoba menghibur diri dengan menonton, ketika ku raih gelas, jam kuno itu terbuka dan ada lipatan kertas di dalamnya. Kubuka perlahan kertas itu, ternyata aksara jawa kuno.
" Lebih baik gue cari tau apa arti kalimat ini, jaman sekarang kan ada embah gobyos, jadi gue bisa mengartikannya dengan mudah" gumamku seorang diri.
Selesai mengartikannya, aku ucapkan kata perkata yang maknanya tidak aku ketahui.
Tiba tiba, badanku terasa memanas, seperti di aliri energi yang maha dasyat dan tubuhku ringan seperti kapas.
" Kenapa aku seperti ini, ringan sekali badanku, energiku terasa banyak dan tak terbatas" gumamku seorang diri sambil melihat tubuhku.
Tanpa sadar aku terlelap, di satu sisi lain sebuah jam kuno terbuka, cahaya berpendar dan muncullah seorang wanita berpakaian pendekar ala jaman dulu. Dia memamerkan selendangnya yang berkilauan.
" Hendra, bangunlah nak, aku akan memberikan sesuatu padamu".
Aku merasa pusing, kurasakan kepalaku memanas, ku kerjabkan mataku, membukanya perlahan.
" Si...si-apa ka-mu?? Ke-na-pa ka-mu bi...bi-sa a-da di-sini???" tanyaku terbata.
Kulihat seorang wanita berpakaian jaman kerajaan, selendangnya berkilau, parasnya ayu khas wanita jaman dulu.
" Jangan takut wahai keturunanku, aku adalah buyut dari buyutmu yang terperangkap di jam kuno itu, seseorang menangkapku dan menyimpan roh ku disana, sekarang kita tidak punya waktu lagi". dia menjelaskan panjang lebar.
" Kamu harus berlatih denganku selama 3 hari 3 malam agar kekuatanmu bertambah dan tak tertandingi, sebelum berlatih kamu rapalkan dulu mantranya seperti semalam.
" Jadi aku salah satu keturunanmu?" tanya ku tak percaya.
Dia hanya menganggukkan kepalanya.
" Panggil saja aku laksmini, mulai sekarang kau menjadi manusia berkekuatan super yang akan melawan hantu gentayangan yang meminta tumbal manusia, ingat lah selalu misi ini", Laksmini berkata panjang lebar.
Aku berlatih bersama laksmini, selama berlatih, kekuatanku semakin bertambah pesat, kurasakan energi positif mengalir di tubuhku.
Aku kuat seperti gatot kaca, aku cepat seperti anak panah yang melesat.
Laksmini memberiku tugas, dia ingin aku menghabisi seorang pria keturunan Ricardo yang sudah mengurungnya selama ini.
Setelah ku selidiki, ternyata dia pemilik Cafe el pacino, fotonya berada di tanganku.
Dia, dia yang sudah merebut Widia, laki laki itu, tunggu saja pembalasanku.
Aku menghubungi teman seperjuangan di universitas dulu, ku beri mereka penjelasan seadanya dan di buat buat, seolah di dalam Cafe el Pacino terdapat lukisan kuno yang mahal.Dan kami akan menukarnya.
Rudi dan Ando menghampiriku di Cafe el pacino.
" Hendra, lu tambah ganteng aja bro, selama ini kita gak ketemu, hanya mengobrol di grup saja", Rudi bersalaman denganku.
" Dari dulu bukannya gue udah ganteng ya!!" cengirku pada mereka.
" Iyain aja deh, daripada ngambek, kan elu dari dulu ngambekan ", sahut Ando sambil tertawa.
Kami bertiga berencana menyamar jadi karyawan disini, tepatnya menyamar menjadi cleaner service.
Setiap malam jumat, pemilik Cafe melihat kinerja karyawannya.
Persiapan sudah matang.
kami sudah berganti seragam cleaner service, kami menggunakan kumis tipis palsu agar tak ada yang mengenali wajah asli kami.
Setelah Cafe ini tutup, kami berganti pakaian dan bertindak, tak lupa kami memata matai pemilik Cafe ini, Dia, laki laki yang sudah memenjarakan buyutku di jam kuno, Mateo Ricardo.
Terdengar suara rintik hujan di luar sana, dingin mulai merasuk.
Ku intip dia di ruang kerjanya, ternyata dia memang menginap disini pada malam jumat.
Ku jauhi kedua temanku, kurapalkan mantera yang sudah ku hafal.
Kekuatanku sudah muncul, sekarang aku bukan manusia biasa, aku seorang manusia berkekuatan super, akan beraksi untuk menyelesaikan misi di cafe ini.
Kulihat Mateo tidak sendiri, di ruangan itu banyak arwah gentayangan. " Ternyata benar, dia bersekutu dengan makhluk gaib, pantas saja usahanya selalu berhasil tak terkalahkan". gumamku di belakang Rudi dan Ando.
" Apa misi kita sebenarnya? kenapa kamu hanya bilang mau menukar lukisan? sebenarnya apa yang kau sembunyikan Hen?" cecar Rudi bertanya.
"Kalian tunggu disini saja, jangan sampai pikiran kalian kosong dan selalu berdoa, aku akan menghadapi manusia itu", sambil melangkah ke dalam ruangan kerja Mateo.
" Ternyata ada tamu tak di undang, menyerahkan nyawa sendiri, ck...ck...ck..." Mateo bertepuk tangan sambil berdecak mengejek.
" Jangan senang dulu, kau sudah bersekutu dengan mereka, jangan salahkan aku kalau aku akan melawanmu dan mereka", kuarahkan pandanganku ke makhluk gaib yang bertebaran di ruangan ini.
" Ciihhh, siapa dirimu berani melawanku" nadanya mengejek.
"Aku keturunan Dewi Laksmini, yang buyutmu kurung di dalam jam kuno ini", sambil kuperlihatkan jam kuno di tanganku.
" Brengs*k beraninya kamu mengambil barang yang bukan milikmu, itu punyaku, kembalikan sekarang", pintanya marah.
" Aku tak mencurinya darimu, aku di beri oleh kakek tua, weeeekkk" sambil menjulurkan lidah aku mengejeknya.
" Hajar dia para makhluk gaib, siapa yang bisa membunuhnya aku beri tumbal 2kali lipat". Ujarnya geram.
Jiaaaatt, ku serang dengan kilatan cahaya makhluk gaib tadi, yang terkena seranganku langsung berubah menjadi asap putih.
" Masih tersisa beberapa lagi, aku harus mengakhiri nya", lirihku.
" Jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini hidup hidup !" Mateo berkata geram.
Tiba tiba jam kuno yang kupegang berubah menjadi sebuah pedang perak yang berkilauan.
Pedang itu memancarkan sinar keunguan.
Ku tebaskan pedangku ke arah makhluk gaib tadi.
" Kalian tidak ada apa apanya di bandingkan aku".
Mateo geram dan merubah wujudnya menjadi makhluk tinggi besar, bertaring hitam, berkuku runcing dan bertanduk merah.
" Ternyata kamulah iblis yang sebenarnya, aku akan menuntut balas akan perlakuanmu padaku serta pada buyutku".
Kami bertarung tanpa mengenal lelah, pedangku beradu dengan kukunya yang tajam.
Tusuk jantungnya, hanya itu caramu mengalahkan manusia iblis itu.
Terdengar sebuah suara, aku mengikuti petunjuk tadi, tapi tidak segampang itu, Iblis ini berhasil menghindar.
Aku tak pantang menyerah, kulesatkan pukulan dan pedangku ke arah iblis itu, dia menepis dan tiba tiba saja dia terkena salah satu tebasan pedangku yang bertubi tubi.
" Arghhh......" iblis mengerang kesakitan.
"Sekarang saatnya" kataku dalam hati.
Kuhunuskan pedangku ke arah dada kirinya, dan wushhhhh....... Iblis tadi berganti menjadi asap hitam sementara tubuh Mateo bersimbah darah.
" Hah....hah....hah.... aku mulai mengatur nafas yang tersengal akibat perkelahian tadi.
Bangunan ini bergetar hebat, atapnya roboh hampir menimpaku, aku berlari secepat anak panah, ku cari kedua temanku.
" Sepertinya ada gempa, ayok kita keluar dari sini",
Perintahku.
Kami berlari ke luar ruangan. Hanya bangunan ini saja yang roboh dan tidak ada gempa, mungkin ini efek dari persekutuan dengan iblis.
Malam masih di temani hujan, dingin mulai merasuk ke pori pori kulitku.
Kami langsung menuju kostan ku yang tidak jauh dari sini.
Malam ini, aku tidak dapat tidur, memikirkan nasibku yang punya kekuatan super. Dan harus membasmi hantu hantu gentayangan yang jahat.
Ku hembuskan nafasku pelan.
Mungkin ini bukanlah pilihan, tapi inilah takdirku. Berubah menjadi manusia berkekuatan super, di malam hujan yang dingin ini, aku merenung, menerawang, mengingat masalalu, ketika aku di campakkan oleh seorang wanita di sebuah Cafe terkenal di pusat kota.
Cafe itu sudah runtuh, hanya tersisa puing puing runtuhannya saja, Mateo di temukan diantara reruntuhan itu. Widia menyesal atas keputusannya.
Tapi aku sudah bisa meng ikhlaskan ini semua.
Aku tidak akan menerima kembali seorang wanita yang di butakan oleh kilauan harta benda.
Aku merasa kembali hidup dengan kekuatan baruku, tidak ada lagi rasa penyesalan.
Aku di sibukkan dengan misiku, yaitu menghancurkan hantu hantu gentayangan.
# TAMAT #