"Aku tidak bisa terus seperti ini, aku akan mati! Namun sebelum itu terjadi, aku harus bertahan, bertahan" belum sempat Inn mencapai koloninya, pandangan mulai memudar dan dirinya tidak sadarkan diri.
Nampak dengan luka disekujur tubuhnya; bekas tikaman yang mengoyakkan beberapa kulitnya, hingga darahnya bercucuran keluar dan saat tenaga dan darahnya terkuras, dirinya pinsan.
Terbawa arus hingga akhirnya terdampar di sebuah pesisir pantai dengan keadaan tidak sadarkan diri ditengah malam.
Pagi harinya...
Aku Roni, anak seorang janda yang entah kemana ayahku tidak diketahui kabarnya dari semenjak aku kecil.
Tidak ada yang tahu keberadaan ayahku; hanya ibu, namun jawabanya selalu: "ayah sudah meninggal, saat melaut" namun tidak ada yang tahu kapan dan dengan siapa ia berlayar, saat aku tanyai warga yang lain.
Semua tampak normal, semua warga baik terhadapku juga keluargaku. Kami hidup dengan sederhana, namun berkecukupan.
Puji Syukur karena yang kuasa masih memberikan berkah melimpah melalui hasil alam kita.
Sekolahku hanya sampai SMA. Saat ini usiaku 20 tahun, membantu masyarakat dan orangtua ku, adalah kegiatan ku saat ini. Aku berharap alam terus melimpahkan kemakmuran terhadap kampung kecil kami.
"Makk; Roni barangkat mancing dulu, ya" dengan suara nyaring, meneriaki Ibunya yang sedang berada di dapur.
"ya..... Jangan siang-siang baliknya" Terdengan balasan dari ibunya yang sedang berada di dapur.
Roni mengambil joran dan topi, lalu dengan segera berangkat menuju pantai, karena sudah tidak sabar untuk melemparkan umpan dan mendapat ikan.
Menyusuri bebatuan dan menghindari sapuan ombak, menjadi kesenangan tersendiri dalam perjalannya menuju tempat rahasia, banyak ikan untuk dipancing yang belum banyak orang lain ketahui, dan memang tempat ini masih desa dan terpelosok pula, jauh dari keramaian.
Sesampainya di tempat tujuannya, di sebuah cekungan karang, ia dikejutkan dengan sebuah tangan yang terlihat tergeletak dibalik batu, dari jauh ia amati. Karen hanya terlihat tangannya saja, ia mendekat memastikan di balik cekungan batu itu. Dan dibaliknya terdapat tubuh seorang gadis tanpa busana dengan banyak luka didalam tubuhnya. Sigap Roni langsung memastikan keadaan gadis tersebut.
"Hah, waduh. Sudah mati nih" karena tidak ada denyut nadi saat ia memegang pergelangan tangannya. Roni melihat kekanan dan kekiri, memastikan siapa tahu ada warga yang dekat dan meminta bantuan.
Karena tidak ada siapapun, juga gadis tersebut terlihat tanpa busana, jadi Roni melepas pakainnya menyisakan celananya untuk menutupi tubuh perempuan itu dan membawa mayat perempyan tersebut ke rumahnya untuk dilaporkan ke RT kampungnya. Ia menggendong mayat tersebut, dan membatalkan niatnya untuk memancing.
"Sudah ke tiga kalinya ini ada orang yg meninggal, kenapa mereka mudah sekali bunuh diri? Padahal semuanya mereka punya; uang, jabatan juga barang-barang mewah. Bikin susah orang aja, mati di kampung orang." Roni bergumam dalam perjalannya menggendong mayat tersebut.
Ia sudah tidak syok melihat mayat, karena ia sudah dua kali menemui kasus bunuh diri di desanya. Biasanya mereka orang kota yang kaya, terlihat dari pakaian dan kendaraan yang dia tinggalkan sebelum bunuh diri.
Roni beranggapan bahwa mereka tidak bersyukur atas apa yang mereka punya.
Sementara itu...
"Hangat.!" Inn berkata dalam dirinya, lalu membuka matanya dan menemukan dirinya sedang digendong oleh seseorang yang ia tidak kenal.
Lagi ia berkata dalam dirinya "Manusia.!? Ini kesempatanku untuk memulihkan tubuhku, uh tubuhnku terasa sakit." tanpa berlama lama, Inn megangangkat kepalanya dan menancapkan taringnya di pundak Roni.
"Arghhhhhhhhhhh" Roni berteriak, sekaligus terkejut. Sontak Ia melepaskan gendongannya dan menjatuhkan tubuh gadis tersebut ke pasir. Ia reflek memegang pundaknya yang berdarah karena gigitan gadia yang ia gendong.
"Hidup! Kamu masih hidup!!" Roni terduduk dan panik, ia menjauhkan dirinya dari gadis tersebut.
Nampak gadis tersebut menikmati darah yang tersisa di bibirnya. Roni yang terkejut dan kesakitan, juga ketakutan karena gadis tersebut mendekatinya.
errrrrrrr..... Gadis tersebut menggeram terhadap Roni yang ketakutan.
"Ahhh, Aaaaaaaaaa. Tolong, Tolong....." Roni berjalan merangkak, sambil memohon, karenan gadis itu terus mendekat.
Gadis tersebut berhenti dan menundukan kepalanya sampai ke permukaan pasir.
"Terimakasih. maaf aku tidak bermaksud melukai kamu, tapi kalau tidak begini, maka aku pasti mati. Aku harus mendapat darah agar dapat hidup." gadis itu kini nampak sehat dengan luka yang sudah hilang.
Lalu ia bangun menuju air laut dan gadis itu meninggalkan Roni yang terdiam, menghilang dibalik ombak-ombak pantai.
Roni terbaring, sejenak mencoba mencerna apa yang ia temui hari ini. Ia sangat bimbang; tidak percaya sekaligus takjub, karena dongeng yang biasa ia dengar dari kakeknya dulu.
Kakek pernah bercerita...
jauh sebelum kakek dewasa dan mempunyai anak, saat itu kakek berusia 7 tahun. Kaum duyung dan manusia masih saling membantu dan hidup berdampingan.
Saat itu adalah terakhir kalinya kaum duyung menampakan dirinya, oleh karena salah satu dari pada putri kaum duyung dan pemuda manusia melanggar janji yang di ikrar-kan. Janji tersebut adalah; "bahwa diantara manusia dan kaum duyung tidak boleh memikiki hubungan perasaan" Namun, hal tersebut terjadi, kedua pasangan beda alam tersebut melanggar janji, mereka saling jatuh dalam gelapnya cinta.
Sepandai-pandainya kedua sejoli tersebut menyembunyikan hubungan mereka, namun akhirnya diketahui pula.
Kedua pihak menolak untuk mengeksekusi mereka berdua; karena sang duyung adalah putri keluarga garis biru, dan pemuda manusia tersebut, cukup dikenal sebagai anak muda berbakti terhadap masyarakat. Jadi kedua pihak segan untuk menghilangkan nyawa mereka.
Agar tidak terulang kembali hal yang seperti itu, kaum duyung menghilang dari lingkungan manusia. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang pernah menemukan atau bertemu dengan kamu duyung atau sebaliknya.
Sesampainya dirumah..
"Ron, kamu kenapa?" ungkap sang ibu yang cemas melihat baju anaknya yang berdarah. Sang ibu mendekat dan memastikan luka tersebut.
Roni yang tidak ingin membuat ibunya bingung atau khawatir, membuat dirinya seolah-olah adalah kesalahannya.
"Tadi pas Roni mau mancing, Roni terpeleset Mah, tapi ngak apa-apa untungnya cuma kena pundak Roni, cagak kayu nya, nyaris kena pipi sih, tapi untungnya enggak" Roni mencoba mengarang cerita dan berharap ibunya percaya.
Keesokan harinya..
Roni terbangun dengan hilangnya luka bekas gigitan dari gadis misterius yang ia temui kemarin.
Ia meraba pundaknya, memastikan lukanya yang sudah tidak terasa sakit sejak ia bangun tidur, namun ia tidak menemukan luka tersebut, seakan tidak percaya Roni langsung menuju kaca kamarnya "Benar benar hilang!"
Ia meastikan dan membuka kausnya, "Hilang beneran.! Perasaan kemarin baru diobati emak."
Roni yang terheran-heran, akhirnya memutuskan untuk mempercayai cerita yang kakeknya ceritakan sebelum meninggal dulu, bahwa bisa jadi perempuan kemarin adalah seorang duyung. Terbukti dari kelakuannya yang aneh, dan menghilang dalam air laut.
Sementara itu..
Roni kembali ke tempat kemarin ia bertemu dengan perempuan itu. Ia mencari-cari barangkali terdapat sesuatu dari perempuan itu yang tertinggal, namun tidak ia temukan. Sejenak ia terdiam memandangi ombak yang bergemuruh, dan melihat arus air yang sedang kencang. Dalam hatinya merasa ngeri jika dirinya samapai tercebur; pastilah ia terseret ketengah laut.
Dalam diamnya, ia mendengar suara ceplakkan air dari balik batu karang yang menonjol. Ia memastikan sumber suara tersebut, ia berhati-hati karena karang tersebut licin dan benar-benar berada di ujung dan langsung menghadap ke laut.
Saat dirinya akan mengintip, seketia ia terkaget karena sepasang bola mata menatap sangat dekat dengannya saat ia coba mengintip sumber suara tersebut.
"Aaaaaaa" b y u r r r r r r..! 0
Roni tergelincir karena kaget dengan wajah seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik batu tersebut, ia seketika menarik tubuhnya dari balik batu itu namun sayangnya ia tergelincir dan jatuh ke laut.
Arus air yang kuat membuat Roni tidak dapat mengontrol dirinya dan tenggelam.
"aku mati seperti ini?" Roni menghayal dalam gelapnya arus air yang menyeretnya ketengah laut yang dalam.
dadanya sesak ingin bernafas, dan ia merasakan air memasuki tengorokannya, namun saat ia mencoba membukan matanya untuk terakhir kalinya, ia terkejut! ada tangan yang menariknya dari dalam air menuju permukaan, tangan perempuan dan dengan lincahnya mengontrol dan menakluknan arus air tersebut.
Saat dipandangnya kearah kakinya, ia hanya melihat ekor ikan yang besar dan itu mengejutkannya sekaligus meyakinkan dirinya, memang duyung yang diceritakan oleh kakeknya itu ada.
Uhukkkkkkkk...... Uhukkkkk.......
Roni terbatuk karena air laut yang masuk kedalam tenggorokannya, Ia terkapar lemas, dadanya naik turun mengimbangi nafasnya yang terengah-engah.
Ia memandang kearah perempuan yang menyelamatkannya; perempuan itu tampak memandangi Roni dengan aneh, ekornya sudah berubah menjadi kaki manusia. Namun ia tidak bisa menggunakannya dengan baik, ia menyeret kakinya, dan mendekati Roni.
"Terimakasih ya, udah meyelamatkan ku" Roni terduduk di bawah pohon yang di pinggir pantai. Tangannya memeluk dengkulnya, sambil sesekali melirik kearah perempuan yang duduk mengikuti posenya.
Perempuan itu terus memandangi Roni, sesekali mendekatinya; menunjukan taringnya, seperti ingin menggigit.
Roni yang merasa ngeri bertanya: "mau ngapain kamu?" tanya Roni sambil menjauhkan tubuhnya dari perempuan itu.
"Inn,butuh, inn" perempuan itu mencoba mengatakan sesuatu, namun ucapanya membingungkan Roni.
"Kamu mau makan aku?" tanya Roni dengan tidak bermaksud menantanginya, karena sebenarnya dirinya juga takut.
"Inn, minta sedikit darah manusia, Inn bisa hidup" uangkap perempuan itu.
Roni kembali bertanya: " kamu minum darah manusia?" Roni memandangi perempuan itu cukup lama.
Perempuan itu mengangguk, mendengar ucapan Roni.
Karena perempuan duyung itu telanjang, Roni membuka bajunya hendak mengenakannya kepada perempuan itu.
Melihat Roni melepas pakainya, perempuan itu senang, mengira bahwa Roni akan memberikan darahnya, dan saat akan menerkam pundaknya, Roni mundur dan melemparkan pakaiannya ke muka perempuan itu.
"Anjirrrrr" Roni menunjukan ekspresi ngerinya terhadap perempuan itu.
Roni menyuruhnya menggenakan pakaian yang ia berikan, namun taklama, perempuan tersebut bergetar, menggelepar; seperti ikan yang kekeringan; Roni bingung.!
Perempuan itu mengulurkan tanganya kearah Roni, ia seperti meminta sesuatu dan ia teringat dengan ucapan perempuan itu sebelumnya, bahwa perempuan itu menginginkan darah Roni.
Karena semakin parah, Roni akhirnya memberanikan dirinya untuk memberikan darahnya. Dengan menyodorkan pundaknya, dan mengangkat tubuh wanita itu, mereka berpose seperti sedang berpelukan.
Segera perempuan itu menghisap darah Roni.
Roni berteriak karena sakit, namun Roni fikir, mungkin akan seperti kemarin, luka bekas digigit olehnya anak menghilang dengan cepat, jadi Roni menahannya, rasa sakitnya itu.
Tubuh perempuan itu kini tidak lagi bergetar, namun Roni merasa dirinya sangat lelah dan mengantuk; matanya merabun. Roni pinsan dengan keadaan tubuh mereka berpelukan.
Beberpa jam kemudian....
"Kamu sudah bangun? Untung aku tidak menghisap habis darahmu" perempuan itu kini sudah dapat berbicara dengan normal.
Roni yang masih merasa sedikit pusing, mencoba mendapatkan kembali kesadarannya setelah pinsan. Ia meraba pundaknya; tetapi tidak ada luka bekas gigitan.
"Kok luka bekas gigitan mu bisa hilang?" tanya Roni, karena dirinya ingin tahu hal tersebut yg terjadi hari ini juga kemarin saat ia mencari cari luka yang dipundaknya, namun luka tersebut hilang pula seperti saat ini.
Perempuan itu hanya terdiam sambil duduk dibawah pohon bersama dengan Roni, karena ia tadi pinsan.
"Apa kamu benar duyung?" tanya Roni singkat.
Keadaan menjadi hening sejenak. Lalu perempuan itu mulai berbicara.
"Bisa dibilbang seperti itu, namun aku sedikit berbeda."
Roni menjadi heran, kenapa perempuan itu berkata seperti itu.
"Aku minta, jangan katakan kepada siapapun tentang aku. Karena aku ini tabu bagi Manusia juga duyung."
Roni yang merasa bingung kembali bertanya: " kenapa Tabu,? Dan kenapa kamu bisa disini?"
Perempuan itu menarik nafasnya, "aku kasih tahu semuanya, tetapi janji kamu tidak akan beritahu siapapun, tentang keberadaanku ini"
Roni mengangguk tanda setuju dengan syarat yang diberikan oleh perempuan itu, maka perempuan itu menceritakan semuanya..
Aku adalah anak hasil kawin silang, antara manusia dan duyung. Setelah aku lahir, ibuku menceritakan bahwa aku istimewa. Masa kanak kanakku sangat buruk, tidak ada yang mau bermain denganku, para duyung dewasa juga memandangku sinis.
Sampai saat aku remaja, aku mulai menyadari bahwa aku hasil perkawinan antara manusia dan duyung. Akhirnya aku mengerti kenapa semua orang memandangku sinis, hingga saat aku mencapai batas usia dewasa, aku mulai kehilangan kemampuan berbicaraku sedikit demi sedikit, dan pandanganku mulai merabun.
Aku menceritakan kepada ibuku, dan beliau membawa aku ke salah satu tetua yang mau membantuku. Ia berkata bahwa aku kekurangan hormon manusia, karena ayahku seorang manusia, dan saat bayi dalam kandungan ibuku; ayahku tidak ada bersama ibuku, karena kami duyung saling membagi hormon untuk bayi dalam kandungan melalui kontak fisik, berbeda dengan manusia yang sejak dikandungan sudah membentuk hormon dengan sendirinya. Tetua memberi nasihat agar aku bisa terus bertahan, aku harus mendapatkan hormon manusia.
Terdapat dua pilihan; mendapatkanya melalui darah manusia agar dapat bertahan lebih lama, walau tidak selamanya, dengan cara seperti itu, adalah yang paling mudah dan berkerja dengan cepat, atau bisa juga dengan melakukan kontak fisik setiap hari dengan manusia, seperti yang biasa duyung lakukan, hingga anak mereka menemukan lelaki dan hidup terpisah dari orangtuanya. Namun untuk cara yang kedua adalah hal yang cukup mustahi, karena tidak ada manusia yang bisa bertahan didalam air, dan tidak mungkin dirinya menawarkan untuk tinggal di darat dengan manusia. Apa yang mungkin manusia lakukan jika ia memang menemukan seekor duyung asli.
Akhirnya pilihan pertamalah yang aku pilih, yaitu memburu manusia.
Maka dari itu aku berpisah dengan ibu, meninggalkan kaum ku, menuju selatan selaman 30 hari berenang dari kedalam hanya untuk menemukan para pencari ikan, yang kalian sebut nelayan.
Saat itu aku menemukan sebuah kapal, dengan manusia di dalamnya. Aku mencoba mengalihkan satu manusia menuju sisi tepi kapal dengan suara air yang aku buat dan aku menyanyikan lagu terhadapnya untuk menghipnotisnya, namun saat aku akan menariknya ke laut, temannya melihatku, dan aku gagal mendapatkannya. Keadaan berbalik, dan aku yang menjadi buruan mereka, aku mendapatkan luka ditubuhku karena para pemancing itu melemparkan beberapa benda tajam terhadapku, dan aku tidak dapat menggunakan kemampuan untuk mengobati luka, aku tersudut; sementara kapal mereka mencariku. Aku yang terluka dan lemas, terombang ambing hingga terdampar disini, dan bertemu denganmu, lalu aku mengambil darahmu supaya aku dapat berbicara kembali dan menggunakan pemulihan ku. Aku menggunakan pemulihanku melalui air liurku saat aku menggigit mu, jadi tidak akan ada bekas luka.
Setelah menceritakan semuanya, Roni terdiam, suasana menjadi hening, hanya deguran suara ombak dan suara angin pantai memenuhi tempat mereka berdua.
Roni yang dari tadi mendengarkan kini mulai berbicara, ia memperkenalkan dirinya.
"aku Roni" sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan. Namun perempuan duyung itu tidak mengerti dan ia menjawab: "aku Inn, kamu ngapain mengulurkan tangan seperti itu?"
"Ohh. Ngak tahu ya... Kami kalau berkenalan pasti berjabat tangan" Roni menarik tangannya kembali.
"Ngak apa apa kalo ngak ngerti" timpalnya kembali.
Perempuan duyung itu bernama Inn, ia mengangguk kepada Roni, karena memang di kehidupannya tidak memiliki kesamaan prilaku seperti manusia.
Roni penasaran kenapa Inn masih berada di pantai dari kemarin.
Saat ditanyakannya oleh Roni, Inn menjawab: "Aku tidak bisa pulang, kemarin aku tidak bisa menggunakan insting ku, karena aku butuh lebih banyak dari manusia." ungkapnya.
"Kalau sekarang bagaimana?" tanya Roni.
Inn menjawabnya: "sekarang aku bisa menggunakannya, namun terbatas, karena aku hanya menggunakan sedikit darahmu, dan itu belum cukup. Tanpa insting, aku tidak bisa menemukan jalan pulang."
namun saat mengatakan hal tersebut, inn nampak murung dan mengatakan dengan nada yang pelan "pulangpun, aku tidak punya siapa-siapa lagi."
Roni kembali dibuatnya diam, ia juga tidak bisa memberinya darah lagi, karena mungkin ia bisa kekurangan darah dan mati.
"Adakah cara lain, selain meminum darah?" Tanya Roni.
Inn memandang Roni dan menjawabnya: "ada, dengan bersentuhan, tetapi tidak secepat darah efeknya, walaupun lebih ampuh, namun butuh waktu sangat lama."
Roni nampak berfikir mencari jalan keluar, belum sempat Roni berkata, Inn memotongnya "kamu tidak usah kawatir, aku akan baik- baik saja, hanya aku tidak dapat menggunakan beberapa kemampuan saja."
Roni membalasnya: "tapi kamu harus pulang, bagaimana dengan ibumu nanti?"
Terdiam......
Dalam hening dengan nada kecil dan raut wajah sedih Inn berkata: "pulang pun aku tidak diterima, jadi untuk apa aku pulang."
lanjutnya "Ibu sudah meninggal karena kawanan kerjanya mengeluarkannya dari kelompok karena aku, dan ibu melakukan perkerjaan yang keras, kerjaan yang menantang maut. Hari-hari ia lakukan hingga akhirnya ia meninggal karena kelelahan. saat itu aku telah kembali dari berburu manusia saat mendapati ibuku meninggal "Inn menangis menceritakan kisah tersebut.
Roni sebagai manusia merasa iba, dan ia memeluk inn yang sedangn menangis tersebut, karena kesulitan yang Inn hadapi dan semua yang menimpah dia dan ibunya.
Tak terasa waktu semakin siang dan udara semakin memanas. Kini Inn nampak lebih tenang.
"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Roni.
Inn menjawabnya singkat; "tidak tahu."
Terpikirkan oleh Roni untuk mengajaknya ke rumah.
"Gimana kalo kerumahku dulu?"
Inn hanya mengangguk dan Roni pun pulang bersama dengan Inn, namun tidak melalui jalan perkampungan karena nantinya takut jadi masalah, maka mereka berjalan melalui pinggiran pantai.
Sesampainya di rumah, Roni memberitahukan Ibunya bahwa perempuan yang ia bawa, bukan manusia, melainkan duyung setengah manusia. Ibunya terkejut mendengar hal tersebut.
Dengan cepat Ibunya Roni menutup pintu rumahnya rapat-rapat, serta jendelanya ia tutup rapat.
"Nak, kamu asli duyung?" Tanya Ibu Roni sambil memegang paha perempuan itu, dan sesekali mengusap rambutnya.
Roni yang menyaksikanya menjadi bingung, karena ibunya nampak senang sampai mengeluarkan air matanya.
"Saya Inn, Ibu saya duyung, Ayah saya manusia." jawab perempuan itu.
Sang Ibu yang mendengarnya langsung memeluk Inn dan mengatakan suatu hal yang mengejutkan Roni. "Nak, kamu pasti anak dari kakek ibu nak."
Inn pun terkejut, juga Roni yang lebih terkejut karena tidak mungkin perempuan yang nampak seusia dengannya, ternyata berumur lebih tua dari ibunya, dan bisa dibilang setara dengan Nenek bagi Roni.
Karena Roni dan Inn kebingungan, Ibunya Roni menceritakan semuanya, kisah yang selama ini ia pendam bahkan terhadap anaknya sendiri, yaitu Roni.
Dahulu, ada seorang Pemuda tampan dan putri dari tetua duyung yang saling jatuh cinta, padahal itu dilarang, dan mereka tahu akan hal tersebut. Kakek ibu saat itu masih sangat muda dan berapi-api dalam hal asmara, begitu pula putri itu: Ibu dari Inn. Rumor akhirnya sedikit tercium oleh warga sekitar, dan kami sepakat untuk tidak memberitahukan kepada kaum duyung akan hal ini. Namun Kakek tetap diperingati untuk memutuskan hubungannya, agar tidak ada perselisihan antara kedua belah pihak.
Kakek mengatakan kepada ibu bahwa dirinya saat itu memutuskan hubungannya dengan perempuan duyung tersebut, namun mereka berhubungan intim sebagai perpisahan mereka. Kakek saat itu tidak tahu jikalau sedang musim kawin untuk kaum duyung, dan perempuan tersebut nampak diam saja. Setelah kejadian tersebut, dan mereka sudah tidak bertemu satu dengan yang lain, dan keadaan menjadi sedikit tenang, isu tentang mereka berduapun sudah tidak terdengar kembali.
Setelah berjalan beberapa bulan, kaum duyung memutuskan hubungan dengan manusia, karena didapati salah satu putri tetua mereka mengandung anak campuran manusia dan duyung. Para duyung menginginkan mereka berdua dibunuh, namun pihak manusia membela kakek ibu, begitu pula ayah perempuan duyung tersebut tidak rela anaknya dibunuh.
Karena saling bertentangan, akhirnya kedua kubu saling sepakat dan mereka berjanji tidak saling bertemu kembali.
Setelah kejadian tersebut, kakek ibu menikah dengan seorang gadis di desa dan melahirkan ayah Ibu, yaitu kakek Roni.
Generasi berlanjut, setelah ibu lahir dan saat itu Ibu masih kanak-kanak. Ibu tidak sengaja melihat bahwa kakek sedang berbicara dengan salah seorang pemuda dibalik semak-semak di pinggir pantai. Kakek cukup lama berbincang dengan pemuda tersebut.
Selesai berbicara, pemuda tersebut menghilang dibalik ombak. Dan akhirnya ibu mengerti bahwa pemuda tersebut seorang duyung yang diceritakan oleh ayah ibu. Pemuda yang sering bertemu dengan kakek ternyata adalah kaka iparnya, dan berikthiar untuk membesarkan anak kakek ibu bersama ayahnya, dan tumbuh bersama Roni.
Saat itu ibu sudah dewasa dan menikah, dan melahirkan Roni. Saat Roni lahir, suami ibu, yaitu ayahnya Roni pamit dan berangkat ke laut untuk mengambil Inn dan mencoba membersarkannya bersama dengan Roni.
Karena Inn adalah campuran manusia, Inn dapat bertahan di daratan, hanya saja usianya akan menyusut drastis, seperti manusia berumur singkat. Mereka para duyung dapat hidup ratusan hingga ribuan tahun berada di dasar laut. Saat Inn dalam telur dan menetas butuh waktu puluhan tahun untuk menjadi dewasa hingga saat didapati Roni akan lahir, Inn masih seperti balita bagi manusia.
pemuda itu kembali mendatangi kakek dimalam ibu melahirkan Roni.
Kakek juga sudah menceritakan bahwa Inn harus mendapat asi dari manusia agar hidupnya menyerupai manusia. Maka ibu menyetujui ide tersebut.
Ayah Roni berlayar bersama pemuda duyung tersebut untuk membawa Inn.
Naas, ayah Roni tidak pernah kembali setelah itu. Dan pemuda yang sering menemui kakek kembali seminggu setelah Roni lahir. Ia menangis di depan ibu sambil berlutut. Ibu sedih dan terasa sangat hancur hati, walau belum mendengar kejadian yang sebenarnya tentang ayah mu. Namun yang pasti sesuatu terjadi terhadap suami ibu.
Namun ibu tidak menyalahkannya dan hanya menganggap semuanya murni kecelakaan.
Ombak besar menenggelamkan kapal ayahmu dan ayahmu tidak dapat bertahan dalam dinginya cuaca ditegah laut, walau pemuda itu secepat mungkin menarik bongkahan papan dengan ayahmu diatasnya, menyebrangi ribuan kilometer jauhnya dari bibir pantai. Pemuda tersebut secepat ia dapat berenang menariknya namun ayah mu hanya bertahan beberapa jam saja, lalu meninggal.
"Inilah yang sebenarnya terjadi, ayahmu meninggal dilaut seperti yang ibu ceritakan ini."
Ibu menagis sembari berkata kepada anaknya.
Disini Roni mengerti kenapa kakeknya menceritakan hal tersebut, mungkin agar dirinya dapat menerima keyataan bahwa duyung memang ada, dan Inn mungkin akan hidup di darat, dan saat itu terjadi,maka kami harus bisa menerima Inn sebagai keluarga.
Kini Inn dan Roni hidup bersama. Waga desa menganggap bahwa Inn adalah calon istri Roni, namun orang-orang yang sebaya dengan kakeknya Roni mengetahui bahwa Inn adalah duyung, seperti orang tua dulu ceritakan.
Inn juga sudah dapat berlaku seperti manusia karena setiap malam ia mendapat hormon manuisa dari ibu terkadang juga diriku. Usianya kini menyusut drasti dan nampak sudah mulai menua tertera kerutan diwajah-nya, namun masih terlihat cantik dan menawan. Hingga akhirnya kemampuan duyungnya memudar. sesekali ia mencoba untuk menggunakan instingnya di dalam air, namun tidak terjadi apa-apa, juga kini kemampuan bertahan di dalam air pun menjadi berkurang. Inn sudah benar-benar menjadi seperti manusia. Ia tidak bersedih karena ia memiliki ibu saat ini, yang menyayanginya seperti ibunya sendiri.