Kisah Fiksi
Love dan Komentar ya ...
Happy Reading~
Hari liburan yang sangat menyenangkan bagiku, aku beserta kakek dan nenek pergi liburan ke Bali setelah masuk tanggal libur akhir semester genap kelas 7 di sekolah Smp-ku. Kami menginap di sebuah cottage yang terbilang mewah, namun tetap sederhana, tentu saja tempatnya tak jauh dari pantai di Bali.
"Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku adalah Fujiwara Satoru, berusia 13 tahun, darah murni asli keturunan Jepang, ibuku seorang wanita karir yang sangat menyibukkan diri di bidang profesinya, berbeda dengan ayahku! ayahku adalah seorang Yakuza yang menjabat cukup tinggi di organisasi kejahatan di Jepang. Kaget kan! tapi aku b-aja-sih. Lalu mengapa aku bisa ke Negeri yang disebut Tanah Air oleh orang pribumi? serta kenapa tinggal di sini bersama Kakekku dan Nenekku?"
Jika aku tinggal di Jepang ... tidak akan ada yang mengurusku. Lagi ayahku adalah seorang Mafia, keberadaanku di sana akan terancam ataupun menjadi beban berat bagi ayahku, makanya ibuku meminta tolong kepada Kakek dan Nenek agar aku dirawat, dibesarkan, dan tinggal bersama mereka di Negeri Tanah Air, ditambah aku juga sudah bersekolah di sini.
Saat ini aku tengah berjalan santai di pantai, sendirian tanpa ditemani kakek dan nenekku, tadi aku sudah sempat izin dengan mereka, aku bilang hanya ingin berjalan sebentar. Tak lama berjalan aku menemukan sebuah diving shop, aku membeli sebuah papan selancar, lalu melangkahkan kaki melewati semua orang dan para bule yang mengenakan pakaian bikini di pantai, "Astaga ..." batinku, "Aku yang masih polos mengapa harus melihat pemandangan seperti ini." Aku menggerutu kesal.
Aku memutuskan untuk membawa papan seluncurku ke ombak laut pinggir pantai, aku sebenarnya tidak tahu cara menggunakan papan selancar, namun aku sering menonton hal ini di Televisi, hingga aku mencoba memperagakannya perlahan, berbaring telungkup di atas papan, mendayuh-dayuh tangan beserta kaki, dan aku mulai bisa, mencoba berdiri di atas papan, kemudian menunggu ombak menabrakku.
Byur ...!
Suara gemercik air ombak terdengar baru saja menabrakku sehingga terjatuh dari papan selancar, tubuhku sedikit membenam ke dalam air, untungnya aku pandai berenang, akan tetapi papan seluncurku tertarik oleh ombak ke tengah laut, selanjutnya hilang begitu saja, aku menjadi sangat kesal yang padahal aku baru saja membeli papan seluncur itu dengan uang yang diberikan ibu untuk uang jajan sekolahku di semester genap nanti, tapi sudahlah! aku kembali berenang untuk naik ke permukaan pasir pantai.
Semua bajuku tampak basah, asinnya air laut terasa deras di ujung lidahku, hingga aku meludah-ludah, "Puh ..."
Setelah itu aku memutuskan sejenak berkeliling-keliling jalanan taman trotoar pulau Bali, menatap ke sekeliling, keramaian yang tiada tara. Para pengunjung pulau Bali berfoto ria menikmati liburan mereka, aku sedikit-sedikit tersenyum melihatnya sembari terus berjalan melangkahkan kaki.
Pinggir jalanan taman ber-trotoar dipenuhi dengan pepohonan yang dapat meneduhkan pejalan kaki.
Sudah hampir setengah jam lamanya aku berjalan hingga bajuku yang tadi basah kini sudah mengering, tiba-tiba aku melihat seorang gadis yang jika dilihat-lihat sama seumuran denganku, dia tengah duduk di sebuah kursi taman sendirian, suasana juga cukup sepi saat itu mengingat waktu sudah mulai sore.
Tampaknya gadis kecil itu tengah menangis terisak-isak, ia mengangkat tangannya untuk mengusap peluh tangis yang membanjiri wajahnya.
Aku menghampiri gadis tersebut lalu duduk di sebelahnya, gadis itu tak menghiraukan keberadaanku, kemudian aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada siapapun orang yang ada di sekitar. Aku menatap wajah gadis ini yang kian wajahnya memerah dibasahi oleh tangisan.
"Kamu kenapa nangis ...?" tanyaku.
"Hiks ... hiks ... a-aku tersesat, ibuku tadi ninggalin aku sebentar di sebuah toko kue hiks ... t-terus aku liat ada kucing, kucingnya imut banget ... s-sampai-sampai aku ngejar kucing itu, tapi aku gak dapat kucingnya ... l-lagian juga hiks ..." gadis ini semakin menangis.
Aku berspekulasi jika gadis ini tersesat gara-gara dia mengejar kucing tersebut, hingga dia gak tau di mana toko tempat dia menunggu tadi.
Kali ini aku hanya diam, dan mulai berpikir untuk membujuknya berhenti menangis. Hari sudah hampir senja, jalanan aspal juga sudah mulai sepi. Sedari tadi gadis ini belum berhenti menangis.
Aku kembali mencoba mengajaknya berbicara, "Kamu tenang aja, jangan nangis lagi, aku bakal temanin kamu di sini sampai ketemu sama ibu kamu." Ujarku.
Kali ini gadis itu mulai tenang, ia mengusap air mata di wajah. "N-nama kamu siapa ...?" tanya gadis itu kepadaku.
Aku menghela nafas tenang, akhirnya gadis ini sudah berhenti menangis, dan mulai membalasku berbicara, "Namaku Satoru, kalau kamu?" tanyaku kembali.
Tampak hidung di wajah gadis ini memerah, sesekali ia menarik hingusnya, tapi aku tak merasa jijik, karena gadis ini memiliki keimutan tersendiri.
Gadis ini menatap lurus ke depan arah jalanan aspal yang juga beriringan dengan jalanan trotoar taman.
"Nama aku Gea ..." jawabnya lirih.
Aku mengarahkan tanganku untuk bersalaman dengannya, "Cara berkenalankan harus bersalaman, mari salaman ..." ujarku.
Gadis itu mengangguk sedikit tersenyum dan mulai mensungkem tanganku.
Suasana lengang sejenak, keadaan waktu juga sudah senja, matahari terbenam di arah barat, tampak jelas di belakang tempat kursi kami duduk, tepatnya pantai Bali arah barat. Matahari kian menguning dan langit memerah kecoklatan. Menampilkan keeksotisan tersendiri bagi siapa yang memandang sunsetnya.
Kami menatap sunset yang indah sesaat ke belakang bersama, lalu aku aku menolehkan wajahku menatap wajahnya dan dia membalas menatap wajahku.
Setelah sepuluh detik lamanya kami bersitatap, suara seorang wanita terdengar nyaring memanggil-manggil nama gadis ini.
"Ya, ampun Gea ..." teriaknya, suara wanita itu sedikit cempreng karena kelelahan.
Gea menoleh ke sumber suara, "Mama ..." panggilnya, segera ia beranjak berdiri dari kursi sembari ia berlari memeluk ibunya.
"Ya, ampun Gea ..., kamu ke mana aja? Mama cemas banget lagi, Mama dari tadi udah keliling nyariin kamu, Mama pikir kamu diculik, hampir aja Mama lapor ke polisi ..." ucap wanita itu, Ibunya Gea.
Aku mendengar jelas ungkapan kata khawatir ibu Gea.
"Gak apa-apa kok, Ma. Aku dijagain sama teman baru aku," ucapnya membisik ke telinga sang ibu, "Namanya Satoru, dia baik, Ma."
Terdengar lirih olehku, namun cukup jelas. Ibu Gea pun menghampiriku dengan disusul oleh Gea di sampingnya.
"Terimakasih ya, Satoru. Kamu udah jagain anak ibu, kamu anak yang baik. Semoga kita bisa bertemu lagi sama kamu." Ucap Ibunya tersenyum ramah padaku.
Aku hanya mengangguk membalas senyuman tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Baiklah, Satoru. Hari sudah mulai malam, gak baik kalau di luar begini, Tante pamit undur diri dulu ya, pulang ke cottage Tante, gak jauh kok dari sini ...."
Aku mengangguk dan mengucapkan, "Iya, Tante. Silahkan ..." imbuhku.
Ibu Gea langsung tersenyum sembari melangkahkan kaki beranjak pergi, sambil juga disusul oleh Gea di belakangnya.
Gea menatapku yang masih duduk di bangku taman, ia melambai-lambaikan tangannya sebagai bentuk ucapan perpisahan di pertemuan kami yang pertama.
Aku hanya meraut wajah terperangah saat ia melambaikan tangannya padaku, jantungku seperti berdegup kencang.
Tak lama sileut Gea menghilang di kejauhan dari pandanganku, aku yang masih duduk di atas bangku taman memutuskan untuk pulang ke cottage, "Pasti kakek dan nenek marah, udah sedari tadi aku belum pulang," gumamku merasa khawatir nantinya disambut rotan bambu dari kakek.
Thanks udah baca, tinggalkan love dan komentar!