Namaku Muhammad Arsyad
"Oke"
Berwajah tampan
"PD banget"
Umurku 28 tahun,
"Matang"
Berbadan atletis dan tinggi.
"Waaaaooow, liat dong"
Enak aja, ini khusus buat istri!
"Haissh!"
Pekerjaan Pengusaha.
"Mapan dong"
Sayang,
"apa?"
Status
"Hmm?"
JOMBLO!!!
"Heddeh, ngenes!"
"Aku seorang anak tunggal dari dua bersaudara,
"Maksudnya apah??"
"Karena saudariku satu-satunya sudah menikah dan tinggal bersama dengan suaminya diluar negri, jadi jarang pulang. Sama saja dengan aku ini anak tunggal kan?"
"Hmm, yha"
"Lanjut!"
"Aku ingin mencari seorang istri yang sholikhah, kalau bisa cantik juga dan bersedia hidup bersamaku dengan kedua orangtuaku,."
"Syarat yang mudah, gimana kalau aku aja? Aku sholihah, cantik, dan bersedia hidup sama kamu juga kedua orang tua kamu, sesuaikan?"
"Maaf ya mbak sebelumnya, tapi kayaknya nggak ada deh wanita sholikhah yang mengaku kalau dirinya sholikhah."
"Tapi saya memang Sholikhah mas,"
"Mbaknya kok ngayel sih"
"Masnya yang ngeyel, nggak liat tuh diatas layar ada keterangan nama saya Siti Sholikhah!"
"Astaghfirulloh hal Adziim, maaf mbak, saya nggak merhatiin. Yaudah, itu dulu aja data diri saya. Nanti saya kabari lagi gimana selanjutnya,"
"Baik mas, saya simpan data diri anda"
"Terimakasih mbak, Assalamualaikum"
"WaalaikumSalam"
Begitu kira-kira bunyi percakapan disebuah situs pencarian jodoh yang dilakukan Arsyad malam ini. Ia terpaksa melakukan itu karena dorongan dari kedua orangtuanya.
Orangtua yang sang sangat dihormati dan dimuliakannya meminta dirinya untuk segera menikah, karena orangtuanya merasa jika Arsyad sudah mapan dari segi sandang dan matang daei segi umur sehingga sudah pantas untuk memiliki pendamping hidup.
"Arsyad, kamu jangan hanya mencari uang terus, cari istri juga. Kasihan kamu gak ada yang ngurus, apa-apa sendiri". Ucap sang Bunda pada suatu hari.
"Kan ada bunda yang ngurisin Arsyad," jawabnya sedikit bercanda.
"Kamu itu sudah dewasa, sudah saatnya diurusin sama istri" Setelah mengucapkan itu, bunda berlalu kedapur.
Arsyad memikirkan hal tersebut, lalu terjadilah percakapan konyol di akun pencarian jodoh tersebut.
Pagi hari ini seperti biasa, semua sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ayah dan bundanya menjaga swalayan yang ada didekat rumahnya, karena mereka tidak ingin jika hanya berdiam diri dirumah, bosen katanya. Makanya Arsyad mengizinkan mereka bekerja, tetapi semau mereka saja, karena swalayan tersebut milik Arsyad.
Setelah pamit dengan kedua orangtuanya, Arsyad memutuskan untuk mengunjungi swalayan miliknya yang juga masih berada dalam satu kota.
Sampai depan Swalayan, ia segera memarkir kendaraan roda duanya, ia berjalan masuk diiringi dengan sapaan dari para karyawannya. Tak sedikit karyawan wanitanya yang memandang kagum terhadap Arsyad, tapi sepertinya ia tak menyadarinya.
Saat hendak masuk keruangan Managernya, tiba-tiba ia melihat sosok perempuan yang anggun, bercahaya di matanya. Wanita itu mengenakan hijab dan pakaian syar'i, itu adalah poin pertama yang diperhatikan Arsyad.
Tetapi,
"Aku mau jajan ini", ucap anak perempuan berumur sekitar sepuluh tahun.
Deg.
"Aku juga mau mainan ini" rengek anak laki-laki berusia tujuh tahunan.
Deg.
"Dia sudah memiliki anak? Ya Allah, ampuni hamba yang sempat memperhatikan istri orang". Batin Arsyad, ia berbalik hendak pergi.
"Ya kak, boleh ya, satu sajaa. ."
"Eh bentar, anak itu memanggilnya kak? Apa itu berarti merak bukan anaknya?" Wajah arsyad kembali berbinar bahagia.
"Sebentar Lana, Lina, kita selesaikan dulu belanjanya, setelah itu baru kita mencari yang lainnya, ya?"
"Suaranya lembut dan bijaksana, ah, andai dia menjadi istriku". Pikiran Arsyad menerawang jauh.
Hingga sapaan dari salah satu karyawannya tak didengarnya. Tanpa sadar kakinya terus melangkah mengikuti wanita tersebut.
"Lana, kalau kamu mau mainan ini apa kamu bersedia untuk memainkannya bersama saudaramu yang lain?"
"Iya kak"
Dia baru tersadar ketika sudah berada didekat mereka, dan mendengar pembicaraaan wanita itu dengan adiknya.
"A eem,, Ada yang bisa saya bantu, mbak atau adek?" Sapanya ramah dan salah tingkah.
"Enggak ada mas, trimakasih, permisi" Jawab si wanita sambil menggandeng tangan Lana dan berlalu begitu saja dari hadapan Arsyad.
"Ya Allah, baru dia manggil mas aja mersu banget, gimana kalau dipanggil sayang. Oh, aku mau pingsan" Batin Arsyad seraya bersandar di etalase merasakan kakinya melemas.
Sesaat kemudian dia tersadar dan langsung berlari mencari keberadaan wanita tadi, ternyata wanita itu sudah keluar dari swalayan dan menuju kearah jalan raya, Arsyad bèrusaha mengejarnya tapi si wanita dan kedua adiknya sudah menaiki angkutan umum.
Namun Arsyad tak berputus Asa, ia segera mengambil motornya dan mengejar angkot tersebut, hingga ia melupakan tujuan awalnya datamg ke swalayan itu.
Angkot berhenti tepat berada di depan bangunan yang lumayan luas, mempunyai dua lantai juga halaman yang cukup luas juga, disana banyak anak-anak sedang berolahraga bersama. Arsyad juga berhenti tak jauh darisana, matanya menyapu sekeliling dan menemukan sosok yang ia cari sedang berjalan kedalam rumah tersebut yang mempunyai tulisan 'Panti Asuhan Umi Abi' yang agak besar di depan pagarnya.
"Jadi dia tinggal disini? Hmm, aku harus balik kesini. Tunggu aku ukhti, aku ingin berta'aruf denganmu". Gumamnya dengan senyum terukir di bibirnya.
***
Pov Arsyad
Hari berganti, tak menunggu lama Aku sudah menyiapkan banyak barang-barang, seperti sembako komplit, alat tulis, mainan, pakaian bahkan jajanan bocah tak luput dari perhatianku, semuanya berjumlah banyak, hingga mencapai satu mobil box berukuran sedang. Semua barang itu sudah dikemas rapih oleh para karyawanku dan akan aku bawa ke Panti Asuhan yang aku kunjungi kemarin, lebih tepatnya baru ku perhatikan saja sih..hehe
Rencananya, hari ini aku akan datang ke Panti asuhan itu kembali. Dengan maksud dan tujuaan yang baik, yaitu ingin bersilaturahmi, menyumbangkan sedikit bahan makanan dan poin pentingnya, ingin bertaaruf dengan wanita yang kulihat kemarin.
Setelah semua siap, aku langsung menuju ke Panti asuhan tersebut. Sampai di Panti Asuhan, Aku bertemu dengan beberapa pengurus panti, aku pun mengutarakan maksud kedatanganku.
Tapi, semua tidak semulus harapanku. Karena pengurus panti tersebut mengatakan jika wanita yang ingin kuajak ta'aruf sudah kembali ke negara S untuk melanjutkan Study nya. Ternyata kemarin adalah hari terakhir liburannya di Indonesia.
Kecewa? Tentu! Tapi kekecewaanku sedikit berkurang kala aku bertemu dengan kedua orang tua gadis itu. Mereka menyambut hangat kedatanganku juga menghargai maksud baikku untuk bertaaruf dengan putrinya.
Mereka mengatakan kalau putri mereka akan menyelesaikan study nya satu tahun lagi. Jika aku bersedia menunggu maka mereka akan menyetujui taaruf ku. Tanpa berfikir panjang, aku langsung menyetujuinya karena hanya dia yang mampu menggetarkan hatiku.
**
Dia? Siapa Wanita itu? Wanita yang selalu hadir dalam setiap doaku sehabis shalat tahajud dan istikhorohku, ,
"Saya terima nikah dan kawinnya Khadijah Salma dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai".
Syukur kupanjatkan kepada-Mu Ya Robbi. .
Saat para saksi mengucapkan kata 'SAH'. Air mataku luruh, bahagia tak terhingga memenuhi hati dan jiwaku.
Setelah perjuangan dan penantian panjangku, menunggunya satu tahun lebih. Dan saat dia kembali, aku langsung menghitbahnya. Kini aku berhasil menjadikan Khadijah istriku, Couple halalku.
Inilah akhir dari kisah Pencarian Jodohku. Semoga kamo menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warohmah penuh berkah. Dan dikaruniai putra putri yang sholih sholihah. Amin Allohuma Amin🤲.
Terimakasih untuk semua yang membaca kisahku ini.
Salam hangat
M.Arsyad & Khadijah Salma