Sebut saja namaku Ana, nama pemberian dari bunda dimana tempatku kerja. Aneh mungkin kedengarannya,??
Cerita berawal dari aku putus kuliah dan harus mencoba membanting tulang sendirian sepeninggal ayahku. Aku harus mengurus dua orang adikku yang masih sekolah, dan juga ibuku yang hanya pensiunan pegawai negeri. Dan dengan terpaksa aku harus berhenti dari kuliahku agar supaya adik-adik ku bisa melanjutkan sekolahnya.
Siang ini aku sudah mulai banyak mendatangi tempat-tempat yang masih menerima lowongan pekerjaan. Aku harus tetap berusaha mencari pekerjaan, walau bagaimanapun keluarga adalah tanggung jawabku.
Aku berjalan menyusuri tempat ke satu tempat yang lainnya. Rasanya sulit mencari pekerjaan dalam kondisi seperti ini. Pada akhirnya aku masuk ke dalam sebuah salon yang tidak begitu besar. Di depan kaca jendela depan tertulis jelas menerima lowongan untuk massage therapist.
Walaupun aku tidak mengerti dengan dunia salon,tetapi mungkin disini aku bisa dijari sama trainer nya. Perlahan aku masuk ke dalam salon, dan menanyakan kepada petugas yang bertugas siang ini.
" Maaf pa, ada lowongan disini,?" tanya ku pelan, dan sedikit malu-malu.
Bapak satpam itu melihat ku dari ujung kaki sampai ujung kepala, apa aku terlihat sangat aneh Dimata dia,? sampai dia melihatku seperti itu.
" Tunggu dulu disini," ujarnya sambil meninggalkanku sendirian. Sementara aku menunggu di suruh masuk ke dalam, aku melihat-lihat di sekeliling salon itu.
Yang aku tau salon itu tempatnya potong rambut, dan semua tentang perawatan rambut dan kulit. Tapi kok disini ada massage nya juga,? gumam ku dalam hati. Tapi sudahlah yang penting aku keterima kerja disini dan bisa membantu beban ibuku untuk tetap bisa menyekolahkan adik-adik ku.
Tak lama menunggu, satpam yang masuk kedalam datang dengan seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu sangat modis.
" Kenalkan dulu ini bundanya," ujar bapa satpam itu kepadaku. Aku sedikit mengerutkan kening, dan memberikan tanganku untuk bersalaman dengan bunda yang di kenalkan satpam tersebut kepadaku.
Aku di bawa masuk kedalam ruangan kecil, yang mereka sebut ruangan interview. Mungkin ini interview yang menarik dan tidak pernah aku temui sebelumnya.
" Saya bisa cek badan kamu kan,?" tanya bunda itu kepadaku.
" Emang nya harus di cek body segala Bu,? ech Bunda," jawabku sambil sedikit tersipu karena aku tidak bisa membuka pakaianku, apalagi di depan orang.
Wanita yang menyebutkan kan dirinya Bunda itu tersenyum kepadaku dan berjalan ke arahku. Aku masih merasakan keanehan yang aku alami selama interview berlangsung. Akan tetapi karena aku begitu sangat membutuhkan pekerjaan jadi aku menjalani proses interview yang begitu tidak lazim untukku.
" Besok kamu sudah bisa memulai pekerjaan kamu," ujarnya lagi, aku terkejut dengan apa yang beliau katakan. Apa semudah itu aku di terima kerja,?
" Terimakasih bunda, besok pasti saya akan kesini lagi," jawabku dengan penuh kegirangan.
" Besok biar sekalian, Bunda ajarkan semuanya ya, kita learn by doing," jelas nya sambil tersenyum ke arahku, sementara itu aku hanya iya iya saja karena aku masih belum percaya aku bisa bekerja di salon seperti ini.
Aku pulang dengan raut muka berseri-seri, aku yakin ibu pasti senang mendengarkan kabar baik dariku.
" ibu,!!" teriakku sesampainya aku di rumah, aku cari beliau di setiap sudut rumahku. " Kulihat di kamarnya beliau sedang bersimpuh dengan mukena yang sudah mulai terlihat sangat lusuh. Tuhan, aku ingin membahagiakan ibuku dan adik-adik ku dengan apapun caranya, akan aku lakukan.
Tak lama berselang, ibu datang menghampiri ku yang sedang tertidur di sofa ruang tamu.
" Ada apa ka,?" tanya ibu sambil duduk di kursi di hadapanku. Aku beranjak dari tidurku, dan menghampiri ibu.
" Ibu tahu apa yang akan aku sampaikan,?" ibu menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepadaku." Coba tebak,??" tanyaku dengan sedikit rasa penasaran.
" Apa Kaka,?" ibu sedikit mengerutkan kening " Apa ini kabar baik,?" tanyanya lagi, aku langsung mengangguk kan kepalaku. " Ibu tahu," ujarnya sambil tersenyum manis sekali.
" Benar sekali," jawabku, padahal ibu belum mengetahui apa yang aku bicarakan sebenarnya.
" Semoga kamu betah disana, dapat majikan yang baik dan sayang sama kamu," ujarnya lagi seperti mengetahui apa yang ada di dalam pikiranku selama ini.
" Doa ibu selama ini terkabul dengan cepat," ujar ku lagi, " Aku janji aku akan membahagiakan kalian semua, ibu dan adik-adik juga," jelasku dengan sedikit menahan air mata.
Keesokan harinya....
Aku menyiapkan keperluanku untuk bekerja di hari pertama. Rasa nya aku masih tidak percaya karena aku bisa keterima kerja di salon. Setelah pamitan kepada ibu aku langsung pergi menuju salon.
" Sudah siap training,?" tanya bunda yang kemarin menginterview, aku mengangguk pelan dan menatapnya. Aku diajak ke sebuah ruangan kecil yang di dalamnya terdapat sebuah matras kecil. Tidak banyak yang aku tanyakan, walaupun sebenernya aku ingin bertanya kepada bunda.
Tak lama datang dua orang, dengan pakaian yang sangat minim sekali. Apa mereka yang dinamakan terapist,? astaga apa harus aku berpenampilan seperti itu,? gumamku dalam hati.
Aku terdiam saat mendengarkan penjelasan dari bunda. Rasanya aku masih tidak percaya dengan pekerjaan yang akan aku hadapi saat ini. Ini bukan seperti apa yang aku bayangkan.
" Kamu bisa memulai training nya hari ini,?" ujar bunda, aku hanya tersenyum.
" Kalo boleh aku tahu apa semua costumer disini cowok semua bunda,?" tanyaku dengan sedikit malu. Bunda mengerutkan kening, dengan semua pertanyaan yang aku ajukan. Lalu tak lama bunda mengajakku ngobrol berdua di ruangannya.
" Apa kamu benar-benar tidak tahu ini tempat apa,?" tanyanya meyakinkanku, aku menggeleng kan kepalaku. " Apa kamu baru pertama kali datang ke men's spa,?" aku semakin tidak mengerti sama apa yang bunda tanyakan kepadaku.
" Tetapi apa kamu yakin kamu akan bekerja disini,?" tanya nya sekali lagi, lagi-lagi aku bingung dengan semua pertanyaan nya. Dan akhirnya bunda menjelaskan semua nya, sampai SOP kerja yang akan aku lakukan. Betapa terkejutnya aku, mendengarkan semua penjelasan yang di berikan bunda kepadaku.
" Saat kamu memasuki tempat ini berarti kamu sudah yakin untuk memberikan totalitas dan loyalitas kamu di tempat ini," Aku terdiam, tapi dalam benakku aku tidak bisa yakin dengan pekerjaan yang akan aku jalani saat ini. " Bunda kasih waktu kamu untuk berpikir, kalau sudah siap besok kamu boleh datang kembali kesini," jelasnya lagi
Dan akhirnya aku pulang ke rumah dengan perasaan gundah dan sangat dilema sekali. Aku memang butuh pekerjaan, tetapi apa pekerjaan seperti ini yang akan aku jalani,? Aku terdiam di sudut tempat tidurku.
" Kenapa ka,?" tanya ibu tiba-tiba mengagetkanku.
" Tidak ada apa-apa Bu," jawabku pelan.
" Katanya sudah mulai bekerja,?" tanya ibu, aku tersenyum dan berbalik " apa kamu tidak di terima,?" tanya ibu lagi.
" Besok Bu Kaka sudah mulai bekerja," jawabku lagi.
" Syukurlah sayang, ibu sudah bingung. Uang sekolah adik-adik kamu sudah harus ibu bayar," jelas ibu lagi. Aku mengangguk sambil tersenyum.
" Tenang saja Bu, Kaka pasti bantu ibu," ujarku lagi.
Rasanya berat untuk mengatakan kalau aku bekerja di tempat seperti itu kepada ibu. Tetapi apa boleh buat semua memang harus aku lakukan, keadaan ekonomi keluarga membuatku berpikir untuk mencari uang sebanyak mungkin. Keluarga ku butuh aku, sangat membutuhkan ku.
Dan akhirnya....
Sudah hampir 3 bulan terakhir aku bekerja sebagai terapist di sebuah tempat yang di sebut men's spa tetapi berkedok salon body care, walaupun sakit tetapi ini harus aku jalani, aku harus menghidupi beberapa kepala di rumahku. Aku harus bertanggungjawab atas kehidupan mereka.
Sungguh penyesalan itu mungkin akan aku rasakan nanti, tetapi untuk saat ini hanya uang yang bisa membantuku, dan menaikkan status kehidupanku menjadi lebih layak terutama untuk adik-adiku dan ibuku.