#MysteryStory
Kasus Pembunuhan Kembali Terjadi Di Museum, Aku Seorang Detektif Wanita Bersama Polisi Segera Menuju Lokasi.
Pembunuh Berhasil Lolos Dan Kabur Dari Kota Mati Itu, Museum Terletak Di Kota Mati Yang Sekarang Tak Berpenghuni Akibat Banyak Nya Kasus Pembunuhan, Perampokan, Dan Penculikan Disana.
"Detektif Ermi, Kami Membutuhkan Bantuanmu Untuk Menyelidiki Kasus Ini Lebih Lanjut," Pinta Jendral Polisi.
Aku Ermina Slaxivona, Aku seorang detektif wanita yang masih menyelidiki kasus di museum, Kasus Ini Sudah Puluhan Kali Berulang Namun Sang pembunuh belum jua ditemukan.
"Baik Pak Jendral, Saya Menuju Lokasi." Aku Melajukan Mobilku Bersama Detektif Yosi
Sesampainya Di Museum, Kami Mencari Barang Bukti Beserta Beberapa Jejak sang pembunuh, tapi masih banyak misteri tentang si pembunuh wajahnya saja belum kami ketahui.
"Yosi, aku menemukan beberapa barang bukti," ucapku sambil menyerahkan beberapa barang bukti
Yang Aku Temukan, Gergaji Berdarah, Sepatu Sang pembunuh dan retakan kaca.
Aku Sudah Terbiasa Dengan Kasus Ini Karena Kasus Seperti ini sudah puluhan kali terjadi di museum kota mati ini.
Saat Aku Menyelidiki Seluruh Ruangan, Aku Menemukan Sesuatu Di Balik Patung Museum, Aku Cukup Takut Tapi Aku Melangkah Terus Dan Melihat Patung Itu Berlumuran Darah Dan Dibaliknya Tertempel Sebuah Kertas.
"Kertas Apa Ini?" tanyaku heran.
aku mengambil kertas itu dan tulisannya menggunakan darah....bertuliskan...
**I Love You Ermi, kau akan ku bunuh cepat atau lambat.**
Aku Segera Memeras Kertas Itu Dan Menyimpannya Dalam Kantong ku, lalu saat aku menuju ruang tengah..biasanya aku mendapat sebuah alat alat pembunuhan tapi kali ini sangat aneh, Mataku Terkejut Melihat Jantung mati dan darah di dalam kotak kecil di depan Pintu ruang ketiga.
Aku Segera Lari Ketakutan, Namun Yosi Menghentikan ku saat aku berjalan menuju keluar.
"Kamu Mau Kemana?" tanya dia
"Lepaskan, Aku Mau Pergi Ke Toilet!" tegas ku ia pun melepaskan tanganku dan saat ku lirik dari belakang, ia nampak tersenyum manis menghadap ruang tengah (seperti memalingkan muka)
"Sudahlah, Aku Takut, mungkin aku akan ke toilet mengambil beberapa kertas tisu," ucapku gemetar.
Aku Masuk Dalam Toilet Kecil, Di Belakang Museum, Aku mencium bau yang sangat menyengat yang tidak enak+ bau amis.
"Ya ampun bau macam apa ini!!? oh tidak! jangan jangan!" Aku Segera Melihat Ke Pojok Kloset Dan Melihat Sebuah Kertas Tulisan+Otak
"Astaga!! yatuhan!!" aku berteriak. polisi segera menghampiriku
"ada apa? detektif ermi,!?" tanya pak polisi
"Saya Melihat Otak Di Pojok Kloset Dibawah Situ Pak!" protesku.
Pak Polisi Mengecek Dan Alhasil Benar Ada Sebuah Otak Berceceran Di Kloset Sana, Aku segera mencatat di buku detektif ku...
"Kenapa Ada Otak Disini!!? Sang pembunuh benar benar licik!" Murka pak polisi
"Saya juga tadi melihat jantung di kotak kecil depan pintu ruang ketiga," ungkap ku
Semua Polisi Menyelidiki Seluruh Ruangan, Tapi Tak Mendapatkan Bukti Apapun, Aku Mencari Yosi Entah Kemana Ia Pergi Menghilang Tiba tiba.
"Yosiiii, kamu dimanaaa...." panggilku
Yosi Pun Segera Datang
"Ada Apa? Aku Habis Dari Belakang," Ucap Yosi
"Ok, lanjut pencarian!" pintaku.
Yosi Hanya Diam, Yosi Memanglah Tipe Lelaki Yang Pendiam,Tertutup, dan gak terlalu suka bicara, biasanya dia cuek, dan suka plin plan.
Aku Dengan Berani, Mengecek Seluruh Ruangan, Dan Tidak Ada Lagi Hal Hal Semacam Tadi Aku Pun Bingung Saat Ke ruang tengah tadi saat ku lihat depan pintu ruang ketiga, kotak itu sudah tidak ada lagi...
"Pak, apakah bapak sudah melihat kotak kecil di depan pintu itu?" tanyaku sambil menunjuk pintu depan ruang ketiga.
"Kami tidak menemukan apapun Disitu," ucap pak polisi.
Aku Masuk Ke dalam ruangan ketiga itu dan alhasil hanya beberapa lukisan dan sejarah tersimpan Disana, aku cukup bingung melihat kejadian ini berulang kali aku segera menyerahkan sebuah kertas surat tadi kepada pak polisi.
"Pak, Ini Surat Yang Saya Dapatkan Tadi, Benar benar angker ini museum pak," ungkap aku
Pak Polisi Membuka Kertas Itu Lalu Segera Membuangnya, dan mengakhiri penyelidikan, penyelidikan akan berlangsung lagi nanti sore sampe malam harinya.
Aku Pun Pulang, Setiba Dirumah Aku kaget karena rumahku tiba tiba saja terkunci dan tidak ada ortuku...
Aku Menelpon Yosi Tapi tak diangkat,Aku khawatir dengan kedua ortuku
"Aduhhh, mereka kemana ya?? tidak mungkin mereka menggembok rumah!? dan kini rumah ini dijual, lalu aku harus tinggal dimana dan kemana ibu dan bapak?" Bingung aku, dan aku segera menuju rumah Yosi.
"Yosiii,,,.... yosiii" panggilku tapi tak ada yang menyaut, lalu aku menunggu dan akhirnya Yosi keluar dari kamarnya.
"Oh? Hai Ermi Ada apa ya?" tanya dia
"Bolehkah aku tinggal dirumahmu semalam saja?" pintaku
"Hmm...untuk apa? dan kenapa kamu tidak diam Dirumah?" Tanya lagi Yosi
"Rumahku tiba tiba dijual oleh kedua ortuku jadi bolehkah aku tinggal dirumahmu semalam saja...sambil mencaritahu keberadaan orang tuaku?" mohon aku
"Maaf, tapi tidak bisa" Jawab Yosi singkat dan langsung pergi.
"Tunggu, Kenapa tidak boleh?" tanya aku lagi
Yosi Hanya Menggelengkan Kepalanya Dan Berbisik Di Telingaku
***Hati hati, nyali yu tak kan lama, ingin dia atau yu*** bisik Yosi tak terdengar begitu jelas.
aku terdiam terpaku, biasanya Yosi ramah tapi dia memang cuek, tapi biasanya sedikit ramah tapi kali ini agak berbeda dan Yosi berbalik kehadapan ku.
"Maafkan aku, aku tidak memperbolehkan mu karena aku sedang sakit flu berat,hatchimmm!!" ucap Yosi, bersin dihadapan ku sangat keras.
"ooh yaudah, bye Yosi," ucapku pergi aku lalu menuju kantor polisi dan berdiskusi Disana...
2 Jam Kemudian Aku Dalam Perjalanan Menuju Museum, Aku Memanggil Yosi Dan Yosi Hanya SMS bahwa dia tak bisa ikut dalam pencarian.
Baru Aku Ingin Membalas tiba tiba saja polisi berteriak dan mobil polisi itu tertimpa bebatuan dari atas bukit seperti longsor tiba tiba terjadi dan pohon tumbang mengenai mobil kami...
Waktu Itu Aku Pingsan, Dan saat ku terbangun aku masih ada di keadaan yang sama aku segera membawa para polisi keluar tapi tak berhasil, rasanya ginjalku sakit parah Aku Segera Menelepon Ambulans
"Tolong panggilkan ambulans...se..segera! ke jalan...kota mati!! didekat bukit!" ucapku gemetar.
aku menunggu cukup lama, hampir 1 jam ambulans belum datang, keadaanku mulai melemah aku teringat ibu,bapak dan Yosi. Yosi sebenarnya adalah sahabatku semenjak SMP dan aku berpacaran dengannya sampai sekarang.
"Ya Tuhan, kuatkan lah aku..." ucap pada ku meringis kesakitan pada ginjalku.
ada 2 polisi yang berhasil selamat namun luka banyak di tubuhnya keluar dari dalam mobil,
"Detek..tif...er..mi bertahanlah.." ucap salah satu polisi aku mengangguk namun tak bisa melakukan apa apa.
Aku Melihat Sosok Lelaki Berjubah Hitam Di Depan Museum Dan Masuk Ke Dalam museum.
dan dia berkerudung, sehingga ia tak terlihat badannya, wajahnya dan ia lah pembunuhnya.
"Pa..pak pol..lisi itu pembunuh berantai...nya," ucapku lemah sembari menunjuk jubah hitam itu, kami berusaha kuat namun sudah tak bisa bergerak
Kami Tergeletak Dan Ambulans Baru Datang Dan Membawa Kami Ke Rumah Sakit Tapi Aku Menolak, Aku Lebih Memilih Mengambil Resiko Masuk Ke museum.
"Dimana Kau Pembunuh!! Ke..lu..arlah!!" ucapku terbata bata
aku mendengar suara tangisan+jeritan keras di ruang ketiga dan suara tawa menyeramkan di ruang kedua, sementara aku ada di ruang utama.
aku melihat sosok jubah hitam itu mendekatiku, aku terus mundur dan akhirnya aku lari masuk ke pintu ketiga dan melihat ibu dan bapakku terkurung
"Ibuuuu!!!!Bapakkkk!!!!" teriakku sangat kencang memeluk mereka tuk terakhir kalinya
aku menangis sekeras sekerasnya...
"Ibuuuu Bapakkkk!! kenapa. kalian begini!!!haaaaaa!!!!!!!!!" Tangis ku
"Jaga diri kamu baik baik, pergilah secepat mungkin dari sini, ibu dan bapak akan tenang jika kamu selamat," ucap ibu dan bapakku
aku menangis histeris dan keluar dari ruangan itu dan menemukan jendral polisi menangani kasus aku trauma saat itu
Aku Menangis Dan Sosok Jubah Hitam Itu Mendekatiku, Dia tertawa hingga bergema di seluruh ruangan museum.
Seluruh Badan ku Gemetar Dan Berkeringat,Jantungku Hampir Berhenti Berdetak.
Setelah Itu Saat Jendral Polisi Masuk Dan Menyelidiki, Tiba tiba saja kedua ortuku hilang bersama jubah hitam itu.
"Maafkan kami detektif Ermi tapi ortu mu dan Yosi tak ditemukan mereka hilang seperti nya Yosi membawa kabur kedua ortumu," ungkap pak polisi
"Apa??yo .Yosi??" tanya ku
"Yosi Adalah Pembunuh Berantainya, Dan Kami Terkejut Mengetahuinya, Yang memberi tahu kami adalah salah satu teman dekat Yosi yakni Roki," jelas pak polisi
Aku terisak menangis terus tanpa henti sejak saat itulah aku berhenti menjadi seorang detektif setelah kejadian itu terjadi 2 bulan yang lalu, kini masih tidak terpecahkan kemana hilangnya Yosi Dan Kedua Ortuku
Aku Tak Menyangka Pacarku Adalah Pembunuh, dan kini ia telah kabur dan tak ada kabar lagi tentangnya....
~Selesai~