“Hai adik, saya boleh minta tolong?” seorang lelaki paruh baya tiba tiba datang kearahku dan bertanya, tangan kanannya membawa tas tenteng besar bewarna biru.
“Eh? Ada apa ya pak?” aku bertanya meminta penjelasannya lagi.
Jika ditilik lebih jelas, pria tua ini masih terlihat gagah-gagah saja. Padahal badannya sudah terlihat sangat kurus dengan uban yang mewarnai seluruh helai dikepalanya. Itu semua terlihat dari badannya yang masih bisa berdiri tegap, padahal Ia sudah mempunyai gundukan kecil dipungungnya. Ditambah perawakan wajahnya yang sangat tegas, bagai seorang ayah yang galak karena memiliki mata yang sedikit bewarna merah.
“Tolong jagakan tas ini, saya ingin ke toilet sebentar.” pria tua itu langsung memberikan tasnya.
“Eh oh, ba-baik pak” ragu ragu aku menerima uluran tasnya. “Aduh!” aku kaget setelah tanganku menenteng tas itu, kukira mudah saja menentengnya karena terlihat pria tua itu membawa tas ini terlihat sangat ringan. Tapi setelah aku yang membawanya, ternyata tas ini sangat berat sekali. Bahkan ketika tas ini belum sepenuhnya berada ditanganku, tas ini sudah menempel duluan ditanah. “Eh pak! Bapak! Apa isi tas… ini?” suaraku kian mengecil melihat bapak tua itu sudah berada sangat jauh dariku. Percuma jika aku berteriak pun, Ia tidak akan mendengar. Aku menghela napas gusar. Posisi tubuhku miring karena berat tas ini. “Apasih isi tas ini? Bisa bisanya kakek kakek itu kuat sekali membawa tas ini." aku bergumam pada diri sendiri sambil terus menyeret tubuhku dan tas ini ke dalam ruang tunggu terminal.
“Hei Rani! Eh?! Kau kesambet apa? Bukankah kita cuman pergi menjenguk nenek kau bukan? Kenapa kau sampai membawa tas sebesar itu? Memang apa isinya?” Vey yang baru sampai ditempat tunggu terminal langsung menyerocos ingin tahu.
Aku mengeluh malas. “Ini bukan milikku Vey. tadi ada bapak bapak- eh, kakek kakek ding, dia ngasih ini ke aku. Katanya dia mau ketoilet sebentar. Tapi ini sudah hampir setegah jam dia belum juga datang. Sepertinya dia ternak sapi di WC.” aku menjawab sedikit kesal “kau sendiri, Kenapa jam segini baru datang? Kau lupa kita sudah janji harus berada disini jam delapan hah?! Untung saja bus nya masih lima belas menit lagi”
Sedangkan yang aku marahi hanya terkekeh pelan. “Ish, sorry laah… dirumah tadi adik adikku rewel sekali. Repot aku ngurusin sana sini. Yang satu nangis minta ini. Yang satunya berantem rebutin itu. Huh! Serasa mau pecah saja dunia!”
Wajah garangku berubah menjadi sedih. Kilasan ingatan tiga minggu lalu tentang kejadian adikku berumur tujuh tahun menghilang hanya karena ingin membeli boneka barbie kembali datang dikepalaku.
Sore itu, Risa-adik perempuanku meminta izin ke ibu untuk pergi ke pasar membeli boneka barbie. Entahlah, mungkin saat itu ibu lagi lengah, makanya mengizinkannya pergi sendiri, Karena jarak rumah kami antara pasar tidak terlalu jauh. Untuk pergi sendiri adikku sudah cukup tahu tata letak toko mainan yang ditujunya karena kita sudah sering menemaninya. Dan setelah itulah ketika Ia pergi, Ia sudah tidak pernah kembali kerumah lagi.
Vey tahu apa yang ada dibenakku sekarang. Ia mengelus ngelus pundakku meminta maaf karena telah mengatakan hal yang membuatku sedih kemudian termenung.
“Enggak Vey, gapapa. Kamu gak salah kok.”
“Sudahlah Rani, jangan sedih terus. Percayalah, Risa tidak kenapa kenapa. Banyak yang sayang Risa. Polisi pun sampai sekarang masih mencarinya. Pasti tuhan masih baik melindungi anak baik seperti Risa itu”
Aku tersenyum hambar mendengar pernyataan Vey. sudah kesekian kali Ia menenangkanku menggunakan kata kata itu.
“Eh, omong omong kau tau isi tas sebesar itu apa?” Ia mencoba mengalihkan perhatian.
Aku menggeleng berusaha menguasai diri agar tidak tampak sedih lagi.
“Coba kau bawa deh. Ringan banget tahu.” aku berniat mengerjainya. Dan lucunya, Ia benar benar mengangkat tas itu dan terjatuh “Astaga! Apa isi tas ini?!" Ujarnya yang membelak kaget.
Aku terkekeh, “Entahlah, tadinya aku lihat kakek-kakek itu membawa tas ini kelihatannya ringan sekali. Seperti bawa tas berisi angin. Kagetmu sama seperti kagetku saat pertama kali mencoba menenteng tas ini.”
“Kau… tidak kepo dengan isinya?” Vey bertanya mendekat setengah berbisik.
“Hush! Kau selalu saja begitu! Ini bukan milik kita Vey! Jangan aneh aneh deh!” aku menggerutu. Sebenarnya aku juga kepo sejak tadi. Apa isi tas seberat ini? Apakah beton? Atau uang yang jika dihitung bisa sampai bermiliar miliar? Mungkin sekiranya tidak, karena bentuk tas ini melentur, sepertinya yang benda didalamnya yang tidak keras.
“Ayolah, apa salahnya kita mengintip sedikit. Lagi pula resletingnya juga tidak digembok.” tangan Vey mencoba menggeser posisi resletingnya jika aku tidak memukul lengannya. Tentu Ia meringis.
“Vey! Ini bukan hak kita! Jangan seenaknya dengan barang orang tanpa izin! Kalau ada apa apa didalamnya dan nantinya kita dituntut bagaimana?!”
Ia mencibir “ya… ya… ya… Baiklah nona Raniii…” akhirya Ia menurut. Tapi dengan kata kata yang menyebalkan! “Hm, kalau begitu… meraba tidak salah bukan?”
Pertanyaannya membuat otakku berputar dua kali lipat. Tanpa ada persetujuan dariku, Vey malah sudah merabanya duluan. “Sepertinya isinya bukan pakaian deh, coba kau raba. Aneh”
Aku merabanya. Terasa sangat empuk dan sedikit… kenyal. “Bantalnya empuk sekali.” cicitku. Dan Vey meng-iyakan.
“Untuk apa orang itu membawa bantal sebesar ini?"
"Entahlah Vey, juga bukan urusan kita.” aku menyergah.
“Eh, tapi bukankah kalau bantal tidak akan seberat ini?” perkataan Vey tambah membuat pikiranku berkelana jauh. Tapi tak ada waktu untuk itu karena speaker terminal memanggil nomor penumpang yang berada dikarcisku.
“Eh? Bagaimana ini? Pemilik tas juga tak kunjung datang.” aku bingung harus bagaimana. Para penumpang bus juga sudah mulai menaiki kendaraan.
Aku melihat Vey bersikeras mengangkat tas biru itu dan menaruhnya diatas kursi. lalu Ia menarik tanganku menuju antrian bus
“Loh Vey! Tasnya bagaimana?”
“Udah tinggalin aja! Kakek-kakek itu juga harus tau diri! Enak aja tasnya ditinggal baca komik ditoilet!”
***
"Ting noong… ting noong…"
Bel rumah bebrbunyi merusak malamku. Aku beranjak dari tempat tidur dengan rambut urak urakkan dan liur dimana mana.
“Haduuh… siapa pula malam malam begini datang bertamu.” aku bergumam dengan kesal.
Aku membuka pintu dan terlihat dua orang lelaki memakai kostum polisi menatapku tegas. Seketika kantukku langsung menghilang.
Ada apa pula polisi datang kerumahku? Apakah aku melakukan kesalahan?
“Apakah benar dua hari yang lalu anda berada di Terminal Angkasa menaiki bus nomor empat?” polisi bertanya detail dan kujawab benar. Seketika polisi itu saling tatap dan kembali menatapku dengan lebih intens.
“Anda yang membawa tas ini dan meninggalkannya bukan?” Ia menunjuk ketanah dan aku mengikuti telunjuknya.
Aku terperanjat kaget melihat tas biru yang kemarin lusa bapak tua memberikannya kepadaku karena alasan ingin pergi ke toilet. Seketika badanku bergemetar hebat. “Ada apa memang dengan tas ini pak? Apakah ada yang salah?”
“Tak tahukah anda isi tas—”
“Cobalah lihatlah isinya sendiri” polisi satunya berkata lebih tegas mendorong dengan kuat tas itu supaya berada tepat didepan kakiku.
Aku berjongkok ingin membukanya. Tapi aku merasakan seperti ada yang memerhatikanku. Tak jauh dari sini terlihat seorang lelaki paruh baya berdiri persis disamping pohon beringin menghadap kearahku. Aku menyipitkan mata memastikan. Tubuhku merinding hebat melihat lelaki paruh baya itu adalah orang yang sama yang memberikanku tas ini dua hari lalu diterminal. Ditangannya, Ia memegang… sebuah pisau? Aku menelan salivaku susah payah.
Tercium bau tidak sedap. Aku mencoba menguasai diri walaupun sebenarnya keringat dingin terus lolos keluar dari kulitku. Jantungku terus berpacu dua kali lipat lebih cepat. Tanganku mulai menggeser resleting tas. Kali ini bau tidak sedap benar benar memuakkan hidung. Setelah resleting sampai ujung, aku membukanya. Aku menutup mulut. Jantungku terasa berhenti berdetak melihat apa yang ada didalam tas besar ini. Tubuh Risa yang meringkuk kaku, dengan beberapa bagian tubuh yang termutilasi.
***