Ada sebuah rumah di dekat apartemen baruku. Selepas pulang dari kampus aku sering berjalan melewatinya. Rumah dengan gaya kuno berdinding kayu dan lantai marmer berwarna hitam. Ada taman kecil dengan sebuah pohon besar dan ayunan yang dililit tumbuhan.
"Jangan terlalu mendekati rumah itu, terlebih lagi pemiliknya. "
"Si tua Hans, dia gila karena istri dan anaknya mati bunuh diri."
Desas-desus ini yang ku dengar saat pertama kali tiba di salah satu daerah di pinggir kota, tetangga dan pemilik apartemen ini yang menceritakannya padaku.
Sebuah universitas memberikan beasiswa penuh untuk gadis miskin sepertiku. Karena itu aku memilih menempati apartemen murah dan tua yang terletak sedikit jauh dari kota dan kampus
Aku perlu berjalan setelah melewati dua halte.
Bagaimana lagi? Aku tak memiliki pilihan karena hidup serba seadanya.
Malam itu aku menengok ke arah rumah kuno itu lagi. Di sana aku dapat melihat seorang pria tua berjalan tergopoh-gopoh di belakang dan aku juga melihat beberapa orang yang tampak familiar bagiku.
Mereka si wanita brunette, sang pemilik apartemen dan wanita tua yang tinggal di kamar nomor tujuh. Setelahnya kuputuskan untuk mengabaikan mereka dan melanjutkan paper dari Miss Campbell.
Satu bulan berlalu, aku mulai terbiasa dengan kehidupanku itulah yang kupikirkan.
Aku menemukan hal aneh dari cerita salah satu teman sekampusku, mereka bilang untuk segera mengemasi barangku dan pergi secara diam-diam. Awalnya mereka ragu mengatakan nya namun akhirnya mereka buka mulut.
" Banyak kasus orang bunuh diri disana. "
"Kematian yang aneh dan mayatnya pun aneh begitu kata penyidik."
"Karena suatu alasan mereka tak meneruskan penyelidikan. "
Kata-kata mereka terngiang. Hatiku sendiri berulang kali berteriak untuk segera memutuskan pilihan. Dan sore hari di musim gugur aku yang tengah duduk di dekat semacam hutan kecil bertemu dengan si tua Hans. Ini kali kedua aku bertemu dengannya, dia tampak normal untukku semula dia hanya memandang dingin sampai akhirnya dia memutuskan berjalan menyusul ku.
Aku hanya terdiam menatap mata keriput nya. Cukup lama dia terdiam hingga akhirnya dia memberikan sebuah permen karet, kemudian pergi tanpa sepatah kata pun.
Aku membuka bungkus permen karet dan saat hendak memakan permen itu iris hazelku menangkap huruf huruf kecil di bagian kertas pembungkusnya.
Aku mengambil ponsel ku dan membuka kamera dan segera memfoto tulisan kecil-kecil itu dengan memperbesar hurufnya.
" Run away."
Tepat setelah aku membaca tulisan itu kepala ku terasa pening dan aku dapat melihat sosok si tua Hans berlari Dan seseorang memukul kepalanya hingga si tua Hans ambruk di hadapanku.
Sebuah ruangan yang hampir mirip dengan basemen dengan rantai disana sini, itulah yang menjadi pemandangan pertama ku.
Aku melihat salah satu teman ku di sana dengan wajah penuh darah dan tubuhnya di gantung secara terbalik.
"Si tua Hans Mengacaukannya. " Sebuah suara menginterupsi, wanita tua dikamar 7 dan si pemilik apartemen. Dan aku melihat beberapa sosok yang datang menyeret si tua Hans yang telah lemah tak berdaya.
"Sudah lama sekali semenjak kami bisa menghadiahkan kepala seorang gadis muda untuk menjaga kota ini, " ucap si wanita tua.
"Ternyata selama ini gadis muda dan si tua Hans yang memberikan pesan sebelum mereka kami tangkap," lanjutnya.
Wanita pemilik apartemen mendekat dan melepaskan ku dari rantai tempatku bergelantung, menyeretku dan menarik rambut panjangku. Memaksa ku menatap mata yang nyaris buta sebelah milik si wanita tua.
Mereka bersorak sorai seolah baru saja mendapat buruan, namun tawa ku pecah karena tak kuasa menahan diri sekian lama.Mereka menatapku dengan pandangan heran seolah aku adalah orang gila.
Sebuah tendangan ku lempar pada kedua wanita di belakang ku kemudian merebut kedua pisau dari mereka.
"Ahh, kali ini bertahan selama sebulan ya," ucapku sambil menjilat tanganku yang sedikit tergores pisau. Perlahan mereka mundur dan sangat terkejut, tentu saja.
"Pernah mendengar pembunuh berantai yang di duga jack the ripper abad 20? "
" Yep, itu aku hehe"
Aku tertawa sangat bahagia karena bisa diberikan sebuah kesempatan menghabisi cacing seperti mereka.
"Satu, dua, tiga yeaaaaay ... "
Aku melempar dan mengambil kembali pisau - pisau yang ku rebut barusan. Tubuhku penuh cipratan cairan merah yang anyir sekarang, aku pun masih bisa mendengar mereka menjerit.
Ahh, bukan kah musik ini sangat indah
Aku menarik tudung hitam si wanita tua yang hendak kabur melalui tangga. Aku mencengkram kakinya hingga akhirnya dia terjatuh beberapa kali dari tangga. Raut ketakutan itu begitu indah.
"Tak perlu terkejut aku sudah tau dari awal ada yang aneh dengan kota ini, aku berharap menjalani hidup normal sih memang."
"Tapi saat hari kedua aku melihat kau yang selalu memberitahu tentang si tua Hans sudah memberikan jenius seperti ku kode. "
Aku tersenyum lebar dan entah kenapa wanita tua ini semakin ketakukan bahkan dia berusaha meraih ujung tangga meskipun tubuhnya sudah berada dibawah kakiku.
Suara teriakan keras terdengar.
Wanita tua itu gemetar menahan sakit, ngomong - ngomong aku baru saja menusuk tangan kanan nya kemudian menusuk di lengannya jauh lebih dalam, tak lupa kaki dan juga punggungnya.
Satu persatu hingga tak lagi terdengar suara teriakan dan menyisakan permohonan ampun dan meminta tolong. Aku beranjak menarik wajah keriput tua miliknya dan tersenyum kembali.
"Si tua Hans yang memberitahuku saat aku mengendap ke rumahnya. Jangan berusaha membodohiku, aku sudah sangat terbiasa meninggalkan kamar ku yang tampak normal."
"Oh dan asal tau saja CCTV di kamar ku pun semuanya sudah berhasil ku sadap jadi kalian hanya melihat rekaman saja, " tandasku sembari terkekeh pelan.
"Kemudian si tua Hans menawarkan ku kerja sama, dia akan menyerahkan semua kekayaan juga nyawa nya karena yang diharapkannya cuma kematian dan penderitaan kalian," lanjutku.
Aku berjalan dan melewati tubuh tubuh yang bergeletakan kemudian menarik si tua hans dan menyandarkan nya.
"Hei pak tua, begini cukup kan? Kau sangat pintar menjadi gila, kerja sama yg cukup memuaskan "
Wanita tua itu meraung marah mencaci maki Hans tua, aku hanya menatap nya saja dan menarik seorang wanita berambut hazel.
"Kau tau kalian itu sekte bodoh, melawan seorang buronan psikopat. Kalian hanya mendatangi kematian. Oh sebelum kita berpisah seharusnya kalian tau setiap manusia itu memiliki kemungkinan besar untuk menjadi seorang pembunuh," jelasku membuat si wanita tua kian pucat pasi.
" Hihihi ahh terimakasih atas hidangan dan hiburan ini."
Kemudian si Hans tua terduduk diam masih tetap melihatku ketika mengiris kulit mereka atau memotong setiap bagian tubuh mereka, bahkan dia hanya menatapku kosong saat aku membelai kepala cucu si wanita tua, si gadis berambut hazel.
"Ahh benar benar malam yang indah, nah si tua Hans mari kita ambil nyawamu yang sudah sangat putus asa itu. "