Dear, ayah!
Aku rindu kasih sayangmu
Aku rindu pelukan hangatmu
Aku rindu semua yang berhubungan denganmu
Kembalilah ayah
Aku menunggu mu disini,
Di tempat yang masih sama
Hening. Hanya
terdengar hembusan angin yang setia menemani malam-malamku. Aku terduduk pilu di sebuah kamar kecil tempat dimana aku menikmati pahit manis kehidupan. Aku melihat sesuatu yang entah apa itu aku tidak tau. Mungkinkah kehidupan? Ataukah sekedar melihat tarian pohon kelapa yang berlenggak-lenggok ke kanan dan ke kiri? Atau mungkin yang lain? Entahlah!
Aku hanya berpikir bagaimana nasib hidupku ke depannya. Akankah aku bahagia? Atau bahagia sebatas hayalan? Aku tidak tau. Air mataku mulai mengalir tanpa disengaja. Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri, bisakah aku bahagia? Sedangkan saat ini aku masih saja menangis, menangisi kepergian seseorang yang begitu berarti untukku.
"Ayah!" Ucapku lirih
Menyebutnya seakan-akan aku ingin ikut bersamanya, pergi seajuh mungkin hingga tak seorang pun menemuiku. Tapi, tentu saja itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin aku bisa ikut dengannya jika Tuhan tidak mengizinkannya? Saat ini, aku hanya bisa menagis dan menangis. Menangisi takdir yang sedang berpihak padaku.
Tok,,,tok,,,tok,,,
Terdengar suara ketukan pintu di sana. Dengan segera, aku melangkah cepat menuju kasur sebelum ibu melihatku sedang menangis. Aku tidak ingin ia melihatku sedang bersedih. Aku tak sanggup karena aku tau bahwa kesedihan seorang anak akan dirasakan pula oleh ibunya jika ia tau.
"Nak!" Paggilnya dari luar dengan suara yang begitu lembut
Sebenarnya, aku mendengar panggilan itu bahkan aku ingin menjawabnya tapi, aku terpaksa harus tetap diam karena aku takut, jika aku menjawabnya suaraku terdenagr serak dan ibu akan curiga padaku.
Bohong. Aku tau ini dosa. Tapi, aku juga tidak mau ia melihatku dalam keadaan seperti ini. Mungkin ini lebih baik daripada aku harus melihatnya mengkhawatirkanku hanya karena aku menangis. Selama di kamar, aku masih belum bisa tidur, air mataku masih saja mengalir membanjiri pipiku, mataku terasa panas. Aku mencoba berhenti menangis, aku mencoba memejamkan mata dan berharap aku bisa terlelap di kasur empuk kesayanganku. Malam semakin larut sedangkan aku masih belum tertidur. Kantukku sudah mulai menguasaiku.
###
"Ayah!" Terdengar suara anak kecil memanggil ayahnya
"Iya nak, ada apa?" Tanya sang ayah pada putra kecilnya itu
"Ayah, aku mau main kuda-kudaan tapi maunya sama ayah" pintanya dengan manja
Sang ayah pun mengiyakan permintaannya. Tentu saja putra kecilnya itu melompat-lompat kegirangan. Tanpa berlama-lama, sang ayah menggendongnya membawa ke tempta dimana mereka akan bermain kuda-kudaan. Aku yang melihatnya hanya tersenyum, ikut bahagia melihat anak kecil itu yang begitu gembira.
###
Suara adzan subuh telah berkumandangan pertanda bahwa pagi telah tiba. Entah, jam berapa semalam aku tertidur, aku tidak tau karena tiba-tiba aku mendengar suara adzan berkumandang. Aku tersenyum tentang semalam bahwa ternyata anak kecil yang mendapat kasih sayang dari ayahnya itu ternyata aku benar-benar menyaksikannya walaupun sekedar dalam mimpi tapi aku bahagia. Aku pun beranjak dari tidurku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu kemudian, melaksanakan sholat subuh. Beberapa menit kemudian, shalat subuh sudah aku laksanakan dan aku mulai membersihkan rumah mulai dari nyapu lantai hingga halaman rumah.
"Nak!" Pangginya
"Iya bu, ada apa?" Tanyaku
"Kalau sudah nyapunya nanti segera mandi dan bersiap-siap ke sekolah, jangan sampai telat" ucapnya mengingatkanku agar tidak telat sekolah
"Iya bu" jawabku sambil menyunggingkan seulas senyum
Setelah kepergian ibu, aku segera melanjutkan pekerjaanku agar cepat selesai. Aku terus menyapu dengan cepat hingga beberapa menit kemudian semua sudah selesai. Tanpa berpikir panjang, aku segera masuk ke rumah dan menuju ke kamarku untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Seulas senyum mengembang di bibirku, berapa bahagianya aku mendengar kata sekolah. Sekolah, aku pikir tidak hanya tempat belajar tapi, sekolah juga merupakan tempat di mana aku bisa mendapatkan pengalaman dan teman-teman baru. Dengan penuh semangat, aku bersiap-siap setelah semuanya selesai, aku segera meraih tas ku yang di dalamnya sudah ada buku-buku pelajaran yang sudah ku siapkan semalam seusai belajar sebelum menangis.
Dengan langkah penuh semangat, aku segera menuruni tangga dengan hati-hati. Setibanya di dapur, aku segera berpamitan pada ibu dan mencium tangannya adalah suatu kewajiban bagiku setiap akan pergi.
"Bu, aku pergi dulu ya" pamitku
"Iya nak, hati-hati" ucapnya "belajar yang benar di sekolah jangan main terus" lanjutnya
Aku pun mengiyakan ucapannya. Setelah itu, aku segera pergi karena aku takut ketinggalan angkot. Seperti biasa, setiap hari aku memang berangkat ke sekolah naik angkot karena tidak ada yang mengantar. Aku menunggu angkot di pertigaan jalan dekat rumahku, aku berdiri di sana seorang diri sambil menunggu angkot yang akan lewat. Selama di sana, aku menemukan seorang anak yang sedang bermanja-manja pada ayahnya, sang ayah tampak sangat menyayanginya. Aku melihatnya dengan seulas senyum. Sebenarnya, ketika aku melihat pemandangan yang seperti itu aku iri, aku ingin menikmatinya juga sama seperti mereka yang masih memiliki seorang ayah. Aku terus melihat mereka yang tampak sangat bahagia. Entah sejak kapan, air mataku mulai mengalir membasahi pipiku.
"Ayah, aku merindukanmu" ucapku lirih dengan isak tangis
Di tengah tangusku, tiba-tiba angkot yang ku tunggu sudah datang
"Pak!" Panggilku sambil melambaikan tangan pertanda bahwa aku memintanya untuk berhenti.
Angkot itu berhenti tepat di hadapanku, aku pun segera memasukinya dan kemudian angkot pun berjalan dengan pelan karena masih sambil mencari penumpang yang lain.
Tiga puluh menit kemudian, angkot yang ku tumpangi tiba tepat di depan sekolahku. Aku segera turun dan membayar ongkosnya. Tanpa banyak berpikir, aku segera melewati pintu gerbang sekolah yang sudah hampir ditutup karena jam masuk sudah hampir tiba. Aku melangkah cepat menuju kelas dan tetnti saja langkah cepatku tidak sia-sia karena aku akhirnya tiba di kelasku.
Kring,,,kring,,,kring,,,
Bel tanda jam masuk telah berbunyi, aku mulai mengeluarkan buku pelajaranku dari dalam tas sambil menunggu guru pengampu pelajaran pada jam pertama tiba di kelas.
"Selamat pagi anak-anak!" Sapa Pak Basyir guru agamaku
"Selamat pagi pak" jawab kami kompak
Tanpa basa-basi, Pak Basyir segera meminta kami untuk membuka buku pelajaran
"Anak-anak, buka buku kalian halaman 62" perintahnya
"Baik pak"
Kami membuka buku pelajaran sesuai dengan perintah Pak Basyir. Kemudian tanpa aba-aba beliau mulai menjelaskan materi pada kali ini Penjelasannya cukup singkat tapi cukup membuatku mengerti karena bahasanya tidak berbelit-belit sehingga aku lebih mudah memahaminya. Pembelajaran masih terus berlangsung hingga tanpa kami sadari bahwa ternyata 40 menit telah berlalu. Akhirnya, Pak Basyir mengakhiri pelajaran pada pagi ini.
"Baiklah anak-anak pelajaran kali ini kita akhiri dulu sampai jumpa Minggu depan" ucapnya
"Iya pak"
Bel jam tanda istirahat telah berbunyi, semuanya berhamburan keluar kelas termasuk juga aku tapi, sebelum aku keluar kelas tiba-tiba ada temanku yang pingsang dengan segera aku menolongnya sambil lalu berteriak meminta bantuan teman-teman yang lain dan salah seorang temanku memanggil guru.
Beberapa saat kemudian, seorang guru pun datang dan dengan segera ia menghubungi orang tuanya sambil memerintahkan kami untuk membawanya ke UKS. Setibanya di UKS kami menunggu Bu guru hingga kemudian, bu guru datang bersama orang tuanya. Entah berkendara dengan bagaimana aku tidak bisa membayangkan yang jelas ia sudah tiba di sini sekarang. Aku melihatnya dengan seksama tampak wajah yang begitu sangat mengkhawatirkan putrinya yang sedang pingsan di hadapannya itu. Aku merasa iri melihatnya, aku juga ingin mendapatkan kasih sayang yang sama sepertinya.
"Percayalah, setiap orang memiliki kebahagiaannya masing-masing, mungkin sekarang kamu sedang bersedih karena ditinggal ayahmu untuk selamnya tapi, yakinlah bahwa akan datang kebahagiaan lain yang akan membuatmu selalu tersenyum. Ketahuilah, Allah maha penyayang lagi bijaksana" ucap salah seorang guruku sambil mengelus kepalaku dengan lembut
Aku tertunduk mendengar setiap kalimat yang ia ucapkan. Aku mulai berpikir bahwa setipa orang tidak selamnay akan berada dalam sebuah kesedihan selama ia mau bangkit dan mau berjuang untuk mendapatkan kebahagiaannya.