𝗧𝗛𝗘 𝗣𝗢𝗪𝗘𝗥 𝗢𝗙 𝗕𝗘𝗜𝗡𝗚 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗜𝗛𝗔𝗛
Mulailah Dengan Bismillah ⚠️ 7++
( Mohon bijak dalam memilih bacaan )
~𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗡𝘆𝗮𝘁𝗮 : 𝗗𝗶𝘂𝗷𝗶 𝗖𝗼𝗯𝗮𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗹𝗮𝘁 𝗡𝗶𝗸𝗮𝗵 & 𝗟𝗮𝗺𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗯𝗮𝘁𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻, 𝗪𝗮𝗻𝗶𝘁𝗮 𝗜𝗻𝗶 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗗𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗞𝗮𝗿𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗕𝗲𝘀𝗮𝗿~
Pernikahan atau nikah adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain juga dapat berarti Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang di ucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam.
Menikah merupakan ketetapan Allah untuk manusia yang seharusnya kita jalani, bukan semata-mata khayalan.
Menikah termasuk salah satu pintu mendatangkan kebaikan bagi siapa yang benar niatnya. Dan dengan segera menikah akan semakin mudah mendapatkan kebaikan dan keberkahan.
Namun, realitanya tidak jarang ada sebagian orang, baik pria maupun wanita yang sudah berencana menikah di umur kesekian, malah tidak terealisasi.
Terkadang, apa yang kita kehendaki memang tidak sesuai, tapi bukan berarti itu buruk bagimu. Sebab, persoalan jodoh memang sudah menjadi rahasia Allah.
Begitu pula dengan apa yang aku alami. Namaku Sandrianah Lutfiah. Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Usiaku baru menginjak 21 tahun.
Lamaran kepada diriku, untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik. Membuatku nyaman.
Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Dunia kerja mengalihakan ku ingin mendapatkan karier yang cemerlang. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.
Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya seorang wanita yang dewasa untuk menemukan jodohnya. Kegiatan yang banyak membuatku terlambat menikah.
Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.
Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.
Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku, melalui sambungan telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin. Dan akupun meluangkan waktuku yang sangat sempit untuk memenuhi undangan calon ibu mertuaku itu.
Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku
“Apakah tanggal lahirmu…��� Yang ada di KTP itu benar…���” Tanya Ibu Narnia ibu dari calon suamiku.
“Benar…���” Aku menjawab dengan kaku sambil melengkungkan senyum ragu.
“Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun, Raina…���” Tanya Ibu Narnia lagi. Kali ini dengan nada di tekan tenang padahal aku yakin dia marah.
“Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun, Bu…���” Jawabku lembut namun penuh rasa tertekan.
“Iya…��� Sama saja 'kan…���” Ibu Narnia berkata menekan setiap ucapannya.
“Usiamu sudah lewat 30 tahun…���” Jawab Ibu Narnia ketus.
“Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis…��� Sementara aku ingin sekali menimang cucu…���” Ucap Ibu Narnia merendahkan sekaligus mengEjekku.
“………���” Setidaknya itulah yang aku rasa dari setiap kata yang ia lontarkan padaku. Namun aku diam membisu, karena apa yang ia katakan memang benar adanya.
“………���” Ibu Narnia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.
Aku berusaha menerima takdir Allah itu, dengan memperbaiki setiap ibadahku. Meluruhkan semua kekecewaanku. Memantapkan seluruh kewajibanku. Pokoknya aku serahkan hidupku pada Allah.
Aku menghalihkan kesedihanku dengan bekerja, Ibadah, bekerja, Ibadah, bekerja, Ibadah. Namun tetap saja sulit bagiku untuk benar-benar melupakan itu. Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.
Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka'bah. Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik. Memohon ketenangan dan keikhlasan menerima takdirku, apapun itu.
Aku benar-benar meluruhkan semua kegundahan dan kepahitanku di hadapan-NYA. Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan parubaya membaca Al-Qur'an dengan suara yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:
وكان فضل الله عليك عظيما
"Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar…���” (An Nisa' : 113)
Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu. Tiba-tiba perempuan parubaya itu merangkul ku ke dalam pangkuannya. Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:
ولسوف يعطيك ربك فترضي
"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-NYA kepadamu, sehingga engkau menjadi puas…���” (Adh Dhuha : 5)
Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Air mataku tumpah bukan lagi karena kesedihan tapi karena rasa ikhlas mulai menjalan di rongga dadaku dan menghangatkan hatiku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.
Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo, Mesir. Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.
Ayahku dan pemuda itu berbincang banyak hal. Aku hanya sibuk membaca Shalawat dan Istighfar sebagai teman perjalanan. Sesekali ku dengar ia dan ayahku tertawa hingga pesawat pun akan segera mendarat.
Sesampainya pesawat di bandara, aku dan ayahku pun turun. Di ruang tunggu, aku bertemu suami salah seorang sahabatku semasa sekolah menengah dahulu.
Nama sahabatku itu adalah Aisyah. Dan Aisya juga adalah rekan kerja ku di kantor. Sedangkan Bahdim adalah teman footsal sekaligus teman kantor dari kakak sepupuku.
“Assalamu'Alaikum, Bahdin…���” Salam kami pada suami kakakku.
“Wa'Alaikum Salam, Abah, Riana…���” Jawab Bahdim suami sahabatku.
“Dalam rangka…��� Apa kamu datang ke bandara…���” Kami bertanya padanya.
“Aku sedang menunggu teman…��� Yang kembali dengan pesawat yang sama dengan kalian tumpangi…���” Jawab Bahdim tersenyum mengarahkan pandangan pada ayahku.
Kami membunuh waktu menunggu dengan berbicara. Abah dan bahdimerbincang-bincang banyak hal terutama soal kegiatan pertanian. Karena Ayahku bekerja di bidangnitu.
Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi. Yang ternyata bernama Ahmad Abdullah. Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…
Baru saja aku sampai di rumah dan mengganti pakaian. Dan lagi asyik-asyik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelponku. Aku kaget.
Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang bernama Ahmad Abdullah, Yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku.
Dia ingin bertemu denganku. Saat ini juga, di rumah temanku Aisyah dan Bahdim tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu dan sangat wajib di segerakan.
Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini. Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.
“Temuilah, Nak…��� Boleh jadi dengan cara itu…��� Allah memberimu jalan keluar terbaik menurut-NYA…���” Ucap Ayahku lirih sembari mengelus rambutku. Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya.
Akhirnya… aku pun datang berkunjung ke rumah temanku Aisyah dan Bahdim itu. Hanya beberapa hari setelah itu, pemuda yang bernama Ahmad Abdullah sudah datang melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah, setelah pertemuan itu, kami pun betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri yang Sah.
“DAG… DIG… DUG…���” Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan. Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan.
Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku. Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat. Dan Alhamdulillah sangat menyayangiku.
Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga, ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Dan rasa takut semakin menghantuiku.
Tiba-tiba ucapan Ibu Narnia terngiang-ngiang selalu di dalam ingatanku. Usia yang tergolong rentan untuk memiliki anak lagi. Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.
Aku minta kepada suamiku, untuk membawaku memeriksakan diri. Kepada dokter ahli kandungan, tentunya. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil, Seperti kata Ibu Narnia.
Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter, yang sudah terkenal dan berpengalaman. Kebetulan Dokter kandungan itu adalah keluarga jauh suamiku. Dan detik itu juga, Dokter Sophia minta kepadaku untuk melakukan cek darah.
Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikutnya, karena hasilnya sudah jelas.
“Selamat…��� Kamu hamil, Rania…���” Ucap Dokter Sophia.
“Alhamdulillahi Rabbil Alamin…���” Ucapku dan suamiku bersamaan. Perasaan syukur dan bahagia kami, terutama untukku.
Singkat cerita, hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.
Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-NYA.
“Aku rasa kandunganku ini terlalu besar, dokter Sophia…���” Keluhku setiap kali aku mengecek kesehatan kandunganku. Aku selalu menyempatkan mengadukan pada seppupu suamiku itu.
“Tenanglah…��� Itu hanya karena…��� Kamu hamil di usia sudah senja…��� Usia yang sampai 36 tahun…��� Tenanglah, Semua akan baik-baik saja…���” Ucap Dokter Sophia menyemangatiku.
Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu. Hari dimana saatnya aku akan melahirkan anakku. Proses persalinan secara caesar berjalan dengan baik dan lancar.
Setelah aku sadar, Dokter Sophia masuk ke dalam kamarku. Tentu dengan senyuman mengambang di wajahnya, sambil bertanya tentang.
“Jenis kelamin apa yang kamu harapkan, Rania…���” Tanya Dokter Sophia.
“Aku hanya mendambakan karunia Allah…��� Tidak penting bagiku…��� Jenis kelaminnya…��� Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur…���”Jawabku senang sambil tersenyum bahagia karena kelahiran yang selamat.
“Jadi bagaimana pendapatmu…��� Kalau kamu memperoleh…��� Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus…���” Aku dikagetkan dengan pernyataannya.
“Aku tidak mengerti…���” Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan.
Dengan penuh penasaran aku bertanya “pa yang Dokter Sophy maksudkan“…���”
Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa
“Rania, Seperti yang selalu…��� Kamu bilang…��� Allah mencintaimu dan sekarang…��� Allah telah mengaruniakan dirimu…��� Tiga orang anak sekaligus…��� Dua orang bayi laki-laki dan satu orang bayi perempuan…���” Jawab Dokter Sophia.
“Subhanallahi Wabihamdihi…��� Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku tiga orang anak sekaligus…��� Untuk mengejar ketinggalanku berumah tangga…��� Dan ketuaan umurku memiliki anak…���” Jawabku penuh syukur.
Sebenarnya Dokter Sophia itu tahu kalau aku mengandung anak kembar tiga. Tapi Dokter Sophia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku. Supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.
Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:
ولسوف يعطيك ربك فترضى
"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas…���”
(Adh Dhuha: 5)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
"Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…���”
(QS. Ath-Thur: 48)
Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.
⚠️Jazaakumullahu khairan⚠️
“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani),yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit”
~Ali bin Abi Thalib~
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan,kelaparan,kekurangan harta,jiwa,dan buah2an. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)
⚠️ ~𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮 𝗯𝗮𝗶𝗸 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗸𝗲𝘁𝗲𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵, 𝗪𝗮𝘀𝘀𝗮𝗹𝗹𝗮𝗺~ ⚠️