Hampir seminggu Prans bermimpi burung hantu padahal dia memelihara dua ekor lovebird Merah dan Biru. Kata 'burung' baginya biasa tapi kata 'hantu' inilah yang bermasalah. Prans sungguh tidak mempercayai hantu sebab dia seorang programmer. Dia terbiasa membuat program-program komputer yang rumit, bahasa mesin yang hanya mengenal angka 0 dan 1, dan dia pembuat program game handal di salah satu perusahaan gamers terkenal di Jerman.
Prans tinggal di apartemen kelas menengah di daerah Kalibata, satu apartemen yang menjadi kebanggaannya dari hasil kerjakerasnya setelah berhasil menciptakan satu game bergenre horor, satu game tentang mempertahankan hidup dari serangan makhluk-makhluk aneh pengisap darah, semacam Drakula atau Werewolf, dan Prans membuat program ini bukan tanpa kendala, berbagai kejadian aneh dan ajaib selalu dia hadapi, misalnya, saat dia asyik membuat bahasa mesin, tiba-tiba ruang kerja di apartemennya yang berukuran dua dikali tiga meter, mendung dan turun hujan, kemudian setelah itu tampak kilat cahaya guntur di langit-langit apartemen Prans, dan sekonyong-konyong muncul seorang anak kecil membawa boneka burung hantu meminta segelas air putih dingin.
Anak kecil itu bernama Ritta, dia mengaku dari satu desa kecil di Jerman yang dulu dibombardir oleh Pasukan Rusia saat Perang Dunia Kedua. Rumah Ritta hancur terkena bom yang jatuh dari pesawat Rusia dan dia terkubur di basement rumahnya. Ritta katakan bahwa Ayah dan Ibu juga adik perempuannya mati tertimpa runtuhan, dan dia selamat sebab di malam nahas itu, dia tidur di basement bersama boneka burung hantu yang dia beri nama, 'Bob'.
Ritta menceritakan saat dia terjebak di ruang basement itu, tak ada bulan, cahaya lampu, apalagi matahari. Basement itu terlalu gelap bagi mata Ritta, belum lagi bau bubuk mesiu, suara-suara senapan mesin dan dinamit, teriakan-teriakan orang-orang Jerman yang terluka, dan semua itu Ritta dengar dari basement, dan dia yakin bahwa desanya itu telah hancur berantakan, penduduknya banyak yang mati, kawan-kawan Ritta mati, dan semua orang mati termasuk dirinya sebentar lagi. Ritta hanya dapat memeluk kuat-kuat Bob dan terus berharap agar seseorang dapat mengeluarkannya dari ruang basement itu, tapi apa mau dikata? Di luar tak ada lagi orang-orang tersisa, desa Ritta benar-benar diratakan oleh orang-orang Rusia yang dendam atas penyerangan tiba-tiba Pasukan Jerman di awal tahun 1941. Saat itu, Ayah bercerita bahwa Pasukan Rusia berhasil dipukul mundur oleh Pasukan Jerman hingga bertahan di luar kota Leningrad, dan Pasukan Jerman membumihanguskan kota itu tanpa ampun, sebab perintah Fuehrer, Hitler, memang demikian, agar seluruh benda-benda tegak diratakan saja, dan tentu saja orang-orang Rusia yang masih sanggup berdiri.
Hari ketiga Ritta terjebak di basement. Udara di sana mulai Ritta rasakan menipis. Sulit menghirup udara kecuali rasa panas di dada Ritta. Sisa-sisa makanan yang ada di sana, dan Ritta ambil merangkak, sekaleng kotak cokelat kesukaannya, sekaleng bubur daging, sekaleng biskuit, dan satu teko air teh dan Ritta teringat Ibu yang memberikan Teko teh beraroma mint itu sehari sebelum Pasukan Rusia membombardir desa Ritta. Tapi semua itu habis sekarang. Hanya tersisa beberapa teguk saja teh mint dalam teko dan itu pun basi. Ritta merasa tak memiliki harapan lagi untuk bertahan hidup dan dia putus asa. Malam dan pagi dia lalui dengan bernyanyi, dan sesekali berbicara kepada Bob yang tak lepas sedetik pun dari pelukannya. Walau Bob tidak bisa berbicara, tapi dialah saat itu sebagai kawan Ritta yang masih tersisa. Udara terus menipis dan Ritta mulai kesulitan bernapas.
Ritta menghentikan ceritanya dan berkata, "Om Prans, beri aku segelas air putih dingin. Aku sangat haus, Om."
Prans yang masih terpana Ritta bisa berbahasa Indonesia segera mengambil air putih dingin di kulkas.
"Tadi apartemenku hujan dan kulihat Adek menjilati air hujan itu. Mengapa masih haus?"
"Air hujan itu nggak enak, Om, belum dimasak. Aku bisa sakit perut nanti," jawab Ritta polos. Prans mencubit pipinya sendiri dan terasa sakit. Saat ini aku dalam keadaan terjaga dan bukan sedang bermimpi batin Prans. Tapi Prans bukan lelaki penakut, dia memang tak pernah percaya hantu, bahkan kawan-kawan Prans yang suka bercerita tentang hantu tidak pernah Prans tanggapi. Menurut Prans, mana ada hantu-hantu itu? Filem-filem hantu? Bahkan Prans benci dengan filem-filem yang suka menakuti orang-orang itu. Tapi Prans heran, mengapa orang-orang yang takut hantu suka menonton filem-filem hantu? Katanya mereka takut hantu tapi malah mencari-cari bentuk dan wujud hantu yang seram itu? Jahatkah sifat hantu itu? Sukakah hantu meminum darah orang sampai kering? Atau memiliki sifat baikkah hantu itu? Pikiran-pikiran itu terus menggelayuti isi kepala Prans.
"Dek, apakah kau sejenis hantu yang suka menakuti manusia?" tanya Prans tiba-tiba. Ritta tertawa dan menjawab, "Kok Om Prans nanyanya gitu? Apa aku menyeramkan?"
"Nggak, sih. Bukan seram atau tidak. Tapi, eh, jangan panggil aku Om Prans, berasa tua, deh. Om jomblo, lho! Panggil saja Abang. Kebetulan Abang nggak punya adik perempuan. Adik laki nggak punya juga, sih. Abang anak tunggal."
"Baik, Om, eh, Abang. Ritta pun nggak punya Abang. Ritta cuma punya adik perempuan. Ritta senang punya Abang sekarang."
"Tapi Adek hantu, kan? Hayo, ngaku, jangan bohongin Abangmu ini."
Ritta diam dan mulai menangis. Dia menciumi Bob.
"Kok nangis, Dek? Ya sudah kalau nggak mau jawab. Abang nggak peduli Adek hantu atau bukan. Nggak penting juga yang Abang tanya tadi. Udah, jangan nangis. Mau tambah air dinginnya?"
"Ritta udah nggak haus, Bang."
"Terus kenapa nangis?"
"Sedih aja lihat Abang nggak takut sama hantu."
"Lho, kok gitu? Jadi bener Adek hantu?"
"Menurut Abang apa?"
"Ya, gitu deh. Bukan Abang sok tahu apa gimana gitu. Tadi Adek cerita zaman perang Dunia Kedua, kan Abang pernah baca, itu sejarah, kan? Nah, udah lama, kan? Nah, kalau Adek bukan hantu, kok masih kecil? Rasanya nggak mungkin, deh. Belum lagi Adek cerita kalau Adek terjebak di basement dan terperangkap di sana. Abang bisa bayangkan situasi Adek itu. Maaf, tentu sakit sekali mati pelan-pelan kehabisan udara."
"Abang, sebenarnya aku datang karena aku cemburu sama Abang."
"Cemburu? Kok bisa?"
"Karena Abang menciptakan karakter hantu yang itu-itu saja dalam program game yang sedang Abang buat. Zombie, lah. Drakula, lah. Kuntilanak, lah. Pocong, lah. Aku sebel dan bosen liat semua itu, Bang!"
"Tapi kan memang hantu-hantu itu seram dan orang-orang suka dan sudah mengenal mereka."
"Nggak, nggak serem! Aku yang paling serem, Bang!"
"Masa? Adek cantik, lho. Beneran. Serem? Nggak kayaknya."
"Abang nggak percaya kalau Ritta yang Abang lihat cantik ini sebenarnya serem dan bisa membunuh?" jawab Bob. Matanya tiba-tiba makin membesar dan seakan hanya seinci saja dari mata Prans dan Ritta memegang sebilah pisau roti yang panjang.
Deg! Jantung Prans berdetak kencang. Nalar Prans langsung menjelajah berbagai probabilitas dari makhluk manis dan burung hantu yang ada di hadapannya ini. Prans kembali mengingat mimpi burung hantu dan dia merasa yakin bahwa dia hanya memelihara dua ekor lovebird kesayangannya. Merah dan Biru. Tapi burung hantu itu bisa berbicara dan Ritta yang cantik itu memegang pisau roti itu? O, tidak! Jangan katakan setelah meminum segelas air putih dingin maka sekarang kalian merasa lapar batin Prans dan seketika lari secepat kijang.
br, ©2121