"Jangan kesana! Tempat itu angker!"teriak tukang becak memperingati rombongan kami.
Sontak kami langsung menoleh ke belakang, "Kenapa rupanya pak? Kami udah izin kok! Bapak memangnya siapa?"sarkas Angga.
"ANGGA!"bentakku.
"Kenapa sih, Li? Kan memang benar ucapanku!"ujar Angga tidak mau kalah.
"Iya aku tahu, tapi bisa sopan sedikit enggak? Bapak itu lebih tua dari pada kita. Mulut sama akal harus sinkron dong!".
"EH?! APA?? NGELUNJAK??!! MAU AKU PUKUL!!!"tantang Angga semabari ancang-ancang ingin memukulku.
"NGGA!!! DIA PEREMPUAN! KOK GITU, SIH?! SADAR, HEI! KAMU TUH, LAKI-LAKI!!"bentak Alif sambil menarik Angga.
"Mau dia perempuan kek atau apa! Aku enggak peduli!!".
"Cukup! Kamu ada masalah apa sih, he? Apa yang dibilang Lia itu benar! Sopan sedikit sama orang tua! Gini nih, katanya anak orang kaya tapi kelakuannya minus!"semprot masayu geram.
"Eh! Kamu juga? Ngapain ikut-ikutan? Dasar kalian perempuan murahan!"Angga pergi meninggalkan kami bertiga.
"Eh?!! Ngomong apa barusan? Itu yang namanya laki-laki?!!"teriakku kesal.
"Udah-udah, Li! Enggak usah di ladeni dia!"ujar Masayu menenangkan."Lif, susul sana si anak orang kaya itu! Kamu kan sahabatnya!".
"Duh. Kok jadi runyam gini sih? Kita kan mau camping. Jangan gini dong!"bujuk Alif.
"Susul aja Lif, takutnya anak ORANG KAYA itu tersesat kan! Enggak tahu arah pulang!"sambungku menyindir.
Alif pun langsung mengejar Angga yang sudah berada jauh di depan. Saat aku dan Masayu hendak melanjutkan perjalanan, bapak tukang becak yang memperingati itu datang menghampiri.
"Nak, jangan kesana! Bahaya!".
"Sebelumnya kami minta maaf karena sifat teman kami yang enggak etis sama bapak. Bahaya bagaimana, pak?"tanyaku santun.
"Jika kalian masuk, salah satu dari kalian ada yang enggak bisa pulang. Tolong bilang sama teman kalian yang laki-laki itu. Satu-satunya cara supaya bisa keluar dari sana, doa dan jangan pernah masuk ke dalam pondok. Atau raga kalian akan selamanya tersangkut di sana"terang bapak itu.
"Gawat! Alif sama Angga dalam bahaya!"ujarku.
"Si Angga biarin aja! Si Alif tuh!"Masayu kesal.
"Jangan gitu, Yu! Pak sebelumnya maka..."
Saat ingin mengucapkan terimakasih, bapak tukang becak itu langsung menghilang.
"Yu, bapak tadi kemana?"tanyaku sembari melihat keadaan sekitar.
"Enggak tahu, kita susul aja si Alif!"Masayu langsung menarik tanganku dan berusaha mengejar Alif yang tampaknya sudah jauh.
Skip...
Sampai pada akhirnya, Aku dan Masayu berhasil mengejar Alif dan Angga.
"Kita harus balik sekarang!"titahku.
Angga langsung menoleh ke belakang, "What? Masih juga di dengarin pak tua itu?".
"Kalau mau marah nanti ajalah, Ngga! Pokoknya sekarang kita harus keluar dari hutan ini!"paksaku sambil menarik tangan Alif.
"Iya, kalau enggak salah satu dari kita enggak bisa pulang!!"sambung Masayu.
"Lif, kamu ikut aku atau 2 perempuan ini? Kalau enggak ikut, cukup sampai disini persahabatan kita!"ucap Angga.
"ANGGA!! JANGAN KEKANAKAN GINI!"bentakku.
Angga menatapku tajam, "Aku nanya Alif!".
Aku menahan emosiku,
"Ya udah aku ikut!"ucap Alif sambil menatapku sendu.
"LIF!!!".
"See?! Kalian perempuan pulang aja sana! Sia-sia aja kalian ikut kesini!"sindir Angga.
"Angga! Kamu ada masalah apa sih sama kita berdua? Kami salah apa coba? Karena tadi? Please lah Angga! Jangan naif gitu!!"ujar Masayu.
Angga tidak menjawab apapun, Ia tetap melanjutkan perjalanan.
"Yu, gimana ini?"tanyaku khawatir.
"Tuh anak keras kepala memang, tapi biar bagaimana pun. Kita harus selamatkan mereka!"jawab Masayu dengan berat hati.
Mau tidak mau, akhirnya aku dan Masayu menyusul Alif dan Angga.
Lanjut...
"Udah malam nih, kita bikin tenda disini aja ya?"tawar Alif sambil menurunkan tasnya.
Aku dan Masayu yang sudah kelelahan langsung duduk di atas dedanuan rontok saling menyandar.
"Lif! Enggak usah buat tenda! Di sana ada pondok tuh!"tunjuk Angga.
Aku melihat pondok yang tidak jauh dari tempat kami ingin membuat tenda.
"Yu!! Itu pondok yang dibilang bapak itu bukan?".
Masayu langsung melotot, "Iya Li!".
"Alif, kali ini dengarkan kita ngomong! Jangan masuk kesana, kita bikin tenda aja disini!"kataku sambil menarik tangan Alif.
"Kalau kalian mau buat tenda! Ya bikin aja sendiri!"semprot Angga.
"Angga! Please lah, aku enggak mau debat lagi. Kita semua capek! Please dengarin kali ini aja, habis itu terserahlah!"pupusku yang sudah lelah.
Namun, Angga tetaplah Angga. Dia bersikeras pergi ke pondok itu.
"Angga!!"panggilku.
Alif ingin menyusul, namun aku dan Masayu menahannya.
"Please dengarin kita!"ucap Masayu memohon.
Alif luluh dan akhirnya kami bertiga membuat tenda di situ.
Malam itu kami bertiga terpaksa tidur di dalam 1 tenda, karena tenda satu lagi dibawa Angga. Malam itu aku mendengar Angga meminta tolong.
"Tolong!!! Woi!!! Bukain pintunya!!! ALIFF!!! LIA!!! AYU!!!"teriak Angga sembari menangis.
Aku langsung berlari ke arah pintu itu, namun saat ku coba membuka pintunya. Pintu itu terkunci,
"ANGGA!!!".
"LIA!!! MAAFIN AKU!! MAAAFIN AKU!!!"teriak Angga semabari menangis.
"ANGGA!! AKU MAAFIN KAMU!!! PINTUNYA KE KUNCI!!!"ujarku sambil menangis.
Aku mencari keberadaan Masayu dan Alif, namun meraka tidak ada.
"ALIFF!!! MASAYU!!!"panggilku sembari mencoba membuka pintu.
Seketika aku teringat pesan dari bapak itu, untuk berdoa.
"ANGGA!!! DOA!!!"pekikku.
Namun suara gedoran Angga tiba-tiba senyap, aku pun mulai berdoa di dalam hati,
"Ya Tuhan, selamatkanlah aku. Dan pertemukanlah aku dengan yang lainnya. Selamatkan juga Angga!".
Seketika akupun langsung bangun dari tidurku, tampak wajah Alif dan Masayu yang begitu khawatir.
"Lif? Ayu? Itu...Angga?!"kataku terengah-engah.
Alif dan Masayu pun menangis, "Kalian kok nangis?"tanyaku heran.
"Angga udah meninggal Li! Mayatnya di temukan di atas pohon, tergantung!"Masayu menangis.
"APA?? Gimana bisa? Dia tadi ke kunci di pondok itu. Aku manggil-manggil kalian, kalian enggak ada!"bantahku. "Kan kita bertiga tidur barengan satu tenda, kok tendanya enggak ada?".
Alif dan Masayu saling tatap-tatapan,
"Li, kamu hilang udah 3 hari! Gara-gara kamu nyusul Angga!"ucap Alif.
"Betul kata Alif, kita berdua kehilangan jejak kalian. Makannya itu kami lapor sama warga sekitar, kata mereka kalian udah keluar jalur!"timpal Masayu.
"Gimana, maksudnya?"tanyaku tidak paham.
"Gini, 3 hari yang lalu. Kamu sama Angga pergi berdua kesini. Waktu pas bangun tenda, Angga tiba-tiba pergi. Terus kamu susul dia, setelah itu kalian hilang ntah kemana"jelas Masayu.
"Tapi bukannya, kita berdua berantem sama Angga, Yu? Kita nyusul karena mau selamatin Alif sama Angga. Terus Angga keras kepala, dia tidur di pondok padahal udah kita larang. Kita kan ketemu bapak tukang becak, dia bilang bahaya. Terus kalau kita terperangkap juga salah satunya doa. Sampai-sampai kita tahan Alif, kita tidur bertiga di tenda".
Alif dan Masayu saling menatap heran, "Li, yang penting kamu selamat!".
"Kita pulang sekarang!"imbuh Alif.
Aku masih tidak mengerti akan situasi ini, Angga meninggal? Alif dan Masayu heran? Benar-benar di luar nalarku.