"Ifeyku, sini nak... ", terdengar suara Mami dari lantai bawah.
"Iya, mi.. I'm coming", teriakku.
"Cepetan! Mami punya kabar gembira nih!"
"Ih, sabar, Mi.. Baru ganti baju nih... "
Yap! Kehebohan kecil yang selalu terjadi di rumah kami. Aku Ifey, anak sekolahan yang bentar lagi lulus SMA. Tinggal bersama orang yang aku panggil Mami. Ibuku yang super bawel dan ribet.
" Dengerin Mami. Mami punya kabar gembira buat kamu"
" Kabar gembira apa Mi? Paling soal diskonan? Atau dapet arisan? Atau dapet transferan tambahan lagi dari Papi? "
" Ih, kamu ini, dengerin Mami dulu lah"
" Biasanya juga gitu kan...apalagi selain itu yang bikin Mami heboh sih?"
" Iya sih, tapi ini lebih heboh lagi dan bikin Mami super duper seneng"
" Ya, udah, apaan sih? "
" Papimu nanti sore pulang! Kalau dia pulang berarti Mami bakal dapet mobil baru! "
" Yang bener, Mi? Papi pulang? Akhirnya, Papi pulang juga ya Mi"
" Beneran dong, tadi Papi telfon, nanti sore kita jemput di bandara! "
Setelah percakapan kami ini, Mami pergi ke kamarnya dengan wajah yang sumringah. Aku tahu, Mami seneng bukan karena Papi pulang. Tapi, karena mobil yang bakal Papi kasih ke Mami, karena salah satu alasan Papi bisa pulang karena mobil. Mami nggak akan ngebolehin Papi pulang kalau Papi gak bisa kasih kado mobil ke Mami.
Aku seneng banget Papi pulang, karena aku bener-bener kangen. Cuma Papi yang bisa ngertiin aku dengan segala kondisiku. Ya, bisa dikatakan cinta pertamaku, ya Papi. Dengan Papi pulang, aku bisa sharing ke Papi soal persiapanku buat lanjut studi nanti. Nggak mungkin banget sharing ke Mami yang selalu sibuk dengan urusan geng sosialitanya dan aktivitasnya yang hedon banget.
Benar aja sore itu Papi pulang. Dengan antusias, kami berangkat ke bandara untuk menjemput Papi.
"Papiii... ", teriakku sambil berlari menghampirinya.
" Sayangku, anak Papi yang manja. Papi kangen banget sama kamu, nak", jawab papi sambil memelukku erat.
" Hmm.. jadi anaknya aja nih yang dikangeni? ", celetuk Mami.
" Ih, Mami jealous yaa.. ", ejekku.
Papi juga memeluk Mami dengan erat saking kangennya. Akhirnya kami pun pulang ke rumah. Selama perjalanan pulang, Mami ngoceh terus. Menanyakan banyak hal dari oleh-oleh dan macam-macam lainnya.
" Sayang, mobilnya nggak lupa kan? ", tanya Mami.
" Mami, apaan sih dari tadi lho cerewet terus... ", sahutku kesal.
" Iya, nggak lupa kok, besok pagi diantar ke rumah", jawab Papi datar.
Ekspresi yang sangat datar dari Papi membuatku sedikit khawatir. Kami udah lama nggak ketemu. Tapi, raut wajah Papi nggak mencerminkan kalau dia seneng ketemu dengan kami. Mungkin Papi capek setelah perjalanan yang melelahkan, pikirku.
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan siap-siap buat makan malam. Tadi, Papi sempat bilang kalau malam ini Papi mau bicara penting ke aku dan juga Mami.
"Papi... Ifey... ayo cepetan turun, kita makan malam...!", teriak Mami dari lantai bawah.
Aku segera turun dan makan malam. Setelah kami selesai, Papi mulai memecahkan suasana dengan apa yang mau dibicarakan.
" Mi, papi dikeluarkan dari kerjaan", kata Papi dengan tegas.
" Lho! Kenapa, Pi?! ", teriak Mami kaget.
Papi akhirnya menjelaskan panjang lebar mengenai alasan Papi dikeluarkan dari tempat kerja. Seketika itu juga suasana jadi aneh. Makanan di perutku seolah-olah ikut merasakan dan berontak ingin keluar dari mulutku. Mimik wajah Mami yang sedari tadi sore sumringah mendadak jadi suram.
" Tapi, Pi, Mami tetep dapet mobil barunya kan? Terus arisan-arisan Mami gimana? Terus kebutuhan kita gimana?", kata Mami dengan gemetar.
Seketika itu juga rasanya pengen kubalikkan meja makan di depanku sambil aku teriak, "Mami!! Apa-apain sih, malah nanyain hal yang nggak penting kaya gitu??!".
" Lho? Salah ya Mami memastikan apa yang sudah dijanjiin Papimu? Terus sekarang gimana? Papimu dipecat!"
" Kondisinya lagi begini, Mi... ya ampun.. Mami kok malah begitu sih? "
Mami nggak peduliin lagi kata-kataku dan malah langsung menembaki Papi dengan banyak pertanyaan yang makin menyudutkan Papi. Mereka bertengkar. Malam itu semua jadi kacau. Banyak pertanyaan yang nggak bisa dijawab. Kalau Papi dipecat, lalu gimana studiku? Gimana keluargaku? Semua kebutuhan selama ini dari hasil kerja keras Papi. Aku, apalagi Mami tinggal nikmatin hasilnya dan kesalahan kami nggak bisa ngatur keuangan dengan baik. Jatuhnya, kami boros dengan uang yang diberikan Papi tiap bulannya. Lalu? Ah, entahlah.
~~~
Beberapa hari berlalu. Papi berusaha untuk menghubungi teman-temannya untuk nyari koneksi kerjaan lagi. Tapi, nggak semudah dan secepet yang dibayangin. Keadaan makin memburuk karena Mami juga nggak mendukung usaha Papi tapi malah selalu nyalahin Papi. Alhasil, rumah jadi kaya neraka, cekcok terus. Aku sendiri memilih untuk diam dan nggak ingin nambah masalah Papi dan Mami. Meskipun aku juga bingung harus gimana nanti, padahal bentar lagi aku ada ujian buat masuk perguruan tinggi dan butuh biaya yang nggak sedikit.
"Fey! ", panggil Papi dari bawah.
"Iya, Pi, bentar Ifey turun.. ", sahutku.
Aku bergegas turun waktu Papi manggil.
"Kenapa, Pi? Mi? Udah berantemnya?", tanyaku tanpa dosa.
"Ifey, sekarang kamu pilih, mau tinggal sama Mami atau Papi?", tiba-tiba Mami dengan keras bicara lebih dulu.
"Lho? Maksud Mami apaan? Ya aku tinggal sama kalian berdua lah. Kenapa harus milih? Kalian kenapa sih?"
"Fey! Mami mau pisah sama Papi!!"
"Bener, Pi? Kalian mau cerai?", tanyaku langsung ke Papi dengan gemetar. Papi cuma diam. Membisu dan mengalihkan matanya dari pandanganku.
"Apa-apaan kalian ini?! Nggak ada yang harus dipilih!Aku te... "
"Fey! Cukup! Papi dan Mami akan pisah. Mamimu yang minta dan Papi akan menurutinya!", teriak Papi memotong kata-kataku.
"Tapi, Pi? Semudah itu? Apa nggak bisa dibicarain lagi sih? Kita bisa kan cari jalan keluarnya sama-sama. Fey bukan anak kecil lagi..kita bisa sama-sama cari solusinya buat keluarga kita, Pi, Mi... please... "
"Mami kamu nggak bisa hidup tanpa uang, Fey! Papi nggak sanggup lagi!"
"Kamu itu yang nggak becus cari kerjaan!", tuduh Mami.
"Kamu itu! Di pikiranmu cuma uang, uang, dan uang!!"
"Cukup!!!", teriakku menghentikan pertengkaran mereka.
"Oke, kalau itu keputusan kalian! Ifey nggak akan milih siapapun di antara kalian! Fey bisa hidup sendiri!
Di kamar, aku masih menangis. Bingung harus ngapain. Aku berusaha mencari solusi setidaknya buat diriku sendiri. Aku ambil handphone di atas meja, lalu aku menghubungi salah satu kontak di dalamnya.
"Halo, Oma... "
"Ifey, ini Ifey?", terdengar suara dari seberang.
"Besok Ifey berangkat ke Jogja ya, Oma. Ifey mau tinggal di sana"
"Lho? tumben kamu ke Jogja? Ada apa nakku cucuku?"
"Pokoknya besok Ifey ke Jogja, Oma!!"
Langsung kututup telfon ku dan aku menangis lagi sejadi-jadinya.
Keesokan harinya aku memutuskan buat pergi dari rumah. Bukan tanpa pamit. Aku tetap pamit. Aku bilang ke Papi Mami bahwa aku tidak akan tinggal dengan mereka berdua apalagi harus memilih salah satu dari mereka. Aku pergi ke Jogja, tempat Omaku tinggal dan aku memilih menjalani hidup selanjutnya di sana.
~~~
Beberapa tahun berlalu. Masih teringat jelas di kepalaku masalalu itu. Bahkan, sakitnya nggak akan pernah bisa aku lupain. Aku masih membenci orangtuaku meskipun aku juga sangat mencintai mereka. Mereka egois!
Tinnn... tinn...
Aku bergegas lari ke luar. "Dico? Cepet amat sih?", teriakku dari teras.
" Udah, ayo ntar telat lagi, aku ada kuliah pagi nih", sahut suara dari dalam mobil.
Yap, Dico. Bisa dibilang kami dekat, bahkan sangat dekat. Tapi, nggak pernah ada status pacaran. Sejak awal kami kenal, dia memberi perhatian lebih ke aku, layaknya orang pacaran. Aku sih berharap lebih ke dia, tapi namanya cewek, aku nggak berani buat nyatain perasaan lebih dulu ke Dico.
"Ayok!"
"Yuhuu..", sahutku sambil membuka pintu mobilnya.
"Eh, ntar pulang dari kampus anterin aku ke Sunny mall ya!"
"Hah? Ngapain? Tumben banget?"
"Iya, mau cari barang nih buat kado gitu"
"Oke, kado buat siapa?"
"Kepo ah! Adalah pokoknya..hahaha "
Nggak kayak biasanya, Dico kali ini beda banget. Beberapa hari kemarin aja tiap kali kita nongkrong bareng, dia selalu aja sibuk sama hapenya. Ini lagi, malah mau ngajakin ke mall buat beli kado. Buat siapa coba? Jujur aja aku cemburu!
"Eh, Dic.. "
"Apaan?"
"Lagi deket sama cewek ya?"
"Hahaha... pertanyaanmu ini lho.. iya aku lagi deket sama cewek"
"Oh, siapa?"
"Kamu... "
"Ih, apain sih! Kan kita emang deket dari lama"
"Hahaha... iya.. iya gitu aja manyun!"
Jujur setelah denger Dico ngomong kayak gitu, moodku naik lagi nih. Jangan-jangan dia sengaja nih ngajakin aku beli barang terus mau dikasih ke aku buat kado. Hahaha! Ah, haluku kambuh lagi deh.
Pulang dari kampus kami janjian buat beli barang. Tapi, aku masih penasaran sih sama tingkahnya Dico akhir-akhir ini. Aku pikir sih, dia mulai peka kali ya sama perasaanku. Toh, kita juga udah lama kenal. Kemana-mana juga barengan terus. Kalau curhat juga sama dia. Hmm, nggak tau kenapa aku jadi ngerasa seneng banget ngebayangin semua itu.
"Fey! Jangan bengong melulu! Nih, heels yang ini bagus nggak?", teriak Dico sambil menunjukkan heels warna maroon.
"Hah.. eh.. bagus sih.. elegan gitu", sahutku.
"Oke, aku mau ambil yang ini deh"
"Hmm.. seleramu bagus juga sebagai cowok.. hahaha"
"Iyalah, Dico gitu! Abis ini anterin ke outlet tas ya!"
Hah? Ini anak mau ngeborong atau gimana? Semua barang yang dia beli itu buat cewek. Nggak mungkin kan dia pakai sendiri. Heels maroon? Aku sendiri nggak suka pakai heels. Tas jinjing? Hmm, nggak suka ah, kaya emak-emak! Duh, Dico nih gimana sih? Buat siapa sih dia beli barang sebanyak ini?
"Yuk, aku anterin kamu pulang"
"Oke, udah semua nih barangnya?
"Udah, ini aja dulu. Kapan-kapan lagi deh"
"Oke, oya Dic, kapan nih kamu ngajak aku ke rumahmu?"
"Hah? Ngapain ke rumahku?"
"Masa sih dari awal kita kenal terus deket, aku belum pernah tau rumahmu yang mana dan di mana sih"
"Nggak perlu deh tau rumahku, Fey. Lagian kan kita udah ketemu di luar, di rumahku juga aku cuma sendiri. Nggak enak lah sama tetangga kalau aku bawa cewek dari luar"
"Lah, kan kita nggak ngapa-ngapain? Ngapain sungkan sama tetangga?"
"Fey, di tempatku itu orang-orangnya masih ngejaga tata krama banget"
"Hmm, okelah kalau gitu. Tapi, janji ya kapan-kapan ajakin aku ke rumahmu"
Dico nggak mengiyakan omonganku. Dia cuma diam.
Akhirnya aku sampai di rumah. Masih dengan rasa penasaran dan baru aku sadari kali ini. Dico belum pernah sama sekali ngajakin aku atau temen-temen lain ke rumahnya. Aku cuma tau kalau dia tinggal sendiri karena orangtuanya pergi ke luar kota buat ngurusin bisnis. Sama-sama anak tunggal kaya aku. Tapi, mungkin dia lebih beruntung karena orangtuanya masih utuh dan dari segi ekonomi juga serba kecukupan. Ah, entahlah! Anak itu bikin pusing aja.
Keesokan harinya, aku buka Whatsappku. Nggak ada pesan sama sekali dari Dico. Tumben banget dia nggak kasih kabar dan pagi ini dia juga nggak jemput aku buat ke kampus. Akhirnya, aku naik motor sendiri ke kampus. Sesampainya di kampus aku juga nggak lihat Dico di kelas atau tempat nongkrongnya. Aku coba chat tapi nggak dibaca sama sekali. Kemana ini anak?
Dico nggak ada kabar sama sekali. Terakhir kali kami ketemu waktu aku anterin dia ke mall buat beli barang-barang. Chatku juga nggak dibaca sama sekali. Aku coba telfon juga nggak diangkat. Akhirnya, karena saking penasarannya. Aku coba buat tanya ke temen-temen kelasnya di mana alamat rumahnya. Setelah aku dapetin alamatnya, aku langsung ambil motor dan gass ke rumahnya. Dan setelah muter-muter tanya ke beberapa orang, akhirnya sampai juga aku di depan rumahnya. Wow! Gedhe banget! Bener-bener anak milyader nih! Aku parkirin motor terus coba buat mencet bel sampai ada suara orang dari dalam.
"Siapa, ya?", suara seorang Bapak.
"Permisi, Pak, saya Ifey. Temennya Dico. Bener rumahnya Dico kan, Pak?"
"Oh, temennya mas Dico. Monggo mbak masuk!", sahutnya sambil membuka gerbang. Oh, ternyata pak satpamnya. Aku langsung masuk sambil menuntun motorku ke dalam.
"Monggo, mbak, mas Dico ada di dalam. Masuk aja mbak!"
"Oiya, Pak. Makasih ya udah dibukain pintunya"
"Nggih, sama-sama mbak"
Pintunya terbuka.
"Permisi... Dico... ", aku coba mengucapkan salam sebelum masuk.
Nggak ada jawaban. Aku coba lagi, " Dico... ini aku Ifey.. permisi... "
Aku coba memberanikan diri buat masuk. Rumahnya tampak besar banget dari luar. Tapi, begitu aku masuk pintu utama, aku masih harus melewati lorong supaya bisa masuk ke ruang selanjutnya. Lho, heels maroon ini kok ada di sini? Ya, aku lihat heels yang Dico beli terjejer di rak sepatu dan di situ juga ada sepatu yang lain, beberapa yang lain aku yakin punya Dico. Aku masih berpikir positif, mungkin heels itu punya Mamanya atau mungkin saudaranya. Ah, nggak tau lah. Aku nekat masuk ke ruangan selanjutnya. Masih aja sepi, nggak ada jawaban sama sekali.
"Dico... ", aku coba panggil namanya lagi. Dengan nekat aku coba berkeliling sampai aku denger ada suara perempuan, " Sayang...".
Aku coba mendekati suara itu. Suaranya nggak asing banget. Suara dari wanita dewasa. "Sayang, itu kamu? masakannya udah siap nih, ayo kita ma... "
"Ma.. ma.. mi..??!"
"Ifey? Ka.. kamu ngapain nak di sini?", jawab wanita itu.
" Aku yang harusnya tanya, Mami ngapain di sini? Inikan rumah Dico, temenku!"
"Eh.. Mami.. anu.. ini.. "
"Ifey??", teriak Dico dari kejauhan.
" Dic, maksudnya apa nih? Kok ada Mamiku di sini? Hubungan kalian apa? Kok manggil sayang?", aku nyerocos terus.
"Lho? Sandria itu mami kamu?"
"Malah nanya lagi! Jawab dulu pertanyaanku!"
"Sandria itu tunangan aku, Fey"
Sontak aku kaget. Bener-bener kaya jatuh dari gedung paling tinggi. Jadi, selama ini? Dico berhubungan dengan Mamiku sendiri?
"Kamu bercanda kan, Dic?", aku mencoba meyakinkan kembali.
"Ifey, Mami bisa jelasin.. ", ucap Mami coba menenangkan aku.
"Dic, dia Mami aku! Mi, Dico temen deketku lho, Mi. Kok kalian bisa... ", aku berhenti berkata-kata. Aku nggak sanggup melanjutkan kata-kataku. Rasanya pengen cepet pergi dari tempat itu. Tubuhku rasanya kebakar semua. Aku bener-bener nggak nyangka! Aku cemburu dengan ibuku sendiri?
Ternyata selama ini, aku pikir aku udah mengenal Dico secara mendalam. Tapi, ternyata ada sisi lain yang Dico sembunyiin dari aku. Lalu, perhatian dia selama ini ke aku apa? Apa cuma mainin aku? Ternyata dia udah menjalin hubungan dengan orang lain dan itu ibuku sendiri? Aku masih nggak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar. Pikiranku kacau. Aku berjalan linglung keluar dari rumah Dico. Mereka manggil-manggil namaku dan aku nggak peduli.
"Fey! Dengerin aku dulu! ", teriak Dico.
"Fey, maafin Mami nak, Mami bener-bener nggak tau kamu ada di sini... ", teriak Mami sambil menyusulku juga.
Aku mendengar mereka tapi aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Hatiku sangat hancur. Orang yang aku pikir menyayangi aku dengan segala perhatiannya, ternyata tidak memberikan hatinya buatku. Dia memilih orang lain yang juga bagian dari diriku. Tanpa pikir panjang aku ambil motorku dan pergi meninggalkan mereka.
Brakk!!
Kayaknya ada sesuatu yang menabrakku. Aku rubuh. Truk itu menghantam badanku. Ah, aku terlalu fokus dengan hancurnya hatiku sampai nggak peduli sekelilingku dan tubuhku. Aku hilang dan patah hati. TAMAT.