Aku Deka, 26 tahun. Aku mempunyai satu lirik lagu favorite dari idolgrup yang sangat aku suka dan akan aku kenang selamanya yaitu "Ku Jadi Tahu Arti Cinta, Terimakasih".
Awalnya aku tidak menyukai grup itu, tapi aku mendengar lirik itu diputar di mall. Aku lalu teringat seseorang pernah mengatakan kata-kata yang persis seperti yang ada dilirik itu padaku.
Tapi kata-kata yang disampaikan sesorang itu sebanrnya juga menggambarkan perasaanku sendiri. Perasaan yang menggambarkan perasaanku beberapa tahun yang lalu saat aku bertemu seseorang yang spesial dalah hidupku, Maya.
Maya adalah perempuan pertama dan terakhir yang merubah hidupku dan dia juga wanita yang akan aku kenang untuk selamanya.
Ketika aku kuliah di salah satu Universitas Negeri aku bertemu dengannya yang satu jurusan denganku. Dulu aku adalah pria pendiam, berbicara dengan wanita adalah hal mustahil. Aku menjadi pendiam karena orang tuaku selalu sibuk dan jarang mengajakku berbicara, dan aku lebih suka bermain game dirumah seharian. Tapi Dialah yang membuat diriku menjadi lebih berwarna.
Maya adalah mahasiswa yang paling disegani karena kepintarannya, bahkan dosen kagum dengannya. Dibalik itu tidak ada yang mau berteman dengannya. Mungkin ada yang menganggapnya teman tapi itu hanya sebatas teman sekelas. Di luar kampus tidak ada yang benar-benar bersahabat dengannya.
Momen pertama aku berbicara dengannya adalah ketika kelas kami mendapat tugas untuk membuat kelompok diskusi yang terdiri dari dua mahasiswa yang nantinya Dosen akan mengacak kelompok mana yang akan mempersentasikan hasil diskusi selama semester itu berjalan, 16 minggu.
Penentuan teman sekelompok akan dilakukan dengan undian. Setiap mahasiswa akan mengambil 1 lot yang berisi nomor kelompok dan akan dibuka secara bersama. Setelah semua mahasiswa mendapat lot maka dosen mempersilahkan semuanya satu persatu menyebut nomor kelompoknya sesuai absen. Aku mendapat nomor 8 dan aku terkejut Maya juga mendapat nomor yang sama denganku, nomor 8. Berarti kami akan menjadi teman satu kelompok.
Aku dulu bepikir betapa beruntungnya Aku selama semester bisa satu kelompok dengannya. Aku yang tidak terlalu pintar ini, bisa satu kelompok dengan mahasiswa paling jenius diangkatan.
Ternyata aku tidak seberuntung itu, Maya dengan sifat ambisiusnya itu menghantam diriku dengan tumpukan buku, jurnal dan referensi. Ia ingin kami menjadi kelompok terbaik sehingga setiap 2 kali seminggu kami akan bertemu di perpustakaan menyiapkan segala referensi, powerpoint, makalah dan jurnal untuk setiap pertemuan matakuliah agar di kelas nanti kami sudah siap untuk persentasi.
Namun, Aku mulai jenuh karena dari pertemuan kedua hingga pertemuan ketujuh, kelompok kami tidak pernah dipanggil sekalipun. Aku meminta Maya untuk tidak terlalu serius setiap minggunya dan memintanya untuk minggu ini saja tidak perlu ke perpustakaan, karena belum tentu minggu depan kami akan tampil, bisa saja kami tampil di minggu terakhir sebelum UAS. Tapi Maya tidak mau mendengar permintaanku itu. Rasa kagumku berubah menjadi kesal.
Hari itu aku berpikir Maya akan tetap datang ke perpustakaan, sedangkan Aku malah rebahan dirumah. Saat itu aku hanya berniat untuk tidak hadir hari itu saja bukan untuk seterusya. Namun, Maya tidak menunjukkan batang hidungnya di perpustakaan hari esoknya sesuai jadwal pertemuan kami. Aku pikir dia kecewa karena tugas kami berdua hanya dia yang mengerjakannya.
Saat pertemuan ke-8 matakuliah, aku menghampirinya dan meminta maaf karena tidak datang ke perpustakaan begitu saja tanpa mengabarinya. Memang begitulah Maya, ternyata dia tidak marah padaku yang tidak datang itu. Ia hanya tersenyum dan mengatakan semua bagian tugasku sudah dia kerjakan sampai larut malam hingga mukanya terlihat pucat dan sedikit lemas. Ia juga berjanji setelah kelompok kami tampil, ia akan membebaskan aku dari pertemuan mingguan itu.
Syukurlah, Minggu inipun kelompok kami tidak dipanggil untuk presentasi. Untuk menebus kesalahanku yang sudah membuat dia mengerjakan bagianku, aku mengajaknya makan siang di kantin kampus dan pergi melihat mentari terbenam di pantai belakang kampus.
Aku memperhatikan caranya makan, minum dan mengamati bahasa tubuhnya. Aku sadar bahwa dia orang yang lembut dan baik hati. Ia juga tidak pernah berkata kasar, kata-kata yang keluar dari mulutnya pun terasa sejuk di telinga lawan bicaranya. Saat itu aku sadar, aku mulai menyukainya. Setiap kali aku memperhatikannya kecantikan semakin bertambah.
Aku selalu tidak sabar menanti pertemuan kami di perpustakaan setiap minggunya, hingga akhirnya di pertemuan ke-11 Dosen memanggil kelompok kami untuk men-presentasikan hasil diskusi. Beban dan rasa jenuh yang selama ini aku tanggung akhirnya terbayarkan dengan suksesnya presentasi kami dan mendapat pujian dari dosen matakuliah.
Sesuai janji Maya, pertemuan mingguan itupun ditiadakan. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang. Aku sadar pertemuan mingguan itu sangat menyenangkan karena bisa bertemu Maya meski harus sambil membahas materi yang membosankan.
Masih ada 6 minggu lagi sebelum UAS artinya masih ada waktu 6 minggu lagi aku masih satu kelompok dengan Maya. Aku berniat untuk melanjutkan pertemuan mingguannya itu dengan Maya di sisa minggu yang ada.
Tapi Maya tidak datang di pertemuan ke-12, aku terus mencoba menghubungi nomor hpnya tapi tak pernah ia angkat, hingga akhirnya ia baru kembali ke kampus pada pertemuan ke 15.
Saat aku tanya apa yang terjadi selama 3 minggu ini, Maya hanya menjawab bahwa ia hanya menghabiskan jatah cuti yang diberikan pada mahasiswa. Tapi alasannya itu sangat mustahil diucapkan oleh seorang yang dianggap jenius dan rajinn. Maya lalu kembali absen hingga UAS tiba. Tak ada satupun yang tau kabar Maya.
Perlahan aku sadar bahwa Maya menyembunyikan penyakitnya. Maya mengidap Leukimia (Kanker Darah Putih) sejak SMA namun ia mampu bertahan sejauh ini berkat kemoterapi.
Aku baru teringat akan hari ketika aku tidak datang ke perpustakaan. Hari itu ternyata Maya juga tidak datang. Hari itu adalah hari ketiganya di rawat karena ditemukan pingsan di kamar mandi. Saat pertemuan ke-8 dikelas aku melihat muka pucat dan dengan bodohnya aku mengira muka pucatnya itu karena mengerjakan tugas bagianku. Padahal muka pucatnya itu karena memang dirinya sedang sakit.
Saat pertemuan ke 11 tiba, hari itu Maya baru keluar dari rumah sakit setelah sehari sebelumnya melakukan kemoterapi, Ia nekat langsung ke kampus karena ia tak mau membuatku khawatir jika dipanggil untuk presentasi seorang diri.
Aku juga teringat alasannya yang konyol itu ketika cuti tiga minggu. Namun ternyata selama tiga minggu itu ia dirawat karena ia sering melewatkan kemoterapinya dan menyebabkan tubuhnya semakin lemah.
Hal yang paling aku sesali adalah mengetahui alasan kenapa dia menyuruhku untuk datang setiap 2 kali seminggu di perpustakaan. Maya ternyata merasa bosan hidup, Ia tak ingin merasakan kemoterapi yang menyakitkan itu, jadwal kunjungan ke rumah sakit ia gantikan dengan pertemuan mingguan itu. Maya juga berbohong pada orang tuanya jika ia sudah ke rumah sakit untuk kemoterapi.
Aku lalu bergegas ke rumah sakit untuk menjenguknya dan meminta maaf tidak menyadari kondisinya dan selalu membuatnya repot dengan protes-protes yang aku layangkan padanya.
Di rumah sakit aku bertemu dengannya, tubuhnya kurus dan kantung matanya menghitam, ditangannya ada jarum infus yang terlihat sangat menyakitkan. Aku membawakannya bucket bunga matahari yang aku harap semoga dia bisa lebih ceria hari ini dan meletakkannya di lemari samping tempat tidurnya.
Selama beberapa minggu tanpa henti aku mengunjunginya, kami membahas apapun yang bisa membuat tertawa seperti membicarakan gosip teman-teman sekelas, menirulan cara bicara dosen dan hal-hal konyol lainnya.
Aku juga tak lupa memberi salamku pada orangtua Maya. Ayah dan Ibu maya tampaknya pasrah atas nasib anaknya itu, tak ada pendonor sumsum tulang belakang yang cocok dengan putinya itu dan kemungkinan berhasil operasi juha sangat kecil.
Namun, sepertinya hari itu adalah hari terakhir kami melihat Maya. Maya meminta kami untuk berkumpil disampingnya. Ayah dan Ibu Maya sudah tak mampu menahan airmata mereka namun dengan lembut Maya menyeka airmata sedih itu. Maya lalu menyampaikan perasaanya pada kedua ornag tuanya. Aku yang mendengarnya pun tak dapat menahan airmata ini lebih lama lagi.
Lalu Maya menolehkan kepalanya kearahku. Ia juga meminta maaf karena selama ini sudah keras padanya dan membuatku menjadi kesal. Tapi Maya juga berterimakasih karena aku sudah menunjukkan perasaan kesalku padanya. Maya mengatakan selama ini orang selalu memujinya namun sebenarnya mereka tidak menyukainya. Tapi Aku berbeda, aku menunjukkan kekesalanku padanya. Itulah yang membuat maya berterimakasih padaku.
Maya juga memintaku untuk mendekatkan telinganya pada wajahnya. Ada hal yang ingin ia sampaikan namun tak ingin didengar orang tuanya. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mengatakannya dengan terbata-bata " Ku Jadi Tahu Arti Cinta, Terimakasih". Kata-kata yang mampu membuat seluruh tubuhku lemas dan terjatuh ke lantai.
Aku lalu segera bangkit dan mengenggam tangannya tanpa memperdulikan kedua orang tuanya. Aku mengatakan apa yang selama ini ingin aku katakan dan aku mengakhirnya dengan sebuah pengakuan bahwa aku juga mencintainya "I love You, Maya". Ia tersenyum tipis setelah mendengar pengakuannku. Perlahan ia menutup matanya dan meninggalkan jejak airmata tipis di ujung matanya itu.
Ayah Maya langsung memanggil dokter sedangkan Ibunya memeluk anaknya dan menggoyangkan tubuhnya namun Maya tetap tidak bangun.
Tapi diriku sangat pengecut ketika itu. Aku tau apa yang akan dokter sampaikan, sebelum aku mendengarnya aku pikir aku lebih baik tidak ada di sana. Aku tidak sanggup mendengar kata-kata itu. Aku keluar dari kamar Maya berlari pulang ke rumah. Aku tak kuat melihat tangisan Ibu Maya dan aku juga tak ingin Arwah Maya melihat kesedihanku.
Aku lalu mengurung diri di kamar hingga 1 minggu lamanya. Setelah satu minggu aku pergi ke makam Maya. Ternyata di sana ada Ayah dan Ibu Maya. Mereka mengejarku yang hendak kembali pulang. Mereka mengatakan jika Maya sangat mencintaiku, Maya meminta mereka untuk menyampaikan sebuah amplop dari Maya.
Amplop itu adalah surat dari Maya dan di dalamnya ada sebuah tiket konser yang grupnya tidak aku suka. Maya ternyata penggemar dari grup itu, ia sudah memesan tiket konser tapi ia tak tau bahwa tidak akan dapat melihatnya. Ia lalu memberikannya padaku karena teringat aku yang sangat kaku dan tak punya warna hidup. Maya berharap dengan tiket itu aku bisa mengurangi kesedihanku karena kepergiannya.
Ketika aku melihat konser itu, disalah satu lagunya berlirik yang sama dengan apa yang Maya sampaikan padaku. Mendengar lagu itu membuat aku menetaskan airmata meskipun lagu itu bertema ceria.
Pada akhirnya aku bersyukur ternyata tiket itu memang bisa mengurangi kesedihanku, meski tidak semuanya hilang. Aku kembali bisa menata hatiku dan mengikhlaskan kepergiannya. Namun didalam hatiku Maya adalah wanita yang berharga bagiku. Ia banyak mengajariku tentang hal yang selama ini tertutup dimataku.
End