Jam menujukkan pukul 11:00 malam dimana jalanan di kota X sudah mulai sepi. Dimana beberapa kios & toko makanan sudah tutup dan mobil - mobil pun sudah tidak ada yang melewati jalan. Udara di malam hari memang dingin hingga kulit ku menembus. Tadi, ku menghabiskan waktu berkumpul dengan teman dekat sejak sekolah menengah keatas di cafe, sudah lama sekali aku tidak pernah berkumpul dengan mereka semenjak lulus.
Jarak dari cafe ke apartemen begitu dekat, sehingga aku memilih jalan kaki. Ketika aku berjalan ke arah apartemen, ada seseorang mengikuti ku dari belakang. "Siapa itu?" aku melihat belakang, namun tidak ada orang. Aku melanjutkan perjalanan, orang asing itu mengikutin aku terus. Aku lihat belakang sedikit, dia memakai topeng & baju serba hitam. Perasaan mulai tidak enak, aku mulai ketakutan. Lebih baik, lari saja!
"Tolong, tolong, tolong siapaun seseorang tolonging aku!" aku lari sambil berteriak kencang, seseorang itu mengejarku.
"Hosh...hosh...hosh... tolong, tolong, tolong!" Suara ku mulai ngos - ngosan. Tapi sayangnya, seseorang itu menangkap ku secara langsung.
"Hey, lepaskan aku!" Berontak ku. Aku berusaha melepaskannya. "Kalau kau tidak melepaskan ku, aku akan lapor kau ke polisi!" Aku mengancam dia.
"Tolong, to---" baru saja aku berteriak tolong ketiga kali, mulut ku dibekap langsung menggunakan kain putih. Sekita aku pingsan dengan aroma yang ada di kain itu. Seseorang membopongku yang tidak sadarkan diri, lalu dimasukan ke dalam mobil.
***
Aku tersadarkan diri dengan posisi duduk di
sofa, tetapi aku merasa mataku ditutup dengan penutup kain sehingga gelap & tidak bisa melihat. Tangan & kaki ku terikat kencang. "Hmmm....hmmm...hmmm..." aku tidak bisa berteriak kencang karena mulutku disumpal pakai lakban. Aku berusaha meronta - ronta melepaskan kedua ikatan ini, namun ini sangat sulit.
Ceklek!
Seseorang membuka gagang pintu, kemudian menutupnya kembali. Terdengar suara ketukan sepatu yang menggema di telingaku. Aku merasakan kalau seseorang itu duduk disampingku. Tangannya langsung melepaskan lakban yang ditempel di mulutku.
"Siapa kau? kenapa kau menculik ku? hiks...hiks...hiksss, tolong lepaskan aku!" Aku mulai berteriak sambil menangis. Seseorang itu membuka kainnya, ketika aku lihat ternyata Bryan Alexander Dixon yang merupakan mantan pacar ku di SMA. Aku begitu terkejut. Aku melihat di sekeliling ternyata di kamar cuman yang hanya ada sofa, tempat tidur, meja, dan lemari.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Malinda sayang. Sudah lama sekali aku tidak bertemu kau sejak kita lulus SMA. Gimana kabarmu, hmmm? kau makin cantik saja dan tidak ada yang berubah dari kecantikan mu." Aku begitu jijik dengannya sambil mengelus pipi ku.
"Bryan, kenapa kau menculik ku? salah ku apa? Lepaskan aku tolong!" Aku meminta mohon kepadanya.
"Aku menculik mu karena aku merindukanmu, sayang." Tangannya membelai rambutku. "Sejak lulus SMA, aku tidak tahu kemana kau berada, bahkan aku mencarinya selama 5 tahun. Aku sempat menyerah, tetapi aku tidak putus. Aku terus mencari dimana kau berada saat ini, akhirnya aku menemukan mu lewat data - data dirimu lewat internet. Aku tahu
sekarang kau dimana." Sumpah, ini orang emang benar - benar nyeremin.
"Bryan, tolong lepaskan aku dari sini. Aku sudah tidak ada lagi perasaan dengan mu. Aku tidak mencintaimu lagi seperti dulu. Selama ini, aku nyaman & bebas tanpamu." Namun, Ia mendengarnya begitu emosi.
"Kenapa kau tidak mencintaiku lagi, hah? aku sudah mencari kau selama lima tahun, tapi kau masih saja tidak menghargai aku!" Ekspresi marahnya menyeramkan seperti monster sambil matanya melotot kek arahku.
"Karena kau orangnya posesif, agresif, egois, gampang marah, sensitif, dan melarangku tidak boleh bergaul dengan pria selain denganmu. Kau terkadang suka menyiksa ku mulai dari fisik & verbal, sampai aku hampir gila gara - gara kau. Ternyata, kau memang tetap tidak berubah!" Aku emosi balik dengannya, selama ini pacaran sama dia selalu dikekang.
"Sifat aku seperti ini karena aku tidak ingin kehilanganmu. Sejak putus dengan kau, aku selalu frustasi & sulit mengendalikan emosi. Ku mohon, kau kembali lagi bersama aku seperti dulu." Ia memohon - mohon kembali lagi bersamanya.
"Aku tidak bisa lagi bersamamu seperti dulu. Aku ingin bebas tanpa kau yang tidak ada kekangan. Tolong lah, kau harus mengerti perasaanku. Kau bisa cari wanita yang lebih baik dari aku." kata ku.
"Aku tidak pernah minat mencari wanita lain selain kau, Malinda. Kau adalah milikku, tidak ada orang yang boleh seseorang mencintaimu selain aku!" dia terus memaksa aku kembali kepadanya.
"Cukup, Bryan. Aku sudah bilang kalau aku tidak cinta lagi sama kau, tapi kau selalu memaksa ku kembali bersama mu. Aku sekarang tenang hidup tanpa kau. Lepaskan ikatan ini, Bryan. Aku mohon!"
Bryan menjambak rambutku hingga meringis kesakitan. "Dengar ya, jangan harap tali ini kulepaskan kecuali kalau kau ingin kembali bersama ku. Aku benci sekali dengan wanita pemberontak seperti mu!" Ia melepaskan rambut ku dari tangannya. Dia mengendong ala bridal style ke tempat tidur, ia menjatuhkan ku disitu.
"Arggghhh, sakit b*ng*st!" aku menelontarkan kata kasar.
Plak!
Dia menampar ku hingga pipi ku kesakitan. "Kau memang jahat, Bryan!!!" teriak ku.
Bryan mencengkram pipi ku dengan kasar. "Memang aku jahat dan inilah akibatnya kalau kau kurang ngajar kepadaku!" Ia mengambil lakban hitam yang diletakkan di meja, lepas itu lakbannya ia potong dengan gigi.
"Daripada kau berteriak, lebih baik ku lakban mulutmu ini!" Dia menempel lakban dimulut ku sebanyak tiga kali.
"Hmmm...hmmm...hmmm..." aku tidak bisa berteriak karena mulut ku di lakban lagi.
Dia tidak peduli melihatku seperti ini, dia hanya tersenyum puas. Ia mengeluarkan sapu tangan berwarna putih di kantong celana jeans-nya.
"Hmmm...hmmm...hmmm..." Aku tidak ingin lagi dibekap, sialnya aku dibekap lagi hingga pingsan.
"Kau sangat cantik ketika kau tenang seperti ini, Mandy. Selamat malam, Malinda sayang. Nikmati lah malam ini disini!" Bisikan Bryan ke telinga ku. Ia mencium kening ku, lalu menyelemutin setengah malam. Dia juga melepaskan sepatu ku. Dia mematikan kamar, lalu mengunci kamarnya dari luar.
***
Mataku mulai terbangun karena sinar matahari di pagi hari yang menembus tirai jendela. Aku merasa kaki ku masih memakai kaos kaki dan ada yang menyelimuti ku ah pasti ini si Bryan yang nyelimutin & melepaskan sepatu aku. Tangan & kaki ku masih terikat. Aku berusaha keras bagaimana caranya tali ini bisa lepas.
Aku dengar Bryan membuka pintu kamar dari luar. Aku lebih baik bersikap biasa. "Selamat pagi, Malinda sayang! Bagaimana tidurmu semalam, sangat indah kan?" Sapa Bryan dengan senyuman lebar. Apaan yang indah, aku aja gak bisa bergerak bebas karena ada tali.
Bryan mengelus rambut depan ku lembut dengan tersenyum bahagia. "Kau sangat cantik sekali saat kau bagun tidur. Oh ya, aku lepaskan tali ini karena aku ingin sarapan bersama kau di ruang makan. Aku bikinin sarapan kesukaan kau." Dia pun melepaskan ikatan tangan & kaki ku. Setelah itu, ia melepaskan lakban dari mulut ku pelan - pelan. Badan ku terasa regang kembali dan bebas.
"Bryan, aku ingin buang air kecil." Ujarku.
"Boleh, tapi aku tunggu kau di depan kamar mandi. Aku tidak ingin kau kabur dari ku. Sekarang, kau pakai sepatu ku." Dia gampang curigaan sekali denganku.
"Iya, Bryan." Aku jawab sok lembut di depannya. Aku memakai sepatunya.
"Sudah nih!" Aku sudah selesai masang sepatu, Bryan langsung memegang tangan kanan ku sambil keluar kamar.
Ternyata, kamar mandinya masih di lantai dua samping kanannya kamar lain. "Nih, kamar mandinya. Aku tunggu sini ya!" Ia membuka kamar mandinya, aku langsung masuk sambil menutup pintunya. Aku buka celana jeans lalu buang air kecil di kloset duduk sambil memikirkan ide bagaimana caranya aku bisa kabur dari sini. Aku melihat keliling kamar mandi dan ternyata ada jendela, namun aku tidak bisa manjat.
"Malinda, kenapa kau lama sekali di kamar mandi. Jangan sampai kau kabur ya, aku tahu pikiran cantik mu tidak biss dibohongin!" Seru Bryan berteriak dari luar kamar mandi. Dia begitu tahu sekali kalau aku mikir seperti itu. Bryan memang begitu tidak berubah, selalu saja tahu apa isi pikiran ku.
"Iya, bentar!" Jawab ku. Setelah itu, aku memencet siram air di tombol kloset & aku bersihkan langsung punya ku pakai siraman toilet.
"Kok lama sekali di kamar mandi? Kalau lama aku dorong pintunya dengan paksa dan melihat apakah kau kabur atau enggak!" Aku tidak tahan dengan dia sangat berisik.
"Ihhhh, sabar dulu!" Kesal ku. Aku memakai celana jeans nya lagi. Semuanya sudah beres, aku buka lagi. Bryan masih menunggu di depan. "Kenapa kau lama sekali di kamar mandi? Mau rencanain kabur dari ku, hm?"
"Enggak lah, kan aku buang air kecil!" Jawab aku nada ketus.
"Oh gitu, yuk kita sarapan!" Ajaknya, aku mengangguk iya. Dia memagang tanganku. Aku melihat disekeliling rumahnya begitu agak besar & nan artistik. Cat rumahnya serba putih. Semua barang - barang di dalam rumah sangat mewah. Kita pun turun dari tangga menuju lantai 1.
Kita pun sudah turun dari tangga menuju dapur yang ada di lantai satu. Di dapur tersebut ada juga bentuk konsep mini bar. "Nah kita sudah sampai di dapur, lebih baik kau duduk di bar mini. Aku buatin sandwich keju & susu." Aku mengangguk iya, Bryan langsung ke dapur dan aku duduk di bar mini. Ia mengambil bahan - bahan di kulkas untuk membuat sandwich, sementara aku fokus lagi mencari ruangan sambil merencankan bagaimana aku bisa kabur dari sini.
"Aku jadi ingat waktu kita masih SMA saat ke kantin, aku bawain sandwich buat kau. Ternyata, kau begitu suka sandwich buatan ku. Akhirnya, aku buatin sandwich untuk kau setiap saat." Bryan menceritakan masa lalu saat pertama kali membawa sandwich di sekolah untuk ku sambil memasak sandwich.
"Oh iya, bahkan kau juga begitu menikmati masakan ku selain sandwich seperti burito, taco, dan kau juga suka dessert. Aku rela bangun pagi - pagi memasak buat kau." Ia terus - menerus mengingatnya, aku tahu masakan dia enak. Aku hanya mendengar tanpa meresponnya.
"Ini dia, sandwichnya sudah selesai di masak. Tinggal buat susu saja. Kau lebih baik duduk di meja makan, nanti aku anterin langsung." Bryan menunjukkan jari telunjuk ke arah meja makan, aku langsung kesana.
Aku duduk disitu. Mata ku tertuju dengan pintu di sebelah kanan & kiri. Aku yakin pintu kiri itu pintu menuju depan rumah. "Hey, kenapa kau melihat sana - sini?" Aku terkejut ternyata Bryan ada disini sambil membawa nampan berisi 2 piring sandwich & 2 gelas susu putih.
"Hmmm, lihat ruangan rumah kau begitu bagus." Jawab ku.
"Oh begitu, mari kita sarapan!" Ajaknya sambil menaruh piring di meja. "Nih, sandwich & segelas susu untuk kau." Dia menyodorkannya untuk ku. Aku melahap langsung sandwichnya di mulut ku.
"Hehehe, kau lucu sekali makannya. Pasti kau kangen dengan masakan sandwich ku, bukan?" Bryan cekikikan melihat ku makan. Aku risih.
"Bagaimana masakan sandwich ku?" Dia ingin tahu reaksinya.
"Enak." Jawab ku singkat. Dia tersenyum senang. Kita melanjutkan makannya lagi.
***
Setelah makan, Bryan mengajak aku ke ruang belakang. Di ruang belakang, ada kolam renang, ayunan kayu jati, tempat duduk santai, dan ada beberapa tanaman. "Kau tahu, aku dari dulu ingin sekali punya rumah yang ada kolam renang. Jadi, aku bisa berenang setiap saat." Ujarnya
Aku hanya diam saja tidak merespon pembicaraannya. "Lebih baik, kita duduk di ayunan yuk!" Dia mengajak duduk di ayunan, aku menurutinya. Kita pun duduk disitu. Dia terus berbicara tentang rumahnya terus dan aku hanya memandang ke depan, bukan ke arahnya.
Aku bosan sekali mendengar cerita dia. Dia juga membicarakan tentang masa kuliah dan kerja hingga sukses menjadi seorang pembisnis. Kapan aku bisa pergi dari sini?
"Oh iya, selain itu aku sengaja ingin punya rumah biar aku bisa hidup berdua bersama mu ketika kita nikah nanti." Aku begitu syok mendengar ia berbicara seperti itu.
"Setelah menikah, kau bisa pilih mau bulan madu kemana. Mau ke Prancis, Spanyol, Italia, atau Hawai, aku pasti turutin permintaan kau. Kemudian, kita punya anak." Aku tidak habis berpikir lagi. Jujur, aku tidak mau nikah dengannya karena aku takut dengan masa lalu bersamanya. Aku takut kembali seperti dulu.
"Hey, kenapa muka ku menunduk?" Tanya nya, tangannya meraih ke dagu ku. "Ada apa kau melamun sampai menunduk segala, hmm?"
"A-ku t-idak siap menikahmu." Jawab ku pelan.
"Kenapa? Apa karena masa lalu aku dulu saat pacaran dengan kau di SMA? Sudahlah, itu kan masa lalu. Aku kan udah berubah yang lebih baik." Katanya.
Aku hanya diam saja. Bryan merangkul ku. "Kalau begitu bagaimana kalau aku ajak kau pergi?"
"Memangnya kita mau pergi kemana?" Tanyaku.
"Pergi ke Mall I, yuk. Sudah lama sekali kita tidak pernah ke mall."
"T-api, apa kau tidak bekerja hari ini?"
"Sayang, ini kan hari Sabtu. Hari Sabtu itu semua pekerja kantor di tutup." Aku baru tahu kalau hari ini hari Sabtu.
"Terserah kau lah. Oh ya, dimana tas ku?" Aku baru sadar kalau tas ku tidak ada semalam.
"Tas ku di dalam mobil ku. Lebih baik kita siap - siap yuk!" Serunya. Ini kesempatan ku bisa kabur dari dia.
***
Aku memasuki mobil bersamanya. Aku duduk di depan, lalu tutup lagi pintunya serempak. "Bryan, mana tas ku?" Pinta ku. Bryan pun mengambil tas dari belakang.
"Nih, tasmu." Dia menyerahkan tas ku. Aku periksa tas ku, ternyata nyaman termasuk Hp, dompet, dan barang lainnya di tas. Aku melihat hp ada notifikasi dari teman SMA ku bernama Olivia. Mobilnya langsung berjalan.
"Kau dimana, Malinda? Aku tadi ke apartemen mu, pas aku ketuk pintu berkali - kali tapi kau tidak ada? Kau kemana? Apa kau masih ketiduran karena semalam kita ngumpul - ngumpul di Cafe G." Tanya Olivia.
"Olivia, tolongin aku. Aku di culik dengan Bryan semalam. Kau tahu Bryan kan? Aku sekarang lagi sama Bryan di dalam mobil. Dia sama aku ke Mall I." Jawab ku.
"Kau kenapa bisa diculik dengan dia? Kau tahu sendiri kan dia waktu pacaran dengan kau suka menyiksa kau."
"Aduh, ceritanya panjang. Intinya kau ke Mall I sama mereka. Tolong, kau chat di grup kita. Aku minta tolong kalian semua!"
"Oh okey, nanti aku chat ke grup." Seru Olivia.
"Okey deh. Nanti kabar - kabarin ya!"
"Okey, Malinda." Aku tidak membalasnya lagi. Tuhan, berikan aku kekuatan & lindungi aku bagaimana caranya bisa lepas darinya. Aku memasukan hp ku di tas lagi. Aku lihat ada bedak cushion dan beberapa make up di tas.
Ketika aku mengaca muka di bedak ku, muka ku berantakan. Aku memakainya sedikit.
"Kau begitu cantik dengan kau memakai make up. Tanpa dandan kau juga tetap cantik." Dia memuji ku sambil menyetir kemudi mobil, aku lagi fokus dengan make up.
"Bahkan, aku tidak suka kalau kau berdandan berlebihan takutnya mengundang para pria lain. Malah lebih suka kau berdandan buat aku." Dia mengatur sekali. Aku kesal mendengarnya.
"Duh, Bryan. Kau jangan mengoceh terus, aku ini mau pakai lipmate. Kalau kau ngoceh terus, ya kacau make up ku ini!" Sebel ku. Dia tertawa cekikikan.
***
Sesampai di Mall I, Bryan tiada berhentinya merangkul ku. Sungguh, aku risih sekali. Sebagian pengunjung mall pada melihat kita berdua. Bagaimana ya caranya aku kabur dari sini? Aku makin gak betah!
"Bryan, aku mau ke toilet. Aku kebelet pipis!"
"Oh boleh, tapi aku masuk langsung ke Gucci Store. Tapi, kau jangan sampai kabur dari ku ya!" Aku mengangguk iya. Aku pun berlari ke toilet. Di dalam toilet, aku menelpon langsung Olivia. Teleponnya langsung tersambung.
"Halo, Olivia. Kau dimana?" tanyaku sambil cemas.
"Halo, Malinda. Aku, Meldy & Iva udah di mall lagi di parkiran basement. Kau dimana?"
"Aku lagi di toilet lantai dua. Cepetan, aku lagu cemas banget nih!"
"Iya, kita langsung kesana!"
"Okey, di tunggu ya!"
"Iya, Malinda!" Aku langsung menutup teleponnya. Perasaan ku lagi kacau, cemas, & rasanya mau nangis. Semoga mereka datangnya cepat.
Baru saja beberapa menit, mereka sudah datang. Aku langsung memeluk mereka sambil menangis.
"Kau tidak apa - apa kan, Malinda?" Tanya Olivia.
"Aku gak apa - apa kok, tapi Bryan ke Gucci. Aku bingung gimana caranya kabur dari sini tanpa ketahuan dia?" Aku bingung & panik dari situ.
"Gini aja, aku tutupin kau pakai jaket ku saja." Ide dari Meldy.
"Hmmm, boleh." Meldy melepas jaket untuk melindungi ku. Aku menutup kepala di jaketnya. Mereka menuntun ku jalan sambil melindungi ku.
Tidak terasa aku berjalan, aku sampai di tempat parkir basement. Kita pun berlari ke mobil Olivia. Kita masuk ke mobilnya dan langsung ke luar mall. Hufff, aku bersyukur tidak ketahuan dengannya. Selama perjalanan, aku menceritakan semuanya apa yang terjadi semalam hingga pagi tadi kepada mereka di mobil.
"Wah, gak habis pikir kali sama Bryan. Dia ingin menculik mu ingin kembali lagi kayak SMA. Kau kan tidak mau lagi dengannya, kenapa dia maksa banget!" Kata Olivia yang kesal mendengar cerita ku sambil nyetir mobil.
"Nah iya, aku tuh gak mau sama dia lagi karena aku takutnya kayak seperti dulu. Ya, kalian tahu kan sifatnya dia sangat agresif & posesif. Tapi, ya masa dia ngomongin soal rencana nikah aku sama dia. Katanya, kalau dirinya sudah berubah." Ujar ku.
"Hahaha, aku gak percaya dengan kata - kata dia. Benar - benar bohong!" Kata Iva.
"Iya tuh. Kau ingat saja, Malinda. Bahwa, waktu pacaran sama kau bikin kau tersiksa. Dia berjanji tidak ngelakuin lagi kesalahannya, tetapi tetap saja tidak berubah." Bilang Meldy.
"Yaiyalah, aku saja tidak percaya lagi dengannya. Mulutnya kayak buaya, hahaha!" Aku pun tertawa dan mereka pun tertawa dengan dia begitu tak percaya lagi dengan perkataannya.
"Ngomong - ngomong, tadi sempat ketahuan gak sih sama Bryan selama kalian bawa aku?" Tanya ku.
"Aku lihat enggak, aku perhatiin jarak jauh emang dia lagi di Gucci terus dia lagi telefon gitu entah sama siapa." Kata Olivia. Hufft, berarti aman.
Teng...teng...teng...
Ada suara telepon dari hp ku. Aku lihat ada nomor yang tak di kenal. Perasaanku jadi tidak enak, jangan - jangan ini Bryan.
"Eh, ada nomor telepon yang tak di kenal nelpon aku. Perasaan ku jadi gak enak nih!" Perasaan ku makin kacau dan cemas.
"Yaudah, kau angkat aja tapi lewat loud speaker." Saran Olivia. Aku pun angkat dan mencet tombol loud speaker.
"Halo, ini siapa ya?" Jantung ku bergetar kencang dan cemas.
"Ini aku, Bryan. Aku tahu nomor telepon kau, Malinda sayang. Aku tahu kau pasti kabur dengan teman - temanmu. Ternyata, kau ke toilet terus ujung - ujungnya kabur dari ku. Dasar wanita sialan!" Aku kaget dan syok, kenapa dia bisa tahu nomor aku.
"Lihat saja kau dari belakang!" Aku melihat kaca mobil, ternyata mobil Bryan mengikuti. Aku terkejut & makin cemas. Aku mematikan teleponnya.
Saking cemasnya aku bilang ke mereka. "Ternyata, mobil Bryan ngikutin kita dari belakang!" Iva & Meldy melihat dari belakang, sedangkan Olivia melihat di kaca spion.
"Astaga, bagaimana ini. Aduh, makin parah nih!" Iva juga ikutan panik.
"Kalian gak usah panik, tenangkan diri kalian. Coba kalian lapor ke polisi." Olivia berusaha memenangi kita. Aku mencoba lapor polisi. Aku sengaja memencet tombol loud speaker nya.
"Halo panggilan darurat, ada yang bisa saya bantu?" Akhirnya bisa terhubung.
"Nama saya Malinda Giovani, panggil saja Malinda. Saya melihat di belakang ada seseorang mengikutin mobil kami. Yang mengikutinnya ternyata mantan pacar waktu saya SMA bernama Bryan Alexander Dixon."
"Okey, dimana kau sekarang?"
"Aku sekarang numpang mobil teman ku. Di mobil ada teman ku bernama Iva, Meldy, & Olivia yang sedang mengemudi mobil. Sekarang kita di Jalan Y."
"Mengapa mantan pacar mu mengikuti kalian di belakang mobil? Apa dia sekarang masih mengikutin mu?"
Aku lihat dari belakang kalau dia masih mengikuti kita. "Dia masih mengikutinya. Aku kabur dari dia di mall tadi. Aku semalam di culik dengannya karena dia ingin kembali bersamanya, namun aku tidak mau karena dia posesif & agresif."
"Okey, okey. Kau sekarang posisinya dimana posisinya?" Polisi nanya lagi posisnya dimana.
"Saya sekarang lagi..." Baru saja aku mau bilang kalau aku di tengah hutan, namun mobil Olivia rem blong mendadak. Mobilnya hampir mau menabarak pohon besar.
"Olivia, awas!!!" Kita memperingatinya, namun sayangnya mobil tersebut menabrak pohon. Kita pun berteriak. "Aaaaaa!!!"
Mobilnya pun tertabrak dan depannya rusak duluan. Aku lihat mereka langsung pingsan dan darahnya mengalir.
"Halo, halo. Kalian dimana?" Polisi masih menghubunginya.
"Sa-ya kecelakaan mobil b-ersama teman - teman ku. Mereka pingsan dan darahnya mengalir. Sa-ya tidak tahu dimana jalan ini, yang saya tahu ini di tengah h-utan. T-olong, tolong, tolong!" Penglihatan ku buram, kepalaku terasa pusing, hp ku terjatuh dan pingsan.
***
Aku perlahan - lahan membuka mataku sedikit. Kepala ku masih terasa pusing. Aku melihat kalau aku berada di ruang yang dindingnya terbuat dari kayu dan diterangi oleh lampu petromax. Aku melihat sana - sini kalau tangan & kaki ku di ikat berbentuk silang X di tempat tidur.
"Hiks, hiks, hiks, tolong tolong. Siapapun seseoran tolongin aku!" Aku berteriak sekencangnya. Aku melihat Bryan membuka pintu.
"Akhirnya, kau bangun ya dari mimpi buruk ku ya!" Bryan mengampiriku sambil tersenyum simpul.
"Bryan, aku dimana? Kenapa aku terikat lagi disini?"
"Kau sekarang di gubuk tua, sayang. Gimana kau suka kan?"
"Dimana teman - temanku, sekarang?" Aku menanyakan kondisi mereka.
"Mereka sudah mati kali. Ngapain kau cari mereka. Mereka kan penganggu kita!"
"Mereka bukan penganggu tapi kau yang penganggu hidupku. Kau memang dasar pria licik & b*ngs*t!" Aku emosi. Dia menapar ku keras.
"Hey, jaga mulut mu ya. Kau memang keteraluan kabur dari Mall. Katanya kau ke toilet eh ternyata kabur dengan teman - teman kau!" Dia emosi. Aku menangis keras.
"Aku muak dengar kau nangis." Dia mengeluarkan sapu tangan di kantong. "Jangan, ku mohon jangannnnn!!!" Namun, mulut ku di sumpal.
"Sekarang, telinga ku tenang tidak ada suara tangisan mu. Aku pergi dulu ya sebentar, bye Malinda sayang!" Dia meninggalkan sendirian. Aku tidak bisa berbicara & teriak. Aku menggerakan kedua tangan & kaki bagaimana caranya bisa lepas dari tali ini.
***
Ketika aku tertidur, aku baru sadar kalau tangan & kaki ku di lepas talinya oleh Bryan. Dia membuka sumpalan mulut ku dari kain, aku membangunkan badan ku di tempat tidur. "Nih, minum dulu!" dia menyodorkan air botol mineral ke aku. Aku minum sambil menyeder di headboard tempat tidur yang terbuat dari besi.
"Nih, aku udah selesai minum." Aku menyerahkan botolnya kembali. "Sekarang, kau makan rotinya dulu. Aku mau pergi sebentar. Jangan kemana - mana dan tetap disini!" Perintahnya, dia melangkah ke pintu lalu menguncinya dari luar. Aku semakin takut tinggal disini sendiri apalagi dengannya.
Aku melahap roti sambil berpikir bagaimana caranya aku bisa membuka pintu tersebut. Aku mencoba melangkah ke pintu. Aku mencoba dobrak pintu tidak bisa, lalu aku coba dan coba lagi akhrinya pintunya berhasil aku dobrak. Aku bisa kabur lagi dari sini. Aku melirik kanan - kiri apakah Bryan datang kembali kesini. Tidak ada tanda - tanda dia kembali, aku harus lari dari sini.
Ternyata gubuk itu berada di tengah hutan. Aku berlari sekuat tenaga sambil berdoa supaya dia tidak ada. Oh Tuhan, aku bingung bagaimana caranya aku bisa keluar dari tengah hutan ini.
"Malinda, mau kemana kau?" Ada suara Bryan di belakang ku, aku menoleh sebentar langsung lari cepat. Tuhan, aku takut sekali semoga seseorang menolong ku dari sini.
"Hey, kau mau lari kemana?" Bryan terus mengejar ku. Aku berusaha lari, namun aku terjatuh. Aku berdiri secepatnya, Bryan langsung menangkap ku.
"Lepasin aku, Bryan. Tolong, tolong, tolong!" Aku berteriak kencang agar ada orang yang mendengarnya.
"Kau mau kemana, Malinda sayang? mau kabur lagi, hmm?" Muka Bryan memerah dan aku takut.
"Bryan, kau ini udah gila ya. Aku tidak mau bersama mu, tapi kau masih juga ngejar aku!"
"Emang aku ini udah gila, sayang. Sekarang, ikut aku, ayooo!!!" Aku terus berusaha melepaskannya.
"Angkat tangan mu, Bryan. Kau harus ditangkap karena kau telah menculik Malinda." Seorang polisi datang ke sini sambil mengarahkan pistol ke arahnya. Dia langsung melepaskan aku dan aku lari ke arah polisi. Polisi tersebut menangkapnya lalu memborgol tangannya dari belakang. Dia lihat aku dengan tatapan datar, lalu dia masuk ke mobil polisi.
***
Sejak kejadian itu, orang tua ku memutuskan ku pindah ke Kota J dan memulai hidup baru lagi. Aku dengar Meldy & Iva selamat dari kecelakaan itu, namun Olivia meninggal saat di bawa ke rumah sakit. Aku sedih mendengar kabar Olivia, tapi aku selalu berdoa semoga dia tenang di sana. Terima kasih Olivia, sudah membantu ku menyelamatkan aku dari penculikan Bryan. Hidup ku sekarang lebih tenang dari sebelumnya.