Sinar mentari di pagi ini telah menyibak kelopak mataku dengan begitu kasar. Ah sial! Bisa-bisanya aku lupa menutup jendela sebelum tidur. Aku baru sadar bahwa aku pulang terlalu larut semalam. Tubuhku terasa remuk hingga kasur ini terasa seperti surga sesaat. Aku masih ingat betul bagaimana kasarnya aku menerjang kasur ini hingga membuatku jatuh begitu jauh ke dalam alam mimpi.
'Hai Mentari, apa kabarmu hari ini?' Anehnya kalimat itu masih menjadi mantraku ketika terbangun di pagi hari. Kira-kira sudah berapa lamakah kau bersemayam di sana Elaine? Namamu memang selalu terdengar indah. 'Elaine' yang berarti sinar mentari. Tidakkah cukup kau menjadi terang di hatiku saja? Apa perlu kau juga menjadi penerang bagi alam semesta dan menjadi pendamping bagi sang pencipta. Kau benar-benar telah menghancurkan segala anganku untuk hidup dan menua bersamamu. Kau benar-benar telah memberiku angan tanpa asa Elaine.
Aku merindukanmu Elaine, sinar mentariku. Masih begitu rindu hingga aku lupa bagaimana caranya bangun tanpa menyapamu. Apakah kau masih ingat bagaimana malam itu menjadi malam terakhir bagi kita? Kenapa kau begitu egois dan meninggalkan kenangan ini hanya untukku seorang diri?
Ingatkah kau wahai mentari dahulu di saat kebersamaan kita kau selalu mengatakan bahwa aku yang pertama dan akan menjadi yang terakhir. Kau hanya berusaha menepati janjimu itu bukan? Karena kau sungguh menjadikanku yang terakhir dan kemudian pergi. Aku sungguh merindukanmu Elaine.
Kenanganku di malam itu...
"Kau menyelesaikannya dengan baik bukan?" Ia mendatangiku dengan senyuman terindahnya begitu aku keluar dari gedung universitas ternama itu. Sebuah universitas yang sama-sama menjadi impian bagi kami. Kami memiliki cita-cita yang berbeda namun seiring dan saling mengisi. Ia ingin sekali mempelajari sastra dan menjadi penulis. Sementara aku, aku ingin menjadi seorang director dan mewujudkan semua cita-citanya dalam wujud karya di balik kaca.
Namun semua itu hanya tinggal impian semata. Di malam itu, Ia mengakhiri hidupnya tanpa sepengetahuanku. Ia meraih sebilah belati dalam keremangan cahaya kamarnya yang selalu sunyi. Ia mengakhiri hidupnya sendiri, tanpa diketahui oleh siapapun.
Selama hidupnya, Ia memang tidak memiliki teman, ia pun tidak akur dengan tetangganya karena mereka yang tak saling bertegur sapa. Keluarganya pun telah lama meninggalkannya sebatangkara. Miris memang jika aku terlalu memikirkannya. Terlebih lagi hanya aku satu-satunya orang yang ia kenal.
Hidupku semenjak kepergiannya menjadi begitu menyedihkan. Aku kehilangan semangat untuk hidup. Aku menjalani setiap hari dengan menyibukkan diri di kampus baruku. Aku bahkan mengikuti setiap organisasi dan acara yang diselenggarakan di sana. Namaku menjadi populer seiring berjalannya waktu. Namun ada satu keresahan dan ketidaknyamanan yang selalu meliputiku semenjak awal. Kampus ini, seharusnya menjadi kenangan diantara kami berdua. Ia seharusnya juga berakhir di sini. Tapi sayang sikap frustasinya telah mengantarkannya kepada pemikiran singkat yang ia pilih. Yaitu 'Mengakhiri hidupnya sendiri'.
"Angkasa, ada teman kamu yang menunggu di luar!" suara teriakan ibuku memang selalu terdengar melengking dan memekakkan telinga. Ingin sekali rasanya aku meneriakinya hanya untuk sekedar membuatnya menurunkan volume suaranya. Namun sayangnya aku masih belum selesai memaki tirai kamarku yang terbuka dan mengganggu waktu istirahat pagiku.
Shitt!! Tidak bisakah mereka membiarkanku hidup dengan tenang sesuai caraku sendiri? Kenapa selalu saja ada yang mengganggu ku?
"Siapa? Ada apa mencariku?" Aku berjalan dengan ogah-ogahan menuruni lantai kamarku yang berada di lantai dua. Aku menyapa pemuda pengganggu itu sekenanya. Tidak ada sedikit pun keramahan yang tersirat dibalik kata-kataku.
"Sederhana, serahkan dirimu sebelum terlambat! Aku tidak akan tinggal diam sebelum kau benar-benar dihukum." Tanpa pandai berbasa-basi lelaki itu menyerangku dengan telaknya. Ia bersikap seakan aku adalah orang paling jahat di muka bumi dan berhak untuk dimusnahkan. Namun apa salahku terhadapnya? Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali.
"Apa maksud Anda? Bukankah seharusnya Anda yang disalahkan pada kondisi ini? Anda datang di waktu ini dan mengganggu jam istirahat saya. Terlebih lagi Anda datang dengan tujuan yang tidak jelas. Apa mau Anda sebenarnya? Bahkan saya sama sekali tidak mengenal Anda Tuan?" aku tidak mau kalah dan menyerangnya dengan ribuan umpatan yang sudah berhasil kutahan sebelumnya. Bisa-bisanya ia yang hanya orang asing, menyerangku di dalam istanaku sendiri.
"Dasar iblis tidak berperasaan! Bisa-bisanya kau hidup dengan nyaman setelah apa yang kau lakukan?"
"Apa? Memangnya apa yang aku lakukan?" Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia maksud. Ia benar-benar bersikap seakan aku telah melakukan sebuah kesalahan besar. Tapi kesalahan apa? Ingatanku bahkan tidak menangkap satu kenangan buruk pun tentang keberadaanku di masa lalu. Hanya momen bunuh diri Elaine yang cukup mengusikku hingga saat ini.
"Apa yang kau lakukan katamu? Apa kau bahkan sudah melupakan Elaine? Apa keberadaannya benar-benar tidak penting bagimu keparat?" Lelaki itu mengepalkan tangannya ke udara bersiap untuk melayangkan tinjunya kepadaku. Namun Mas Arya kakakku yang juga seorang tentara dengan sigap menangkapnya dan menyeretnya keluar. "Jangan ungkit lagi masa itu? Biarkan ia melupakannya?" ujar Mas Arya kepada lelaki itu.
Memangnya apa yang aku lakukan? Apa yang aku perbuat dengan Elaine? Diakhir waktunya Elaine memilih untuk mengakhiri segalanya karena ia tidak diterima di universitas itu. Universitas yang sama denganku, universitas impian kami. Lantas apa yang aku lupakan tentangnya? Bukankah segala kenangan antara aku dan dia mendatangkan kebahagiaan?
Aku hanya berharap kau percaya? Setidaknya untuk sekali ini.
Aku baru sadar bahwa lelaki itu meninggalkan secarik kertas di atas meja di ruang tamu kami. Sebuah kertas belukiskan bunga sakura dengan warna baby pink di sekelilingnya. Kertas yang telah dilumuri oleh darah, entah milik siapa.
Dia atas kertas itu tertulis sebuah surat. Aku mengenalnya dengan sangat jelas, itu adalah tulisan Elaine. Itu adalah surat terakhir dari Elaine yang belum sempat aku baca. Aku begitu tergoncang kala itu, hingga aku menemukan diriku dalam keadaan tak sadar di atas bangkar rumah sakit. Aku bahkan tidak lagi ingat di mana aku meletakkan surat Elaine kala itu.
Dia hanya seorang teman yang membantuku saat aku kehilangan ayah. Dia hanya teman yang membantuku menyeka air mataku kala itu. Kami bahkan tidak lagi bertemu setelahnya. Kali ini ia hanya datang untuk sekedar menjenguk dan mengucapkan kata perpisahan. Aku hanya berharap kau mau membaca surat ini sebelum kau enggan untuk melihat wajahku lagi Angkasa. Tolong percayalah kepadaku. Aku masih Elaine yang sama, yang kau kenal di hari pertama gugurnya bunga sakura.
Tanganku gemetar begitu membaca surat itu. Surat terakhir dari Elaine. Ada kenangan lama yang terputar otomatis di dalam kepalaku. Kenangan yang sebelumnya buram, kini tergambar begitu jelas. 'Akulah yang membunuhnya'. Akulah yang membunuh Elaine dengan tanganku sendiri. Aku yang menikamkan belati itu tepat di jantungnya. Aku yang telah mengantarkannya ke tempat terakhirnya.
Kecemburuan itu kini tergambar begitu jelas di mataku. Aku melihatnya memeluk lelaki itu, lelaki yang baru saja datang dan mengancamku. Ia memeluk Elaine di malam itu, dan menyeka air matanya menggantikanku. Elaine memang begitu terpuruk kala itu. Ia gagal mencapai impiannya untuk memasuki universitas impian kami. Ia berjalan menelusuri lorong kost-kostannya sambil menitikkan air mata. Pemuda itu bahkan mengantarnya sampai depan pintu kamarnya. Hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya.
Kecemburuanku benar-benar memuncak. Tanpa lagi mementingkan keadaan dan penjelasan dari Mentariku, aku meraih sebuah belati yang selalu terselip di dinding dapur kamar Elaine . Aku mencabutnya dengan penuh amarah dan melayangkan belati itu ke arah lelaki itu tanpa pikir panjang. Namun Elaine dengan kebodohan yang tertanam di dalam dirinya, ia menyelaku dan membuat belati menghujam tepat di jantungnya.
Akulah yang telah membunuhnya. Namun lagi-lagi Elaine bersikap begitu bodoh dengan menghapus jejakku di saat-saat terakhirnya. Ia menghapus sidik jariku yang tertinggal di sana dan menggantikannya dengan sidik jari miliknya. Bahkan dengan kebodohannya ia masih sempat mengucapkan kalimat terakhirnya di telingaku.
Aku yang mengakhiri hidupku sendiri. Bukan kau. Aku masih menepati janjiku Angkasa. Kau adalah yang terakhir untukku. Tidak akan pernah ada orang lain setelah mu yang mengisi hatiku.