SHADOW
Aku bukan bayangan seseorang yang hanya dilihat ketika orang itu tidak ada
Bullshit dengan kata teman, sahabat, adik, saudara atau sapaan manis lainnya
Karena kenyataannya, aku hanyalah orang yang tak pernah ada dalam ingatan seseorang
******
Kamu masuk Sha?
Iya, Alhamdulillah aku sudah merasa lebih baik. Jadi kita akan memulai semuanya sesuai rencana awal bukan?
Hari itu adalah hari pertama dimana aku memulai sesuatu yang menurutku baru ,yaitu 'hidup sebatang kara'.
Tepatnya dua bulan yang lalu, ketika aku menerima panggilan internasional dari seseorang yang tidak aku kenal. 'Kakakmu meninggal dunia akibat serangan jantung'. Kalimat itu terdengar begitu singkat, dan sederhana. Namun membutuhkan waktu yang begitu lama untukku mencernanya.
Apa? Bagaimana bisa?
Ini semua terjadi begitu saja. Maafkan aku. Datanglah, kami tidak bisa membawa jasadnya kembali ke Indonesia. Tapi setidaknya kau pasti bisa mengunjunginya untuk terakhir kali di Amsterdam. Datanglah, dan ucapkan selamat tinggal.
Kau tahu Clarisha? Ia menghembuskan nafas terakhirnya sambil tersenyum. Ia mendekap foto kalian di saat terakhirnya. Ia begitu merindukanmu. Ia terlihat begitu menyesal. Ia sadar betapa uang tidak bisa mendatangkan kebahagiaan. Tapi, sesungguhnya ia amat menyayangimu dan melakukan hal terbaik yang bisa untuk kebahagiaanmu.
Datanglah Sha, setidaknya peluklah ia di peristirahatan terakhirnya.
Kakiku terasa melemas seketika. Malam itu seharusnya menjadi malam perayaan untukku dan dia. Ia sudah berjanji untuk pulang di malam ulang tahunku. Ia berjanji untuk memberikan kado paling spesial untukku. Aku baru tahu sekarang, bahwa yang ia maksud dengan hadiah yang tidak tergantikan itu adalah berita kepergiannya.
Hanya aku yang ia miliki, tapi bisa-bisanya aku tidak hadir di saat terakhirnya. Dia kakakku satu-satunya. Dia juga adalah ayah sekaligus ibu untukku. Maafkan aku Tristan?
Aku yakin Tristan akan tenang di sana setelah melihatmu hadir di pemakamannya.
Malam itu juga aku memesan penerbangan cepat menuju Amsterdam. Aku bahkan meninggalkan segala tanggung jawabku di Indonesia. Aku memilih mengabaikan semua mimpi yang membuatku berada jauh dari Tristan. Sekarang untuk apa lagi semua mimpi ini jika Tristan sudah tidak ada.
Dahulu aku berfikir bahwa aku akan membanggakan Tristan dengan berusaha hidup mandiri dan menjalani mimpiku sebagai penulis naskah film. Aku bahkan menjadi anggota tim inti dari produksi film ternama. Tapi kebahagiaan Tristan memang tak pernah semudah itu. Aku tahu persis bahwa keinginan di dalam hidupnya hanya satu, yaitu membahagiakanku yang merupakan keluarga satu-satunya untuknya.
Aku bahkan masih ingat bagaimana Tristan bersikeras membawaku ikut dengannya ke Amsterdam. Bisa-bisanya aku menolaknya saat itu. Andai saja, aku masih menemaninya ke sana, pasti akan lebih banyak waktu yang akan kami habiskan bersama. Setidaknya di saat-saat terakhirnya yang begitu sunyi.
Dia masih terlihat seperti biasanya, bahkan di dalam tidur panjangnya pun ia masih terlihat begitu tenang dan damai.
Kau siapa Nona?
Aku sedang memandangi wajah Tristan kala itu. Ketika wanita muda itu datang dan mulai membicarakan Tristan di telingaku. Wajahnya nampak begitu letih, perutnya buncit. Usia kandungannya mungkin sudah memasuki bulan kedelapan. Dia terlihat begitu kesulitan dengan beban yang selalu ia bawa bersamanya.
Dia suami dan ayah yang baik. Tapi sayang, ia sama sekali tak sempat melihat wajah putranya untuk pertama kali. Bahkan belum beberapa jam dan aku begitu merindukannya.
Wanita itu terisak di pundakku dengan air matanya yang sudah menggenang. Aku sama sekali tak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi. Kenapa ia menyebut Tristan sebagai suami dan juga ayah dari anaknya. Telingaku bahkan mengelak keras ketika ia mulai ditanyai perihal hubungan asmara Tristan.
'Ia tidak pernah dekat dengan siapapun. Ia bahkan juga tak menceritakan apapun kepadaku. Bagaimana aku tahu jika sesungguhnya Tristan telah menikah dan bahkan istrinya tengah mengandung.'
Aku mungkin akan disangka sebagai orang gila, jika mereka semua mendengar bahwa aku bercakap dengan telingaku sendiri. Bahkan hati kecilku pun turut membantahnya. Bagaimana mungkin Tristan tidak menceritakan apapun perihal pernikahannya?
Dia tidak menikahiku secara resmi. Ia hanya mendaftarkan pernikahan kami di kantor pemerintahan setempat demi menjaga status bayi yang ada di dalam kandunganku. Aku tidak ingin bayi ini lahir tanpa ayah.
Lagi-lagi wanita itu terisak dalam pelukanku. Entah kapan ia mulai memelukku, dan entah kapan pula aku mulai larut dalam tangisku sendiri. Apa-apaan semua ini? Aku memang putus kontak dengan Tristan selama beberapa bulan belakangan. Namun aku sungguh tidak melakukannya dengan sengaja, karena saat itu aku tengah melakukan syuting film terbaru dan tempatnya cukup terpencil hingga aku tidak bisa menggunakan ponsel dan media sosialku di sana.
Mas Andre, tolong bantu aku untuk menjelaskannya? Siapa Evelyn? Dan apa yang terjadi dengan Tristan? Kenapa semuanya seakan bersekongkol untuk memberiku kejutan?
Setelah prosesi pemakaman itu selesai, aku memutuskan untuk mengunjungi Andreas sahabat baik Tristan di Amsterdam. AKu mencoba mencari titik terang tentang apa yang terjadi dengan Tristan. Namun semuanya masih begitu abu-abu, bahkan ketika aku kembali ke Indonesia.
Ini adalah diary Tristan. Ia merekam segalanya di sini. Putarlah sebagai kenangan ketika kau kembali ke indonesia. Kuatlah, setidaknya demi Tristan. Jangan buat ia merasa bersalah karena harus meninggalkanmu.
Andreas hanya memberikanku sebuah kaset rekaman sebagai peninggalan terakhir Tristan. Semuanya terasa sangat aneh, tidak ada apapun yang tersisa dari Tristan. Ia seakan pergi dengan membawa segalanya. Bahkan kunci apartemennya di Amsterdam pun telah di blokir seakan-akan pemiliknya telah berganti. Tidak ada apapun yang tersisa, hanya sepasang baju yang ia kenakan di hari kematiannya, dan bukti rekaman itu.
Aku pun memutuskan untuk menyewa salah satu kamar hotel untuk menginap beberapa malam di sana. Setidaknya aku harus menyelesaikan segala urusan Tristan yang masih tersisa termasuk pekerjaannya. Namun nihil, aku tak mendapatkan apapun. Identitas Tristan Wijaya tidak terdaftar di perusahaan manapun. Nomor kartu identitas dan kartu tanda imigrannya pun belum diperbarui sejak tahun lalu. Ia seakan menghilang tanpa jejak sebelumnya hingga ditemukan tidak bernyawa setelahnya.
Tristan, ada apa denganmu? Tuhan, kumohon beri aku titik terang.
Yang bisa aku lakukan saat ini hanya lah berdoa dan terus berusaha untuk mencari kebenaran tentang Tristan. Segala hal telah kucoba, termasuk dengan mencari petunjuk dari orang-orang yang mungkin mengenal Tristan. Namun kabar terakhir yang kudapatkan adalah bahwa segala harta yang berhubungan dengan Tristan telah dipindah namakan atas pasangan suami istri Evelyn dan Andreas.
Apa maksud semua ini? Evelyn adalah istri kakakku bukan?
Sama sekali bukan. Ia adalah istri dari Andreas sahabat dari Tristan. Dan surat kuasa terakhir dari Tristan adalah dengan menyerahkan segala aset yang bernamakan dirinya ke atas nama Andreas.
Tapi kenapa?
Karena Tristan hidup sebatang kara
Sebatang kara katamu? Aku adiknya. Adik kandungnya.
Maafkan aku Nona, tapi belakangan memang banyak sekali orang asing yang mengakuisisi harta peninggalan dari orang yang tak berkeluarga. Jadi aku tidak bisa mempercayaimu. AKu hanya percaya yang ada di depan mata kepalaku. Dan dari yang aku lihat mereka adalah keluarga.
Aku kembali dengan berita yang mengejutkan dari kebenaran Tristan. Si penipu Evelyn dan juga Andreas itu benar-benar telah menghancurkan segalanya. Hasil jerih payah kakakku yang ia peroleh dengan tetesan air mata perjuangan, bisa-bisanya ia mengakuisisinya begitu saja.
Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang sekejam itu. Ia benar-benar bukan manusia dan tidak memiliki hati. Keparat kau Andreas! Akan aku pastikan bahwa kau akan membayar segalanya.
Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah, kembali melanjutkan hidupku dan membuat Tristan bangga karena telah memilikiku sebagai adiknya. Malam itu juga setelah perjalan panjangku dari Amsterdam aku memutuskan untuk kembali ke pekerjaanku dan memulai segalanya dari awal. Namun apa yang aku dapatkan?
******
Kamu masuk Sha?
Iya, Alhamdulillah aku sudah merasa lebih baik. Jadi kita akan memulai semuanya sesuai rencana awal bukan?
Maafkan aku, tapi tim sudah memutuskan untuk menggantimu. Ini adalah proyek kejar tayang dan kami benar-benar tidak bisa menunggu lagi.
Kami sudah mendapatkan tim penulis baru dan ia cukup berbakat jika dibandingkan denganmu. Kenalkan namanya "Evelyn".
Dia.... bukankah kau Evelyn?
Kau mengenalnya? Benar, dia Evelyn. Dia adalah seorang penulis naskah terkenal di Amsterdam. Kami berhasil mendapatkan kerja sama dengan susah payah. Dia sangat sibuk, bahkan ia juga mendapat peran sebagai aktris di sana.
Aktris? Wah, tidak heran jika kau memang jago berakting. Kandunganmu bagaimana? Apakah ia benar-benar sudah lahir? Atau kau juga merekayasanya?
AKu benar-benar kehilangan kesabaran. Aku bahkan kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kekesalanku kepadanya. Astrada ini benar, sekarang ini dialah bintangnya dan bukan aku. AKu harus mengikuti semua sandiwaranya dan mencoba mencari kebenaran di baliknya.
Apa yang kau rencanakan? Aku sarankan kau lebih baik duduk manis dan menjadi penonton saja. Atau kaupun akan terluka.
Aku baru saja hendak melangkahkan kakiku untuk pergi. Namu si gadis rubah ini malah menjegal lenganku dan membisikkan sesuatu yang cukup menggelikan di telingaku. Dasar iblis! Kau sepertinya tidak menyangka akan kehadiranku di sini. Sama denganku yang beruntung karena menemukanku tanpa harus bersusah payah.
Aku melihat dengan jelas bagaimana raut wajah kekhawatiran itu terukir di wajah polosnya. Dia benar-benar seekor serigala berbulu domba. Siapa yang akan menyangka di balik wajah yang sendu dan polos itu ada sebuah kejahatan besar yang tersembunyi di baliknya.
*****
Malam itu juga aku memutuskan untuk merobek kontrak kerjaku yang sudah tidak berarti apapun lagi. Aku masih ingat betul bagaimana sebelumnya mereka memohon sambil menangis darah kepadaku untuk terlibat dalam produksi besar ini. Tak heran memang, karena mereka baru saja mentransfer sejumlah besar uang tutup mulut ke rekeningku. Dasar licik! Mereka bahkan tetap memakai ide ceritaku dan merevisinya dengan kelihaian tangan iblis Evelyn.
Untuk apa memperkerjakan orang seperti itu hanya untuk menjadi pecundang? Atau jangan-jangan mereka juga sudah menggilir tubuhnya sama seperti rumor yang aku dengar di Amsterdam sebelumnya.
Mereka adalah seorang aktor yang terkenal dengan permainan kotor mereka. Si lelaki adalah seorang pelobi ulun dan wanitanya adalah seorang penggoda. Entah sudah beberapa orang yang mereka goda dan tiduri hanya untuk mendapatkan proyek besar dan beberapa penghargaan. AKu bahkan tidak yakin apakah kakakmu Tristan benar-benar bersih dan tidak pernah bermain dengannya.
Mendengarnya saja aku sudah merasa muak dan geli. Entah apa benar Tristan telah melakukan itu atau tidak. Namun bisa kupastikan jika Tristan sendiri yang mengungkapkan hal bodoh itu depanku, bahwa ia tergoda dengan tubuh seorang wanita maka akan aku pastikan bahwa aku sendiri yang akan membunuhnya bukan wanita jalang itu.
Dari apa yang aku dengar, Tristan memiliki sebuah brankas pribadi di salah satu bank di Indonesia. Ia pernah bercerita bahwa ia menyimpan segalanya di sana. Mungkin kau bisa memeriksanya. Jika kau memang adik dari Tristan, maka hanya kaulah yang dapat membuka kunci dari brankas itu.
Aku merasa sangat beruntung, karena sebelum kembali ke Indonesia aku sempat bertemu dengan seorang teman Tristan di tempat ia bekerja. Menurutnya hari terakhir ia melihat kakakku adalah tepat di malam ulang tahunku. Ia bahkan membantu Tristan untuk menyiapkan hadiah ulang tahunku dan mengirimnya ke Indonesia.
Indonesia? Tapi aku belum menerimanya sama sekali.
Mungkin karena kau tidak berada di tempatmu. Jadi Tristan mengirimnya kepada sahabat kami yang bekerja di salah satu bank swasta di Indonesia dan memintanya untuk menyimpan semua itu di brankas milik Tristan.
Apa boleh seperti itu? Bukankah brankas itu hanya bisa di akses oleh satu orang.
Ya, benar. Tapi Tristan membuatnya atas saran dia. Ialah yang dipercaya untuk membuatkannya untuk Tristan dan dia juga satu-satunya memiliki akses ke sana. Jika kau benar adik kandung Tristan maka hanya kau yang memiliki akses cadangan di lemari penyimpanan itu. Carilah dia, dan temukan kebenaran tentang kakakmu.
Sesuai instruksi ari Albert aku pun mulai mencarinya. Seseorang yang begitu dipercaya oleh Tristan. Entah siapakah dia, entah laki-laki atau perempuan, entah aku benar-benar bisa mempercayainya atau tidak. Bahkan Andreas y ang sering disebut pun bisa teganya berkhianat. Apalagi seorang yang tidak jelas asal-usulnya. Tapi aku benar-benar tidak memiliki pilihan. Hanya ini atau tidak ada kebenaran sama sekali.
*****
TRISTAN! Pada akhirnya aku menuruti perkataan Albert dan datang ke bank di mana brankas Tristan tersimpan. Aku benar-benar menuruti Albert kali ini, aku tidak mengatakan sepatah katapun, hanya nama Tristan yang terucap sebagai kata sandi yang dibutuhkan. Jangan mengatakan apapun atau kau akan dicurigai.
Kau? Ayo ikut denganku.
Seorang pemuda dengan setelan jas rapihnya datang menghampiriku begitu mendengar nama Tristan disebut. Tanpa basa-basi ia langsung menarik lenganku menuju suatu ruangan yang cukup gelap.
Aku masih bungkam, bahkan di saat semua lampu di ruangan itu menyala atas kode sandi yang dibuat berdasarkan analisis wajahku.
Bagaimana bisa?
Tidakkah kau diberi tahu, bahwa ruangan ini hanya bisa diakses olehmu saja. Tristan membuatkanya khusus dan berjanji akan menunjukkannya di hari ulang tahunmu minggu lalu. Namun nasib berkata lain, ia benar-benar tidak bisa menunjukkannya.
Siapa kau?
Orang yang diminta Tristan untuk menjagamu.
*Aku bukan bayangan seseorang yang hanya dilihat ketika orang itu tidak ada
Bullshit dengan kata teman, sahabat, adik, saudara atau sapaan manis lainnya
Karena kenyataannya, aku hanyalah orang yang tak pernah ada dalam ingatan seseorang*
Ia memulainya dengan memberikanku sebuah surat, surat yang tulisannya sangat tak asing untukku.
Dia adalah saudara kembarmu, namanya Evelyn. Tristan memutuskan untuk berangkat ke Amsterdam demi membawanya kembali. Namun ia telah kehilangan arah dan dibutakan oleh kecemburuan. Ia selalu menganggap bahwa kau berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Keluarga, orang tua, dan saudara. Bahkan mimpi dan cita-cita.
Kau mungkin tidak mengingatnya karena pamanmu telah mengadopsinya sejak ia masih bayi. Tidak heran jika kau sama sekali tidak tahu bahwa kalian bersaudara. Kalian bahkan tidak kembar identik. Tulisan itu, pekerjaan kalian, semua itu ia lakukan hanya untuk mengalahkanmu. Ia ingin menggantikan posisimu dan mendapatkan segala jerih payah Tristan. Karena itu ia membunuhnya dan menciptakan kesalah pahaman kepada dirimu atas diri Tristan.
Ia tahu persis bahwa Tristan membawanya untuk kembali kepada kalian dan menjadi sebuah keluarga yang utuh, yang selalu ia rindukan. Namun sayang hatinya benar-benar telah mati setelah ayahnya yang membesarkannya selama ini menjualnya dan menjadikannya wanita murahan tanpa harga diri. Di dalam hatinya kini hanya tinggal dendam. Jadi,...
Aku akan memaafkannya. Dan semua peninggalan Tristan ini akan menjadi miliknya. Aku akan menghilang seakan aku tak pernah ada. Kalian salah jika berkata aku tak tahu. Aku tahu, dan sama seperti Tristan aku pun mencoba mencarinya selama ini. Kini, aku benar-benar ingin dia bahagia. Sampaikan salamku untuknya. Aku akan menantinya suatu saat nanti, jika kami memang ditakdirkan bersama.
Aku bisa menyadari sejak pertama kali aku masuk ke ruangan ini. Ada begitu banyak peledak. Waktuku tidak banyak, dan berhubung ruangan ini di pantau. Aku hanya ingin menyampaikan kalimat terakhirku.
Aku menyayangimu, entah bagaimana kau bisa mempercayainya. Tapi sungguh, aku hanya ingin kau bahagia. Biarkan aku yang terakhir, setelah ini jangan lagi hidup tanpa dendam Evelyn. Aku menyayangimu.
Dan begitulah kisah sepihak ini berakhir. Tanpa aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan membiarkannya selalu menjadi tanda tanya.