Tema: Saat Mimpi Berbenturan Dengan Realita
Judul : Kutabahkan Hati Ini
Deras hujan menyelimuti sekitaran desa, dentuman petir sekali dua menyambar bersautan dengan kilatan. Kucoba bangkit dari nyamannya selimut yang menutupi tubuhku. Semenjak semalam air hujan tak pernah henti untuk turun dari langit, seolah ia tau jika beberapa bulan ini desa kami sudah kekeringan. Bahkan ladang Bapakku pun sudah tidak lagi bisa dijadikan untuk bercocok tanam. Perekonomian keluarga kami mulai menurun semenjak beberapa bulan terakhir. Aku kasihan melihat Bapak yang sudah berumur lanjut harus menafkahi kami dengan banting tulang sebagai buruh diperkebunan pak RIKO yang merupakan juragan besar didesa kami. Langkahku terhenti saat sayup-sayup kudengar suara Ibu dan Bapak yang tengah berbicara serius didapur. Bukan maksud ingin menguping, namun isakkan tangis Ibu membuatku penasaran akan obrolan apa yang tengah mereka bincangkan.
“Bagaimana ini Mas, sudah berbulan-bulan lamanya PUTRI lulus SMA namun kita tidak kunjung menemukan jalan nya. Aku tau hati anakku itu ingin sekali berkuliah dikota. Namun mirisnya nasib kita membuat pendidikannya itu harus tergantung seperti ini. Hikkks hikkks.”pernyataan Ibu malah membuat hatiku semakin teriris. Benar sekali yang diucapkan Ibu, minimnya buku dan ilmu didesaku yang terisolir ini mengharuskan kami harus merantau untuk mencari ilmu.
“Apalah dayaku Bu, sudah berbulan-bulan mencari uang untuk melanjutkan pendidikan Putri namun juga tidak kunjung terkumpul. Semua usahaku seakan sia-sia saat harus membayar hutang. Andai dulu Bapak tidak sakit-sakitan pasti kita tidak akan dijerat lintah darat seperti saat ini!”air mata sudah membasahi pipiku, beratnya beban yang diterima Bapak dan Ibu membuatku memutuskan niat untuk melanjutkan pendidikan. Sudah bertahun-tahun aku terus menyusahkan kedua orangtua. Sekarang saatnya aku harus membantu bukan semakin menjadi beban mereka. Ku urungkan niat untuk mandi dan kembali kekamarku. Hujan semakin deras, petir pun bersautan. Kurapatkan selimut menutupi tubuh sembari menatap hujan lewat jendela. Mataku mulai redup tatkala air mata mulai habis ku tumpahkan, hanya sendu yang tersisa.
Kamis sore yang becek. Mendung masih menghiasi langit sore, sisa-sisa hujan tadi pagi. Setelah berpamitan dengan Ibu aku lansung menuju kemusholah tempat dimana anak-anak desa sudah menungguku untuk diajari mengaji. Aku sungguh memiliki cita-cita untuk menjadi guru agama dan bermimpi membangun sekolah agama didesa kami ini. Namun, hatiku kembali kecut saat mengingat kenyataan dihadapanku. Untuk melanjutkan kuliah saja aku tidak mampu apalagi harus membangun mimpi seperti itu. Lantunan ayat suci Alqur’an yang keluar dari para murid, membuatku tersenyum hangat. Hanya inilah aktivitas yang rutin kujalani setelah lulus SMA. Terkadang aku berfikir akankah keajaiban tuhan itu ada, aku sangat mengharapkannya. Bisa membangun desa adalah impianku sesungguhnya, semoga tuhan mengabulkan nya. Selesai sholat magrib aku memutuskan untuk pulang, karena memang jarak rumah dengan musholah agak jauh. Minimnya pencahayaan serta tranportasi harus membuatku berani pulang sendiri. Penduduk desa sangat kurang berinteraksi dimalam hari, sehingga sepanjang jalan aku tidak menemukan seorang pun yang berjalan. Suara jangkrik bersautan menambah dinginnya malam.
Dari arah berlawanan aku melihat jelas beberapa lelaki berdiri dipertigaan jalan. Tubuh mereka yang besar serta tato ditangan nya dapatku pastikan itu adalah preman desa yang sering diceritakan banyak warga, sudah beberapa kali pereman itu membuat kerusuhan didesa, selalu mabuk-mabukkan dan memalak setiap warga yang lewat. Kakiku seolah kaku saat salah satu dari mereka melihat keberadaan ku. Berjalan sempoyongan, aku melihat botol miras ditangan nya. Kuputuskan untuk kembali kemusholah berharap masih ada orang disana. Ingin sekali aku berteriak meminta tolong, namun lidahku seakan keluh untuk berucap. Aku terus berlari sekuat tenaga saat, mereka mulai berteriak menyuruhku berhenti. Dengan sedikit terisak aku menahan rasa sakit kakiku yang menginjak paku barusan. Aku akhirnya menemukan semak untuk bersembunyi dari mereka. Kaki ku seolah-olah sudah tidak mampu untuk berjalan, apalagi harus sampai kemusholah. Dengan membungkam mulutku sendiri, aku menggigil menahan nyeri di kakiku. Suara langkah mereka mulai mendekat.
Kulapaskan ayat-ayat suci didalam hati meminta perlindungan dari yang kuasa. Beberapa saat kemudian ditanganku jatuh seekor serangga yang membuatku refleks berteriak. Semakin terkejutnya aku sebuah tangan kekar membekap mulut dan menarik ku jauh dari semak itu. Aku mencoba melawan dan tangis ku semakin menjadi.
“Ya tuhan bantu hambamu ini!”tak hentinya aku meminta pertolongan dari sang illahi. Orang itu berhenti membengkapku, sekektika aku membalikkan tubuh. Sayup-sayup kulihat seorang lelaki jangkung, entah aku yang pendek atau memang lelaki itu yang terlalu tinggi sehingga aku harus mendongakkan kepala menatapnya.
“Ka-mu siapa?”dengan takut aku memberanikan diri untuk bertanya. Jelas saja dia bukan salah satu preman yang tadi mengejar ku, peci hitam yang bertengger di kepalanya membuatku tau dia orang yang baik.
“Kenalkan saya ANDI anak juragan Riko. Namamu siapa marih saya antarkan pulang? Tidak baik kamu pulang sendiri dalam kondisi seperti ini!”tanya lelaki itu.
“Nama saya Putri, anak bapak Joko mas!”mas Andi mengantarkan ku pulang sambil terus memapahku sepanjang jalan. Paku yang menancap kaki ku sudah dibantu dikeluarkannya.
“Kamu umur berapa dek?”tanya nya mulai akrab padaku.
“Putri umur 19 Mas, memangnya kenapa mas?”tanyaku. Mas Andi tampak sedikit berfikir dan kemudian tersenyum padaku. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya, sehingga akhirnya aku kembali bertanya.”Mas Andi kenapa senyum-senyum gitu?”ujar ku membuatnya menggeleng.
“Mas mau tanya dek, kamu udah bekerja? Atau mau melanjutkan kuliah?”tutur Mas Andi membuatku kembali ditampar kenyataan bahwa mimpiku tidak akan pernah terwujud. Melihat wajahku yang kian ditekuk. Mas Andi kembali bertanya. “Kenapa wajahnya ditekuk gitu? Apa Mas salah ngomong?”ujarnya. seketika aku menodongkakkan kepala menatapnya. Aku menggeleng dengan tersenyum kecut.
“Ngak kok Mas, cuman saja...”Akhirnya kuceritakan semuanya pada Mas Andi tanpa satupun kututupi. Mas Andi seolah paham ucapan ku, entah mengapa aku sangat leluasa berbicara dengannya padahal aku baru mengenalnya hari ini.
“Mas ada proyek untuk membangun desa kita ini. betul katamu Dek, pendidikan disini terlalu minim dan siapa lagi selain kita yang harus memajukan nya. Mas mau kamu menjadi moderator dalam proyek ini!”penjelasan Mas Andi membuatku melonggoh kaget. Aku kemudian tertawa setelah merasa Mas Andi tengah bercanda. “Ah Mas Andi bercanda Aja! Putri mana paham begituan! Kuliah aja ngga!”cengengesan. namun aku terdiam saat Mas Andi menatapku dengan serius.
“Mas lagi ngak bercanda kok Dek, Mas yakin kamu punya kemampuan itu. Kamu mau kan membantu mas? Kalau ngak sebagai balas budi saja, karena Mas sudah membantumu!”ucapan Mas Andi membuatku senang campur haru. Akhirnya ku setujui permintaan Mas Andi untuk ikut dalam proyeknya. Tidak lupa aku lansung meminta izin Ibu dan Bapak. Tak kusangka Tuhan mewujudkan mimpiku dengan cara seperti ini.
^THE END^