MARLINA, itu adalah nama ibuku. Terlalu banyak kisah yang bisa aku ceritakan mengenai ibuku. Darinya aku belajar bagaimana cara menghargai arti kata "cinta" yang sesungguhnya. dalam cerita kali ini aku ingin membagikan cerita tentang perpisahanku dengan cinta pertamaku MARLINA.
.
.
Pagi itu seperti hari-hari sebelumnya sebelum aku berangkat untuk bekerja mencari nafkah untuk istri dan anakku selalu kusempatkan untuk mampir terlebih dahulu ke rumah ibuku. Karena satu dan lain hal aku dan keluarga kecilku memutuskan untuk mencari rumah yg bisa kami sewa dekat dengan rumah ibuku. tepat pukul 07.00 WIB ku ketuk pintu rumah ibu ku.
tok...tok...tok Assalamu'alaikum panggilku dari luar rumah ibuku. beberapa saat kemudian terdengar suara ayah tiri ku menjawab dari dalam rumah Walaikumsalam sambil membuka pintu depan rumah dan mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumah. lalu aku bertanya kepada ayah tiri ku. Mamah mana pah?. Ada di kamar, dari tadi malam mamah kurang enak badan. jawab ayah tiriku. sontak aku bergegas menuju ke kamar ibuku dan melihat mama yang terbaring lemas di ranjangnya. Ibu ku memang sudah mengidap penyakit kelainan darah yg sudah di deritanya selama 10 tahun kebelakang. penyakit yang di derita ibuku mengharuskannya untuk mengkonsumsi obat seumur hidupnya. sambil duduk di pinggir kasur aku tanyakan kepada Ibuku. mamah udah minum obat?. Udah dek. tapi kok mamah masih terasa lemas ya... jawab ibuku dengan nada yg lirih. kulihat kotak kbat ibuku ternyata obatnya hanya cukup untuk 1 kali minum lagi. lalu ku bilang kepada ibuku. yaudah mamah bawa istirahat dulu ya. adek mau berangkat kerja dan sepulang kerja nanti adek mampir apotek untuk belu obat mamah yang sudah mau habis. iya dek, makasih ya... jawab ibuku.
.
.
Setelah pulang kerja aku kembali mengunjungi rumah ibuku untuk memberikan obat yang sudah kubeli di apotek sesuai dengan janji ku di pagi hari tadi. sesampai di rumah ibuku ayah tiriku dengan sigap membuka pintu rumah seraya berkata. dek mamah makin lemah. seketika sekujur tubuhku lemas. panik dan jantungku terasa berdetak kencang. langsung kusambangi ibu ku yang masih berada di tempat tidurnya sambil ku pegang tangannya dan berkata. Mah kita ke rumah sakit sekarang ya.
.
.
sesampainya di rumah sakit, ku hubungi kedua kakak kandungku dan memberitahukan ke mereka keadaan mamah. kami bersepakat untuk menjaga mamah secara bergantian di rumah sakit. malam ini giliran aku untuk menjaga ibu, dilanjutkan esok hari oleh kakak kandung ku yang pertama dan hari berikutnya kakak ku yang kedua.
.
.
Lalu Tiba lah hari itu. Hari dimana hatiku hancur. hari dimana untuk pertama kalinya aku merasakan patah hati yg teramat dalam.
Pada saat giliran aku untuk menjaga ibuku tiba, entah mengapa aku enggan untuk pergi ke kantor dan pagi-pagi sekali aku sudah tiba di rumah sakit tempat ibuku di rawat. Pagi itu aku bertemu dengan kakak kedua ku dan aku bertanya kepadanya. gimana keadaan mamah mas?, Kata dokter ada perkembangan ngga?. mamah ngga mau makan dek dari kemarin. coba di rayu untuk makan ya hari ini. Jawab kakak ku. tak lama berselang aku temui ibu ku yg masih terlihat lemas terbaring di ranjang rumah sakit. ku pegang tangannya yg saat ini terlihat keriput dan terasa dingin. sambil ku usap dan ku ciumi tangannya aku berkata dalam hati. tangan inilah yang dulu pernah membelaiku disaat aku ingin tertidur pulas. tangan ini lah yg dulu bergerak bebas gemulai indah dan bisa menenangkanku disaat aku sedang merasa sedih. tanpa terasa air mataku berlinang membayangkan kenangan-kenangan indah yg sudah aku lewati bersama mamah.
Tidak lama berselangaku lihat mata mamah terbuka. lalu aku berkata. mah sudah dari kemarin mamah belum makan. hari ini mamah makan ya biar ada tenaga dan cepat sehat. Cucu mamah udah nanyain loh tadi di rumah. Katanya mau main sepedah lagi sama nenek hehehe... terlihat senyum kecil dari bibir indah ibu ku seraya berkata. Iya dek mamah mau makan bubur aja. entah mengapa hal itu menjadi sedikit penghibur hatiku. aku merasa mamah memiliki semangat untuk bisa pulih seperti sedia kala. seketika aku beranjak dan bilang kepada ibuku. Oke mah adek keluar sebentar untuk cari bubur ya.
setelah beberapa saat aku dapat bubur yang mamah minta dan bergegas kembali ke ruangan rawat ibu ku. aku buka pintu ruangan dan ternyata ada dokter yang sedang memeriksa keadaan ibuku. pada saat aku mendekat ke ranjang tempat ibuku berbaring aku lihat mata ibuku kembali tertutup dan aku bertanya kepada dokter. Mamah kenapa dok?. dokter mengajakku untuk berbicara di luar ruangan rawat lalu berkata. Pak saat ini Ibu keadaannya menurun. Saran dari saya lebih baik ibu di pindah ruangannya ke ICU. karena peralatannya lebih lengkap disana. Saya harus minta persetujuan dari sanak keluarga sebelumnya. Tanpa berpikir panjang aku langsung menyetujuinya. Dengan sigap petugas rumah sakit memindahkan mamah ke ruang ICU seperti yang disarankan oleh dokter kepadaku.
Malam itu dadaku terasa sesak. Entah apa yang membuat air mataku tak tertahankan selalu menetes melewati pipiku. tepat pukul 05.00 WIB keesokan harinya aku dipanggil kembali oleh dokter untuk masuk ke dalan ruangannya. kabar itu tiba. Kabar yang sama sekali tidak ingin ku dengar. Kabar yg seakan menghujam jantungku berkali-kali. Dengan wajah sedih dokter mempersilahkan aku untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya dengan terpisahkan meja berwarna abu-abu dan beberapa dokumen diatasnya. Saat itu dokter mengabarkan kepadaku bahwa kita sudah berusaha semaksimal mungkin. semua peralatan dan obat yg bisa menunjang kesehatan mamah sudah diberikan. Namun kondisi mamah tidak juga membaik. Saat ini yg bisa kita lakukan hanya berdoa semoga yang maha kuasa memberikan jalan yg terbaik. seketika sekujur tubuhku terasa dingin, kaku dan tidak dapat bergerak. Tidak ada satu kata pun yg bisa aku ucapkan. hanya air mata yg tidak henti mengalir.
saat itu juga aku hubungi kedua kakakku dan istriku untuk segera ke rumah sakit dan menceritakan keadaan mamah saat ini.
pagi itu seketika menjadi pagi yang kelam bagi kami sekeluarga. betapa tidak, Ibu yg selama ini kuat menjaga kami akan pergi meninggalkan kami. kesedihan meliputi kami pada saat itu, melihat mamah yang semakin lemah bahkan untuk bernafas pun mamah terlihat sulit sekali. sesekali kami mendengar alat detak jantung rumah sakit yang berbunyi seolah-olah setiap bunyinya memberikan kami harapan untuk mamah pulih kembali. namun harapan tidaklah sesuai dengan kenyataan yang ada. Mamah semakin lemah. kupegang tangannya semakin dingin dan nafasnya pun semakin tidak beraturan.
kakak pertama ku saat itu berkata, sepertinya ini waktunya kita anak-anak mamah untuk mengucapkan kata-kata terakhir untuk mamah. kalimat itu semakin membuat perasaanku bergejolak tidak karuan. dadaku semakin sesak dibuatnya. sambil memandang kakak-kakak ku yang mendekat ke telinga mamah ingin sekali rasanya aku melihat mamah tersenyum untuk yang terakhir kalinya.
Giliranku mengucapkan kalimat perpisahan tiba. kudekatkan wajahku ke telinga sebelah kanan ibuku. aku berbisik dan mengucapkan. "Mah, kalo mamah mau pergi sekarang adek ikhlas mah. Nanti kita ketemu lagi disana ya mah. Adek janji bakal cari mamah. Nanti pada saatnya tiba kalo mamah ngga liat adek disana tolong cari adek ya mah. Adek sayang mamah".
Tidak lama berselang kami tuntun manah untuk mengucapkan Lailahailallah seraya alat deteksi jantung mamah menunjukkan sudah tidak ada dengut nadi yang terdeteksi. sontak tangis kami sekeluarga pecah mengiringi kepergian mamah yang kami cintai.
Semoga Mamah tenang disana dan kami bisa berkumpul lagi di akhirat kelak. sesungguhnya kematian hanya soal waktu. Kelak kita akan menyusul entah kapan waktunya.