‘Jika memang ini waktuku untuk mati, tolong biarkan aku mati saja. Jangan biarkan aku menjadi beban bagi orang lain’.
Seorang gadis baru saja mengucapkan keinginannya dalam hati dengan sungguh – sungguh. Gadis yang sedang terbaring diatas kasur itu hanya memandang kosong kearah langit – langit berwarna putih. Memikirkan betapa menyedihkan kondisinya saat ini. Dia tampak gelisah, dari tadi terus membalikkan badannya kekanan dan kekiri. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang menahan sakit, hal yang mencegahnya
untuk terlelap malam itu. Hingga saat tubuhnya benar – benar lelah, matanya akhirnya terpejam.
“Kau sudah sadar?” seorang pria bertanya dengan raut wajah penuh kecemasan.
Sementara wanita itu masih terdiam, dia berusaha untuk mengedipkan matanya sebagai jawaban. Kemudian tatapan mata itu beralih, mengamati sekeliling tempat itu. semakin dia melihatnya semakin asing tempat itu terasa.
“Apa kau tidak apa – apa? Aku sangat takut tadi” kalimat itu membuatnya melihat kearah pria disampingnya. Pria yang sedang duduk tepat disamping tempat tidurnya. “Kamu siapa?” kata – kata pertama yang diucapakan wanita itu setelah berhasil mengumpulkan tenaga untuk bicara.
“Kenapa kau begini?” kata sang pria, tampak jelas raut wajahnya yang telihat terkejut.
Raut wajah itu berubah setelah melihat wanita itu hanya diam menatapnya. “Jangan bercanda seperti ini, kau menakutiku” ucapnya merasa ketakutan. Lagi – lagi wanita itu tidak mengatakan apapun dan hanya diam menatapnya, seakan meyakinkan pria itu bahwa dia sedang serius saat ini.
“Ini aku Adrian! Kau tidak ingat aku?” melihat wanita itu menggeleng, Adrian langsung berlari meninggalkan ruangan itu. dia percaya ada sesuatu yang tidak beres dengan temannya saat ini
Tak berapa lama Adrian kembali keruangan itu bersama seorang dokter. Sang dokter
langsung memeriksa keadaan wanita itu. “Nay!” seorang pria tiba – tiba masuk keruangan dengan napas terengah – engah. Hal pertama yang dilakukannya begitu menemukan wanita itu adalah memeluknya. Namun tak sampai sepersekian detik Nayara langsung mendorong tubuhnya untuk menjauh.
“Kenapa Nay?” tanya pria itu, dia menempatkan kedua tangannya kewajah Nayara untuk melihatnya lebih dekat. “Apa ada yang sakit?” berusaha memastikan sendiri keadaan Nayara. Wanita itu menepis kedua tangannya, “Kamu siapa?” alisnya
mengernyit saat mengatakan itu, membuat pria itu heran dengan sikap Nayara saat ini.
“Ada yang perlu saya jelaskan” dokter menyela percakapan mereka. “Siapa wali nona ini?” dokter bertanya. “SAYA!” ucap kedua pria itu bersamaan, kemudian menatap tajam satu sama lain.
“Jadi siapa walinya?” dokter bertanya kembali. “Saya dok! Saya suaminya”
Keenan kembali menjawab. “Baiklah kalau begitu, bisa ikut saya sebentar” Keenan pergi keluar bersama dengan dokter. Sementara Nayara terlihat kebingungan saat ini ‘Ada apa ini? Bagaimana mungkin pria itu adalah suamiku? Dimana ini sebenarnya?’.
“Sepertinya isteri anda menderita hilang ingatan” ucap dokter. “Bagaimana..
bagaimana kondisi isteri saya? Apakah ini berbahaya?” tanya Keenan. “Kami belum bisa
memberi penjelasan lebih lanjut sampai kami selesai melakukan pemeriksaan secara
menyeluruh. Sementara lebih baik jangan terlalu memaksanya mengingat, untuk menghindari
stress yang berlebihan”.
Keenan melangkah keluar dari ruangan dokter dengan lemah, ‘kenapa jadi begini’. Pria itu terlihat sedih saat ini, namun ekspresi itu berubah menjadi
ekspresi kesal ketika dia berada didepan pintu kamar inap Nayara.
Isterinya terlihat dekat dengan pria lain, dia tidak suka. Dia membuka pintu itu, sengaja menimbulkan suara agar terdengar oleh keduanya. Saat berjalan mendekat dia merasa raut wajah isterinya terlihat berubah kesal, tapi dia memilih untuk mengabaikannya.
“Apa kau yang membawa Nayara kemari?” Tanya Keenan. “Ya” jawab Adrian singkat. Siapapun yang melihat pasti bisa merasakan bahwa kedua pria itu tidak saling menyukai, termasuk wanita yang sedang amnesia seperti Nayara.
“Terimakasih, sekarang kau boleh pergi”
Keenan berbicara dengan santai meskipun dia baru saja mengusir Adrian dari sana. Dia sadar, karena itu memang tujuannya.
“Aku pamit, jika ada sesuatu kau bisa menelponku” ucap Adrian kepada Nayara. Karena statusnya Adrian tidak bisa bertahan disana, tapi tak ada tanda – tanda bahwa dia menyerah saat melangkah keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Keenan. “Tidak tahu” jawab Nayara, yang dia tahu
dia hanya tertidur dan mendapati semua keadaan berbeda saat dia membuka mata. “Dokter bilang dia perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisimu. Jadi bisakah kita tinggal dirumah sakit untuk sementara?” Keenan terdengar sangat lembut dan berhati – hati saat berbicara dengan Nayara, seakan dia tahu isterinya tidak akan suka berada disana. Nayara mengangguk, tidak ada banyak pilihan yang wanita itu miliki saat ini. Tidak
ada satupun yang ia kenal, dia tidak tahu dia sedang berada dimana dan bahkan bagaimana dia bisa ada disana. Pilihannya cuma satu saat ini, mengikuti pria yang disebut suaminya.
Beberapa hari kemudian semua jenis pemeriksaan telah selesai dijalani oleh Nayara. Dia telah diperbolehkan pulang dan saat ini sedang berkemas dibantu oleh seorang perawat. Sementara, Keenan sedang berbicara dengan dokter diruangannya.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kami tidak menemukan sesuatu yang berbahaya pada isteri anda. Benturan yang dia alami mengganggu kerja beberapa saraf diotaknya membuatnya kehilangan ingatan 7 tahun terakhir. Tapi itu tidak akan mengakibatkan gangguang apapun pada kondisi fisiknya”
dokter menjelaskan kondisi Nayara pada Keenan.
“Itu kabar baik kan dok?” ucap Keenan, tidak yakin dengan reaksi yang harus dia berikan. Dokter menganggukan kepalanya kemudian kembali berbicara “Kabar buruknya, kami tidak bisa memprediksi kapan ingatannya akan kembali atau apakah ingatannya akan kembali”.
Keenan berjalan kembali menuju ruangan Nayara sambil terlihat murung. Dia terus memikirkan kata – kata yang dokter ucapkan tadi. Berhenti didepan pintu ruangan isterinya, menatapnya. ‘Apakah aku harus mulai dari awal lagi’ pikirnya, saat Nayara melihatnya dia langsung tersenyum dan melangkah masuk.
“Semua sudah beres?” tanya Keenan, “sudah” jawab Nayara. Tangan kiri pria itu menggenggam tas tangan berisi beberapa barang sang isteri, sementara tangan kanannya berusaha menggenggam tangan Nayara. Tapi Nayara tidak terbiasa dengan itu, dia menghindari tangan Keenan. Dalam kondisinya sekarang Keenan adalah orang asing, membuatnya tidak nyaman berpegangan tangan dengan orang asing.
***
Setelah keluar dari rumah sakit semuanya benar – benar berubah bagi Nayara. Rumah
yang ia tempati didalam ingatannya adalah sebuah rumah sederhana di Indonesia, tapi yang ia tempati setelah kembali dari rumah sakit adalah hunian mewah di Singapura.
Dirinya didalam ingatannya adalah gadis berusia 22 tahun yang sedang menderita Tuberkulosis 3, tapi dalam semalam dia berubah menjadi wanita berusia 29 tahun yang berprofesi sebagai seorang penulis fiksi.
Beberapa kali ia menatap bayangan dirinya dicermin, itu benar dirinya. Mata, hidung, mulut, wajah yang sama. hanya rambutnya lebih panjang dan ikal saat ini. Jika benar
yang dikatakan orang – orang bahwa dirinya menderita amnesia, itu artinya dia berhasil
sembuh dari penyakitnya saat itu. ‘Benarkah aku sudah sembuh?’ tanyanya pada dirinya
sendiri.
Sementara Nayara tenggelam dalam kebingungannya, penghuni lainnya dirumah itu merasakan hal yang berbeda. Keenan tenggelam dalam kesedihan saat ini. Belum lama sejak mereka berdua resmi menikah. Jangankan nuansa mesra pengantin baru, hubungan mereka bahkan lebih buruk dari saat pria itu sedang berusaha untuk mendapatkan hati Nayara dengan bermain peran sebagai teman.
Setidaknya saat itu Nayara mengenalnya dan terbuka padanya. Namun Nayara yang sekarang tidak mengenalnya sama sekali, hanya berbicara seadanya. Setiap hari yang dilakukan wanita itu adalah menghindar saat mereka sedang berada diruangan yang sama.
Keenan seringkali mendapati Nayara tertidur disofa depan televisi karena merasa tidak
nyaman satu kamar dengannya. Padahal Keenan tidak menuntut banyak dari wanita itu, hanya sosok hangat yang selalu memperhatikannya. Sesuatu yang membuat pria itu memilihnya sebagai pasangannya.
“Permisi” Nayara memanggil Keenan yang tengah sibuk dengan laptopnya. “Kenapa?” tanya Keenan, “mulai besok, saya ingin kembali bekerja dikantor. Saya bosan tiap
hari cuma diam dirumah, siapa tahu suasana dikantor bisa membantu saya mengingat
kembali” Nayara berbicara sambil terus berusaha menghindari tatapan mata pria itu.
Keenan yakin tidak pernah menceritakan tentang perusahaan penerbit tempat dia menjadi editor lepas di Singapura, tapi dia tahu siapa yang melakukannya. Adrian, kepala editor disana. Dia pasti sering menghubungi Nayara akhir – akhir ini. Dengan kata lain pria itu lebih sering berkomunikasi dengan isterinya dibanding dirinya, membuatnya kesal. Meskipun begitu dia tidak bisa menghalangi Nayara untuk kembali bekerja. Seperti kata dokter Nayara tidak boleh merasa stress.
“Baiklah jika kamu menginginkannya, tapi kamu tidak boleh sampai kelelahan” ucap Keenan, Nayara mengangguk, dia terlihat senang hingga Keenan dapat melihat senyuman diwajahnya. Sesuatu yang sudah lama tidak dia lihat.
***
Nayara merasa senang setelah mendapatkan izin dari Keenan. Dia tidak pernah membayangkan bisa mengunjungi salah satu perusahaan penerbitan terbesar di Singapura. Apalagi dia kesana sebagai salah satu editor, benar – benar seperti mimpi.
Disisi lain ada orang lain yang juga merasa senang dengan kedatangan Nayara kembali, Adrian. Tidak hanya karena dia bisa melihatnya lagi, tapi juga lebih banyak kesempatan untuk bersama dengannya. Sesuatu yang adil baginya, karena Adrian tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya sebelumnya. Saat dia berniat melakukannya wanita itu datang
ke Singapura dengan berstatus sebagai isteri orang.
Namun dia selalu merasa kalau Nayara memang lebih pantas bersamanya, menurut Adrian wanita itu lebih dekat dengannya. Kondisi Nayara saat ini membuatnya lebih yakin. Melihat wanita yang hilang ingatan itu lebih nyaman berada dekat dengannya dibandingkan dengan Keenan suaminya. Dia terus berusaha membuat Nayara merasa senang menghabiskan lebih banyak waktu dikantor.
Keadaan itu membuat Keenan semakin sedih. Tidak hanya karena kehilangan kesempatan untuk bisa lebih banyak bersama dengan isterinya, tapi juga karena melihat lebih banyak senyuman diwajah Nayara saat ia berada di kantor.
Ya, Keenan memang melihatnya sendiri. Ditengah – tengah kesibukannya dikantor, Keenan sering pergi kesana hanya untuk memastikan keadaan isterinya. Dia senang Nayara terlihat senang, tapi juga sedih karena pria lain yang ada didekatnya saat itu terjadi. Keenan yang hampir putus asa hanya bisa menyibukkan diri dengan pekerjaannya dikantor.
Suatu hari Nayara kembali menemui Keenan saat pria itu sedang sibuk dengan laptopnya. “Permisi” ucap Nayara, “Ya” jawab Keenan. “Hmm.. besok...” wanita itu bingung harus bicara apa sehingga dia memilih untuk menyodorkan sebuah kertas keatas meja kerja Keenan.
“Kamu ingin pergi ke konferensi itu?” tanya Keenan setelah melihat kearah kertas yang ditunjukkan isterinya. Nayara mengangguk, “Baiklah besok jam Sembilan pagi kita akan pergi bersama” kata keenan lagi. “Bersama?” tanya Nayara, “Ya, aku juga akan kesana”
Keenan berbicara sambil memperlihatkan kertas yang sama persis dengan milik Nayara. “Baiklah kalau begitu” ucapnya sebelum pergi.
Keesokan paginya, jam 9.40 pagi. Keenan dan Nayara tiba ditempat konferensi, salah
satu ballroom di kawasan Upper Pickering Street. Tempat itu terlihat mewah bagi Nayara, bukan hanya karena desain dan dekorasi gedungnya, tapi juga penampilan orang – orang yang hadir di tempat itu. Para pria yang mengenakan setelan dan para wanita yang menggunakan baju mahal. Untung saja lemari baju Nayara yang sekarang memiliki banyak pilihan baju yang sesuai, jika itu lemari baju lamanya maka ia pasti akan berakhir dengan mengenakan baju sewaan saat ini.
Begitu masuk ke ruang konferensi wanita itu langsung terdiam ditempatnya berdiri. Ada begitu banyak orang disana, dia tak tahu harus kemana dan melakukan apa. Pikirannya benar – benar kosong hingga Keenan dapat menyadari hal itu.
“Hey, kenapa Nay? Ada yang salah?” mendengar kalimat itu membuat Nayara kembali sadar dan langsung menggeleng sebagai respon. Namun dengan raut wajah seperti itu Keenan pun pasti tahu bahwa dia tidak baik – baik saja. “Ada apa? Apa kamu tidak enak badan?” pria itu bertanya, “tidak, cuma…” - “Naya!”.
Adrian berjalan mendekat dari arah kerumunan orang di Ballroom itu. “Disini kamu rupanya. Ayo! Ada beberapa orang yang ingin aku kenalkan padamu” Adrian langsung mengajak Nayara pergi sesaat setelah dia menghampiri kedua orang itu.
Nayara yang sedang kebingungan secara spontan mengikuti pria itu pergi, sebelum sebuah tangan menghentikannya. “Kalau ada apa – apa langsung hubungi aku ya!” ucap Keenan sambil menggenggam tangannya. Wanita itu mengangguk sebelum melanjutkan langkahnya, pergi bersama Adrian.
Menghadiri sebuah Konferensi besar berarti memiliki kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang penting. Itulah yang sedang dilakukan Adrian saat ini, mengajak Nayara untuk menggunakan kesempatan ini. Bertukar kartu nama dan mengenal banyak
orang.
Awalnya Nayara merasa sangat bersemangat, dia terus mengikuti langkah Adrian. Dari satu orang ke orang lainnya, memperhatikan dan sesekali turut serta dalam perbincangan basa – basi mereka. Namun wanita itu akhirnya sampai pada batasnya, semakin lama otaknya tak bisa mengerti isi pembicaraan mereka. Langkah milikinya tak lagi bisa menyamai Adrian.
Saat dia tertinggal ditengah ruangan besar itu dia merasa seperti orang yang tersesat, tak bisa mengenali satupun wajah diantara keramaian. Dia mulai panik, berlari meninggalkan ruangan. Setelah keluar, gedung besar itu membuatnya tak bisa mengingat arah mana yang harus ia tuju. Dia mulai frustasi, terserah kemana kakinya akan membawanya asalkan tempat itu bisa membuatnya bernapas lebih baik.
Keenan berjalan dengan cepat. Kepalanya terus berputar kekanan dan kekiri, sementara matanya terus melihat keseluruh penjuru ruangan. Dia kehilangan sosok Nayara disana, padahal sebelumnya dia terus menjaga jarak aman agar tetap bisa melihat isterinya. Namun hanya sesaat dia terpaku dengan lawan bicaranya, wanita itu telah menghilang.
Dia terus mencari keseluruh ruangan, hingga melihat sesorang ditengah ruangan tersebut. Adrian, sedang sibuk berbicara dengan seorang pria paruh baya. Melihat pria itu hanya seorang diri, Keenan langsung berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Dia tahu Nayara pasti tidak berada diruangan itu tapi dia tidak tahu apakah isterinya baik – baik saja atau tidak, dan itu membuatnya cemas.
Sepanjang jalan dia terus berpikir, kemana wanita yang sedang hilang ingatan itu akan pergi disaat dia tidak tahu apapun tentang tempat ini. Tak satupun jawaban terlintas dibenaknya. Dia berhenti sejenak, mencoba untuk tenang dan berpikir. Jika itu Nayara yang dia kenal maka ada satu tempat yang selalu bisa membuatnya nyaman. Tanpa
membuang – buang waktu dia langsung berlari menuju tempat yang dia pikirkan.
Pria itu bisa sedikit lega ditengah napasnya yang terengah – engah. Setelah berlari kesana kemari akhirnya dia menemukannya, Nayara saat ini sedang berdiri sendiri diujung balkon. Keenan langsung menghampiri Nayara, semakin dekat dia menyadari bahwa wanita itu tidak baik – baik saja. Tubuhnya terlihat bergetar dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
“Nay! Kenapa? Kamu sakit?” ucapnya panik begitu melihatnya. Namun tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut wanita itu. Merasa terlalu khawatir Keenan langsung
mengangkat tubuh kecil Nayara ke sebuah bangku terdekat. Setelah wanita itu duduk barulah
dia membuka wajah yang sedari tadi tertutupi oleh tangannya. Nayara menatap Keenan, akhirnya dia menemukan wajah yang ia kenal.
“Dari mana saja? Bagaimana bisa kamu
meninggalkanku sendiri disini? Aku tidak tahu tempat ini! Aku tidak kenal siapapun! Aku.. aku.. aku sangat takut” tangis wanita itu pecah didalam dekapan Keenan. Pria itu berusaha menenangkannya, selama beberapa menit hanya membiarkan Nayara menangis.
“Maaf” ucap Keenan, Nayara melepaskan dirinya agar bisa melihat wajah pria itu. “Aku tidak tahu kalau kamu merasa ketakutan. Aku pikir karena bersama Adrian..” – “Bagaimana bisa kamu mempercayaakan aku padanya? Aku bahkan tidak mengenalnya” Nayara memotong kalimat Keenan.
Pria itu tidak mengira Nayara akan bicara seperti itu, “Kamu selalu tersenyum ditempat kerja, dan juga sangat bersemangat sebelum pergi kesini..” – “Karena ini pertama kalinya bagiku. Pertama kalinya aku bisa bekerja, pertama kalinya aku ikut konferensi, tentu saja aku sangat senang. Kamu tidak tahu bagaimana hidupku sebelumnya” ucap wanita itu sebelum kembali menangis. Keenan tak bisa berbicara lagi, ternyata semua yang ada didalam pikirannya selama ini salah. Kini dia hanya akan menunggu
gadis itu untuk lebih tenang.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Keenan pada wanita yang kini sudah berhenti menangis itu. Nayara mengangguk, “Apa hal yang kamu ingat terakhir kali?” pria itu kembali bertanya. “Aku sedang tertidur” jawab Nayara sebelum terdiam sejenak. Wajah itu terlihat sedikit murung, sementara matanya terlihat menerawang kedalam ingatannya.
“Kadang badanku terasa sangat panas dimalam hari, tapi setelah berkeringat tubuhku mulai bergetar hebat dengan tangan dan kaki sedingin es batu. Disiang hari suhu tubuhku normal tapi aku bahkan tidak bisa merasakan tenaga diseluruh tubuhku, seperti berjalan tanpa menginjak tanah. Aku ingin makan semua makanan yang enak tapi setiap mencium aromanya akan membuatku mual, entah berapa kali aku muntah. Berat badanku turun drastis hingga 20kg, benar – benar seperti tengkorak hidup. Semua itu benar – benar menyiksaku. Ketika aku ingin
tidur untuk melupakan semua rasa sakit, badanku teralu sakit hingga membuatku tetap terjaga. Aku ingin meniggalkan tubuhkku untuk lima menit saja jika mungkin, melepaskan rasa sakit itu. Pada akhirnya aku kelelahan, aku terlalu lelah. Mungkin sudah saatnya hidupku berakhir, jadi aku berharap agar tuhan mengambil nyawaku saat itu juga dan berhenti membuatku jadi beban bagi orang lain. Orang tuaku, saudara – saudaraku dan teman – temanku. Aku selalu menghindar saat menatap mata mereka, tatapan itu entah bagaimana melukaiku. Aku tahu mereka mengasihaniku, tapi itu membuatku mulai membenci diriku sendiri. Aku benci diriku yang terus berkata tidak apa – apa sambil tersenyum padahal tahu aku terlihat menyedihkan”. Nayara kembali menutup wajah dengan kedua tangannya. Entah mengingat semua itu atau menceritakannya, keduanya membuatnya tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang menekan dadanya, dia tak sanggup meneruskannya meskipun masih ada banyak hal yang bisa ia katakan.
“Jadi bagian itu yang kamu ingat. Itu memang masa – masa terberatmu, aku bisa
mengerti yang kamu rasakan saat ini” ucap Keenan setelah Nayara berhenti berbicara. “Kamu tahu tentang itu?” tanya wanita itu. “Tentu saja. Kamu yang ceritakan semuanya. Saat itu
kamu adalah mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi. Hanya tinggal beberapa bulan tersisa sebelum waktu sidang, sementara kamu tidak boleh cuti karena kamu adalah penerima beasiswa” Keenan mengatakan semua yang ia tahu.
“Sepertinya benar ya, bahwa aku sedang hilang ingatan. Kalau tidak kamu tidak mungkin tahu semua itu” kata – kata Keenan membuat wanita itu mulai mengerti kondisinya saat ini. “Dokter bilang kamu
kehilangan ingatan selama tujuh tahun terakhir, tapi aku tidak tahu persis apa saja yang kamu ingat” pria itu menjelaskan kembali.
“Lalu apa yang terjadi padaku selanjutnya?” Nayara kembali bertanya. “Kamu berhasil melaluinya, makanya kamu ada disini sekarang” pria itu berusaha meyakinkan isterinya. “Jadi, aku sembuh?” tanya Nayara, “Ya. Meskipun kamu tidak kembali kekondisi normal” jawab Keenan.
“Maksudnya?” – “Karena penyakit itu kamu
kehilangan fungsi satu paru – parumu. Tenang saja, kamu tetap bisa hidup dengan normal. Hanya saat melakukan aktivitas berat kamu akan mudah kelelahan” pria itu buru – buru menjelaskan sebelum isterinya mulai khawatir. “Kamu tahu semua itu, tapi kenapa kamu masih menikahiku?” ucap wanita itu, wajahnya kembali terlihat murung saat ini. Keenan sedikit tersenyum, “Mungkin karena semua masa sulit yang kamu alami, makanya kamu bisa mengerti keadaan pria yang penuh dengan trauma seperti diriku” ucapnya sambil mengelus kepala Nayara.
''Jadi apa kamu ingin kembali kedalam?'' tanya Keenan, Nayara menggelengkan kepalanya. ''Kalau begitu lebih baik kamu istirahat dirumah'' pasangan itu beranjak dari balkon untuk menuruni gedung, tepat saat mereka berpapasan dengan Adrian. ''Kau tidak apa - apa?'' tanya pria itu saat melihat wajah Nayara yang terlihat pucat dengan kedua mata yang sembab.
Keenan langsung melepaskan tangan Adrian yang memegang lengan Nayara. ''Perhatikan tanganmu'' ucap Keenan dengan nada penuh penekanan. Kedua pria itu terlihat melempar tatapan tajam satu sama lain.
''Aku mau pulang saja'' suara Nayara menghentikan ketegangan diantara kedua pria itu. ''Tapi.. Bukankah kau bilang sangat ingin ikut konferensi ini. Kenapa tiba - tiba ingin pulang? Sebentar lagi acaranya dimulai'' ucap Adrian berusaha mengajak wanita itu kembali.
''Dia bilang dia ingin pulang!'' Keenan merasa tidak senang dengan sikap Adrian yang terus memaksa isterinya. ''Apa dia yang memaksa mu?'' tanya Adrian. Tak ada lagi kesopanan saat dia menggunakan dagunya untuk menunjuk kearah Keenan.
''Jaga bicaramu!'' Keenan yang mulai emosi kini mencengkram kerah baju Adrian. ''Ini keinginanku'' Nayara kembali bersuara. Wanita yang terlihat lemah itu menggapai tangan Keenan yang masih mencengkram kerah baju Adrian, melepaskannya. Menurunkan tangan Keenan agar dia bisa melingkarkan tangannya disana, menggandengnya. ''Permisi'' ucapnya lemah seraya mengajak Keenan melanjutkan langkah mereka kembali.
***
Malam itu Nayara berdiri dibalkon rumahnya. Matanya menatap kearah langit malam Singapura, langit cerah yang memperlihatkan beberapa kerlip bintang dan bulan separuh. Angin malam yang bertiup membuatnya menyilangkan tangan didada untuk mengurangi rasa dingin, tapi tetap tak membuatnya beranjak dari tempat itu. Masih betah disana, entah memikirkan apa.
Lamunannya terhenti saat merasakan sentuhan halus ditubuhnya. Keenan datang dan menutupi tubuh Nayara dengan sehelai kain yang dia bawa. ''Apa yang sedang kamu pikirkan?'' tanya pria itu pada isterinya. ''Semuanya'' jawab Nayara masih menatap kearah langit. ''Sejak aku kembali dari rumah sakit semua yang ada disini terasa seperti mimpi. Aku takut jika tiba - tiba aku tersadar. Semuanya hilang dan aku harus kembali merasakan semua rasa sakit itu'' suara wanita itu semakin terasa berat pada setiap kalimat yang ia ucapkan.
Tangan Keenan menggapai pundak Nayara, menarik tubuh wanita itu kedalam dekapannya. ''Ini semua nyata. Tenanglah, saat kamu bangun besok pagi aku dan semua yang ada disini masih akan ada bersamamu'' ucap Keenan sambil mengusap lembut kepala isterinya. Wanita itu menghela napas cukup panjang. Air mata yang hampir mengalir menghilang seiring dengan ketenangan yang ia rasakan dalam pelukan Keenan.
***
“Hallo Nay. Ada apa?” – “Hallo, tidak ada apa – apa. Cuma..” – “Cuma kenapa?” – “Kamu bilang profesiku penulis, pasti ada laptop atau notebook yang kugunakan untuk bekerja kan? Boleh aku lihat?” – “Tentu saja boleh. Biasanya kamu selalu membawa tablet kemana – mana, tapi ada laptop putih lamamu yang selalu kamu simpan. Semuanya ada diruang kerjaku, laci kedua dibelakang meja kerja” – “Baiklah, terimakasih”.
Nayara kini duduk diruang tamu, sebuah laptop putih dan tablet ada tepat diatas meja didepannya. Wanita yang selama beberapa hari terakhir hanya menghabiskan waktunya dirumah sambil menonton film kembali merasa penasaran. Melihat kehidupannya saat ini membuatnya ingin tahu tentang apa saja yang telah dia lakukan selama tujuh tahun terakhir. Dia pikir bisa mengetahui banyak hal dari kedua benda itu.
Dia mengambil tablet itu, membuka semua folder nya satu – persatu. Dari benda itu dia mengetahui semua karya yang telah dia kerjakan selama ini. Semua tulisan, ilustrasi dan foto dari berbagai tempat didunia. Tak pernah menyangka dirinya bisa melakukan perjalanan keliling dunia, salah satu impiannya. Namun semua hal yang ada di
dalam tablet itu lebih terasa seperti orang lain, benar – benar tidak terhubung dengan
kehidupan dirinya yang terakhir ia ingat.
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa ‘mengetahui ini malah membuatku makin merasa ini semua tidak nyata’ pikirnya.
Pandangannya beralih pada laptop putih diatas meja, laptop yang sama dengan yang ia gunakan saat masih kuliah dulu.
“Bukankah artinya laptop ini sudah berumur lebih dari tujuh tahun, apa masih bisa menyala?” ucapnya sambil menekan tombol daya disana. Tampaknya laptop itu masih berfungsi dengan baik, karena benda persegi empat itu langsung menyala tanpa kendala sedikitpun.
Dia menelusuri setiap foldernya. Folder – folder lama seperti kumpulan foto dan video miliknya masih ada disana, akhirnya dia menemukan sesuatu yang ia ingat. Termasuk dokumen berisi quote – quote buatannya, dia tidak menyangka semua itu
akan membantunya menjadi seorang penulis. Selama ini dia selalu mengira akan bekerja di sebuah perusahaan setelah ia lulus, sebelum ia menyerah tentang hidup.
Kemudian dia menemukan sebuah file yang terlihat asing. File itu belum ada terakhir kali ia mengingatnya, membuatnya cukup penasaran untuk membacanya.
UNTUK DIRIKU YANG TERJATUH
Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Bahkan saat inipun aku masih mengingatnya. Rasa sakit yang kamu coba tahan setiap malam dan rasa malu yang coba kamu tutupi setiap hari.
Itu semua sulit, tapi apa yang akan kamu alami setelahnya juga
tidak mudah. Selama tiga tahun kedepan kamu akan merasakan depresi dan menangis setiap hari. Kamu tidak akan merasa hidup bahkan menyerah pada masa depanmu. Tapi kamu akan bertahan, karena suatu hari kamu akan mengerti kenapa kamu harus mengalami itu semua. Semua itu akan menuntunmu untuk menemukan takdirmu.
Menjelang usia ke- 25 kamu akan menyadari semua tentang dirimu, apa kelebihanmu
dan apa saja yang benar - benar kamu sukai. Mencintai dirimu sendiri, memikirkan tentang bagaimana kamu ingin menjalani hidupmu dengan caramu sendiri, bukan dengan cara orang lain.
Aku, dirimu dimasa depan akan mengatakan bahwa hidupmu disini sangatlah jauh lebih baik. Menjelang usia ke- 29 kamu sudah memiliki karir yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya dan kasih sayang yang hangat dari orang – orang disekitarmu. Bahkan pasangan hidup, sesuatu yang dulu tidak pernah kamu pikirkan.
Jika saja kamu bisa datang sendiri kesini, kamu akan tahu betapa bahagianya kita. Itulah mengapa, kamu harus bangkit kembali dan melangkah maju. Karena aku akan selalu menunggumu disini.
Dari dirimu dimasa depan.
Nayara berbaring diatas sofa, tengah memandangi langit – langit ruang itu. ‘Ada begitu
banyak hal yang terjadi selama tujuh tahun terakhir. Sayang sekali aku tak bisa
mengingatnya. Kira – kira bagaimana saat itu aku bisa bangkit?’ otak wanita itu mulai
dipenuhi dengan banyak pertanyaan saat ini.
Terlalu banyak ‘bagaimana’ disana. Bagaimana dia bisa menjadi penulis, bagaimana dia bisa bertemu Keenan, bagaimana dia bisa tinggal di Singapura. Hingga akhirnya semua pertanyaan itu membuatnya terlelap.
***
Seorang gadis perlahan membuka matanya. Jam 3.40 dini hari, semua terdengar sepi disana hingga ia hanya bisa menatap kembali langit – langit berwarna putih itu. Bukan kamar, hanya sebuah ruangan didepan televisi.
‘Apakah aku akan menghabiskan seluruh hidupku seperti ini?’ pikirnya. Dia memikirkan apa saja yang telah dia lakukan selama ini, untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya.
Benar, keluarga terutama kedua orang tuanya. Apa saja yang telah diberikan untuk orang tuanya selama ini? Bahkan menjadi sarjana satu – satunya dikeluargapun belum bisa ia lakukan.
‘Ini tidak adil! Kenapa aku menjadi menyedihkan seperti ini? Bukankah aku juga punya hak untuk bahagia? Aku tidak ingin
berakhir begini, tidak seperti ini. Kumohon! Setidaknya, biarkan aku lulus dan mempersembahkan gelar sarjanaku pada kedua orangtuaku. Hanya itu saja, setelah itu aku tidak akan minta apa – apa lagi’.
Rasa putus asa yang mengharap kematian kini berubah mengharap kesempatan. Entah bagaimana dalam sekejap bisa berubah. Tidak ada yang tahu, termasuk Nayara. Tapi setidaknya perubahan itu memberinya sedikit kekuatan, yaitu untuk mendapatkan kembali kehidupannya.