Bulan Desember dimana hujan masih senang senangnya bermain turun ke bumi,yang terkadang disertai oleh kilatan kilatan cahaya petir dan disusul oleh suara gumuruh guntur.
Hari mulai petang dimana Ocong si pocong sudah berdiri di bawah pohon pisang rimbun di tepi jalan pedesaan yang sering dilewati warga.
Terlihat pula Uti si wanita cantik legendaris yang tak lain adalah mbak kunti yang sudah duduk bersantai di dahan pohon nangka yang letaknya tak jauh dari Ocong berdiri.
"Uti oh Uti...aku boleh nongkrong di pohon nangka itu juga gak?" bujuk Ocong pada si Uti yang sedang bersenandung.
"Hihihiii gak boleh ini tempat Uti,pergi sana cari pohon nangka sendiri" jawab Uti yang langsung memalingkan wajahnya.
"Tapi Uti,pohon nangka gak akan nyaman kalo gak ada kamunya" bujuk Ocong sekali lagi.
"Yaudah,kamu di pohon pisang aja cocok banget,persis kaya jantung pisang warna putih" ejek Uti sambil tertawa ria.
Beberapa saat kemudian mereka saling diem dieman karena tak ada bahan pembicaraan setelah tolakan mentah mentah dari si Uti.
Pukul 10:00 malam,terlihat Udin dengan motor kuno nya pulang setelah seharian sibuk bekerja di tambah jam lembur hingga pukul 09:30 malam hari.
Hujan mulai membasahi jaket kulit Udin dan motornya,dia memacu kendaraan kunonya itu dengan kecepatan tinggi saat melewati jalan kampung yang disekitarnya berdiri pohon pohon besar dan rimbun itu.
Motor si Udin terus berusaha dengan sisa sisa tenaga di usia senjanya untuk memenuhi keinginan tuannya agar melaju lebih cepat,hujan mulai deras ketika Udin memacu motornya semakin kencang hingga terasa wajahnya seperti sedang ditimpa meteor,mengingat dirinya sedang tidak memakai helm.
"Aduh udah malem,pake hujan segala lagi,mana jalan ini sepi ditambah gak ada lampu jalan,coba kalo mau ada pemilu,pasti ada calon yang nyogok masyarakat pake lampu jalan" ucap Udin yang mulai merinding saat melewati jalan sepi itu.
"Uti ada motor tuh,kita kerjain yuk" ajak Ocong yang menengok ke arah Uti di atas pohon.
"Ayuk! Tapi gak asik lah,masa aku hantu yang rupawan ini muncul barengan sama pocong sih?" ucap Uti dengan centilnya.
"Iya kamu cantik dan rupawan,tapi yang lihat motornya kan aku dulu,jadi sekarang giliran aku" ucap Ocong yang melompat satu langkah ke depan.
"Hei hei masa kamu gak mau ngalah sama aku?" kata Uti yang mulai naik darah.
"Aish yaudah yaudah sana nongol,lagipula hujan hujan,aku malu kalo dilihat basah gini" ucap Ocong yang mundur dan bersembunyi di balik pohon pisang.
"Ok hiiiiihihiiiiii"
Uti pun terbang turun dari pohon ke jalanan,namun karena ada sesi perdebatan dengan si Ocong,dia tidak sadar bahwa di Udin alias sang pengendara motor sudah berada 20 KM melewati mereka.
"Loh?" ucap Uti yang hampa .
"Hihihii"
"Haha hihi haha hihi,seneng ya lihat Uti gatot alias gagal total dalam misi Uti mencari harga diri sebagai setan yang ditakuti di kampung ini!?" kata Uti yang merasa kesal.
Graa!!! Graa!!! Graa!!!
"Hihihi itu apa Ocong? Kok suaranya serem banget? Uti jadi merinding" ucap Uti yang kemudian terbang menuju ke pohon pisang tempat Ocong berdiri.
"Eala hantu kok bisa merinding segala?" ejek Ocong.
"Hihihi serem tau,kamu gak takut apa? Mana suaranya gede banget,makin keras lagi" ucap Uti.
"Enggak aku gak takut,itu kan pak Owo" jawab Ocong yang melirik ke arah benda besar berwarna hitam di pinggir jalan.
"Oh ternyata pak Owo,bikin takut aja" ucap Uti yang keluar dari persembunyiannya.
"Apa? Ada apa panggil panggil" kata seseorang dengan suara berat yang mendekat ke arah mereka berdua,dia yang tak lain dan tak bukan adalah pak Owo si genderuwo.
"Gak papa, by the way? Ngapain pak Owo kok sampe sini? Biasanya nyantai nyantai aja di pohon beringin ujung jalan?" tanya Ocong.
"Iya nih,gue lagi bingung mau pindah ke mana,tadi siang rumah gue ditebang manusia,mana pake kembang tujuh rupa sama jimat nya kakek tua yang sering komat kamit itu,jadi gue gak bisa lawan"ucap pak Owo yang berniat untuk curhat.
"Wih pak Owo keren banget,ngomongnya pake lo,gue,lo,gue aku ajah kalah hihihi" ucap Uti.
"Iya lah,pak Owo sering lihat sinetron di pos kamling perempatan,jadinya gak ketinggalan jaman deh" lanjut Ocong.
"Ya udahlah Gue mau nyari rumah dulu,hujan hujan dingin banget nih,lagipula loh berdua gak asik banget di ajak curhat" ucap pak Owo yang pergi meninggalkan mereka.
"Yah pergi,padahal mau belajar jadi keren hihihihi" ucap Uti sambil terbang kembali ke pohon nangknya.
"Ya udahlah mau gimana lagi,pak Owo udah gak mood buat curhat" jawab Ocong.
Di sisi lain,di bawah langit mendung nan dingin dan diatas rerimbunan pepohonan besar,telihat kepala dan jerohan yang terbang bak layang layang yang nekat menembus hujan,tak lain dan tak bukan itu adalah Iyem si keturunan kuyang yang sering berkeliaran mencari makan.
"Iyem iyem!! Turun lo!" ucap Miyem kembaran Iyem yang juga mewarisi ilmu Kuyang.
"Ngapain? Aku laper nih mbak" ucap Iyem yang melihat Miyem berteduh di bawah daun lebar pohon jati.
"Loh gak lihat hujan hujan nih? Gluduk gluduk jugak! Masih mau nekat?" nasihat Miyem.
"Gak papa kali,cuma basah dikit" jawab Iyem yang kembali terbang meninggalkan Miyem.
"Terserah deh,mau kesamber petir,kena gluduk, kepleset atau apalah,gue gak peduli,penting gue selamet" ucap Miyem yang mencoba melindungi diri dari hujan.
GLUDUK!!!!
GLUDUKK!!!
KRRTT!!!
JEDAR!!!!!
"ARGHHH!!!!"
Ggrrr!!! Grrr!!!
"Eh Ocong,kayaknya aku denger sesuatu deh" ucap Uti sambil clingak clinguk.
"Kayaknya pak Owo balik lagi deh,belum selesai kali curhatannya" jawab Ocong yang melompat ke bawah pohon nangka.
"Cong! Ocong" teriak pak Owo gembira.
"Apa pak Owo? Dapet rumahnya?"tanya Ocong.
"Iya,kok kelihatannya seneng banget" lanjut si Uti.
"Kagak,gue belum nemu rumah baru,tapi gue nemu jerohan bakar nih,lumayan lah" ucap pak Owo sambil membagikan jerohan bakar hangat yang dia bungkus pakai daun jati.
"Wih,makasih pak,repot repot banget bawain kita segala" ucap Ocong gembira.
"Iya nih,jarang jarang dapet makanan,biasnaya seminggu sekali nunggu tukang bubur ayam lewat sini" lanjut Uti yang mulai mencicipinya.
"Emm enak nih hihihi" ucap Uti gembira.
"Iya enak banget,matengnya pas lagi,jerohan apa ini pak Owo?" tanya Ocong setelah mencicipi satu potong jerohan bakar yang disuapkan oleh pak Owo.
"Udah diem makan aja" jawab pak Owo yang menikmati hidangan tersebut.
Akhirnya malam itu,Uti,Ocong dan pak Owo merasa kenyang atas pesta jerohan bakar.
kata pak Owo
"Perut kenyang hatipun senang,walau belum punya rumah baru,HoHoHo!!!"
"Yem..iyem? Lo dimana? Iyem!?" ucap Miyem memanggil manggil Iyem
"Iyem!!!...woi Iyem!!"
"Yah gue udah gak punya kembaran lagi dong?"
"Bodo amat lah hihihihihi,cari makan dulu"
____TAMAT____