Awan hitam menggelayut manja di kolong langit yang menebarkan cahaya berkilat..
Perlahan percikan air seperti ditumpahkan dari langit yang menghitam itu. Gemericik airnya menuruni bumi dengan cepat tak terhalang. Mengetuk daun daun hingga berayun. Kemudian dilemparkan menuju tanah. Tak terkecuali sebuah danau yang berada di tengah kesunyian itupun tak luput dari guyuran air yang di tumpahkan sang langit.
Dedaunan yang melindungi keperawanan danau itu berguguran kemudian terbawa angin. Danau Hitam. Begitulah orang sekitar menyebut danau itu. Sebenarnya bukan karena air danau itu yang berwarna hitam. Namun bagi beberapa orang yang melihat aura dari danau itu memang hitam. Danau itu seperti di lindungi kekuatan roh halus yang haus akan darah. Maka tak seorangpun yang berani menginjakkan kaki di Danau Hitam itu kecuali orang orang dengan kekuatan "luar biasa".
Menurut penuturan masyarakat sekitar, Danau itu di kuasai seorang sakti yang dulu bertapa di tempat itu dan akhirnya abadi menghuni tempat itu, bersemayam di sebuah Pohon Beringin yang bagi siapapun yang melihat akan bergidik ngeri. Ketika malam hari tiba pohon beringin tua itu menciptakan suara suara aneh karena desiran angin. Bagi orang awam itu hanyalah suara wajar ketika pohon rindang yang tinggi tertiup angin.
Tidak halnya untuk Reka. Reka yang memiliki kemampuan melihat "dunia lain" seperti tak puas mengembara menyusuri gunung, lembah, hutan angker hanya untuk memuaskan jiwa petualangannya. Saat ini dia tengah di sibukkan mencari tau segala sesuatu yang menyangkut "Danau Hitam"
Reka adalah pemuda tampan berusia tak lebih dari 25 tahun. Dia lahir di ibukota namun jiwa petualang nya tak menghalangi statusnya "anak kota" menjelajah pelosok negerinya. Hingga kaki nya sekarang telah membawanya ke Pulau tuan rumah Danau Hitam.
Tak banyak masyarakat di pulau itu yang mau menceritakan seluk beluk Danau Hitam kepada pendatang baru seperti Reka. Akhirnya Reka memutuskan menemui sesepuh di sebuah pemukiman dalam Pulau tersebut.
Pagi pagi Reka sudah bertamu ke kediaman sesorang kakek tua yang tinggal sendirian di tempat itu.
"Selamat Pagi Kek.. Perkenalkan nama saya Reka. Saya berasal dari... "
"Apa tujuanmu kemari anak muda? " Belum sempat Reka selesai memperkenalkan diri kakek tua itu sudah bertanya kepada Reka.
Kakek tua itu melihat penampilan Reka dari kepala sampai kaki dan balik ke kepala lagi kemudian memalingkan muka nya. "Jangan terbawa nafsu untuk mencoba menjelajahi Danau Hitam itu" Tiba tiba kakek itu berbicara dan sontak mengagetkan Reka. Tentu saja dia kaget, bahkan dia belum mengutarakan keinginannya kepada kakek tua itu, tapi kenapa kakek itu sudah tau?
Reka bertanya dalam hati. "Oh ya..ya" Reka berbicara dalam hati seperti menarik sebuah kesimpulan. Kemudian Reka tersenyum kepada kakek tua itu.
"Kakek Yo, jangan salah paham dulu" Timpal Reka yang di balas dengan rasa terheran heran dari kakek tua yang di panggil nya Kakek Yo itu.
Darimana anak muda ini tau namanya. Orang orang desa ini tak tau nama itu karena dia memperkenalkan diri dengan nama Jie ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini. Dan tentu penduduk disana mengenalnya dengan nama Kakek Jie.
Seperti ketika Reka bertanya mengenai Danau Hitam orang orang menyarankan dia menemui kakek Jie. Yang sekarang telah berada di hadapannya.
"Tidak ada yang selamat setelah dari danau itu". Kakek itu mulai membuka diri untuk bercerita. " Aku hanya tidak mau makin banyak orang mati disana, dan itu pasti akan menimbulkan keramaian mengenai danau itu". Sang kakek bercerita sambil menatap awang awang.
"Dia sedang tidur dan biarkan dia tidur selamanya" Lanjutnya.
"Siapa yang Kakek Yo maksud? " Tanya Reka penuh rasa ingin tau.
"Jangan panggil aku dengan nama itu. Panggil aku dengan nama Jie. Kakek Yo menatap tajam kearah mata Reka. Reka semakin penasaran dengan kakek itu.
Mengapa sekian lama dia menyembunyikan jati diri nya. Mengubah nama nya dan sepertinya dia membenci nama itu. Belum terpecah rasa penasaran Reka tiba tiba kakek Jie tertawa. Tetap saja tawanya hanya menggaungkan suara tanpa ada ekspresi senang di matanya. Kosong.
"Pulanglah, anak muda. Tempat mu bukan disini." Dia mengusir Reka dengan terang terangan.
"Kakek, aku akan pulang. Tapi sebelum aku pergi ke Danau hitam aku tidak akan meninggalkan Pulau ini. Itu sudah menjadi tekadku" Imbuh Reka.
"Keras kepala"
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keinginanmu. Aku hanya ingin berpesan jangan sampai kamu keluar dari Danau itu setelah pukul 00.00. Dan jangan pergi kesana ketika bulan purnama. Itu juga kalau kamu tidak keras kepala". Kembali kakek melanjutkan bicaranya. " Atau kau akan menyesal seumur hidup"
Reka yang memang merasa cukup mempunyai kemampuan tak begitu kaget ataupun takut dengan apa yang di sampaikan kakek Jie. Selama petualangannya menyusuri tiap jengkal misteri di alam ini memang semuanya punya karakter masing masing. Dan di Danau Hitam ini dia menemukan sedikit agak berbeda.
Dia belum begitu mengetahui apa yang ada di sana dan apa yang akan terjadi jika dia melanggar nasehat dari Kakek Jie. Semua masih menjadi tanda tanya dalam benaknya.
Sehari telah berlalu dari saat Reka menemui kakek Jie. Reka masih membaca kondisi sekitar Danau Hitam. Membaca tata letaknya. Celah masuk kawasan Danau. Darimana dia mesti memulai petualangannya. Siang itu Reka nampak berada di sekitar Danau itu. Beberapa orang yang melihat hanya geleng geleng kepala sambil memandangi Reka dengan penuh iba.
"Anak muda itu begitu nekat, bukan begitu? " Dua orang melewati jalan tepat di samping Reka berdiri memandang ke arah danau. "Kamu benar sekali, mungkin dia tidak waras" Timpal lelaki yang berjalan beriringan dengannya.
Reka menengok kearah dua pria itu kemudian dia tersenyum. Dua pria itu langsung memalingkan wajahnya. Berpura pura seperti tidak membicarakan Reka.
"Paman paman ini apakah bersedia menemaniku bermalam di danau ini? " Tanya Reka setengah mengejek.
Kedua pria tadi langsung mempercepat langkahnya, membuat Reka tersenyum kecut dan merasa geli melihat tingkah orang orang tadi. Dia heran orang orang disini apa tidak pernah penasaran dengan Danau ini, pikirnya.
Hari telah petang dan kian mendekati malam. Reka masih di tempat yang sama sedari siang hingga saat ini. Udara makin terasa dingin disebabkan awan mendung masih betah berayun ayun diatas sana.
Akhir akhir pekan ini cuaca di Pulau itu memang selalu di lingkupi mendung hitam yang pasti akan berakhir menjadi hujan. Seperti saat hari pertama Reka datang ke pulau ini. Disambut dengan datangnya hujan. Hanya saja kali ini tidak di barengi dengan gelugur suara petir.
Sepertinya waktu yang tepat memasuki Danau itu. Aku sangat ingin tau ada apa di sana ketika malam tiba. Reka memutuskan untuk bermalam disana malam ini. Reka berjalan mendekat ke arah jalan setapak menuju danau.
Suara angin yang membuat ranting ranting pohon berderit tak menyurutkan langkahnya. Reka melangkah dengan mantap di iringi suara burung burung malam.
"Ah masih ada kehidupan disini. Aku tidak sendiri. Jadi buat apa takut. Tidak ada kata takut dalam hidupku" Reka berbicara sendiri. Tetapi dia merasa ada mata yang terus mengawasi pergerakannya sedari awal dia memasuki kawasan danau.
Ada suara langkah kaki mendekat kearahnya. Semakin dekat. Dekat. Reka menoleh kaearah suara. Kemudian disusul suara "Diam kau anak muda. Jangan kau halangi langkahku. Aku yang akan menaklukkan Danau Hitam ini, aku yang akan jadi pahlawan bukan anak ingusan macam kau". Seringai orang itu berlalu melewati Reka.
Ohh tampaknya ada juga orang pemberani yang masih mau menjamah danau ini. "Baiklah Paman.. Kita lihat apa yang akan terjadi nanti" Reka berbicara dalam hati.
Perjalanannya dilanjutkan. Hingga saat tiba di bibir danau Reka melihat pohon beringin tua seolah berayun ke kanan dan kekiri hingga menggugurkan daun daun nya. Makin lama makin terguncang. Seperti ada tenaga yang menggerakkan pohon besar itu.
Reka melihat dengan "kemampuannya". Matanya terbelalak kaget melihat sesosok kakek kakek yang tengah bersila dengan mata terpejam dan kepala yang sesekali menggeleng kekanan dan kekiri. Tidak salah lagi kakek kakek itu bukanlah manusia biasa. Dia sosok "halus" yang tak kasat mata. Tentu saja tidak semua orang bisa melihatnya.
Dibawah pohon itu Paman yang telah masuk ke kawasan danau itu terlebih dahulu terlihat berdiri menahan goncangan dari angin yang terus menerpa tubuhnya. Menahan badannya agar tidak tercebur ke dalam danau dingin itu. Kemudian dia langsung mengambil posisi bersila sambil merentangkan kedua tangannya. Seperti muncul cahaya merah muda panjang sekilas seperti pedang yang berkilau.
Tiba tiba dia mengarahkan cahaya merah muda itu ke arah batang pohon beringin tua itu. Sekali.. Dua kali.. Tiga kali dan ini hampir ke empat kalinya pria itu mencoba mengantamkan benda bersinar itu ke batang pohon beringin. Reka terus memperhatikan kejadian itu. Tak goyah sekalipun pohon beringin itu. Hanya tiupan anginnya yang makin kencang menerpa.
Hingga akhirnya pria itu terpental jauh terjungkal berkali kali dengan pedang bercahaya merah yang makin meredup. Pria itu masih tersadar kemudian bangun dari posisinya. Dia tertawa lantas kembali menyabetkan senjatanya yang masih diselimuti kekuatan meski itu redup.
Tak mampu melawan lagi pria itu benar benar terlempar jauh dari pohon beringin tua itu. Anehnya pria itu mengeluarkan asap hitam yang kemudian tersedot oleh kakek tua yang sedari tadi masih di posisi yang sama.
Malam makin larut, Reka masih terdiam tidak mampu berkata kata. Sepertinya Paman yang keras kepala itu mempunyai kekuatan yang lebih dari nya tapi dia telah lenyap oleh kekuatan hitam itu..
Lalu bagaimana denganku? Jiwa penakutnya hadir menguasai.
"Tidak, aku kesini tidak bermaksud membuat kekacauan. Aku hanya ingin tau kekuatan apa yang telah menguasai danau ini. Tidak lebih". Pungkirnya kemudian.
Dengan langkah yang mantap Reka mendekati pria yang sudah tak bernyawa itu. Angin kembali bertiup seperti memberi sambutan kepadanya. Entahlah Reka merasakan ada perasaan asing meliputinya. Reka mengambil pedang yang di tinggalkan pria mati itu kemudian menancapkannya ke tanah untuk berpegangan.
Tapi aneh, yang terjadi cahaya putih yang muncul dari pedang yang di pegangnya. Berbeda dengan cahaya merah yang tadi dilihatnya. Putih terang membuat danau itu seperti emas putih yang berkilauan di terpa cahaya. Sangat indah.
Keindahan yang selama ini tertutup aura hitam seperti tersibak oleh cahaya itu. Hingga akhirnya angin berhenti berhembus. Berganti rintikan hujan yang mulai turun. Suara air memecah danau. Dan kemudian.. Kakek tua membuka matanya melihat kilauan danau sepertinya dia tampak menyunggingkan senyumnya.
Reka yang sesaat terpejam karena silau cahaya itu kini memberanikan diri membuka matanya. Dan dia terkesiap melihat sosok di depannya. Orang tua itu, berdiri terbungkuk memegang pedang yang tertancap di tanah. "Akhirnya senjataku pulang diantar oleh orang yang benar" Tidak sembarangan orang yang mampu memegang pedang ini hingga mampu mengeluarkan cahaya putihnya.
Kau rupanya anak muda mampu menyentuh senjataku dengan cahaya putihmu". Terbentuk senyum dari bibir keriputnya. Reka masih tampak bingung. Dia tidak merasa membawa pedang itu dia hanya menyentuhnya hingga terbentuk cahaya putih itu. Ah sudahlah, pikirnya.
Kini semua sudah terbuka anak muda, indah bukan danau ini. Ratusan tahun aku menunggu semua nya terjadi. Dan sekarang sudah tiba saatnya aku menuju keabadiaan. Pergilah sebelum tengah malam menjeratmu abadi disini denganku.
Bawalah 5 lembar daun beringin ini dan sampaikan kepada Yo tua setelah dari sini. Reka masih mendengarkan titah kakek tua itu sambil terus berpikir. Apa hubungan kedua kakek ini.
"Baik kek.. "
Akhirnya Reka membuka suara.
Kemudian dia berjalan menuju pohon beringin dan mengambil daun seperti yang telah di perintahkan.
Bergegas dia meninggalkan Kakek tua itu berlari berkejaran dengan waktu yang makin sempit.
Hingga akhirnya dia tiba di kediaman kakek Yo. Kemudian dia mengetuk pintu beberapa kali. Ini sudah sangat larut malam, tapi dia harus menyampaikan daun itu. Kakek Yo terbelalak kaget melihat anak muda yang kemarin datang kini datang lagi dengan membawa daun beringin Danau Hitam.
Tak banyak kata Reka menyerahkan 5 lembar daun itu kepada kakek Yo. Kakek itu terkekeh kemudian keluar menatap langit malam ke arah Danau Hitam. Dia melihat ada cahaya putih menyelimuti disana. Dia membuka lembar demi lembar daun itu.
"Sudah saatnya. Terimakasih anak muda".
Reka masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Hingga kemudian kakek Yo memberikan satu lembar daun itu kepada Reka.
"Simpanlah Nak, ini akan berguna untuk petualanganmu berikutnya"
Kakek hanya berpesan. Tetaplah menjadi jiwa putih dimanapun kamu berada. Apapun yang menggodamu untuk berbuat serakah singkirkanlah. Kamu pantas untuk menjadi Ksatria Sejati" pesannya.
Kemudian Reka pamit pulang ke penginapannya untuk beristirahat.
Keesokan hari saat dia terbangun dia melihat daun beringin yang semalam dia bawa pulang telah berubah menjadi batu berbetuk oval dengan guratan daun berwarna putih susu di dalamnya.
Terdengar percakapan di luar penginapannya.
"Danau Hitam sudah dibuka. Ada seorang anak muda yang menyingkirkan aura gelap dari danau." Beberapa orang bercakap cakap.
"Wah pasti hebat sekali pemuda itu". Aku ingin bertemu dan sekedar mengucapkan terimakasih" Sahut yang lain yang kemudian di iya kan oleh semuanya.
"Reka yang sedari tadi mendengar percakapan itu berbicara pelan dari dalam kamarnya.
"Jadilah orang berjiwa bersih.. Maka kalian akan menyinari sekitar kalian dengan kebahagiaan"
Reka keluar penginapan dan beranjak pergi. Mengikuti kemana langkah kaki akan membawanya kemudian.
*****