Ini kejadian lima tahun lalu. Ketika Anita masih jadi pemandu kemping disalah satu tempat bumi perkemahan disalah satu kota yang cukup terkenal.
Anita adalah perempuan berusia 25 tahun kala itu. Dan tengah menjadi pemandu anak-anak SD yang tengah mengadakan kemping.
Tapi karena suatu keadaan, ayahnya menelponnya untuk segera pulang. Uminya mengalami anfal karena penyakit jantung yang dideritanya. Membuat gadis itu izin pergi meninggalkan acara yang dipandunya dengan meminta salah seorang kawannya menggantikannya.
Dengan terpaksa Anita harus menuruni kaki gunung Salak tempat mereka berkemah. Padahal saat itu, cuaca gerimis dan hampir maghrib pula.
Setelah ia mendapatkan tumpangan dari mang Sardi yang hanya bisa mengantarnya hingga perbatasan bumi perkemahan dengan warung terpencil penduduk sekitar, ia hanya bisa pasrah.
Segitupun masih alhamdulillah, masih ada yang bersedia membawanya turun walaupun hanya sampai pertengahan kaki gunung saja.
Sayangnya, warung itu sudah tutup. Atau memang libur hingga tak terlihat tanda-tanda orang lain disekitarnya.
Hhhhhh...... Anita hanya mendengus agak kesal.
Ia hanya menengok kiri kanannya. Sepi dan gelap. Sedang kendaraan bermotor ojekpun tak kunjung melintas.
Ya iyalah. Lha wong suasana pukul 6 petang menjelang malam. Suara jangkrit dan hewan hutan membuat meremang bulu kuduk Anita.
Ia segera mengambil ponselnya dari tas ransel besar yang sedari tadi memeluk punggungnya. Mencari nama "Soni". Lalu menelponnya.
Alhamdulillah. Sinyal berpihak padanya.
"Son!!! Plis jemput teteh Son di warung mang Atang sekarang. Teteh sendirian, buruan tancap gas!"
Soni adalah salah seorang temannya yang bekerja sebagai pelayan diwarung bakso dijalan perbatasan perkampungan warga. Dan Soni sudah biasa ia mintai tolong ketika dalam keadaan darurat seperti ini.
Seperti biasa, Soni meluncur dengan cepat setelah Anita telepon. Tapi sayangnya, jalan menuju perbatasan bumi perkemahan itu tiadalah mulus semulus wajah kinclong para oppa Korea sana.
Jalan yang berbatu, terjal dan ditambah hari yang gelap membuat perjalanan Soni cukup tersendat. Menjadikan Anita harus ekstra sabar menunggu jemputannya itu.
Hhhhh..... Anita lagi-lagi mendengus kesal. Fikirannya kembali pada suara ayahnya yang terdengar khawatir ditelepon ketika mengabarkan uminya yang anfal dan kini masuk ruang IGD.
Anita terkejut melihat seorang bocah laki-laki. Tengah duduk dibawah pojokan warung. Dengan wajah menatap sendu padanya.
Mungkin usianya sekitar 13 tahunan. Dipunggungnya ada tas ransel hitam tapi tak sebesar ransel miliknya.
"A adex! Kamu juga nungguin ojek?" tanya Anita dengan suara sedikit keras. Agak gugup juga ia.
"Iya ka! Saya mau pulang." Suara bocah itu terdengar berat. Membuat Anita menghela nafas.
"Kamu dari atas juga? Koq sendirian?"
"Saya sama seperti kakak. Turun kesini diantar bang Komar naek motornya! Tadi jam 4, tapi sampe sekarang belum datang ojek. Hape saya mati kehabisan batere!"
Hhhhh..... Anita mengangguk
"Oh iya. Kaka kenal bang Komar! Kamu dari sekolah mana? Emang ga diantar guru pembimbing? Terus yang jemput mana?... Bahaya lho, ditepi hutan sendirian begini. Khawatir ada babi hutan atau monyet turun cari makan!"
"Saya seperti kakak. Harus pulang kerumah segera karena mama sakit."
Anita menatap bocah lelaki itu dengan tatapan sedih. Ia seperti mendapatkan seorang teman yang senasib. Ia bisa merasakan perasaan bocah itu.
"Nama kamu siapa? Kaka namanya Anita. Tapi orang lebih suka manggil kaka dengan panggilan Ita. Tapi terserah sih, mau panggil apa. Hehehe...."
"Saya Wildan, ka. Makasih sudah peduli sama saya ka Ita. Saya ketakutan sendirian disini, ga da orang sama sekali."
"Iya, hehehe.... Kaka juga tadi takut juga sendirian. Untung ada Wildan, kita jadi bisa ngobrol ya!"
"Hehehe.... Saya senang deh, ngobrol sama kaka! Kaka orangnya asik ya?! Pasti kaka banyak temannya ya?"
"Hehehe.... kamu juga asik orangnya. Kita ngobrolnya jadi nyambung gini. Betewe Wildan darimana? Sekolah kelas berapa? Hahaha... ka Ita suka sensus orang nih... kepoan orangnya hehehe...!"
"Hehehe... ga papa ka. Wildan suka. Ada yang baik juga perhatian sama Wildan,... selama ini banyak orang ga pedulian. Cuek meski saling bertatap mata. Cuma 'oh' aja jawaban orang-orang terkesan bodo amatan meskipun ditanya baik-baik!"
"Hehehe... gitulah zaman sekarang Wil! No body care .... Orang sibuk pastinya, hehehe... Beda ma aku, orangnya gesrek suka ngobrol sama siapa aja. Kalo bisa nyambung mah, orang gila juga aku ajak ngobrol dah... hahaha... "
"Iya ka! Jarang orang bisa cepet akrab. Aku juga, aslinya pendiem parah. Males ngobrol sama orang ga dikenal. Kuatir obrolannya ga enak, bikin orang bete... apalagi sama orang yang lebih tua dari aku."
"Hahaha... iya aku juga gitu! Tos dulu dong, biar ga slek! Hahaha...."
"Aku sedih! Teman2ku pada males ga mau maen sama aku. Kata mereka, aku orangnya datar. Ga asik juga ga gaul!"
"Sabar aja Wil, semua ada waktunya koq! Aku juga waktu masih seusia kamu cupu. Parah malahan norak banget! Sering dibully, juga dijauhi! Hhhh.... Seiring waktu, kita makin banyak tau. Makin bisa membawa diri gimana cara bergaul yg baik. Yang gak bikin kita terbawa arus negatif. InshaaAllah, semua akan indah pada waktunya! Hehehe...."
Anita dan Wildan pun terlibat dalam obrolan panjang dan seru. Hingga Anita lupa kalau hari makin malam dan gelap. Untungnya diwarung itu ada dua bohlam listrik masing-masing 5 watt menyala disetiap sudutnya.
Terdengar suara deru motor. Juga sorot lampu sen-nya menerangi area sekitar warung.
"Teh Itaaaa!!!!!!"
Suara Soni menggema. Membuat Anita bangkit dari duduknya.
"Soniiii... Ko lama banget sih?"
"Maaf, tadi dijalan mesin motor mati. Jadi Soni selah dulu agak lama!"
"Iya Soni... Hehehe ga papa! Untung teteh ada temen ngobrol. Bisa ya Soni bonceng kita berdua? Biarin deh, tas ransel besok pagi aja dibawanya. Yang penting, teteh sama Wildan turun dulu. Kita boti bonceng tiga ga papa ya? Teteh badannya lumayan kurus khan.. hehehe Wildan juga kecil tuh badannya!"
"Wildan? Mana anaknya?" tanya Soni agak bingung.
"Wildan!... Wildan?.. Lha??? Tadi disini duduk sama teteh koq!?!"
"Si teteh, tong hereuy ah! Nyingsieunan.... teu lucu teteh!"(Si teteh, jan becanda ah! Nakut2in....ga lucu teteh!)
"Si Soni. Rek naon teteh nyingsieunan sorangan! Nu gelo sugan!... Wildan!!!! Dagoan kedeung Son!"(Si soni. Ngapain teteh nakutin sendiri! Orang gila kalee!... Wildan!!!! Tunggu dulu Son!)
Anita berjalan mencari-cari Wildan. Nihil. Tak ada siapapun disitu.
Lha? Bocah tadi kemana? Bocah bernama Wildan yang tadi ngobrol dengan Anita kemana? Masih jelas suara barithonnya yang berat dan juga tawanya yang renyah bak keripik singkong. Terus.... tadi Anita ngobrol ngalor ngidul, sampai tertawa terbahak-bahak. Sekarang Wildannya seperti hilang ditelan bumi.
"Teteeeh.... Buruaaaan atuuuh!!! Rek nungguan naon deuiiii... Maghrib kolot iyeu teh!!!"( Teteeeh... Buruaaaaan doooong!!! Nunggu apa lagiiii.... Magrib uda lewat ini teh!!!)
"Son!!! Ari si Wildan kamana atuh? Karunya mun ditinggal sorangan. Da eta budak oge nungguan ojek titatadi, Son!"(Son!!! Si Wildan kemana dong ya? Kesian ditinggal sendirian. Anak itu dari tadi nunggu ojek, Son!)
"Bodo amatlah! Urang mah rek balik ayeuna!!! Si teteh mah eling teh, istighfar!!!! Sieun urang yeuh!!!"(Bomatlah! Aku mah mau pulang sekarang!!! Si teteh istighfar wooy!!!! Takut aku nih!!!)
Anita menarik nafasnya berkali-kali. Memuji kebesaran Allah dalam hati. Masih dengan hati penuh kotak teka-teki silang. Bertanya kemana si Wildan pergi.
Soni gusar. Mesin motornya mati lagi. Beberapa kali ia selah pun masih tak juga mau menyala.
"Hadeeeuh!!!!"
"Audzubillahiminassyaitonirrodziiim.... Bismillaahirrohmaninrrohiim...."
Anita mengaji. Membaca Al-Fatihah dengan suara bergetar. Dan alhamdulillah mesin motor Soni kembali menyala.
"Bismillahirrohmanirrohim!!!" Soni menggas motornya kencang. Tapi karena jalanan batu kerikil, bukannya melaju kencang tapi bak menarik gerobak penuh muatan. Membuat keringatnya bercucuran.
"Teh! Ngaji deui teh!!!"(Teh! Ngaji lagi teh!!!)
"....."
Anita merasakan hatinya seperti dipukul stik drum. Dag dig dug. Tak karuan.
Ternyata,... Wildan, bocah yang tadi asik ngobrol bersamanya.... mungkin bukan 'manusia'... mungkin 'sejenis makhluk astral yang tak kasat mata'.
Tapi iyakah? Anita masih tak percaya.
Bagaimana tidak? Bocah itu menjawab setiap pertanyaannya dengan candaan riang. Walaupun Anita belum sempat tau, umur dan alamatnya. Tapi Wildan adalah anak lelaki yang cukup menyenangkan sebagai teman ngobrolnya.
Lantas kemana Wildan kini? Kalau dia beneran manusia, kenapa pergi begitu saja? Dan tak mungkin khan? Sedang suasana sekitar gelap sunyi senyap.
Merinding bulu kuduk Anita.
"Teh, tong hicing wae atuh!!! Ngaji deuiiii..."(Teh, jan diem aje atuh!!! Ngaji lagiiii...)
Suara Soni menyadarkan lamunan Anita.
Surat Al-Fatihah berkali-kali meluncur dari bibir mungil Anita. Meski sering kali salah disetiap ayatnya karena kegugupan yang melanda, tapi Anita berusaha menghangatkan suasana malam itu yang terasa bagaikan malam panjang yang tak kunjung usai.
Jalan berbatu seperti tak ada ujungnya. Membuat Soni ikutan mengaji. Mengekor Anita dengan surat Al-Fatihahnya berkali-kali. Seolah hanya surat Al-Fatihah saja yang Soni dan Anita tahu.
Alhamdulillaah... Akhirnya, jalanan mulai beraspal dan Soni menarik gas motornya cepat.
"Lalaunan son! Bilih bisi urang cilaka!"(Pelan-pelan Son! Takut kita celaka!)
"Sieun teh! Hehehe..."(Takut teh! Hehehe...)
"Ngaji deui weh yuk!"(Ngaji lagi aja yuk!)
Mereka mengaji terus hingga sampai diwarung bakso tempat kerja Soni. Mengaji dan mengaji tak henti. Dengan wajah pucat pasi dan lutut gemetar.
Itu pengalaman Anita yang tak kan bisa ia lupakan seumur hidupnya. Bahkan hingga saat ini. Meski kini ia tak pernah lagi berkemah dan jadi anak gunung.
Dan ini pastinya jadi cerita lucu antara Anita dan teman-temannya apalagi ketika Anita bertemu Soni yang kini sudah bekerja di toko hape di kota.
SEKIAN