Di suatu Desa terpencil...
Terlihat rumah yang sangat sederhana disana. Bangunan yang didominasi kayu dan dindingnya adalah anyaman bambu, berlantai tanah. Namun seperti tak mengurangi rasa nyaman seorang gadis yang sedang menikmati sepotong senja di belakang rumah itu.
Gadis berparas ayu bernama Nika adalah anak sulung dari keluarga Pak Ranto sang pemilik rumah. Sering kali Nika menghabiskankan waktu sore nya duduk di belakang rumahnya hingga Adzan Maghrib menyadarkannya. Seringkali Nika dimarahi Bapaknya karena terlihat melamun disana.
"Nak, Jangan suka melamun di petang hari " Pak Ranto berulangkali mengingatkan anak gadisnya itu.
"Ngga pak, aku tidak melamun Pak ". Aku sedang menunggu ayam ayamku masuk kandang". Jawab Nika.
"Baiklah, cepat bawa ayam ayam itu masuk ke kandang nya. Ini sudah mau petang". Pak Ranto berpesan kepada anaknya seperti menghawatirkan sesuatu. Seringkali Pak Ranto menoleh ke arah timur rumahnya itu.
Nika hafal betul ketika dia duduk berada di belakang rumah nya pemandangan pertama yang bisa dia lihat ketika mata nya memandang ke arah timur adalah gubug gubug kecil yang berjejer. Itu bukanlah sehamparan sawah tapi itu adalah Tempat Pemakaman Umum di desanya.
Di desanya masih ada beberapa makam yang di bangun seperti gubug kecil untuk melindungi batu Nisannya. Mungkin untuk melindungi Jenazah yang terkubur di dalamnya biar tetap teduh dan nyaman. Begitulah yang sering Nika dengar dari cerita orang orang.
Hari makin gelap
Nika yang terbiasa menghitung ayam ayam nya yang sudah masuk kandang merasa ada ayam nya yang belum "ngandang "
"Pak, Nika pinjem lampu senter ya. Ayam nika ada yang belum masuk kandang" Nika meminta izin kepada bapaknya.
" Orasah di cari, Nak. Kamu itu lho ada ada aja, ayam aja kok mau di cari. Ini wis mau magrib". Cegah bapaknya.
"Yah pak kasian, ayam kan kalo udah sore kan mata nya rabun pak, pasti ngga bisa pulang". Tetep saja Nika ngeyel.
Tak mempedulikan bapak nya yang terus bicara Nika langsung saja pergi setelah menemukan senter yang dia cari.
Berjalan dia kebelakang rumah sambil berteriak.. "Kur kur kur.. " memanggil ayamnya. Dia melihat lihat ke semak semak di bawah pohon bambu. Mungkin mereka ada di sana. Tak juga ketemu si Ayam itu.
Bergerak dia kemudian ke arah timur mendekat ke pohon Randu yang tinggi lebat itu. Tak juga di temukan. Hmm kemana kira nya ayam itu?
"Ohh mungkin dia pulang ke kandang milik orang lain? Pikirnya. Biasanya ayam nya juga di ikuti ayam tetangga yang ikut pulang ke kandangnya. " Baiklah.. Tunggu ayamku, Nika menjemputmu segera... " Sambil tertawa sendiri Nika menyusuri jalan setapak di antara pepohonan rimbun.
Hari yang makin gelap tak dia pedulikan. Sudah biasa dia begini. Gumamnya dalam hati.
Tiba tiba dia merasa ada hal aneh di jalan yang biasa ia lewati itu. Tampaknya ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Nika menyalakan senternya. "Tidak ada siapa siapa" Nika mendengus. Bulu kuduk nya meremang.
"Cah Ayu... " Ini ada pisang untukmu. Ambillah. Nenek baru saja memanen dari kebun Nenek" Suara yang parau terdengar dari orang yang tiba tiba ada di depan nya. Membawakan sesisir pisang kuning keemasan yang menggoda.
Nika lemas tak dapat berkata kata. Kaget bercampur takut jadi satu. Dia tak pernah melihat Nenek itu sebelumnya. Siapa dia..
"Ambillah Nak.. Jangan ragu ragu.. "
Nika kemudian mengambil satu buah pisang itu. Kemudian dia merasa lemah dan makin lemah. Pandangannya kabur. Tapi dia masih bisa merasa.. Dia di tuntun seseorang berjalan ke arah yang dia sangat kenal. Tapi dia tak bisa berontak. Mulutnya seperti terkunci.
Dia terus berjalan kearah timur dari jalan yang dia lewati tadi. Kaki Nika seperti menginjak pecahan genteng. Kletuk.. Kletuk terdengar jelas di telinganya genteng pecah terinjak. Namun gelap yang dia lihat. Yang pasti dia melihat seorang nenek yang terus menuntun langkahnya..
Kembali dia merasakan kakinya menginjak kayu, menerobos ranting ranting yang menggores pipinya. "Sakit" Teriak Nika dalam hati. Dia ingin bertanya siapa nenek itu, mau di bawa kemana aku? Tapi hanya diam yang ada. Hening.
Kemudian suara parau itu terdengar lagi. "Kamu mencari ayam kamu yang hilang, cah Ayu?
Tanya nenek itu sambil menatap Nika tajam. Nika yang begitu ketakutan hanya mengangguk berkali kali.
"Hahaahaaahaa... " Nenek itu tertawa dengan suara yang menggema.
"Ayam mu ada di rumahku... " berjalanlah lebih cepat cah Ayu.... " Tatap nenek itu tajam kearah Nika.
Sementara di rumah Nika...
Bapak dan ibunya kebingungan mencari anak gadisnya. Bertanya mereka ke tetangga sekitar rumah nya tapi tak ada yang tau kemana Nika pergi.
Waktu berjalan makin larut malam..
Akhirnya keluarga Nika meminta bantuan para tetangga untuk mencari Nika. Ada yang janggal dirasakannya.
"Nika... Nika.. Nika.. " Suara suara orang orang di kampung nya menggema memenuhi ladang ladang luas itu.
Terlihat orang orang yang berembug hingga akhirnya mereka berpencar ke semua arah mencari Nika.
Tiba di dekat pemakaman bapak Nika kembali memanggil..
"Nika.. Nika.. Kembali Nak.. "
Nika yang terduduk di sebuah tempat melihat segerombolan orang orang yang mencarinya. Nika ingin berteriak. Tapi lidah nya serasa kaku. Mulutnya tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Huahaahaaahaa... Sebentar lagi kita akan sampai di Istana ku Cah Ayu.. Cepat bangun dari dudukmu. Ayo jalan.. " Kembali nenek itu berbicara.
Nika menangis tergugu.
Hati nya berteriak minta tolong tapi apa daya tak ada yang mendengar.
Kemudian dia terus berjalan. Nika kembali di tawari sesisir pisang dan dipaksa untuk mengambil satu buah. Nika meraih pisang pisang itu.
Dan...
Ternyata pisang itu adalah jari jari si Nenek..
Kini Nika tak bisa melepaskan tangan nya dari genggaman nenek itu.
Nenek itu tertawa terbahak bahak sambil terus berjalan menggandeng tangan Nika.
Dalam hati dia berkata. "Aku harus lepas dari jari jari Nenek ini. Bagaimana caranya... "
"Sebelum aku sampai ke rumah nenek ini.. Aku harus lepas dari genggamannya" Tekad Nika.
"Bapakkk.. Nika disini.. Tolong Nika.. " Nika melihat orang orang itu makin tampak jauh.
Kemudian terdengar suara memekakkan telinganya... Entah itu suara apa. Seperti lebah yang berdengung tapi itu lebih keras.. Suara itu terus mendekat.. Makin jelas. Nika semakin merasa takut.
Bahaya apalagi pikirnya..
Suara itu tampaknya mengganggu si Nenek. Terlihat kini dia melepas genggaman tangan Nika dan sibuk menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Nguuuuuuuuuuuuuuuunnngggg"
Suara itu terus terdengar kemudian nenek itu berteriak dan akhirnya menghilang.
"Gelap" Hanya itu yg bisa Nika rasakan. Tubuhnya lemas. Matanya terpejam. Dia telah sepenuhnya kehilangan kesadaran. Tak ada lagi Nenek yang menguasainya.
Sesaat kemudian Nika membuka matanya.. Berteriak lirih " Tolong... Nika mau pulang.. " Nika takut.. Bapaaak.." Nika terus menangis. Menengok ke kanan dan kekiri hanya daun daun yang terlihat.
Dimana aku? Nika kemudian menengok kebawah dan dia kaget. Nika berada di dahan sebatang pohon besar!
Makin kencang dia menangis hingga akhirnya matanya menyipit setengah tertutup terkena silau sinar senter dari arah bawah..
Dia kembali tak sadarkan diri. Saat orang orang meneriakkan namanya.
NIIKAAAAAA!!!!!!!