Kring kring kring....suara telepon rumah berbunyi, Tasya segera beranjak dari sofa lalu mendekati telepon tersebut dan menjawabnya.
☎️" Ha..." Ucapnya terpotong oleh sahabatnya Rani.
☎️" Kamu lama sekali mengangkat teleponku, sesibuk itukah kamu di rumah. Padahal ini kan hari Khamis dan seharusnya kamu libur dan tidak ada kerjaan" ucap Rani emosi.
☎️" Kenapa kamu diam? Ohhh rupanya sahabatku ini menyadari kesalahannya karena sudah membuat orang yang paling cantik ini menunggu, iya kan?" Ucapnya lagi.
☎️" Sudah kamu biacaranya? Dan langsung saja, kamu mau ngomong apa? Aku mau ke kamar lalu membaca novel ku."
☎️" Baiklah kalau begitu berarti nanti malam kamu tidak jadi ikut aku kan? hufhh Tidak apa-apa aku bisa berangkat sendiri" ucap Rani.
☎️" Eh eh eh aku ikut, dan kamu jemput aku ke rumah, oke" permintaan Tasya yang terdengar memaksa.
☎️"Hmm Iya iya aku jemput, saat aku sudah sampai kamu haris sudah siap kalau tidak aku tinggal" ancam Rani.
☎️" Iya bawel, nanti kamu langsung masuk saja ke rumah" ucap Tasya.
☎️" Hmm" telepon langsung ditutup.
" Ishhh langsung ditutup saja, apa-apaan dia.hmm Sebaiknya aku segera siap-siap agar dia tidak marah-marah" Tasya segera menuju ke kamarnya dan bersiap.
Setelah beberapa saat suara mobil terdengar memasuki gerbang.
Brem brem brem
" Cepat sekali dia sampai, untung aku sudah siap" tasya segera menuju ke ruang tamu. Terdengar suara orang memanggilnya.
" Sya...Tasya" orang itu adalah Rina yang sudah masuk ke rumah.
" Iya sebentar" Tasya menuruni tangga namun tiba-tiba lampu pandam.
"Lahh kenapa lampunya padam padahal aku sudah membayar tagihan listrik" guman Tasya lalu mengambil ponselnya untuk menerangi jalan.
" Rin..Rina" panggil Tasya.
" Iya, aku duduk di sofa. Kemarilah" jawab Rina.
Tak.. sreek tak sreek
" Tasya kamu Pagai alas kaki ganda ya? suaranya kok gitu, seperti memakai sandal jepit yang diseret dan memakai high heels " tanya Rina.
" Tidak aku memakai alas kaki yang sama kok, jangan bercanda dehh ini sudah malam." Jawab Tasya.
" Aku lagi tidak bercanda" ucap Rina.
" Aku kok jadi merinding ya" ucap Tasya.
Srek srek srek
" Nahh loh iyakan" ucap Rina.
" Iya kamu benar, suaranya berasal dari sana" tunjuk Tasya. Rina perlahan mendekati asal suara itu.
" Aku takut, jangan-jangan itu maling atau malah setan" Tasya ketakutan badannya gemetar.
" Diamlah" suruh Rina. Dan saat sudah semakin dekat dengan asal suara itu tiba-tiba lampu hidup, sontak mereka menjerit ketika melihat sosok yang ada di hadapannya.
"Aaaaaaaa, setan" ucap Rina dan Tasya bersamaan. Mereka lari terbirit-birit namun sosok itu terus mengejarnya. Dan tidak disangka sosok itu bersuara.
" Mana setan? mana setan?"Seketika mereka diam berhenti berlari lalu berbalik dan menatap lekat-lekat sosok dihadapannya itu.
" Bi Inah?" Tanya Tasya sambil menunjuk kearah bi Inah.
" Iya, saya bi inah. Nama saya tidak berubah." Ucap Bi Inah.
" Yaampun bibi, kenapa bibi seperti ini mengagetkan saja" ucap Rina.
" Seperi ini? Ohh bibi sedang perawatan nona" jawab bi inah.
" jangan bilang bibi memakai masker yang aku beri waktu itu?" tanya Tasya.
" Bener sekali nona anda, saya memakai masker yang nona berikan waktu itu." ucap bi Inah bangga.
" Tapi bi, itu untuk wajah kenapa dipakai ke telinga, tangan, sampai kaki. Kita mengira kalau bibi kan setan, mana warnanya hitam lagi." ucap Tasya.
" Hahh benarkah nona, apakah kulit bibi akan semakin jelek kalau salah menggunakannya? Bagaimana ini nona?" Tanya bibi panik.
" Bukan begitu bi, maskernya kan terbuang sia-sia. Kalau buat badan ada sendiri." Jawab Tasya.
" Hufhh syukurlah, tidak apa lah yang penting tidak menimbulkan masalah hehe" ucap Bi Inah cengengesan.
"Ohhh berarti suara orang berjalan menyeret itu bibi?" Tanya Rina.
" Iya itu saya, karena kaki saya lagi saya maskerin hehehe" jawab bi Inah dan mereka hanya bisa tepuk jidat.
" Ya sudah kalau begitu bi kami mau berangkat ya" ucap Tasya.
" Iya nona, hati-hati" ucap Bi Inah dan di balas anggukan oleh mereka berdua. Mereka lalu keluar rumah.
" Bagaimana kalau kita naik taksi saja? aku males menyetir nihh" ucap Rina.
" Terserah kau saja" jawab Tasya. Rina langsung memesan taksi online, beberapa saat kemudian taksi yang mereka pesan sampai.
" Pak ke jalan xxx ya" ucap Rina.
" Baiklah nona." ucap supir taksi itu lalu melajukan mobilnya.
Saat sudah hampir sampai Rina menepuk pundak sopir itu, namun anehnya supir itu malah berteriak.
" Aaaaa" tanpa sadar supir itu menginjak rem mobilnya untung saja jalanan sepi.
Ckittttt
Bruk
Rina dan Tasya menabarak kursi di depannya.
" Shhhh aduhh" Rina mengaduh.
"Shhh Pak kenapa pak?" Tanya tasya.
" Maaf nona, saya kaget" ucap sopir itu.
" ohh tidak apa-apa saya juga minta maaf, saya tidak bermaksud untuk mengejutkan bapak. saya tidak mengira kalau meyentuh pundak saja bisa begitu mengejutkan bapak" ucap Rina.
" Persoalannya saya belum terbiasa dengan pekerjaan saya menjadi sopir taksi dan Nona adalah pelangan pertama saya." Jelas sopir tersebut lalu melajukan mobilnya kembali.
" Ohh begitu, sebelumnya bapak kerja apa?"tanya Tasya.
" Sebelumnya saya bekerja menjadi sopir juga nona" jawabnya.
" Kan sama-sama sopirnya, pak. Mungkin yang membedakan cuma penumpangnya, jadi kenapa bapak sampai takut begitu?" Tanya Rina.
" Sebelumnya saya menjadi sopir mobil jenazah, nona" jawab sopir itu dengan tenang.
" Pantas saja terkejoet" guman mereka berdua.
" Kalau begitu SEMONGKO pak untuk menjalani rutinitas baru" ucap Tasya.
" SEMONGKO?" tanya Rina dan sopir itu bersamaan.
" Iya, SEMONGKO Semangat Sampai Bongko ( Bongko= titik darah penghabisan)" ucap Tasya semangat.
" Ahh iya terima kasih, nona" ucap sopir itu mengerti.
" Sama-sama, pak" ucap Tasya dengan bangganya.
Tidak terasa malam semakin larut dan mereka sudah sampai ke tempat yang mereka tuju. Sebuah rumah yang sederhana namun cantik dipandang walaupun tempatnya jauh dari penduduk.
" Terimakasih, pak" ucap Rina dan Tasya.
" Iya sama-sama" mobilpun menjauh dari pekarangan rumah itu.
" Baiklah ayo kita masuk, sudah lama aku tidak bersenang-senang di sini." Icap Tasya.
" Apa aku tidak salah dengar? baru tadi pagi kita meninggalkan rumah ini kau bilang lama? ishhh" ucap Rina sinis.
" Ck CK CK itu sudah lama tau, aku sudah lupa apa yang kita lakukan di tempat yang sepi ini" jawab Tasya.
" Ya ya ya terserah" Rina melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut.
" Yakk aku ditinggal" geram Tasya lalu menyusul sahabatnya itu.
Ceklek
Suara pintu terbuka terdengar menggema ke seluruh ruangan. suara binatang malam yang terdengar bersautan.
" Cepat nyalakan lampunya aku takut" ucap Tasya pelan.
" Iya sabar, lagi jalan nih" jawab Rina.
Ctek
" Nah kalau beginikan enak" Tasya berjalan lalu menduduki sofa dengan anggun.
" Ngapain duduk katanya mau bersenang-senang" ujar Rina.
" Hmmm kau saja lah nanti aku akan melihat hasil desain mainanku, aku lagi malas." Ucapnya lalu memejamkan mata dan bersandar di sandaran sofa.
" Tadi kau yang paling bersemangat tapi sekarang, hufhh baiklah jangan protes kalau hasilnya jelek" ujarnya lalu memasuki ruangan yang tepat lurus di depan sofa yang di duduki Tasya.
" Hmmm"
Setelah beberapa menit tercium bau seperti gosong, seketika Tasya langsung membuka matanya sambil berkata.
" Mainanku" lalu dia berjalan terburu-buru dan membuka pintu dengan sangat keras.
BRAKK
" Ehh ayam menggonggong " latah Rina.
Terlihatlah Rina bersama seseorang yang terlihat mengenaskan dengan mata keluar sebelah, muka tercabik-cabik, bibir mengelambir, tangan yang sepertinya mau putus dan beberapa jari kaki menghilang, serta sayatan yang memenuhi seluruh kulit, tidak lupa darah yang menggenang dan beberapa sudah hampir mengering.
" Yakk kau apakan mainanku, kenapa kau bakar hah?" Tanyanya pada Rina. Ya mainan yang dimaksud adalah seorang manusia yang sedang mereka modifikasi dengan sedemikian rupa.
" Kan aku sudah bilang kalau tidak suka jangan protes. Salah sendiri tidak mau ikut" jawabnya enteng sambil terus melanjutkan aksi membakar wajah mainan tersebut.
" Ck terserahlah lagian besok aku akan mencari mainan baru lagi, dan ohh ya itu matanya tidah terlihat bagus. Menyesal aku membunuh dia tadi pagi sekarang aku tidak mendengar suara merdunya hishh" ucap Tasya dan terlihat Rina sedang berusaha mencongkel mata yang sebelah menggunakan tangan kosong.
" Kau diamlah dan kembali ke tempatmu" ujarnya setelah berhasil mengeluarkan mata yang sebelah sambil mengambil pisau dan memegang pisau itu dengan posisi berdiri.
" Iya iya, kau selalu saja bawel" ujarnya lalu berjalan namun tasya tergelincir oleh darah yang menggenang dan terjatuh di dekat Rina yang sedang duduk itu. Alhasil matanya tertancap pisau hingga tembus ke belakang kepala, darah pun mengalir deras.
" Apa aku bilang, hishh kalau begini kan aku repot" ucap Rina dan Tasya pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Rina tersenyum lebar lalu beralih mendekati Tasya sambil mulai menguliti temannya itu perlahan tapi pasti.
"Hmm.. pajangan baru, baru kali ini aku menikmati kesenangan dan kesedihan secara bersamaan hufhh sangat melelahkan" ujar Rina.
💡TAMAT💡