Shyla, seorang gadis cantik yang sekarang sudah menginjak umur 16 tahun. Dia memikiki suara yang sangat indah. Kelebihan itu dia dapatkan dari mendiang ibunya. Ayahnya adalah seorang pengusaha di salah satu perushaaan terbesar di kota A. Perusahaan ayahnya menduduki urutan ke–10 dari seluruh dunia. Di sekolah, Shyla terkenal sebagai promadona sekolah yang selalu menjadi incaran para siswa laki-laki, tetapi dijauhi oleh para siswi perempuan. Hal itulah yang membuat dia menjadi gadis penyendiri.
Semua orang menganggap kehidupan Shyla sangatlah bahagia, dikelilingi oleh harta dan kekuasaan. Namun, keadaan sebenarnya tidak seindah itu. Semenjak kepergian ibunya, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda cantik beranak satu, bernama Hilda, sedangkan anak tunggalnya bernama Desy. Semenjak kehadiran Hilda dan Desy, Shyla tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
***
Ruangan kosong berwarna putih mengelilingi gadis cantik bergaun putih selutut dengan lengan pendek. Dia menengok ke kanan dan ke kiri dengan wajah bingung.
"Aku di mana?" tanya gadis itu. Saat dia menoleh ke belakang, tampak seorang wanita duduk membelakanginya sambil memainkan piano berwarna hitam. Wanita itu sama-sama mengenakan gaun putih seperti si gadis. Rambut panjang wanita tersebut dibiarkan terurai panjang.
Melodi yang dimainkan wanita itu terdengar samar di telinga sang gadis. Hal itu membuat sang gadis berjalan perlahan menghampiri wanita tersebut. Namun, baru saja dia melangkah beberapa langkah, nyanyian wanita itu mulai terdengar. Sang gadis menghentikan langkahnya, dia tidak ingin mengganggu wanita tersebut bernyanyi. Dari kejauhan sang gadis mendengarkan nyanyian merdu wanita tersebut.
“La ... la ... la ... la ....”
“Musim gugur telah tiba”
“Daun-daun kebencian sedang berguguran”
“Berjatuhan ke dalam lubang hitam”
“Hingga akhirnya hilang tak tersisa”
“Kebahagiaan tak didapat dalam satu malam”
“Melainkan dalam seribu malam”
“Bahagia bukan dari banyaknya harta dunia”
“Melainkan dari banyaknya kasih sayang”
“Kesedihan bukan dari banyaknya cobaan”
“Melainkan dari cara kita menghadapinya”
“Dan kini ... sepercik cahaya akan lahir ke dunia”
Wanita itu menghentikan nyanyiannya, tetapi melodi indah masih ia mainkan. Dia mengelu-elus perutnya yang agak buncit dengan tangan kirinya seraya tersenyum tulus penuh kasih sayang. Selang beberapa waktu, wanita tersebut kembali melanjutkan nyanyiannya.
“Dialah hati kecil yang kuat”
“Dialah cahaya yang menerangi kegelapan”
“Dialah warna bagi semua orang”
“Dialah anakku ... Shyla ....”
Wanita itu mengakhiri nyanyiannya, dia kembali mengelus-elus perutnya saraya tersenyum. Namun, tiba-tiba wanita itu mulai menghilang seperti debu yang terbawa tiupan angin. Sampai pada akhirnya dia mengucapkan kalimat terakhirnya, "Itulah namamu Sayang, Shyla." Kini wanita itu benar-benar menghilang. Sang gadis berlari, mengejar debu putih yang sudah terbang
tinggi di udara. Berharap bisa mengambil sebutir debu tersebut, tetapi usahanya tetap sia-sia.
Sang gadis berlutut seraya menangis, hingga akhirnya dia bangkit dan berjalan menuju piano yang tadi dimainkan wanita itu. Jari-jarinya mengelus lembut permukaan piano. Sangat lembut, seperti sutera. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk duduk di kursi kecil piano. Sang gadis memainkan jari-jari lentiknya, mulai mencari nada yang tepat untuk nyanyiannya. Tak butuh waktu lama, nada-nada tersebut saling menyatu, memunculkan lantunan melodi yang menenangkan jiwa. Sang gadis mulai membuka mulut mungilnya. Seketika suara merdu mulai terdengar.
“Langit biru tertutup kabut hitam”
“Mentari tertutup rembulan”
“Dunia menjadi gelap gulita”
“Bahkan hati kecil pun tersesat di dalamnya”
“Semuanya sirna tersapu ombak”
“Hingga menelan malaikat tak bersayap”
“Oh ... tak ada lagi harapan, semuanya lenyap dalam roda waktu yang terus berputar”
“Kehidupan ini penuh dengan drama”
“Hati manusia penuh dengan keserakahan”
“Ucapan penuh dengan kebohongan”
“Dunia penuh dengan tipu daya”
“Ah ... dunia telah hancur, kehidupan telah punah, tak ada lagi sepercik cahaya”
“Semuanya tenggelam dalam kegelapan”
Sang gadis mengakhiri nyanyiannya. Hatinya seketika remuk, sangat sakit. Keputusasaan kembali menyelimuti hati kecilnya. Serapuh inikah dia?
Tak terasa sebutir embun menetes dari kelopak matanya, membentuk sungai-sungai kecil di pipinya.
Tiba-tiba Sang gadis menggeleng pelan seraya menyeka air matanya. Jari-jari lentiknya kembali memainkan melodi yang indah, tetapi kali ini berbeda dari sebelumnya. Hingga akhirnya nyanyian kedua sang gadis mulai terdengar.
“Hai Gadis manis ...”
“Jangan sia-siakan air matamu ...”
“Biarkan mereka menjadi mutiara di laut dalam”
“Tertawa rianglah, meski hati mungilmu menangis”
“Tersenyunlah, meski batinmu tersakiti”
“Kau adalah gadis yang kuat”
“Jadilah cahaya dan lilin bagi mereka”
Sang gadis tiba-tiba menghentikan nyanyiannya. Dia tak kuasa menahan air mata yang kini semakin menderas. Sambil terisak dia melanjutkan nyanyiannya.
“Biarkan semuanya berjalan sesuai arahan Tuhan”
“Biarkan semuanya menjadi takdir”
“Percayalah ... cahaya akan datang ...”
“Kebahagiaan akan datang ....”
Sang gadis kembali mengakhiri nyanyiannya, kemudian dia bangkit lalu berjalan menjauh dari piano tersebut. Tidak jauh dia melangkah, tiba-tiba lantunan melodi kembali terdengar. Sang gadis menoleh, melihat siapa yang sedang memainkan piano tersebut. Tampak seorang lelaki tampan duduk membelakanginya. Tak lama, suara merdu khas sang lelaki itu mulai terdengar.
“Mentari pasti akan kembali dengan cahaya sihirnya”
“Kembali menumbuhkan benih-benih kehidupan”
“Dan Sang gadis tak perlu takut dengan kegelapan”
“Karena sekarang sudah ada cahaya di hadapannya ....”
Lelaki itu mengakhiri nyanyiannya, kemudian menoleh ke belakang, menatap lembut gadis yang tengah terpaku tak jauh darinya. Dia tersenyum lalu berkata, "Mulai sekarang aku adalah cahayamu, Shyla."
***
Shyla terbangun dari tidurnya dengan jangtung yang berdegub kencang tidak karuan.
"Mimpi apa aku tadi?" tanyanya dengan muka merah merona—tak percaya.
"Shyla! Cepat bangun lalu segera turun ke bawah! Jika tidak, saya akan nenguncimu dari luar!" seru seorang wanita dari luar kamar.
"I-iya Ma!" sahut Shyla cepat yang langsung melesat menuju kamar mandi.
***
"Kemana sih Si Anak Pembawa Sial itu?" tanya wanita itu kesal.
"Mungkin tidur lagi, Ma," sahut seorang gadis yang tengah sibuk memainkan ponsel pintarnya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Berani-beraninya dia malas-malasan!" ucap wanita itu semakin kesal.
Tiba-tiba Shyla datang sambil berlari kecil, dia langsung duduk di salah satu kursi meja makan seraya mengatur kembali nafasnya.
"Ngapain aja kamu?" bentak wanita itu.
"Maaf Ma, tadi—"
"Eh, Mas. Silahkan duduk." Seketika wanita itu menjadi ramah setelah kedatangan pria yang usianya hampir sama dengan darinya. Pria itu datang dengan setelan formalnya, tak lupa senyuman manis dia lontarkan. Kini pria itu sudah duduk di salah satu kursi meja makan.
Gadis yang tadi sibuk memainkan ponsel, tiba-tiba mematikan benda persegi empat itu lalu berkata dengan wajah memelas, "Pa, Desy mau ponsel baru."
"Memang ponselmu kenapa, Sayang?" tanya Pria itu lembut. Ya, dia adalah ayah kandung Shyla.
"Ponsel Desy sudah ketinggalan zaman. Malu Pa sama teman-teman Desy yang lain," rengek Desy yang hampir menangis.
"Ayolah, Mas. Kasihan Desy, dia takut dihina oleh teman-temannya," bujuk wanita yang berdiri di sebelah Papa. Ya, dia adalah Hilda.
"Hmm, baiklah. Kamu belilah ponsel yang kamu inginkan. Masalah biaya biar Papa yang tanggung," ujar Papa tersenyum.
"Yey! Makasih Papa!" seru Desy bahagia.
"Em ... Pa," panggil Shyla dengan nada gemetar.
Papa menoleh dengan tatapan sinis, "Apa?"
"Pa, Shyla juga mau ponsel baru. Ponsel Shyla sudah retak," ungkap Shyla.
"Cih! Itukan salahmu sendiri. Jangan buang-buang uang!" sela Hilda seraya memutar bola matanya.
"Tapi Ma, Desy kok bol—"
"Shyla! Ponselmu retak karena siapa? Karena dirimu sendiri, kan? Maka kamu harus terbiasa dengan hal itu," potong Papa dengan nada yang agak meninggi.
"Dengar kan? Jika kau ingin beli ponsel baru, maka belilah sendiri," ucap Hilda tersenyum miring.
Shyla hanya terdiam menunduk, selera makannya seketika menghilang. Dia hanya sarapan sedikit saja, mungkin hanya tiga sendok. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk pergi ke sekolah lebih awal. Tak apa jika dia tidak menaiki mobil keluarganya, dia masih bisa menaiki bus dengan uang jajannya sendiri.
***
Pelajaran berjalan dengan lancar, kini bel istirahat sudah berbunyi. Shyla memutuskan untuk pergi ke ruang musik. Ya, di sanalah tempat dia mengutarakan semua isi hatinya.
Ruang musik tampak kosong, tak ada siapapun di sana. Shyla berjalan menghampiri piano berwarna putih. Piano adalah alat musik kesukaannya dan juga kesukaan mendiang ibunya.
Shyla duduk di kursi piano, jari-jarinya mencari nada yang tepat untuk nyanyiannya, sedangkan otaknya mencari lirik-lirik lagu yang cocok dengan suasana hatinya. Selang beberapa menit, Shyla sudah menemukan nada yang tepat dan lirik yang pas. Mulut mungilnya mulai terbuka, seketika suara merdunya mulai terdengar.
“Oh ....”
“Tuhan ... ke manakah kakiku akan melangkah?”
“Aku bingung ... sangat bingung ...”
“Tanah tak ingin kakiku melangkah di atasnya”
“Langit menolak diriku di bawahnya”
“Penghuni bumi tak sudi diriku ada di dekatnya”
“Aku kesepian ... siapa yang ingin bersamaku?”
“Malaikatku telah pergi ke tempatmu”
“Pendekarku yang kuat telah pergi bersama wanita lain”
“Bintang-bintangku telah pergi menjauh”
“Tuhan ... berikanlah aku seseorang yang mau bersamaku”
“Kecantikan ini tidak kuinginkan”
“Suara indah ini juga tidak kuinginkan”
“Yang kuinginkan hanyalah lambaian kasih sayang”
“Bukan tamparan kebencian”
“Apakah itu sulit?”
"Itu tidaklah sulit, Shyla." Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki dari belakang Shyla.
Mendengar hal itu, Shyla langsung menoleh ke belakang. "Dave," ucap Shyla tak percaya. Ya, lelaki yang kini berada tak jauh di hadapannya adalah siswa laki-laki yang satu kelas dengannya. Sejak SMP, Shyla sudah mempunyai rasa kepada Dave, tetapi dia selalu bersembunyi dan enggan untuk mengutarakan isi hatinya.
Dave berjalan perlahan menghampiri Shyla.
'Deg, deg, deg'
Jantung Shyla berdegub kencang tak karuan.
"Apa boleh aku yang memainkan piano, dan kau yang menyanyi?" tanya Dave.
'Bukannya ini mirip dengan mimpiku semalam?' batin Shyla.
"Shyla?" Dave melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Shyla.
"Eh! Ten-tentu saja boleh." Shyla tersentak kaget, tetapi hal itu malah membuat Dave terkekeh.
"Tapi, em ... maaf jika suaraku kurang bagus," ucap Shyla mengalihkan topik.
Dave kembali terkekeh, "Kau adalah Shyla, semua orang tahu suaramu yang bagus seperti bidadari."
Mendengar ucapan Dave, seketika wajah Shyla menjadi merah merona. "Em, katanya kau mau bermain piano, kan? Baiklah. Aku yang akan menyanyi," sela Shyla tiba-tiba seraya berdiri, sedangkan Dave duduk di kursi piano.
"Kau siap?" tanya Dave. Shyla mengangguk pelan.
Dave mulai memainkan nada-nada indah dengan jarinya.
'Ini kan nada dari lagu ...' batin Shyla tak percaya. Tak ada pilihan lain, Shyla pun mulai bernyanyi.
“Bel berbunyi di tengah kota”
“Jarum jam menunjukkan pukul dua belas tengah malam”
“Kau yang mencariku diantara ribuan bintang dilangit malam”
“Melepaskan semua rasa dari lubuk hati terdalam”
Tiba-tiba Dave menyela, kali ini dialah yang bernyanyi.
“Hanya dirimulah yang dapat menyembuhkan luka”
'Ini bukan lirik dari lagu aslinya," batin Shyla. Entah kenapa Dave menyanyikan lirik yang salah tetapi lirik itu pas dengan nada yang sedang dimainkannya.
“Shyla sang gadis pemberani yang kesepian”
“Kini di hadapanmu ada sepercik cahaya”
“Melangkalah bersamaku mengelilingi dunia”
“Isilah hatiku yang hampa ini dengan nama indahmu”
“Jadikan hari-hariku yang kesepian dengan tawa”
“Diantara banyaknya wanita, hanya dirimulah yang berbeda”
Dave mengakhiri lagunya, ia juga berhenti memainkan piano. Kini dia menatap Shyla yang sedang berdiri di sampingnya. sedangkan wajah Shyla merah merona.
"Apa kau mau menjadi kekasihku, Shyla?" tanya Dave.
"Ha? Ka-kau tidak sedang bercanda, kan?" tanya Shyla tak percaya.
Dave terkekeh lalu berkata, "Untuk apa aku bercanda? Shyla, sejak SMP aku sudah menyukaimu, apalagi suara indahmu. Aku mengagumimu Shyla, lalu rasa kagum itu berubah menjadi cinta. Maukah kau menerimaku?"
Shyla terdiam, 'Apa? Sejak SMP Dave sudah menyukaiku? Kupikir cintaku bertepuk sebelah tangan tapi ternyata ... aku salah,' batinnya.
"Jadi ... apa keputusanmu?" tanya Dave.
"Em ... sebenarnya waktu SMP, aku juga sudah menyukaimu," ucap Shyla malu.
Dave tersenyum, "Jadi?"
Shyla mengangguk, "Iya, aku mau."
"Yang benar?" Dave langsung berdiri. Shyla mengangguk pelan. Tiba-tiba Dave menggendong Shyla.
"Eh?" Shyla terkejut.
"Terima kasih." Dave tersenyum bahagia.
Selesai~
***
Catatan : Lirik lagu yang ada di dalam cerita ini berasal dari penulis sendiri. Tidak ada campur tangan dari lagu milik siapapun. Semuanya bersih dan tidak melanggar hak cipta.