Sederet lampu mulai menyala ketika malam telah menyapa. Lagu disko yang diputar berulang memecah keheningan malam yang mulai terasa sunyi.
"Baiklah pemirsa, kembali lagi bersama saya Mak Whidie. Malam ini kita akan menyaksikan Fashion Show termegah di Desa Berkabut. Sebelum acara inti dimulai, kami akan perkenalkan seluruh peserta pada malam ini." Whidie mulai membuka acara resmi yang rutin diadakan setiap bulan untuk memberi gelar Supermodel Lokal yang diberikan secara bergilir kepada warga Desa Berkabut.
Prok... prok... prok...
Tepuk tangan riuh para penonton yang mulai berjajar rapi di kanan kiri lintasan catwalk terdengar bersautan.
"Baiklah, peserta pertama kita adalah seorang gadis cantik jelita dengan profesi mapan yang pernah digelutinya. Siapa dia? Mari kita sambut peserta model pertama kita, Dewi..."
Dewi berjalan dengan pantatnya yang meringsut maju di area lintasan catwalk. Sesekali ia menampakkan senyumnya yang mengerikan ke arah penonton yang berdesakan di kanan dan kiri nya.
"Hey, cepat sedikit lah. Lambat sekali kau!" umpat salah seorang penonton kepada Dewi yang sedang berpose aduhai dengan dres pendeknya.
"Iya, iya. Bawel!" Seketika Dewi kembali meringsut secepat kilat hingga bagian pantatnya terasa panas dan mengeluarkan asap. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan menyentuh bagian area pantat yang ia angkat sedikit. Dewi terkejut saat mendapati tangannya menyentuh kain dress di bagian pantatnya yang menjadi tipis dan bolong.
"Oops!" Dewi kembali meringsut mundur secepat kilat dan bersembunyi di balik pohon kamboja. Ia memutar otak mencari cara menutupi kain bagian pantatnya yang bolong.
"Baiklah, karena ada sedikit kendala dari peserta model pertama. Kami akan langsung memperkenalkan peserta kedua. Dia adalah seorang wanita cantik pendatang baru di Desa kita tercinta, Desa Berkabut. Kita panggil dia... Me...nik!" Teriak Whidie antusias memanggil peserta yang berasal dari warga baru di desa mereka.
Menik pun keluar dengan dress panjang ketat yang menampakkan setiap lekuk bagian tubuhnya.
"Wow, seksi cuy! Wit... cuit!" Penonton bersorak girang mengagumi keseksian Menik yang melompat-lompat genit di area catwalk.
"Eh, eh, awwww!" Menik yang terlalu besar kepala dengan pujian para penonton, akhirnya terjatuh karena tersandung tangan yang tiba-tiba menyembul di tengah lintasan catwalk. Tubuh Menik tak sanggup untuk berdiri karena dress panjang ketat yang terasa mengikat tubuhnya. Alhasil, ia hanya bisa bergerak menggeliat bak cacing kepanasan di atas lintasan catwalk.
Whidie sang MC mendekati menik dan menarik kasar tangan yang tiba-tiba menyembul itu. Si pemilik tangan pembawa sial itu pun berhasil naik ke atas permukaan listasan catwalk.
"Since? Jadi ini tangan kamu? Gimana sih, juri kok datengnya telat!" bentak Whidie kepada Since yang telat menghadiri acara Fashion Show di Desanya.
"Iya, maaf Mak Whid. Tadi aku masih ngobatin punggungku yang gak sembuh-sembuh." Since membalikkan badannya dan memperlihatkan punggungnya yang berlubang dan mengeluarkan belatung itu ke arah Whidie.
Lidah Whidie menjulur dan menjadi mual ketika melihat para belatung di punggung Since menyembul secara bersamaan dan melotot ke arahnya. "Ah, yaya yasudah. Sana segera duduk kita akan lanjut lagi." Since mengangguk dan segera menuju kursi juri yang sedang kosong tak berpenghuni.
"Heyyy! Tolong aku!" Menik yang sedari tadi menggeliat seperti cacing, berteriak minta tolong dan akhirnya Whidie dan para penonton lain membantu menegakkan kembali tubuh Menik. Menik dongkol, namun karena ia mengetahui bahwa yang menyebabkan kecelakaannya saat di catwalk tadi adalah Since sang juri, ia hanya menyunggingkan bibir hitamnya ke arah Since dan berpikir, "Pasti Juri itu akan milih aku sebagai pemenang karena merasa bersalah. Hahaha!" ujar Menik sombong dalam hatinya.
"Peserta ketiga masih seorang perempuan single tercantik di desa kita. Siapa dia? Kita sambut... Wati..."
Wati berjalan melenggang di area lintasan catwalk. Kedua tangannya memegang pinggang dan mengeluarkan suara andalannya. "Hihihihiii..." Wati tertawa cekikikan, sesekali ia mengibaskan rambut panjangnya yang kasar dan kusut.
"Aduh... aduh... nyangkut." Rambut Wati tersangkut pada dahan pohon kamboja dan membuat langkahnya tertarik kebelakang. Sontak hal tersebut mengundang gelak tawa para penonton dan juga Whidie yang kala itu sedang menjadi MC acara. "Eh, tolongin dong, eh MC tolongin dong. Nyengar-nyengir aja." Wati melirik tajam ke Arah Whidie yang terpingkal-pingkal dan seketika Whidie meminta bantuan para penonton untuk melepaskan rambut Wati yang tersangkut.
Seluruh penonton bekerja sama menarik rambut Wati yang tersangkut. Karena terlalu keras menarik, bukannya rambut Wati yang terlepas dari dahan kamboja malah rambut tersebut lepas dari kepalanya dan membuatnya botak sebelah. Wati mengerang kesakitan dan mengelus kepalanya yang halus mulus tanpa Rambut.
Melihat hal tersebut Whidie dan seluruh penonton kembali menertawakan Wati yang menjadi botak.
~~
"Eh, Mad denger suara musik disko gak sih?" tanya Udin kepada Somad yang menjadi kawan rondanya malam ini.
"Iya Din, denger kok. Tapi arahnya kok kayak dari sana ya?" Somad menunjuk sebuah pagar tembok yang membentuk persegi dan dikelilingi lampu neon.
"Kayaknya sih gitu. Kita cek yuk, takunya ada ABG lagi ngedugem sambil mabok." ujar Udin seraya mengarahkan senternya ke area pagar tembok tersebut.
"Yaudah yuk!" Somad menyetujui usulan Udin. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat yang mereka maksud.
Somad dan Udin sampai di depan pagar tembok tersebut. Mereka memasuki bagian dalam tempat itu karena bunyi musik disko semakin terdengar nyaring ketika mereka berdua mendekati tempat tersebut. Mereka berdua Berjalan di antara ratusan barisan gundukan tanah yang berjajar rapi. Mereka semakin berjalan masuk dan penasaran dengan asal suara musik disko tersebut.
"Adduh!" Somad memekik saat wajahnya membentur dahan kamboja. Tangannya mengusap sebelah wajahnya yang terasa sakit.
"Mad, Mad, ada ada aja deh. Pake kebentur segala. Eh, Mad ini apa ya?" Udin meraih sesuatu yang tergantung di dahan pohon kamboja dan menerka-nerka terhadap benda tersebut.
Somad yang merasa penasaran mengarahkan senter di tangannya ke arah dahan tersebut. "Din, kok kayak rambut ya, tapi kenapa bisa nyangkut sebanyak ini? Tapi kok kasar kayak ijuk gini ya?"
"Mad, jangan-jangan ini rambutnya..."
"Hush, diem Din. Jangan disebut, aku juga ngerti kok." Somad segera menyela pekataan Udin yang ia juga tahu maksudnya. "Yaudah kita cari dulu sumber suara musik disko itu. Urusan rambut kita bilang Pak RT besok." Somad berjalan mendahului Udin seraya mengarahkan senter ke segala penjuru pemakaman.
Tak jauh dari dahan pohon kamboja tadi, mereka berdua melihat sebuah layar ponsel yang menyala di atas salah satu gundukan tanah makam. Ponsel itu mengeluarkan bunyi musik disko yang didengar oleh Somad dan Udin. Mereka berdua lantas berjalan mendekati ponsel tersebut dan mengambilnya.
"Din, Ini bukannya ponsel mu yang hilang itu ya?" Somad membalik-balikkan ponsel tersebut dan meyakini bahwa itu ponsel si Udin.
"Iya nih tipe HP sama, bekas lecet sama, softcasenya juga sama ada gambar bebeb lisa Blackpink. Tapi kok walpapernya ganti foto kuburan sih?" Udin mengecek ponsel yang diyakini sebagai miliknya.
Mereka berdua mencoba membuka pasword ponsel tersebut namun selalu gagal. Padahal Udin ingat bahwa pasword ponselnya tidak pernah dirubah, yaitu 'MAIMUNAH' nama sang pacar.
Tiba-tiba ada yang menepuk punggung Udin dan Somad. "Bang, balikin ponselnya dong. Nanti Miku balikin lagi ke abang." Somad dan Udin berbalik seketika mendengar suara anak kecil yang berbicara padanya. Mereka berdua pun terperangah ketika melihat sosok anak kecil botak berwajah imut namun menyeramkan dengan bentuk perut yang membuncit. Sontak ponsel yang dipegang Udin pun terjatuh.
"Bang, pinjem dulu ya. Kalau selesai acara, Miku balikin." Miku dengan sigap mengambil ponsel Udin yang terjatuh. Tubuh kecilnya berbalik dan memperlihatkan segepok uang berwarna merah yang menyembul di balik saku belakang popok putih yang dikenakannya. Miku berjalan menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangan Udin dan Somad.
Udin dan Somad yang awalnya mematung, kini tubuh mereka seperti bisa digerakkan kembali ketika bayangan Miku mulai menghilang dari pandangan mereka. Udin dan Somad saling menatap dengan tubuh gemetar.
"Tu... tuyulllll!" Udin dan Somad berteriak hampir bersamaan. Mereka berdua lari kocar kacir meninggalkan area pemakanan setelah melihat penampakan tuyul yang muncul di hadapannya.
~~
"Haha, dasar manusia payah!" umpat Miku setelah menghilangkan wujudnya di hadapan Somad dan Udin.
"Miku, udah bisa mulai lagi gak nih Fashion Show nya?" tanya Whidie sambil berteriak
"Iya iya, dasar Mak Lampir cerewet. Oke guys, kita lanjut!" Miku kembali memutar dengan keras lagu disko dari ponsel Udin yang dicurinya. Tuyul imut itu menggoyangkan tubuh mungilnya mengikuti hentakan nada sehingga perut buncitnya ikut bergetar.
Acara Fashion Show pun dilanjutkan setelah terhenti akibat kedatangan Udin dan Somad.
Akhirnya pemenang Fashion Show di Desa Berkabut hari ini dimenangkan oleh Menik si Pocong, karena Since selaku juri tak enak hati telah membuatnya jatuh di atas lintasan catwalk. Menik dinobatkan menjadi Super Model Desa Berkabut bulan ini.
Sementara itu Dewi yang berdiri di hadapan penonton, memilih berdiri di dekat pohon kamboja guna menutupi roknya yang tertambal daun pisang. Ia harus menanggung malu dan rugi karena kostum suster yang dipakainya menjadi bolong di area pantat saat mengesot terlalu kencang.
Sedangkan Wati, ia duduk meringkuk dan menangis kencang di luar sudut pemakanan. Ia tak berani berdiri di hadapan para penonton karena merasa malu dengan kondisi kepalanya yang telah botak sebelah akibat insiden dengan dahan kamboja.
-TAMAT-
Spesial thank's to
@Whidie Ariesta (kak whid, aku gak punya gambar kupu-kupu kayak di nama kakak😭)
@Dewi Tyasari
@🍒Ma Wati🍒
@Sin Cera
@Cokelat Enak (MK) 🍁
@🈳Miku Nakano🈳 (miku, kakak gak punya emot yg item itu. Gakpapa ya 😭😭)
Semoga terhibur 😘😘😘