Apa kau pernah membayangkan seperti apa itu neraka? Orang mengatakan neraka itu sangat menyeramkan dan menakutkan bahkan mereka saja belum pernah melihatnya.
Lalu bagaimana jika kau bisa melihat neraka bawah??
----------------------------------------------------------
(Kisah ini merupakan bagian dari cerpen saia sebelumnya -pertemuan singkat- singkatnya ini novel versi cerpen)
-Kejadian 5 tahun yang lalu-
"Minggir kau anak kecil!!! Jangan halangi pekerjaan kami!!" Preman bertubuh kekar itu menendang anak laki-laki itu hingga terpental ke tembok.
"Heh! Kuat juga tubuhmu anak muda," Preman itu menyengir remeh pada anak yang masih sadar setelah terpental keras ke tembok.
"Uhhuk... Kalian.. Menghancurkan semuanya!.. Hiks.. Hiks.. " Anak itu berusaha berdiri dan mendekati reruntuhan bangunan yang tak lain adalah rumahnya, satu persatu benih air mata keluar dari pelupuk matanya.
"Ayo! Tugas kita sudah selesai! Tak perlu menunggu melihat drama anak ini," Preman itu berjalan pergi bersama puluhan anak buahnya.
Anak itu tetap berada disana,dia berusaha mencari sesuatu dalam reruntuhan itu, dengan sekuat tenaga mengangkat tembok-tembok yang hancur, setelah mengangkat beberapa batu tangisannya tiba-tiba pecah melihat jasad kedua orangtua nya tertindih reruntuhan dan sudah tak bernyawa. Dia berlari ke arah kedua orangtua nya dan memeluknya erat, air matanya tak kunjung berhenti dan terus mengalir deras dari pelupuk matanya.
"Hiks... Hiks... Aku hanya pergi membeli obat untuk kalian.. Hiks... Hiks.. Mengapa meninggalkan ku sendiri!? Kalian janji akan bersamaku selamanya!!!.. Hiks... Hiks... "
"Kasian sekali anak itu, dia merawat kedua orangtuanya yang sakit parah dan sekarang dia hanya hidup sebatang kara," Bisik salah satu warga yang menonton pertunjukan kejam itu.
"Mau bagaimana lagi? Tak ada yang bisa melakukan apa-apa, mereka itu preman paling menakutkan didesa ini, kasihan sekali," Bisik salah satu dari mereka lagi.
Perlahan warga disana meninggalkan anak itu sendirian bersama tangisannya.
"Tidak ada cara lain! Hanya ada satu cara!" Anak itu bangkit dan mulai mencari lagi dalam reruntuhan.
Tak lama setelah itu, dia menemukan sebuah buku yang dicarinya selama ini, aura gelap dan menyeramkan dari buku itu bahkan dapat dirasakan saat menyentuh buku terlarang itu, Di sampul buku itu tertulis "Buku terlarang: Pintu menuju neraka bawah"
Selama seminggu anak itu terus membaca buku itu tampa henti siang dan malam, memahami isi dari buku itu dan akhirnya dia berhasil menguasai metode membuka pintu menuju neraka bawah.
Setelah berhasil menguasainya, anak itu segera menuju lereng gunung dimana tak ada orang di sana.
Anak itu duduk bersila dikaki gunung dan mengatupkan kedua tangannya, mulutnya komat kamit membaca mantranya. Tepat setelah dia hampir menyelesaikan mantranya angin berhembus kuat, tak ada burung yang terbang disekitar sana sepertinya tak ada makhluk hidup yang ada disana kecuali anak itu dan tumbuhan (tumbuhan makhluk hidup kan?) anak itu menyelesaikan mantranya sebuah blackhole muncul di hadapan anak itu dan semakin besar dan membesar.
Anak itu membuka matanya dan menyadari bahwa dia berhasil.
"Sungguh? Itu berhasil? Haaa... Aku pasti seorang jenius, bisa menguasai ini dalam seminggu dan sekali percobaan langsung berhasil, Mwehehehe,"
"Plaakk!!" Seseorang tiba-tiba muncul dan memukul kepala anak itu hingga jatuh ke tanah.
"Segitu saja langsung sombong,"
"Ahh~siapa itu," Anak itu perlahan bangun sambil mengusap kepalanya yang sakit.
"Lumayan juga, anak seperti mu bisa membuka pintu ini," Pemuda gagah berpakaian kerajaan itu tersenyum kecil pada anak itu.
"Hmmm... Itu aneh, jika dalam cerita, bukannya setelah kepalaku dipukul akan ada benjolan yang tinggi??" Anak itu bertanya dengan wajah polos pada Pemuda itu.
"Sksksk, anak ini... " Pemuda itu menatap kaget + heran pada anak itu.
"Sudah lupakan itu! Mari masuk kedalam sana!" Pemuda itu berbalik dan berjalan menuju blackhole tersebut.
"Seenaknya saja! Aku yang bersusah-payah membuka pintu itu dan kau dengan mudah masuk kesana!?"
"Heleeh, aku ini sedang membantumu~ jika kau sendirian kau pasti sudah berteriak bahkan belum masuk kedalam blackhole itu,"
"Aku... Aku... Aku tak takut!!" Anak itu berusaha meyakinkan pemuda itu dengan wajah berani namun matanya jelas-jelas sudah bergetar sejak tadi.
"Baiklah~ kalau begitu aku akan pergi~" Pemuda itu berjalan pergi dengan santai sambil melipat lengan dibelakang kepala.
("Hng! Sial! Siapa yang berani masuk kedalam sana sendirian? Auranya saja sudah sangat menakutkan dan membuat tubuh merinding,")
"Tunggu!"
"Eoh? Ada apa hm?" Pemuda itu berbalik dan mendekat pada anak itu.
"Ehhem... Ehhem... Karena kau begitu memaksa, kalau begitu kau bisa masuk kesana bersamaku,"
"Hoho~baiklah kalau begitu, ayo~"
"Setidaknya beri tahu namamu!!" Anak itu berteriak sambil berlari mengejar pemuda yang sudah mendekati blackhole.
"Zayn, Pangeran kedua Kerajaan Alden,"
"Ohh~ Zayn, nama yang... "
"Indah sekali kan? Hohoho~"
".... Jelek!"
"Plaakk!! Jaga bicara mu itu! Nama ini adalah nama terbaik dikawasan ini!!!" Zayn memukul kepala anak itu dengan panci entah dari mana.
"Itu tidak adil! Dari mana kau mendapatkan panci itu hah!?"
"Aku selalu membawa nya kemanapun,hihi~ ternyata berguna juga,"
Mereka memasuki blackhole tersebut dan didepan mereka berdiri sebuah gerbang dengan aura menyeramkan yang begitu kuat, lentera disana terus bergoyang seakan tertiup angin ketakutan, sebuah tengkorak raksasa berada diatap gerbang itu seakan menyambut orang yang akan datang.
"Humph! Lihat kau bahkan sudah ketakutan,"
"Aku tidak takut!"
"Lalu ini apa hm?" Zayn mengangkat tangan anak itu, bulu-bulunya sudah berdiri dan tubuhnya bahkan sudah bergetar sejak tadi.
"Itu... Disini sedikit dingin," Anak itu memalingkan wajahnya karena malu.
"Hmm... Kamvret!!!! Tadi kau bilang namamu Zayn?!!! Tung.. Tunggu.. Bu.. Bukan... Bukankah kau sudah mati?! Aku bahkan sudah melihat kuburan mu!!" Anak itu mundur dengan cepat dan menjaga jarak dari Zayn tubuhnya menggigil dan wajahnya telah berubah menjadi biru dingin.
"Kalau aku mengatakan'iya' bagaimana hm?" Zayn mendekat pada anak itu dengan sangat cepat, dan dalam sekejap dia berdiri di hadapan anak itu.
"Kyaaa!!! Hantu!!!!!!"
"Ckckck, aku hanya ingin mengusir Laba-laba di pundakmu," Zayn menunduk dan menyentil Laba-laba itu pelan.
"Apa salah ku~~~" Laba-laba itu terpental hingga ke tembok.
"Sudahlah ayo masuk!" Zayn berjalan memasuki gerbang bertuliskan neraka bawah itu diikuti anak laki-laki yang kebingungan menatap Laba-laba tadi.
("Hii~ Laba-laba itu tadi berbicara kan?")
"Oh ya, kau belum menanyakan nama ku," Anak itu tiba-tiba memecah keheningan disaat memasuki gua kegelapan.
"Hm?.... Levi kan,"
"Kamvret!! Bagaimana kau tahu?! Tunggu kau itu kan hantu... Jadi... Apa kau mengawasi ku selama ini? Wah wah aku ini terkenal sekali~"
"Kau sabar, kau sabar," Zayn mengusap dadanya dengan wajah menahan amarah untuk memakan Levi.
"Hiaaaa!!! Apa itu!!" Setelah menelusuri gua cukup jauh, Levi tiba-tiba berteriak melihat sebuah tengkorak yang mengangkat kedua tangannya seakan menahan sesuatu.
"Hah?! Itu! Pendiri sekaligus penguasa Kerajaan Alden yang pertama!" Zayn tiba-tiba berubah menjadi serius ketika melihat tengkorak berjubah kerajaan usang itu.
"Wah wah, bagaimana kau bisa langsung mengenalinya, kau bahkan belum pernah melihatnya, tunggu... Kau lupa kau itu sudah mati!"
"Kau! Bisakah berhenti mengatakan aku mati!!!" Zayn berteriak dengan keras hingga mengguncang gua itu.
"Menakutkan... Sekali... " Levi gemetaran mendengar teriakan Zayn barusan.
"Hah? Lihat! Apa yang kau lakukan!" Levi menoleh ketika menyadari sesuatu yang tidak beres, ternyata teriakan Zayn juga membuat lautan darah yang menenggelamkan setengah badan tengkorak itu terguncang dan membuat gua itu hampir roboh.
"Cepat kita harus keluar dari sini! Gua ini akan runtuh!!" Zayn segera menggenggam tangan Levi dan berusaha menariknya keluar.
"Tidak bisa! Tujuanku datang kesini belum terpenuhi!!"
"Kita bicarakan itu nanti!!" Zayn menggendong Levi dan berlari cepat menuju pintu keluar gua.
"Benar... Benar.. Tak.. Bersisa.. Hiks.. Hiks.. " Levi turun dari tangan Zayn dan mendekati gua yang telah runtuh itu dan mulai menangis.
"Hmm, kau tau orang yang sudah tiada tak akan kembali.. Mengapa mencoba hal ini?" Zayn mendekati Levi dan menyentuh pundaknya berusaha menenangkan nya.
"Ini semua salah mu!! Karena teriakan mu itu semuanya hancur!!.. Hiks.. Hiks.. "
"Menangis tak akan ada gunanya," Zayn menarik Levi kedalam pelukannya dan berusaha menenangkan tangisan anak itu.