DUAAAAAAARRRRRRR ...!!!!! GLU DUG! GLU DUG!
Mata ku terpana melihat semburan cahaya panjang yang seakan membelah langit. Dinginnya malam membuatku ingin segera memeluknya.
"Guling ... tunggulah kepulangan ku ..." Ucapku penuh kerinduan.
Ku berjalan gontai menyusuri jalanan sepi nan panjang. Langkah ku terhenti saat retinaku melihat dirinya. Dia begitu kurus, tapi cekatan. Dia lah yang selama ini membuatku bahagia saat pulang tengah malam.
"Bang ...! Nasi goreng pedas plus telor ceplok satu!" ucapku padanya penuh keinginan yang terpendam.
Ah ... aku begitu bahagia malam ini. Ingin segera ku terbang menuju istana ku. Aku teransang dengan bau yang begitu tidak asing saat masuk ke lobang hidungku. Bau yang begitu menyengat hingga membuatku menutup mata saat menghirupnya.
"Ahhh ... WC ku sumbat lagi ..." ratapku penuh keikhlasan.
Hanya tinggal semeter jarak dengan istana ku. Ku tersenyum saat melihat Pak PLN memotong tali Amper listrik ku.
"Maaf ... Pak! Kami terpaksa memotong aliran listrik ke rumah Bapak, karna sudah setengah tahun Bapak tidak bayar." ucap Pak PLN itu penuh kejujuran.
Ku terima takdir ku, walau aku harus menangis malam ini karna lupa beli lilin. Bagaimana aku bisa memuaskan nafsu ku malam ini bersamamu nasi goreng?
Aku hanya bisa berharap pada handphone tebal bertombol itu kali ini. Rumah yang begitu hangat, senyap, dan hampa. Ku letakkan si nasi goreng di atas menja kecil nan usang.
Ku raba piring karet dan sendok yang ku letakkan di meja itu. Cahaya redup dari layar handphone tebal itu tak mencukupi mata ku yang rabun untuk melihat.
Akhirnya ku putuskan untuk keluar membeli sebatang lilin dan obat nyamuk bakar. Ku ambil uang sepuluh ribuan hasil jerih payah ku bersama peluit kuning.
Ku tutup pintu itu dengan rapat walau tak bisa dikunci karna anak kuncinya telah menyatu dengan lubang kunci saat diriku kebelet berak waktu itu.
Jalanan tampak sepi, tidak ada yang lalu lalang, baik manusia atau setan. Ku lihat ke arah kiri ku, TPU itu tampak sepi, biasanya banyak pak Cong dan sis Kun yang pacaran. Mungkin mereka lagi berantem, pikirku.
Ku susuri jalanan kecil berlobang itu dengan cepat. Di ujung jalan sana, ada warung kecil tempat dijualnya kebutuhan pujangga miskin seperti diriku.
Terlihat cahaya remang dari warung itu. Segera ku cepatkan langkah ke warung yang setengah miring itu. Semoga saja puting beliung tak menerbangkan nya.
Neng Bulan tersenyum saat melihat diriku yang hitam manis.
"Eh ... Bang Budi! Mau beli apa, Bang?" Aduhai suaranya yang serak basah itu membuat telingaku gatal.
"Bang Budi mau beli sebatang lilin dan obat nyamuk, Neng ..." ucapku penuh keramahan.
"Sebentar Bang, Neng Bulan ambilkan." Neng Bulan berjalan tiga langkah mencari Sebatang lilin dan obat nyamuk bakar.
Ku lirik kearah sekitar benar-benar sepi dan senyap. Ku merasa heran dan takjub dengan nyali Neng Bulan.
"Ini Bang ... lilin sama obat nyamuk bakar nya!" Neng Bulan mengulurkan kantong kresek hitam kearah diriku.
Segera ku sambut ulurannya dan ku berikan uang sepuluh ribu padanya.
"Ini kembaliannya, Bang ..." Kasih Neng Bulan pada diriku.
"Makasih, Neng. Bang Budi pulang dulu ya, Neng ...!" Ucap diriku yang baik ini.
"Iya, Bang ... hati-hati ketemu setan, Bang ...!" jawab Neng Bulan menusuk jantungku.
💡💡💡
Lega rasanya setelah membeli tameng wajib bagi pujangga miskin seperti diriku ini. Namun, saat di seperempat jalan menuju istana ku, tiba-tiba diriku kebelet boker.
Mengingat sumbatnya WC di istana ku, ku putuskan untuk membuang hajat di kali yang terletak di bawah jembatan jalan yang ku lalui.
Segera ku langkahkan kaki menuruni tepian kali yang tenang itu. Semoga saja si bro ku tidak terapung di sana.
sebentar, ku lirik kearah kiri dan kanan berharap tidak ada manusia atau setan yang mengintip. Bukan karna malu, tapi kasihan bila mereka harus melihat wajah burik ku saat menghempaskan si bro ku keluar.
Sudah memastikan tidak ada orang, segera ku tarik ancang-ancang untuk menghempaskan si bro ku keluar dari persembunyiannya. Namun, tiba-tiba sebuah suara yang menggelitik hati dan empeduku terdengar.
Tidak ingin gagal fokus dengan perlawanan ku dengan si bro, tak ku perdulikan suara itu. Terus ku tarik ancang-ancang melawannya.
Namun, tiba-tiba ... sesuatu yang dingin merayapi punggungku hingga membuat tubuhku bergetar karna geli.
"Ahh ...!!!" jeritku saat si bro malah kepotong setengah.
Sesaat kemudian, telinga ku kembali menangkap sebuah suara yang menggelitik itu lagi. Dan kini terdengar jelas dan sangat dekat seperti berbisik padaku.
"Bang ... lengket Bang ..."
Ku miringkan kepala ku karna tak mengerti dengan ucapannya. Ku coba untuk bertanya pada dirinya yang bersuara.
"A-apa ... yang lengket, Neng ...?"
"Itu Bang ...."
"A-apa, Neng ...?!"
"Itu Bang ... otakku lengket, Bang ..."
Alamak! Jantungku mulai meronta. Bulu kudukku juga sudah ikut stand up. Kenapa suaranya seperti orang yang tutup hidung sambil bicara?
Kini bukan berak ku yang keluar, tapi malah keringat dingin yang menguyur. Perlahan untuk memastikan apa itu yang berbicara, ku palingkan wajahku ke belakang. Perlahan ... perlahan ... DEG!!!
Sebuah wajah tersenyum kearah diriku. Mulutnya terbelah hingga ke telinga. Bola matanya hancur mengeluarkan lendir. Otaknya keluar dari tempurung kepala.
Diriku tidak bisa bergerak. Sangking gemetarnya tubuhku, untuk mengangkat celana saja tidak bisa. Habislah pantat ku.
Apa yang harus diriku lakukan? Bagaimana cara bangun dari posisi jongkok ini?
"Bang ... lengket Bang ... tolong Bang ... lengket ..." Suara lirih itu, membuat mata rabunku gelap seketika.
💡💡💡
"Mas ... Mas ...!"
Samar-samar ku mendengar suara.
Entah kenapa tubuhku sangat berat. Dan entah mengapa pantatku terasa sangat gatal sekali ini.
"Mas ...! Bangun Mas ...!"
Ah ... Aku tak bisa membuka mata bulat ku ini.
PLAKK!
"Aduh! sakit ..." Ku terbelalak melihat wajah Bapak yang entah siapa itu.
"Kau tidak apa-apa, Mas?" tanya nya pada diriku ini.
Ku tersenyum melihat sang mentari muncul.
"Mas, kenapa tidur di sini?" Ku melihat kearah si bapak tak ku kenal itu.
"Ah ... saya sungguh tak mengerti mengapa saya terbaring di alam liar seperti ini ..." Ucapku dengan penuh kepalsuan.
Sudah ku duga, si bapak tak ku kenal itu akan terkagum pada diriku seperti ini, sampai-sampai dia menjauh dariku saat ku mulai berkata.
"Sungguh terlalu ..." ku menggeleng kepala pelan ke kiri dan ke kanan.
Ku lirik sekali ke arah kali yang tenang nan coklat itu. Gara-gara Kepala ancur itu, berak ku masuk lagi.
"Ahhh ...!!! Nasi goreng ...!!!" ku lari terbirit-birit sambil menggaruk pantat ku yang gatal bukan main. Dasar nyamuk jahanam!
💡💡💡
Siang kemarin sebelum Bang Budi liat kepala.
Ditemukan sebuah kepala manusia berjenis kelamin perempuan yang terapung di sebuah kali di desa Brutik. Tubuh dari kepala itu ditemukan di sebuah warung kecil di ujung jalan kampung Brutik. Setelah di otopsi, pihak kepolisian mengatakan bahwa terjadi kekerasan terhadap korban. Kepalanya di pukul dengan benda tumpul sebanyak 20 kali yang menyebabkan hancurnya tempurung kepala. Kepala dan tubuh di mutilasi.
Korban berinisial B, pelaku tengah di cari oleh pihak kepolisian.
"Bang Budi ... Neng Bulan lengket, Bang ..."
TAMAT💡
TERIMAKASIH ATAS KEHADIRANNYA 🙏
jangan lupa like dan komennya ya💋💡