Tepat pada liburan akhir semester, aku dan kedua sahabatku berencana untuk pergi ke sebuah hutan yang konon katanya jika seseorang yang masuk ke sana, maka dia tidak akan bisa kembali dengan selamat. Namun hal itu sama sekali tidak membuat kami takut ataupun membatalkan rencana kami, malahan kami merasa tertantang untuk mencoba hal itu meski terdengar gila, karena mungkin saja kami akan mati konyol. Tapi setidaknya kami tidak mati karena penasaran akan hutan itu, entah konsep darimana, tetapi intinya kami sudah siap mental dengan resiko yang akan kami terima.
Kami berangkat sekitar pukul 08.00, meskipun orang tuaku melarang keras jika aku pergi kesana, namun aku tetap bersikukuh untuk pergi dan meyakinkan kepada mereka kalau aku akan baik-baik saja. Wajar saja mereka khawatir, aku tau kalau mereka pasti sangat takut akan kehilangan sosok Jovan yang berparas melebihi Arjuna.
"Jo, lo yakin kita pergi kesana?" tanya salah satu temanku yaitu Aldi. Saat ini kami sedang diperjalanan menuju kematian. Eh...Ralat, maksudnya menuju hutan.
"Yakin lah, kenapa lo? Takut?" tanyaku seraya memperhatikan Aldi yang seperti cacing kepanasan. Terlihat sangat jelas dari raut wajah kentangnya kalau ia sangat khawatir, mungkin dia memang sayang nyawa.
"Bukan takut, cuma nggak berani doang. Ntar kalau kita mati gimana?"
"Ya, kalau mati, berarti nggak nafas," celetuk Aldo, yang merupakan saudara kembar Aldi. Wajahnya memang mirip, akan tetapi kelakuannya sangat bertolak belakang.
Aku tidak menanggapi celotehan absurd kedua makhluk itu. Kami menyusuri jalan setapak yang sepi, disepanjang perjalanan, kami sama sekali tidak melihat pemukiman penduduk. Bahkan jalan yang kami lewati nampak tidak terawat, banyak dedaunan kering serta ranting yang berserakan.
Hampir 2 jam kami menghabiskan waktu diperjalanan, dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Sebelumnya kami melihat sebuah bangunan tua yang terbengkalai, dilihat dari kondisinya, sepertinya bangunan itu pernah terbakar beberapa tahun silam. Aku beralih menatap hutan yang akan kami telusuri, memang sih terlihat menyeramkan, banyak pepohonan yang besar dan menjulang tinggi, gelap dan berkabut. Sebenarnya aku memang sudah merasakan aura aneh sejak awal aku tiba disini.
"Apa kalian akan masuk ke hutan itu?" suara seseorang mengagetkan kami bertiga, kami menoleh ke sumber suara dan hampir saja kami pingsan ketika melihat seorang nenek tua yang sedang tersenyum, bukan senyuman yang membuat kami terpesona, melainkan senyuman yang mengerikan. Bagaimana kami tidak kaget, nenek tua itu memiliki rambut panjang nan putih yang dibiarkan terurai, belum lagi giginya yang sudah ompong dan hanya tersisa taringnya. Nampak dia sedang mengunyah daun sirih dan apalah itu aku tidak tau sehingga mulutnya berwarna merah terang, persis seperti darah.
Kami hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan nenek tua tadi.
"Sebaiknya jangan, pulanglah Nak, karena jika kalian masuk ke hutan itu, maka kalian akan pulang hanya tinggal nama saja," ucap sang nenek memperingatkan.
"Tidak Nek, kami akan tetap kesana, kami percaya kalau kami akan kembali dengan selamat," ucapku meski sebenarnya aku juga tidak yakin dengan perkataanku.
Nenek itu hanya menanggapinya dengan senyuman, senyuman yang membuat kami bergidik ngeri.
Saat kami akan memasuki hutan, aku kembali penasaran dengan tempat tinggal nenek tadi, namun disaat aku berbalik, aku terkejut karena nenek tua tadi sudah tidak ada disana, padahal baru saja tadi dia berdiri dibelakang kami. Aku mencoba untuk berfikir positif, mungkin saja nenek itu sudah pulang, pikirku.
Kami melangkahkan kaki menyusuri hutan lebat itu, meskipun terasa berat, namun apalah daya, kami sudah terlambat karena kami sudah masuk terlalu jauh. Terkadang aku memang tidak habis pikir dengan jalan pikiranku, bisa-bisanya aku melakukan sesuatu padahal aku sendiri masih ragu. Awalnya kami merasa aman-aman saja, karena memang tidak ada hal yang mencurigakan. Hari sudah mulai petang, kami memutuskan untuk pulang, kami mencoba melewati jalan yang dilalui tadi, namun naas, bukannya kami keluar dari hutan, malahan kami semakin masuk ke area hutan itu, untung saja kami membawa perlengkapan dan juga makanan.
"Kalian sadar nggak sih kalau kita sebenarnya tersesat?" tanya Aldi yang sudah mulai resah, awalnya ia memang tidak setuju untuk ikut rencana gila ini, namun aku dan Aldo terus mendesaknya sehingga akhirnya dia menyerah.
"Ho'oh, capek banget gw," Aldo terduduk sambil menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon, namun tiba-tiba...
Pluk
"Wihh apaan nih? Harta karun kali ya?" Aldo memperhatikan benda yang jatuh di pangkuannya tadi, karena minimnya cahaya membuat ia belum sadar akan benda yang sedang ia pegang.
"Jones, pinjem senter lo, gw penasaran sama ini barang, kali aja harta karun, kan lumayan bisa buat cerahin masa depan," ucap Aldo. Aku langsung melempar senter itu hingga mengenai kepalanya, enak saja ganti-ganti nama orang seenak jidat.
"Aaaaaaaa...." Aldo berteriak hingga membuat aku dan Aldi kaget, ia segera melempar benda yang sejak tadi dia pikir adalah harta karun, dan tepat mengenai wajah Aldi, rasanya ahhh mantap, karena benda itu adalah tengkorak manusia.
Aldi masih diam mematung, sepertinya dia masih syok dengan apa yang mengenai wajahnya tadi, dia memperhatikan benda itu dengan seksama dan seketika wajahnya pucat pasi. Aku yang melihatnya pun langsung tertawa terbahak-bahak, namun aku langsung diam ketika mendengar suara anak kecil.
"Ketawanya dikondisikan dong Bang, itu gigi tonggos Abang jadi semakin kelihatan," ujar bocah yang berusia sekitar 5 tahun, dia memakai pakaian yang sudah sangat lusuh, rambutnya panjang dan terurai, wajahnya sudah tidak berbentuk serta darah bercampur nanah yang menetes hingga membuat kami mual.
"Hei bocah! Enak aja bilang gigi gw tonggos, nggak lihat nih gigi gw rata gini," ucapku tak terima, namun hantu kecil itu malah tertawa cekikikan. Aldo menatapku dengan heran, tetapi berbeda dengan Aldi yang sudah seperti orang yang akan meninggal besok.
"Dek, kamu ngomong sama siapa? Yuk buruan, kita kan mau ke mall, terus nanti Kakak juga mau dinner sama pacar Kakak," sosok hantu remaja itu menghampiri bocah tadi. Kami melongo dengan ucapannya yang terlontar tadi. Mall? Dinner? Pacar? Seketika tawa kami meledak ketika mengingat ucapan hantu itu, fix ini adalah hantu milenial dan bukan kaleng-kaleng.
"Waww ada Abang ganteng tapi bo'ong, gantengan juga pacar aku, kita pergi yuk Dek, males ngeladenin manusia yang nggak ada tampan-tampannya," ujar hantu remaja itu dan langsung menghilang bersama anak kecil tadi.
Kami kembali melanjutkan perjalanan, berharap mendapatkan petunjuk yang bisa membawa kami keluar dari tempat mengerikan ini, namun sepertinya nihil. Sore berganti malam, dan kami pun mulai lelah, kami menyesal karena tidak mendengarkan nasihat orang tua kami serta nenek tua tadi. Namun apalah arti penyesalan itu, nasi sudah menjadi bubur.
"Lelah ya, mau dipijitin nggak?" lagi-lagi kami harus berhadapan dengan hantu yang kurang kerjaan, entah sudah keberapa kali, namun kami bersyukur karena mereka tidak menyakiti kami.
"Nggak usah Neng," tolak Aldo tanpa menatap hantu itu, ia yakin kalau wajahnya itu mengerikan, mana ada hantu yang wajahnya cantik, mungkin kalau ada, sudah digebet duluan sama Aldo.
"Neng ndasmu! Panggil aku Munah, aku merupakan janda kembang disini, baru cerai 1 minggu yang lalu, aku diceraiin karena aku nggak mau dimadu, hiks..hiks," ucap hantu itu sambil terisak.
"Lah, malah curhat," Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, aku heran karena sudah jadi hantu aja masih gesrek kayak gini. Aku melenggang pergi meninggalkan Aldo dan Aldi yang masih setia mendengarkan keluh kesah hantu janda itu, bodoh sekali mereka yang mau saja mendengarkan celotehan yang unfaedah sekali.
Aku duduk sebentar untuk mengistirahatkan kakiku yang terasa seperti habis berkeliling dunia dengan berjalan kaki, baru saja aku duduk selama beberapa detik, aku sudah dikagetkan dengan teriakan dua manusia yang tak lain adalah Aldi dan Aldo, mereka berlari seperti sedang dikejar sesuatu.
"Jo..Jovan...!!! Buruan lari..!!!" teriak Aldo dengan nafas terengah-engah.
"Lari? Emang ada apaan? Banjir? Longsor? Tsunami?" tanyaku heran.
"Buruan..!! Ada saudara lo!" kini Aldi yang berteriak.
"Saudara gw? Lo kalau ngomong yang bener dong," ucapku yang sudah penasaran tingkat akut.
"Ada babi copet...ehh salah, babi ngepet..!!!" Aldo kembali berlari dengan secepat kilat, dan benar saja ada seekor babi yang sedang berlari mengejar kami, alhasil kami harus kejar-kejaran di gelapnya malam dan di hutan pula.
Brukk
Sial sekali, Aldi malah tersandung sehingga kita terjatuh dengan posisi Aldi yang dibawah, dan aku berada paling atas karena dibawahku lagi masih ada Aldo. Namun aku bernafas lega karena babi itu sudah tidak mengejar kami lagi.
"Hahaha, kalian kenapa peluk-pelukan sesama jenis gitu? Mending sama aku aja," tawa nyaring terdengar di area itu, kami mendongak dan benar saja disana ada kuntilanak yang sedang duduk di ranting pohon, bahkan ia membiarkan pakaiannya diterpa angin sehingga aku buru-buru menutup mataku ketika pakaiannya itu mengembang sehingga memperlihatkan dalaman yang dipakainya berwarna pink, sungguh aku tidak mau mata suci ku ini ternodai gara-gara hantu laknat yang seperti tidak punya rasa malu itu. Kuntilanak itu mencoba untuk menghampiri kami, namun miris, pakaiannya malah tersangkut di dahan pohon.
Kami memilih untuk pergi meninggalkan kuntilanak yang damagenya kagak ngotak itu, namun tiba-tiba kami merinding karena terdengar lolongan serigala yang seketika membuat kami menegang.
"Tolong....tolong...ada serigala disini. Tolong...tolong..habis lah kami disini," etdah, di situasi seperti ini, Aldo masih sempat-sempatnya bernyanyi menirukan tokoh Jarjit di film animasi yang sudah melegenda.
"Anda masih waras kan?" tanyaku kepada Aldo, dan dia mengangguk.
"Setidaknya buat kegiatan yang berfaedah sebelum ajal menjemput kita semua," ucapnya lagi.
Aku memperhatikan Aldi yang diam saja, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat, aku pun heran, padahal tadi meskipun dia takut, tapi dia masih bisa mengatasinya.
"Di, lo kenapa?" tanyaku.
Dia menunjuk ke arah belakangku dan Aldo, tangannya bergetar hebat, aku dan Aldo pun menatap Aldi dengan raut wajah bingung, karena posisi kami memang berhadap-hadapan.
"Po..po..po,"
"Po apaan? Lo kalau ngomong yang jelas dikit napa," kesal Aldo.
"Po...po,"
"Lo ngomong kayak gitu lagi, gw lempar lo ke jurang," Aku juga ikutan kesal karena Aldi masih mengucapkan hal yang sama.
"Po..po..pokoke joged pokoke joged..!!
"Lahh," Aku dan Aldo geram sekali mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Aldi.
"Pocong....!!!!!" teriaknya sambil lari terbirit-birit, kami pun mencoba menoleh dan...
BOOOOO
"Aaaaaaa...!!!!" kita langsung berlari kocar-kacir ketika melihat sosok pocong yang berdiri anteng di belakang kami.
Kami berhenti ketika memastikan kalau kami sudah tidak dikejar pocong itu lagi.
"Cowok, nikahin aku dong,"
Kami terkejut ketika melihat sosok perempuan mengenakan gaun pengantin, wajahnya sangat hancur, bagian tubuhnya banyak yang hilang, serta bagian perutnya terdapat luka tusukan.
"Kalian jomblo ya? Sini aku temenin," ucap hantu itu sambil tersenyum.
"Ehekk aku bisa membuatmu...jatuh cinta kepadaku." Aldo malah bernyanyi.
"Wahh, Mas nya mau buat aku jatuh cinta sama Mas ya?"
"Mati gw, salah ngomong lagi." Aldo menampar mulut lemesnya itu.
"Mmm ampun Neng jago, kita permisi dulu ya," ujar Aldo sambil berlari meninggalkan kita.
Hantu perempuan itu malah nyengir sambil tertawa. "Kalian mau nikahin aku?" tanya hantu itu lagi.
"Sorry Neng jago," ujar aku dan Aldi serentak dan berlari meninggalkan hantu itu.
Kami berhenti di sebuah tempat, kami bertiga langsung ambruk di bawah pohon besar yang ada disana, rasanya untuk berdiri saja aku tidak sanggup lagi. Tiba-tiba angin berhembus kencang dan kami langsung terbelalak kaget ketika melihat kehadiran nenek tua yang kami temui sebelum memasuki hutan ini, terlebih dia sedang melayang. Aku sangat takut ketika melihat dia hanya mengenakan kain berwarna putih dan rambutnya dibawa kedepan, aku menoleh ke samping dan aku kembali terkejut karena kedua sahabatku tidak ada, disana hanya ada aku seorang diri. Nenek itu tertawa ketika melihat aku yang sudah sangat panik, dia mendekat ke arahku, perlahan dan semakin jelas, matanya melotot dengan sempurna seraya menjulurkan lidahnya.
"Ini akibatnya karena kau membangkang, aku sudah memperingatkan untuk tidak memasuki hutan ini, sekarang kau akan mati, hahahaha," ucapnya sambil tertawa, dia memegang sebuah pisau, entah darimana dia mendapatkan pisau itu, padahal tadi aku melihat dia tidak membawa apa-apa.
Aku mencoba berteriak, namun sudah terlambat, nenek tua itu mencekik leherku dengan kuat, bahkan air mataku sampai menetes, ia tersenyum menyeringai lalu mengarahkan pisaunya ke leherku dan....
Jlebb
"TIDAAKK....!!!!!"
"Woy bangun! Di sekolah bukannya belajar malah molor," teriak Aldo tepat di telingaku, sontak aku langsung terbangun dengan nafas tersengal-sengal.
Aldi langsung memberikan aku sebotol air mineral, aku pun meneguknya hingga tandas.
Untung saja itu hanya mimpi, aku tidak bisa membayangkan kalau hal itu benar-benar terjadi.
---TAMAT---