Memei namaku, usiaku 22 tahun dan baru enam bulan menikah dengan Darwin suamiku.
Tiap malam aku terbangun dengan telapak tangan pucat seperti mayat sehingga aku berusaha mengedipkan mata tak percaya dengan apa yang aku lihat. Nafasku terasa sesak.
Tiap kali aku bangun tengah malam, Darwin pun ikut bangun dan berusaha menenangkan aku. Entah doa apa yang Darwin baca sebelum iya mengusapkan telapak tangan kanannya ke wajahku. Kemudian iya memijit punggungku agar tak lagi sesak nafas. Pijitannya berhenti saat aku sudah kembali terlelap tidur.
Saat bangun tidur pagi, kepalaku terasa pusing dan aku pun merasa lemas.
sehari, dua hari bahkan hingga dua tahun perempuan berjubah putih itu selalu membuatku terbangun tengah malam dan membuat keadaanku semakin lemah saat bangun tidur pagi. Selama itu pula Darwin merasakan ada sosok lain yang menguasai ragaku.
Suatu ketika Darwin mengajakku pergi ke sebuah tempat yang aku tak tau apa tujuan dia membawaku.
Banyak orang di tempat itu. Aku dan Darwin duduk di kursi yang disediakan tuan rumah dan menunggu namaku dipanggil.
Saat tiba giliranku, aku masuk menemui sang Master. "Mbak Dini, tolong mbak ini!" sang Master memanggil muridnya untuk mengobatiku.
Aku diminta untuk duduk berselonjor kaki, namun tetap konsentrasi pada Darwin yang duduk di sampingku.
Mbak Dini memegang siku tangan kiriku dan menekan bagian depannya.
"Kamu keluar ya, kasihan mbak Memey!" berulang kali ia mengatakan hal itu. Sementara tubuhku serasa ada yang mengelitiki. Aku yang tahan geli hanya tersenyum. "Aku tau, bukan maunya mbak Memei tertawa tapi ini karena ulahmu!" Dengan nada lembut, mbak Dini mengatakan hal itu.
"Aku bisa berbuat kasar sama kamu, kalau kamu ga mau keluar!" Masih dengan lembut mbak Dini mengancamnya.
"Aku hitung sampai tiga, aku akan berbuat kasar jika kamu tidak mau keluar dari tubuh mbak Memei! Satu... Dua...
Belum selesai hitungan tiga, terasa ada asap yang keluar dari tubuhku dan aku merasa lemas. Darwin segera menangkap tubuhku dan merebahkan di pangkuannya.
Mas Ferdi suami mbak Dini langsung menutup botol beling yang sudah ia siapkan sejak tadi.
Usai ritual malam itu, aku dan Darwin pulang ke rumah. Tak seperti biasanya aku tidur lebih awal, mungkin karena energiku yang terkuras habis.
Aku terbangun saat jam dua dini hari. Perempuan berjubah putih itu seakan terbang di atasku dan melambaikan tangan. Setelah ia menghilang, aku lihat telapak tanganku. Tanganku kini tak lagi berwarna putih pucat namun kembali normal. Bangun tidurpun aku tak lagi merasakan pusing dan lemas.
Malam hari aku kembali ke tempat sang Master. Berbeda dengan kemarin, kami tak lagi antri karena acara malam itu hanya berkumpul bersama.
"Bagaimana keadaannya, Mbak Mei?" tanya sang Master, Mbak Dini dan Mas Ferdi siap mendengarkan jawabanku. Aku ceritakan kejadian semalam dan kesembuhanku.
"Syukurlah kalau mbak Mei sembuh, tapi aku yang di kejar - kejar hantunya mbak!" Mas Ferdi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kok bisa, Mas Ferdi?" tanya sang Master.
"Iya, ma! Wanita berjubah putih dengan rambut basah sebahu itu datang menemuiku dengan wajah seramnya. Aku suruh pergi dia ga mau. Katanya mau balik ke tubuh mbak Mei, ga bisa. Jadi aku yang harus mengantarnya ke tempat yang Indah karena ia suka tempat yang indah. Sama seperti mbak Memei ini." Penjelasan Mas Ferdi.
"Trus, kamu anter dia kemana Yang?" Tanya mbak Dini.
"Ya aku antar ja dia ke bawah jembatan, di hulu sungai. Tuh, dia lagi dada - dada!" Tunjuk mas Ferdi ke sisi sungai tak jauh di dekat rumah Sang Master.
"Kok bisa gitu ya, padahal kan semalam dia dah kita masukkan botol beling dan dibuang ke laut?" Tanya sang Master heran.
"Itu dia salahku, Ma! Semalam aku ga buang dia di laut. Aku lempar botolnya di dekat kuburan waktu pulang dari sini! Eh ternyata botol yang aku lempar jatuh di pinggir jalan dan hancur ketabrak mobil. Makanya dia bisa keluar dan cari aku! Mas Ferdi mengaku salah.
"Kamu kenapa ga jujur sama aku, mas?" Mbak Dini mencubit pinggang mas Ferdi.
"Jujur masalah apa, dek?" Tanya mas Ferdi.
"Semalam kamu bilang akan buang dia ke laut, tapi nyatanya dengan sengaja kamu buang botolnya di pinggir jalan agar ketabrak mobil dan dia balik sama kamu kan?" Suara mbak Dini mulai naik.
"Ya ampun,dek! Aku ngantuk berat saat pulang dari sini, jadi aku lempar ja botolnya ke kuburan di jalan menuju rumah kita. Aku mana tau kalau tu botol bakal ketabrak mobil dan pecah, trus dia cari aku!" Jelasnya.
"Trus, kamu kencan ma dia di situ kan?" Tanya mbak Dini, air matanya hampir jatuh.
"Bentar!" Mas Ferdi menggaruk kepalanya.
"Wong edan!" Celetuk sang Master diikuti tawaku, Darwin dan keempat murid sang Master yang lain.
"Yang.... Jangan cemberut donk! Masa sama dia aja cemburu. Cantikan kamu deh, Sumpah!" Mas Ferdi mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk V di depan mbak Dini.
"Itu kan karena dia bukan manusia kamu bilang lebih cantik aku. Coba kalau dia manusia, pasti kamu ga pulang nemeni dia semalaman di pinggir sungai kan?" Ketus mbak Dini.
Hahahahahahaha!
Tawa pecah diantara semua orang yang ada di tempat itu.