"Kenapa sih? Kenapa kau masih harus menunggu yang tidak pasti. Usiamu itu sudah tidak lagi muda carilah kekasih dan segeralah menikah!!"
"Apa? Apa yang Mama tau tentangku. Mama itu hanya memikirkan diri Mama sendiri dan tidak pernah memikirkanku. Cukup Ma Cukup!!" Teriak-ku berang aku segera masuk kedalam kamar dan menutup rapat pintu kamarku.
"Ran.. kamu tidak pantas memperlakukan Mama seperti itu. Dengarkan Mama Ran!!" Mama nampak menggedor gedor pintu kamarku
"Sudahlah Ma.. Ran Capek debat sama Mama"
"Mama hanya ingin melihat kamu menikah Ran.." Suara Mama melembut ada sedikit getaran disuarannya..
"Maafkan Mama.." Ucapnya kemudian langkah kaki menjauh terdengar. Aku menangis menelungkupkan tubuhku diatas kasur. Ia semua karenanya aku tak akan bertengkar dengan Mama jika bukan karenanya. Pria yang masih kutunggu kehadirannya disini.
Aku terduduk langkahku tertuju pada jendela kamarku. Kutatap langit malam dengan seluruh gemerlap bintang yang teramat indah. Mataku terpaku pada bulan.. bulan purnama. Sorotnya tajam seperti matanya. Bulan mengingatkanku akan dirinya.. ini bermula diawal bulan Juli...
Hari itu aku benar benar terpukul. Papa meninggalkanku untuk selamanya. Kini tinggal aku dan Mama. Hanya Mama yang kupunya. Selesai satu semester Mama mengajakku pindah kekota. Mencari penghidupan yang lebih layak. Berat harus meninggalkan tempat kelahiran,, disini banyak kenangan tentang Papa. Candanya,, Tawanya,, dan juga kemarahannya. Aku merindukan itu.. Aku merindukan sosok Ayah.
Seminggu sudah aku tinggal dikota. Mama bekerja disebuah kantor yang berada tak jauh dari rumah tempatku tinggal. Semakin hari Mama semakin sibuk. Diriku semakin kesepian.. Hingga liburan telah usai sekolah kembali masuk. Mama mendaftarkanku disebuah sekolah swasta yang ada dikota. Cukup terkenal
Kutatap pantulan diriku dicermin. Rambut dikuncir kuda dengan ikat rambut warna merah mencolok. Kutaburkan bedak tipis tipis kuoleskan pula lip balm pada bibirku. Seragam putih abu abu menempel apik ditubuhku. Aku beranjak keluar dari kamar. Kumakan roti sandwich yang telah Mama siapkan sebelum ia berangkat bekerja tadi. Mataku melirik pada segelas susu dan kertas yang ditindihnya. Kuambil kertas itu..
"Sayang.. Mama ada tugas keluar kota. Kamu baik baik dirumah yaa. Tiga hari lagi Mama akan pulang. Semoga hari pertamamu disekolah menyenangkan"
Isi singkat surat itu membuatku tersenyum miris. Kuremas kertas itu jadi kecil dan kuminum susu hingga habis. Aku mengambil ransel dan beranjak keluar.
Kumasuki angkot merah yang akan membawaku kesekolah. Tak perlu waktu lama. Aku kini sudah berdiri didepan gerbang sekolah elit ini. Langkahku membawaku masuk secara perlahan. Ini hebat tak pernah kulihat secara langsung sekolah swasta se-elit ini.
"Permisi.. permisi.." Gadis itu menoleh menatap heran kearahku. Alisnya bertaut aku rasa dia gadis yang tidak banyak bicara
"Eum.. bisa tunjukan ruangan kepala sekolah?" Ia mengagguk dan berdiri kemudian berjalan. Aku sedikit bingung dibuatnya namun segera saja kuikuti langkahnya. Tak lama setelahnya dia menunjukanku sebuah ruangan. Aku melempar senyum kearahnya
Tok tok
"Masuk!!"
"Ada perlu apa?"
"Saya murid baru"
"Ahh sebentar yah.. kamu masuk kelas XI IPA 5"
"Terima kasih"
Masih ketelusuri koridor koridor dengan wajah menilisik kelas kelas yang ada disetiap jalanku. Dan ketemu kelas XI IPA 5
Bruk..
Sebuah buku terjatuh dihadapanku. Kuambil buku tersebut kemudian kutatap sebentar orang yang membawanya. Wajahnya tak terlihat dengan tumpukan buku ditangannya. Namun dari segi postur yang kulihat dia laki laki.
"Hey bisa kau membantuku membawa buku buku ini" Ia nampak kesulitan. Ah sudahlah lagian bel belum berbunyi apa salahnya aku membantunya? Aku mengambil separuh dari setumpuk buku tadi dari tangannya kualihkan ketanganku.
Mataku terpaku dengan sosok pria dihadapanku saat ini. Sungguh,, dia begitu tampan. Sorot matanya mengingatkanku akan Papa. Mungkin jika orang orang melihatnya ia tidak terlalu tampan karena tertutupi oleh kacamata dan style rambutnya sungguh tidak sesuai dengan wajah tampannya. Aku jatuh cinta
"Hey.. ayoo" Ucapanya menyadarkanku. Kegeleng gelengkan kepalaku..
"Ahh ini akan dibawa kemana?"
"Perpustakaan" Aku berlari kecil mengejarnya mensejajarkan langkah kami. Dalam perjalanan aku hanya diam kuikuti saja langkah kakinya. Karena akupun tidak tahu dimana letak perpustakaan..
"Ohh jadi ini ruangan perpustakaan" Ucapku memasuki ruangan itu. Pria disampingku nampak menoleh kearahku dengan sorot mata tajam.
"Kau bahkan tidak tahu dimana letak perpustakaan?"
"Heh.. aku kan murid baru"
"Wajar!!"
"Wajar? Apa maksud--
Teng teng teng teng
Bel masuk berbunyi.. segera saja kuserahkan setumpuk buku tadi padanya dan aku segera berlari menuju kelasku. Dengan nafas terengah engah aku mengetuk pintu. Pandangan seluruh kelas tertuju kearahku aku melempar senyum lebar.
"Haloo namaku Raneiya Della. Orang-orang biasa memanggilku Ran. Salam kenal semuanyaa" Aku melemparkan senyuman hangat.
"Raneiya silahkan duduk" Aku mengangguk angguk dan segera mencari bangku kosong. Aku mendudukan tubuhku disebelah gadis berambut pendek.
"Hayy" Kusapa,, dia menoleh. Aku sedikit terperangah ia adalah gadis dingin yang kutanyai ruangan kepala sekolah pagi tadi. Senyumku berubah canggung.
"Juga.."
Aku mengangguk anggukan kepala. Kuikuti pelajaran dengan sungguh sungguh. Sesekali kantuk menyerang. Namun itu segera berkhir
Teng teng teng teng
Bel istirahat itulah yang kutunggu. Aku pergi kekantin dengan gadis dingin berambut pendek tadi.
"Namaku Denyar" Ucapnya dingin ketika sedang kutanyai namanya tadi.
"Mau kekantin bersama?" Ia menggeleng
"Mau tunjukan dimana kantin?" Ia berdiri dan melangkah. Sungguh gadis yang aneh
"Mau apa?" Tanyaku,, ia menggeleng. Aku mengernyitkan kening dan berlari kearah stan bakso. Kupesan dua bakso dan kubawa kemeja tempat kami tadi.
"Mau bakso?" Ia menggeleng. Kembali kukernyitkan kening
"Lalu? Siomay? Soto? Mie Ayam? Seblak? Mie instan? Nasi Goreng? Atau Sate?" Kusebutkan daftar makanan yang biasa kumakan. Aku berharap disini ada yang menjual makanan yang kusebutkan. Ia menggeleng.
"Lalu Apa?"
"Aku hanya mengantar!!" Aku terduduk kutarik mangkuk bakso dari hadapannya. Dengan perasaan kesal aku memakan dua mangkok bakso.
Hari kedua
Aku berangkat kesekolah seperti biasa. Kembali aku bertemu pria bersorot mata tajam,, berkaca mata,, dan style rambutnyaa?? Mangkok. Aku mencoba menguatkan mental untuk menyapa.
"Hayy" Kusapa dirinya dengan senyuman manis. Ia balas tersenyum namun kemudian berlalu pergi. Ha? Aku segera mengejarnya..
"Hayy namaku Raneiya.. kau mengingatku kan?" Ia menoleh sekilas kearahku.
"Tidak"
"Ha? Tidak? Kau--
Hari ketiga
Aku sungguh terheran heran dengan pria itu. Bagaimana dia bisa melupakanku semudah itu. Aku duduk dibangku taman menunggunya yang biasanya melintas. Dan itu.. dia aku segera berdiri
"Hayy" Dia tersenyum dan berlalu pergi. Apa ini? Aku mengejarnya..
"Kau benar benar tidak mengingatku?"
"Siapa?" Aku memegang bahunya menahannya agar berhenti. Ia menatap heran kearahku. Aku menatap tajam kearanya.
Hari keempat
Aku membanting tubuhku pada kursi. Denyar menoleh sepetinya ia terganggu. Aku tidak perduli
"Kenap--
"Denyar kau tahu pria berkacamata berambut mangkok?" Sebelum Denyar bertanya aku segera menoleh kearahnya mencengkram bahunya erat. Ia nampak berfikir.
"Kenapa?"
"Dia itu aneh banget. Waktu aku pertama kesekolah itu dia meminta bantuanku. Tapi ketika kembali kusapa dia tidak mengingat ku bukankah itu aneh?"
"Dia memang seperti itu!!"
"Maksudnya?"
"Sulit mengingat,, makanya dia dibuatkan kelas khusus"
"Begitukah?"
Hari kelima
Aku berdiri didepan gerbang sekolah menunggunya yang tak kunjung datang. Aku tau aku terlalu bersemangat hingga pagi pagi sudah sampai disekolah. Senyumku terbit saat mendapati sosoknya.
"Hayy" Sapaku,, seperti biasa ia hanya tersenyum dan berlalu pergi. Tak patah semangat aku kembali mengejarnya. Aku lebih semangat dari hari hari sebelumnya
"Kau benar benar tidak mengingatku?"
"Tidak"
"Heyy.. bisa kau membantuku membawa buku buku ini?" Aku menirukan gaya bicaranya.
"Buku?" Ohh pria ini sungguh mirip dengan Papa. Papa yang sering telmi saat kuajak bicara dan lebih banyak bercanda. Namun ada saatnya pula ia bersikap dingin dan jutek. Aku rindu sosoknya. Aku menangis
"Kenapa kau menangis" Ia maju satu langkah lebih dekat denganku. Tangannya menuntunku untuk duduk. Ia merogoh sakunya memberiku sebuah tisu. Kusambar tisu itu dan kuusap air mataku dengan kasar. Aku beranjak pergi
"Raneiya Della"
Degg
langkahku terhenti,, Mataku terbelalak,, Namaku disebut,, ia mengingatku.
"Raneiya Della,, gadis berusia 17th kelas XI IPA 5" Ia berjalan mendekat menepuk bahuku dan tersenyum. Akupun tersenyum.
Senyumku mengembang mengingat masa masa itu. Sejak hari itu kami dekat.. aku berusaha membantunya belajar dan mengingat dengan mudah.
"Salah jawabannya itu Ir. Soekarno,, kalau Moh. Hatta itu wakilnya" Aku menyalahkan jawabannya
"Gitu yah? Terus kalau aku wakilnya siapa?"
"Gak tahu? Emang apa jabatanmu?"
"Suamimu!!" Senyumku mengembang. Kupukul lengannya dengan senyum malu malu. Ia terkekeh.. inilah yang kurindukan. Sepi yang melandaku hilang sirna sejak mengenalnya. Masa masa SMA begitu indah. Hari hari berlalu begitu cepat jika bersamanya. Berbeda dengan sekarang Dunia tak berjalan cepat. Hidupku semakin monoton. Sangat membosankan. Puncak dari semuannya adalah waktu hari kelulusan
"Ran.. makasih yaa.. berkatmu aku bisa menjadi diriku yang sekarang ini. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk membalasmu. Tapi yang pasti. Aku menyukaimu!!" Ucapnya dengan pakaian wisuda sama sepertiku. Aku memeluknya. Ia pun memelukku.
"Berjanjilah kepadaku!! Kau takan melupakanku kan??" Aku melepaskan pelukan. Menatapnya penuh harapan. Ia mengangguk. Setelah ini ia akan pergi ke Hongkong. Melanjutkan pendidikannya disana.. dan mungkin akan merintis bisnis disana juga. Kembali kupeluk dia tangisku pecah.
Sepenggal cerita dari kisahku. Pintu kamarku diketuk. Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan
"Ran.. makanlah. Mama masak makanan kesukaan kamu tuh" Ucap Mama. Air mataku menetes namun segera kuusap dan aku berjalan keluar.
Denting sendok dan garpu terdengar samar. Kutatap Mama yang juga sedang makan. Ia mengulas senyuman diwajah keriputnya. Hatiku tergores..
"Ma..
"Iya? Ada apa? Kamu butuh sesuatu. Biar Mama ambilkan!!" Mama berucap
"Sepertinya aku akan menyusulnya ke Hongkong" Senyum Mama luntur,, ia langsung meletakan sendok dan garpu nya.
"Kamu Yakin?" Ucapnya setelah sebelumnya menghela nafas. Aku menarik nafasku dalam dalam dan mengangguk yakin.
"Baiklah.. jika memang itu keputusanmu. Maaf jika Mama terlalu egois selama ini. Maaf jika Mama tidak terlalu memperhatikanmu selama ini. Pergilah!! Cari dia" Mama melempar senyumannya. Aku berhambur memeluk Mama
"Makasih sudah mengerti Ma. Aku menyayangi Mama. Jaga diri Mama hanya Mama yang kupunya" Mama mengangguk didalam pelukanku dia mengelus elus kepalaku lembut.
Esok hari-nya aku langsung terbang ke Hongkong. Menggunakan pesawat yang mendadak kupesan tadi malam. Tak henti hentinya kukirim pesan kepada Mama. Selama perjalanan ponselku juga selalu terhubung ke Mama. Selama beberapa jam akhirnya aku sampai di Hongkong.
"Hallo Ma aku sudah sampai di Hongkong ini. Tapi.. aku tidak tahu dia tinggal dimana" Ucapku kebingungan. Tanganku membuka pintu taxi dan memasukinya
"Apa yang dia katakan terakhir kali kepadamu?" Aku mengingat ingat
"Dia akan lanjut pendidikan dan bekerja"
"Hem.. Coba kau kunjungi kantor kantor yang ada disitu. Nanti tanya resepsionis ada atau tidak atas namanya"
"Kantor di Hongkong gak cuma satu Ma. Kalau dia tidak kerja dikantor?"
"Bagaimana yah? Dia dulu ambil jurusan apa? Pernah cerita kepadamu tidak?"
"Pernah sih Ma.." Mataku menangkaop sesuatu yang tak asing.
"Stop" Ucapku dan segera turun dari taxi
"Sayang kenapa?" Tanya Mama
"Aku tadi seperti melihatnya deh Ma. Bentar bentar" Aku berlari belu kuputus sambungan telpon dari Mama. Langkahku melambat ketika mendapati sosoknya.
"Dan--
Teriakku ku urungkan. Tanganku yang sempat melambai kuturunkan. Aku melihatnya sedang bersama seorang wanita. Tangan wanita itu bergelayut mesra pada lengannya.
"Sayang? Sayang? Kamu baik baik saja? Ran?" Mama menanya nanyaiku. Aku tercekat
"Eh iya Ma?" Demi Mama kau harus menemuinya. Aku berlari kearahnya ketepuk pundaknya pelan. Aku tersenyum,, dia balas tersenyum. Sungguh perasaanku sudah tidak enak
"Hayy" Sapaku sama seperti dulu.
"Siapa?" Aku mematung benar seperti dugaan ku dia sudah lupa denganku dia sudah lupa akan kami. Dia sudah melupakanku. Aku mataku turun deras dan semakin deras.
"Sayang? Ran?" Mama berucap kahawatir
"Devan? Kau benar benar lupa denganku?" Aku berbicara dengan bahasa Indonesia
"Apa yang kau katakan?" Aku mengigit bibir bawahku menahan tangis dan kelucuan diriku selama ini. Aku berlari menjauh dan semakin menjauh. Akan kubuka lembaran hidupku yang baru tanpa sebuah penantian palsu lagi. Aku.. aku akan hidup bahagia tanpamu Devan. Itu Janjiku