Sore ini, setelah pulang dari kantor. Aku memutuskan mampir sebentar di sebuah restoran yang unik di pinggiran kota.
Ku langkahkan kaki memasuki ruangan restoran yang antik, bergaya eropa klasik.
Banyak pengunjung yang berfoto selfie ria dengan berbagai pose dan gaya.
Seseorang menepuk pundakku dari arah belakang.
" Ayam....ayammmm ayammm kampus lu....!!!
Latahku.
"ahahha...ahahah....lu tuh ya dari jaman sekolah sampe bangkotan, latah lu masih sama....ahahahha". Dia mengejekku sambil tertawa.
"Si*lan lu, gue pikir siapa!!! aku bernafas lega.
Bertemu dengan teman sekelas waktu SMA memang mengasikkan, padahal kami tak sengaja bertemu disini. Dia mengajakku untuk bergabung di mejanya bersama teman teman yang lain.
"Kenalin nih, Lucy, temen gue waktu SMA!! " Rika mengenalkanku pada teman sekantornya.
"Manis amat temenlu Ri!!! Salah satu pria itu berkata.
"Iya lah dia kan punya pabrik gula makanya manis" sahut Rika sambil cengengesan.
" Bisa aja kalian !! aku berkata sambil duduk.
"Gue udah laper nih, gue pesen dulu ya!!"
Kupangggil pramusaji terdekat dan memiilih menu yang tersedia di buku menu restoran.
Aku, Rika, Yoga, Farid, Mini, dan Ifan bercengkrama seperti sahabat dekat, padahal kami pertama kali bertemu di restoran ini, ya kecuali Rika tentunya.
" Kalian pada tau gak, rahasia restoran ini?"
Yoga bertanya pada kami.
Kami semua menggeleng tanda tak tahu apa apa.
"Ada rumor kalau di sini ada penunggunya, dan penunggu itulah yang menjaga, agar restoran ini selalu ramai pelanggan", Yoga melanjutkan ceritanya.
" Bukan penunggu, penglaris kaleeee", Rika mengejek cerita Yoga.
" Berarti kalau ada penglarisnya, yang kita makan di ludahin jurig dong", Mini bergidik ngeri.
" Rumor tu gak usah di percaya, kalau kalian berani kita buktikan ajah, gimana ? tantang Ifan pada kami.
Farid dan Yoga mengangguk mantap.
Sementara aku, Rika dan Mini bergidik ngeri tidak menyetujui usul mereka.
" Cemen ah kalian nih, itu kan cuma rumor gak mungkin ada jurig lah", Ifan berkata mantap.
" Tapi.... liat itu disana!! Farid menunjuk asal setengah berteriak pada kami dengan muka takut.
Kami menoleh serentak dan sontak saja kami menoyor kepala farid karena sudah mengerjai kami.
" Asem bener lu Rid, gue pikir lu liat jurig, nakutin ajah ", aku bernafas lega.
Rencana yang kami buat hari ini akhirnya di sepakati bersama dan kami akan menyelinap ke restoran ini setelah tutup.
Kami akan menelusuri lorong di lantai dua sampai tuntas dan membuktikan kebenaran rumor tersebut.
Malam jumat di Restoran Van de burgh.
Sepulang kantor aku bersiap mandi dan berpakaian ala kadarnya agar penyamaranku berhasil untuk menyelinap nanti.
Kami berkumpul di tempat dekat restoran itu, sebelum tengah malam tiba, kami mengisi perut dulu, agar tenaga kami penuh untuk pembuktian nanti.
Di tempat penjual pinggir jalan.
" Ayam penyet nya enak nih", seru Yoga.
"Hooh, gak sia sia kita mampir disini". Ifan menyahut.
" Kalau mulut penuh jangan banyak omong, makan aja dulu, kalian nih emang ya!" Rika menimpali Yoga dan Ifan.
" Uhuuukkk....uhukkkkk....uhukkkk", Yoga terbatuk.
" Nih minum dulu!", sambil menyodorkan air putih.
Sebelum meminum air putih sampai habis, tiba tiba saja Yoga terbatuk dan memuncratkan airnya kepada kami.
"ahahah....ahahahhaha...maaf maaf genks, aku kelepasan, lagian itu ada yang lucu", tunjuk Yoga ke arah televisi.
" Ah.... sial bener kena sembur lu Ga," Aku berkata kesal.
" Mimpi apa gue semalem, bisa apes kena sembur lu", Rika sewot.
Mini hanya menyeka wajahnya dengan tissu, karena yang kudengar, dia naksir sama Yoga mungkin karena itulah dia bisa memakluminya.
" Itu disana, kuncinya ternyata di letakkan di bawah keset, jadi kita gak usah pake acara bongkar pasang gembok nih", Farid berbinar binar.
23.55 hampir tengah malam.
Kami berjaga di setiap sudut luar restoran, agar tak ada satu orangpun yang memergoki kami masuk ke sini, Ifan sudah membuka pintu setelah dirasa aman.
"Nyalain lampu ah", Mini bersiul sambil melangkah mencari.
" Sadar woiii, lu mau kita di bilang maling apa, pake mau nyalain lampu, kita disini mau buktiin Rumor! Sungut Farid sebal.
"Gak usah teriak gitu lu Rid, kita disini harus pelan dan sunyi, jangan berisik" sahut Ifan berkata pelan.
Kami naik bersama ke lantai dua, ku edarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, tak lupa juga senter kecil yang kami bawa menemani langkah kami.
Sreeeeekkkkkk........
Terdengar seperti sesuatu yang lewat di belakang kami.
"Itu apaan sih Ci?, tanya Rika padaku.
" Angin lewat kali", kataku santai.
Tiba tiba di depan kami ada seorang Wanita berkulit pucat berbaju putih dan mengenakan topi khas jaman dulu ala noni belanda.
"Hai kalian, ajak gue main main ya, gue bosen disini!!" sapanya pada kami.
Kami mengernyit heran dan bertanya tanya.
Dia setan apa manusia??.
Yoga memandang kami satu persatu.
Farid mendekati wanita itu," Boleh aja kok kamu ikut kami jalan jalan, tapi kamu siapa?? kenalan dulu dong cantik!! sambil mengerlingkan matanya.
" Jangan mau cantik, sama gue aja pulang nanti ya!! Ifan tak kalah antusias.
" Tapi kok kulit kamu dingin gini sih cantik, pasti gaun putihmu itu tipis ya, makanya kedinginan", Farid mengusap tangan wanita itu.
Dalam hati aku berkata sambil berpikir" Gak mungkin dia manusia, mukanya ajah pucat kek gitu, kakinya....hmmm gak jelas deh, mana gaunnya kaya nyapu jalan ajah".
" Lucy, wanita itu aneh, liat deh rambutnya, emang gak pernah cuci rambut apa ya!!
" Mbak, itu rambutnya gak keramas berapa bulan mbak??? pada kriwil kriwil gak jelas deh!! Rika cekikikan.
" hehehe, kalian para cewek tau aja kalau aku lama gak keramas, sejak rumahku jadi restoran, aku gak pernah keramas lho!! tapi masih wangi kok!!! timpal wanita itu seraya memainkan rambutnya.
"Cantik, kalau nanti kita pulang, abang mandiin ya!!! Yoga berkata sambil berbinar.
" Ganjen amat lu jadi cowok Ga" Mini berkata sebal sambil meninju pundak Yoga.
" Kalian ikut aku aja, disana ada tempat yang bagus dan banyak macam macam perhiasan"! seru wanita itu.
Kami saling berpandangan dan mengangguk setuju. Seperti magnet, kaki kami lempeng aja ikut wanita itu berjalan.
Di tengah perjalanan, kami mulai mencium bau busuk yang menyengat.
" Mbak lu kagak mandi ya, bau amat badan lu!!!
Sungut Rika sambil menutup hidung.
" Hihihihihi.....Kalian pinter deh, tau kalau aku gak mandi!! Wanita itu tertawa cekikikan gak jelas.
Ketika di depan sana kulihat sebuah pintu kayu berukiran kuno.Tiba tiba.
Wushhhhhhhh.
Wanita itu berbalik dan membuka topi yang dipakainya, dia menyeringai lebar ke arah kami.
Seketika kami tertawa terbahak bahak.
" Mbak, giginya kemana semua mbak???, pasti gak sikat gigi ya makanya ompong, hahahahhaha". Mini berucap sambil tertawa.
" Hahahhaha, udah gak cantik lagi kalau kek gitu, malah lucu!, sahut Yoga sambil tertawa.
Aku tertawa sambil memegang perutku yang mulai kaku." Sudah, sudah, kasian mbaknya nanti nangis lho!!! Tak tahan rasanya karena lama sudah kami tertawa.
" Kalian jahat sama aku, ngatain aku ompong, huhuhuhuhuhu", wanita itu menangis tersedu sedu.
Ciiiiiiiitttttttttt
Bunyi pintu berdecit, dari balik pintu keluarlah seorang lelaki paruh baya, dia mengenakan setelan hitam seperti orang mau berkebun.
" Siapa yang membuat anak saya menangis haa???
Lelaki itu bertanya dengan kasar.
Kami terdiam dan saling berpandangan serta menggelengkan kepala.
" Kami gak ngapa ngapain om, kami tertawa dan ngatain dia ompong om!!", jawab Farid.
" Kalian belum tau ya siapa kami???" pria paruh baya itu menyeringai ke arah kami.
Sontak kami terdiam dan......
" Kha...hahahhahah.... Ompong juga kayak anaknya, eh gak gak, bapak sama anak sama ajah ...hahhahah....",
Kami gak sanggup lagi, perut kami kaku saking lamanya tertawa.
"Diam kaliaaaaannnn !" Pria itu berteriak pada kami.
" Maaf om, kami gak sengaja tertawa, habis om sama mbaknya lucu, tak ada gigi, ompong!!! Aku berkata sambil menahan tawa.
" Sudah, sudah, kalian ikut saya masuk !! ajaknya pada kami.
Kuikuti langkah mereka berdua.
Saat kami sampai di balik pintu, kulihat pemandangan hutan malam yang mencekam.
kami bergidik ngeri.
"Mereka jurig", bisik Mini.
"Ya, gue tau", aku menyahut sambil berbisik.
" Tapi, mereka bisa jalan tuh", tunjuk Ifan ke arah pria dan wanita tadi.
" Kakinya gak jelas, soalnya celana sama gaun mereka tertutup kaya mau nyapu jalanan", Bisik Yoga.
" Kalian berisik, kalian malam ini harus tinggal disini dan bermain bersama putriku, atau aku...!!
pria paruh baya itu menyeringai kepada kami sambil membuat gerakan tangan ke arah leher.
Kami semua bergidik ngeri, bulu kudukku meremang melihat suasana sekitarku.
Sebuah restoran tapi di dalamnya ada Hutan angker.
Aneh sekali, kami melangkah perlahan, tegang sekaligus takut dengan suasana disini.
Proooootttt.....suara berisik terdengar.
" Bisa bisanya lu kentut disaat kek gini, najis lu," sungut Mini kesal kearah Farid.
" Sorry, gue kelepasan, gak tahan banget tau, lu coba aja nahan kentut, yang ada begah nih perut" cicit Farid.
" Kalian masih saja main main sama kami, gak takut sama hantu seperti kami???.
Si om dan si mbak menyeringai lebar kearah kami.
" Hahahhahahah......hahahhahah..... om, mbak tolong jangan kaya gitu, aku gak tahan", Yoga tertawa lepas.
" Om gak usah sok nakutin kalau kaya gitu, kita gak takut, malah ketawa, liat tampang om dan mbak yang lucu gegara ompong, giginya pada rontok!!!
Kata Rika sambil tertawa.
"Kalian sudah menghina kami sebagai penunggu tempat ini, masak serem kaya gini di bilang lucu, aku sebagai setan merasa gagal, gagal jadi setan!!!
huahuahuahua," rengek pria paruh baya itu.
" Bapak sama anak kompak ya, ompongnya sama, cengengnya juga, dasar jurig !!!" Ifan mengata kepada dua jurig di depan kami.
"Kami capek jalan terus om, daritadi gak sampe sampe, mana nih rumah jurignya!!! sungut Mini kesal.
" Sudah berada di sini pun, kalian gak merinding disko gitu??? Nih liat", tunjuk si noni belanda menunjukkan tangannya yang terangkat ke udara.
" Mbak....bau ketek mbak, itu tangannya jangan di angkat. keteknya bauuuuuu, bener deh!!! kata Yoga usil.
"Kalian masih saja main main, diam semuanya!!
bentak jurig si om.
Di depan sana terlihat sebuah rumah kayu kecil,
ku langkahkan kaki menuju pintu kayu tadi yang aku masuki, kulirik teman temanku.
"Eh kita lomba lari yukkk, itu si jurig kan gak merhatiin kita, mreka lempeng aja tuh jalan di depan", Aku berkata pada teman temanku.
Tiga.......
Seruku sambil berlari kencang, kami berlari menuju pintu kayu tadi, tanpa mempedulikan kedua jurig di belakang kami.
Setibanya di pintu tiba tiba pintu menutup dengan sendirinya.
"Beraninya kalian mau kabur darisini", kata om jurig.
"Kami mau pulang om, ini sudah jam dua pagi", lirihku.
Hahahhahah......Om jurig tertawa kencang dan lebar, dari matanya tersembul belatung dan mengeluarkan darah.
" Kalian harus tinggal disini bersama putriku, dia kesepian, dia perlu teman" suara itu bergema.
Kami bergidik ngeri sambil berpelukan satu sama lain.
Suasana gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun.
Kulihat badan kami tergeletak di ruang gelap ini.
"Tunggu....... itu....ituuu badanku tapi kenapa aku bisa disini, kenapa badanku ringan sekali".
Ada sebuah cahaya berpendar kearahku dan akupun tak ingat apa apa lagi.
Berita jam 6 pagi.
Ditemukan 6 mayat di Restoran Van de B***, diduga mayat ini baru semalam meninggal dan kematiannya seperti sesak nafas tiba tiba dan mendadak serangan jantung....bla.....bla.....bla....
Restoran itu di tandai garis polisi dan kasus tersebut masih menjadi tanda tanya sampai saat ini karena keenam mayat itu di perkirakan kematiannya bersamaan dan mendadak terkena serangan jantung.
TAMAT. 🔚