"Aduuuh!" Aku menjerit lemas di hadapan ketiga temanku Andre, Dono, dan Jono.
"Ada apa, Juki?" tanya mereka dengan gimik berbeda.
"Perutku ...hsshh!" desahku yang semakin tak dapat kuelak.
"Emang kenapa sama perutmu!"
"Mules, tahu! Kalian masak mie tadi pake cabe berapa banyak, sih? 20 yak, perutku rasanya mau meledak ini!" jeritku disertai amarah yang menggebu.
"Kagak 20 kok, suer!"
"Gak mungkin, mana mungkin sampai bikin perutku mules begini kalo gak sebanyak itu!"
"Serius, gak 20, cuma 30 kok, hahaha!" Seketika mereka terbahak berjamaah meledekku.
'Siomay! mereka semua ternyata ngerjain aku, awas aja. Pikirku
"Hsss, ahh gak tahan!" Aku tak kuasa untuk tidak memegangi perut, rasanya mau kelepasan di tempat, tapi ingat sikon. "Jono, toilet sebelah mana?"
"Ituh, sebelah kiri, belok lagi, terus tu keluar, nah, jambannya di seberang jalan."
"Apa?? Serius?" Mendengar itu, aku langsung bergidik ngeri.
"Iya, serius." Mereka terus tertawa bagai tengah menonton pertunjukan opera komedi.
"Awas kalo bohong, ya!"
"Iya, iya!"
Segera aku berlari sambil memegangi bokong, karena rasanya harta tabunganku sudah nyaris berada di ambang pintu kemerdekaan. Namun begitu, masih dapat kudengar tawa lepas mereka yang melepas kepergianku menuju jamban seram dan mencekam di seberang jalan.
Siomay! Siapa sih dulu arsiteknya rumah temanku ini, aku mulai beryanya-tanya dalam hati, bisa-bisanya mereka mendirikan toilet dengan metode sosial distancing. Aghh geram sekali aku. Namun, setelah kupikir-pikir lagi, aku baru ingat, ternyata bapakku sendiri yang dulu membantunya membangun rumah ini. Alasan utamanya membangun toilet terpisah agar mempermudah, di seberang jalan itu adalah sungai, jadi tak perlu bersusah payah mencari air untuk cebok. Yah, tapi itu kan puluhan tahun yang lalu, kalau sekarang sumber air sudekat!
Ahh nasib, nasib.
Tak terasa, langkahku sudah berhasil menapaki ambang pintu dapur, aku membukanya dan langsung terpampang toilet buluk itu di seberang jalan. Bentuknya biasa saja tapi melihatnya saja aku seperti pria jomblo yang sudah ratusan tahun tak berpacaran, dan ingin segera mendapatkannya.
Tak pikir panjang lagi, segera aku menghambur ke sana, jangan tanya seperti apa kondisiku, bisa kalian tebak, sangat kacau balau. Ya, aku tak kuat lagi menahannya hingga mereka terlepas begitu saja di dalam celana.
Kututup rapat daun pintu yang sudah reot itu, tapi karena penguncinya tak kuat menahan, pintu itu terbuka lagi, kututup lagi tapi hal yang sama terulang lagi, hingga tiba-tiba Andre sudah ada di depan pintu, tak mau pikir panjang segera aku memintanya memegangi daun pintu selama aku menunaikan hajat. Dan Anehnya Andre manut.
Bau hajatku sangat menyengat, juga suara ledakan bom-ku sangat dahsyat, sebenarnya aku malu pada Andre, tapi mau bagaimana lagi, hanya dia harapanku.
"Ndre?" Iseng aku mengajaknya bicara dari dalam. Tak ada sahutan.
"Ndre, kamu masih di situ kan?" Tetap Andre tidak menyahut.
"Ndre, sabar sebentar, ya!" pintaku padanya.
Kalau dipikir-pikir, sikap Andre yang ada di luar toilet sangat aneh, karena sejak tadi dia diam saja, padahal biasanya dia yang paling aktif menghujatku, apalagi kondisiku dalam keadaan urgent begini, di tambah suara leduman dan aroma sensasional yang kubuat, sangat aneh rasanya kalau Andre tak bereaksi. Tapi ah sudahlah, aku mencoba berpikir positif, mungkin jiwa humor Andre punya sisi toleransi.
Lalu tiba-tiba, hawa mistik menyelinap dalam ragaku, seketika bulu kudukku merinding. Juga mendadak kudengar suara burung hantu bertenggger di atas atap toilet jamban ini.
U .. uk uk!
"Siomay, burung hantu ini ngajak perang yaa, kan mulesku jadi mampet gegara mendengar tegurannya."
Uk .. U .. uk uk!
Lagi, dia bersuara.
"Ndre?" Panggilku lagi untuk memastikan kalau Andre masih ada di luar, tapi tetap tak ada sahutan. Suasana hatiku mulai kacau, "Apa angan-jangan ...."
Buru-buru aku menyelesaikan acara khidmatku, dan segera ingin mengenakan celana, tapi kulihat noda kekuningan pada celanaku, siomay siomay. Terpaksa aku mencucinya, padahal tanganku sudah mulai gemetar takut, tapi tidak mungkin aku keluar menggunakan celana ini tanpa di cuci, biarlah tak apa jika nanti mereka menanyakan perihal celanaku yang basah, toh aku bisa ngeles, kubilang saja kalau tadi terjatuh di air.
"Juki ...." Tiba-tiba saja Andre yang di luar memanggilku dengan nada mendesau. Seketika semua bulu di tubuhku meremang.
"Ndre, kamu jangan coba-coba ngerjain aku, ya!" cecarku padanya. Selesai membersihkan noda kekuningan di celana, segera aku mengenakannya. Dengan sedikit takut aku membuka pintu. "Ndre, aku selesai," tuturku pelan.
Krieet!
Tiba-tiba pintu itu terbuka. Itu artinya Andre berhenti memegangi,
Aku lega, sepertinya yang di luar memang Andre, karena dia menerima instruksiku. Kumelangkah dengan mantap keluar dari bilik angker ini. "Ndre?" ujarku menoleh, tapi tidak ada sosoknya. Cepat kuedarkan pandangan mencarinya. "Ndree?" panggilku lebih keras, tetap aku tak menemukannya, aku mulai merinding, jangan-jangan ....
Lalu tiba-tiba ....
"Juuukiii ...." Andre memanggil namaku."
Aku menoleh pelan dan tersentak kaget karena dia menyorotkan senter pada wajahnya. Reflek aku tanganku mendorongnya hingga tercebur ke sungai. Melihat dia yang berhasil tercebur aku lebih terkejut.
"Ndre? Kamu gak papa?" Kuulurkan tangan untuk menolongnya, anehnya meski nyaris hanyut Andre masih saja menyorotkan senter ke wajahnya. "Ndre, bukan waktunya buat becanda kali, cepat raih tanganku!" makiku.
"Juuukiii, ngapain, cepat balik, yang lain udah nungguin kamu dari tadi!!" Tiba-tiba dari arah belakang, kudengar suara milik Andre memanggil. Seketika bola mataku membulat, aku menoleh, dan kudapati Andre berdiri di seberang jalan sambil melambai.
Sementara sosok yang sejak awal kukira Andre masih mengambang di sungai, dengan wajah terang yang kukira lampu menyorot ke wajahnya.
thanks for read ~~