Lala hanyalah seorang hantu yang sering beregentayangan dan mampu mengubah wujudnya menjadi seribu wajah wanita cantik. Malam ini dia kembali mengubah wujudnya menjadi sosok wanita cantik dengan menggunakan pakaian daster bewarna putih tulang. Penampilannya kali ini, terlihat lembut dan bersahaja. Rambut indahnya di gulung panjang membentuk bola donat, dan dia menggendong seorang bayi dalam tangannya.
Lala berjalan menuju warung tenda. Pak De terlihat akan mengangkat setiap kursi, karena sudah pukul dua pagi. Sudah saatnya, dia beristirahat dan menutup warung tendanya.
"Permisi Pak De, apa masih ada bubur kacang ijo?"
Pak De menurunkan kursi, "Dah mau tutup, Bu."
"Minta semangkok donk Pak De. Lala lapar, belum makan. Anak Lala juga lapar, Pak De."
Lala berpura-pura merengut, dan bergerak menimang-nimang bayinya. Pak De terketuk rasa kasihan,dan dia pun menurunkan kursi.
"Nggak apa Bu, silahkan menunggu saya buatin dulu, yah."
"Terima kasih,pak."
Pak De mengelap meja dan mempersilahkan Lala untuk duduk. Sepasang mata Pa De terlihat, terlihat mencari sosok lain yang berada di luar. Namun, tidak ada.
"Sendirian, Bu."
"Dengan anak, Pak." Lala menunjukkan bayi dalam gendongannya.
"Iya, saya tahu. Maksud saya, suami ibu tidak ikut."
Lala terlihat menghela napas dan menjawab, "Suami saya sudah di ambil orang Pak De. Saya Janda cantik Pak De."
"Oh...." Pak De hanya menganggukan kepala kecil dan tersenyum dalam hati. Pak De pergi ke kompor, memanaskan panci bubur kacang hijau.
Tidak menunggu lama. Bubur kacang hijau hangat tersedia. Di suguhkan segera ke meja yang berhadapan dengan wanita yang terlihat anggun dengan bayi yang terlihat pulas dalam gendongannya.
"Terima kasih, pak." Lala mulai menyatap bubur kacang hijaunya. Dia terlihat makan dengan cepat dan sangat lapar.
"Enak banget, pak rasanya kaya nasi goreng Thailand, Pak De."
Pak De mengerutkan kening dalam merasa konyol akan ucapan Lala, dan berkomentar, "Jauh sekali bu. Nasi goreng dan bubur kacang hijau, jauh berbeda rasa dan tekstur, apalagi warna."
Lala tersenyum, "Saya makan bubur kacang hijau. Tetapi yang saya bayangkan adalah makan nasi goreng."
"Tambah lagi, pak." Pak De segera menambahkan mangkok bubur kacang yang baru.
Lagi-lagi habis dengan cepat. "Tambah lagi,pak."
'Kasihan, ibu ini pasti sangat lapar.' Pak De menambahkan banyak porsi dalam satu mangkok lagi. Pak De pun memberikan mangkok dengan bubur kacang hijau terakhirnya.
"Tambah lagi." Lala terus menambah.
"Sudah habis, bu."
"Buka pancinya, pak. Pasti, masih ada."
Pak De menghela napas, dan membuka panci hanya untuk menunjukan jika bubur kacang hijau itu telah kandas, dan hanya ampas tersisa.
Pak De membuka panci. Namun,dia di kejutkan bubur kacang hijau telah mengisi penuh panci lagi. Merasa terheran-heran, dia merasa dirinya hanya sedang berhalunisasi akan isi panci miliknya.
"Ada kan, pak. Tambah lagi yah."
Pak De dengan menyimpan rasa herannya, menuangkan satu centong bubur kacang hijau lagi pada mangkok, dan menyuguhkan kembali. Lagi-lagi bubur kacang di lahap dengan cepat.
"Tambah lagi."
"Tambah." Wanita anggun itu terlihat meminta dan meminta lagi. Bahkan kini, setumpuk mangkok habis pakai terlihat bersusun banyak dan berjejer rapi di atas meja.
Setiap panci telah kosong. Tetap saja akan terisi kembali, setelah Pak De membuka pancinya. Berulang terus berulang, dan membuat Pak De menyerah dan tidak bisa menyembunyikan ketakutannya lagi.
"I-ibu i-ini siapa sih?" Pak De heran da mulai ketakutan.
Lala tidak menjawab pertanyaan. Hanya berdiri dan mengeluarkan setumpuk uang. "Terima kasih atas layanannya."
Lala berbalik meninggalkan warung tenda. Pak De segera mengikuti dan memeriksa ke luar tenda. Terlihat wanita dengan bayi dalam gendongan sedang berjalan menjauh dengan langkah sangat perlahan. Tak lama terlihat bercak merah merembes menembus gaun putih wanita cantik itu.
Pak De mengucek matanya. Seakan dia mempertajam dan memperjelas penglihatannya. Dia mulai menduga-duga pelanggan yang memberinya uang tadi, pastilah bukan manusia.
Pak De menatap dengan lekat, dan matanya sedikit berkedut melihat cairan merah menghias gaun putih itu terlihat makin merembes dan membentuk bercak-bercak merah yang menembus kain putih tersebut.
Makin lama Pak De menatap, dan menyadari jika bercak-bercak merah itu terlihat seperti darah segar. Darah itu merembes deras, menodai gaun putih tersebut. Perlahan, darah seakan mengoyak gaun putih itu. Gaun putih itu terkoyak, dan menampakakan lubang besar di belakang punggung wanita itu. Pak De terkesiap dengan mata melotot kosong dan takut.
Perlahan punggung yang berlubang itu mengeluarkan bubur kacang hijau jatuh seperti air keran yang meluncur ke tanah. Jijik . Pak De merasa mual seketika.
Pak De bergindik merasa ngeri dan takut, dia segera kembali masuk kedalam warung tenda. Dia segera menyembunyikan tubuhnya di bawah meja dengan raga yang bergemetar kuat. Lalu, dia melihat uang di atas mejanya telah berubah menjadi daun kering, dia mengelus dada dan berkata pada dirinya sendiri, "Ah, aku ... a-ku telah dikerjai sundel bolong."
"Pak De, bubur kacangnya enak."
Raga Pak De semakin bergetar mendengar pujian yang bergema di dalam warung tenda miliknya. Dia segera memeluk lututnya, dan membenamkan wajahnya di antara lututnya.
"Hi ... hi... hi ...." Terdengar suara wanita terkikik dan bergema di dalam warung tenda lagi, membuat seluruh aderenalin Pak De jatuh ke nol, dan tubuh rentanya berguling ke samping dengan pandangan mulai perlahan gelap.
Lala terkikik bertengger di atas pohon beringin, dia merasa konyol melihat pakde bersembunyi di bawah meja, maka makin besarlah suara terkikiknya menakuti Pak De yang telah jatuh pingsan, "Hi ... hi... hi ...."
***
Tamat