"๐๐ค๐ฎ ๐ฌ๐๐ค๐๐ฅ๐๐๐๐ญ ๐๐๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฉ๐ฎ๐ญ๐ข๐ก ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ซ๐๐ง ๐ญ๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐ซ๐๐ก ๐๐๐ง ๐ญ๐ฎ๐ฃ๐ฎ๐๐ง. ๐๐ข๐ค๐ ๐๐ค๐ฎ ๐ฆ๐๐ฅ๐ข๐ก๐๐ญ ๐ฉ๐๐ฌ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฌ๐๐๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐๐ฎ๐-๐๐ฎ๐๐ง, ๐๐ค๐ฎ ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ฌ๐ฎ๐ค๐ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐ฎ๐ฃ๐ข ๐๐ข๐ง๐ญ๐ ๐๐๐ง ๐ค๐๐๐๐ซ๐๐ง๐ข๐๐ง ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ก๐ข ... ๐ก๐ข ... ๐ก๐ข ...."
By.Jeje
***
Aku bertengger di salah satu pelapah pohon pisang, mulai mengedarkan pandanganku secara acak, dan aku mulai menargetkan tempat sepi, yang hanya akan di lalui oleh satu atau dua orang saja, sebagai aksiku menebar teror ke banyak orang, bahwa aku telah bangkit dari kubur. Aku adalah hantu pengantin yang dulunya memutuskan gantung diri mengetahui pengkhianatan calon suamiku tepat di hari pernikahanku. Kini, aku hanyalah hantu pengantin yang suka bergentayangan berusia ratusan tahun hanya karena dendam yang membuat pintu ke langit itu, tidak pernah terbuka untukku. Oleh itu aku suka bergentayangan tanpa arah dan tujuan.
Aku menyipitkan mataku. Aku telah menargetkan korbanku. Terlihat sepeda motor di boncengi oleh sepasang muda mudi. Terlihat memarkirkan motor di pinggir jalan, dan merebahkan motor tersebut bersembunyi dalam semak-semak belukar.
'๐๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐จ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ... ๐๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฐ๐ซ๐ฐ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข- ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ,' ujarku membantin yang kemudian dalam satu kedipan telah berdiri di balik semak- semak. Aku menajamkan pendengarannya dan mencuri dengar.
"Bang, kita pulang saja. Ini malam Jumat Kliwon, bang ...," rujuk Lian, sang gadis meminta pulang.
Namun, sang pemuda bersikeras tetap tinggal. Dia membawa sang gadis duduk bersembunyi di balik semak-semak. Dia memeluk sang gadis dan berbisik membujuk, "Justru, karena malam Jumat Kliwon.Tidak ada yang melihat, dik. Semua warga berdiam di rumah."
"Tuhan bisa melihat bang Ron!" protes Lian pada Roni, kekasihnya. Lian bergindik dingin karena pakaian minimnya. Namun, Roni bersikukuh untuk tetap tinggal dengan memeluk erat kekasihnya di balik semak belukar, sudut tergelap dengan hanya mengandalkan cahaya kuning dari benda bulat yang berada di tengah cakrawala hitam pekat.
Aku yang mengintai ingin terkikik menakuti mereka, dan hanya menyahut dalam hatiku, '๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ. ๐๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ถ๐ฎ๐ข๐ต ๐๐ญ๐ช๐ธ๐ฐ๐ฏ, ๐บ๐ข๐ฉ.'
"Dik, minta cium, yah ...." mohon Roni berbisik di belakang telinga sang gadis.
"Tetapi, bang ... setan berkeliaran dan mereka mengintip," tolak sang gadis dan menepiskan tangan Roni.
"Aku sayang kamu, dik." Roni membujuk dengan banyak ungkapan cinta.
"Ini malam Jumat Kliwon, bang. Pasti ada hantu."
"Setan malah senang, dik. Bukannya pikiran Abang ini berasal godaan kamu juga, dik. Kamu kok, pakai rok mini dan tanktop seperti ini, sih ...," kilah pemuda tersebut dengan tangan yang mulai mengelus-ngelus punggung kekasihnya yang terlihat mulus dan halus di raba tangan kasarnya.
"Aku kan habis nyanyi, bang. Wajarlah pakaian aku seperti ini," semprot Lian membulatkan mata bundarnya terlihat tidak senang di sebut ikan yang mengantar diri kepada kucing.
'๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ถ, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ. ๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ณ๐ข๐ฎ๐ข๐ช, ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข,' komentarku dalam hatiku. Aku mengulas senyum miring, mendapatkan satu ide menarik. Dengan kekuatanku, aku menggerakan tangan sang gadis, dan menganyunkan ke udara, Lalu menampar keras pipi sang pemuda, ๐๐ญ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ!
"Lah, kok tanganku bisa menampar sendri!" Lian merasa terheran-heran pada tangannya sendiri
Roni meraba pipinya yang memerah, dan baru saja dia akan bersikap merajuk akan sikap kekasihnya. Tetapi, tiba-tiba bibirnya bergerak sendiri, dan melontarkan kalimat yang menghina gadis tersebut, "Dasar wanita murahan. Sok jual mahal. Kalau tidak ingin di bawa ke semak-semak, jangan menggunakan pakaian minim sepertiโ"
๐๐ญ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ! Lian kesal, dan diapun dengan kesadarannya memukul sang pemuda. Sang pemuda terkesiap dari rasa kosongnya.
"Kok nampar lagi, sih!" marah pemuda itu dan bersiap akan membalas menampar sang gadis. Namun, aku menampakan diriku terlihat dengan sosokku wanita bergaun putih dengan gaun pengantin mekar, yang telah berdiri di belakang tubuh gadis itu, aku memasang ekspresi mematung kosong menunjukkan dengan wajah seramku, wajah seputih kertas dengan dua lingkaran hitam di bawah mataku. Membuat tangan Roni bergetar, dan hanya mengayun jatuh begitu saja. Mata Roni terbelalak, dan tubuhnya mematung, tidak bisa dia gerakkan.
"Katanya sayang. Tetapi, malah main pukul-pukulan," tegurku membuat jantung sang pemuda jatuh merosot dan bibir sang pemuda bergetar ketakutan dan terbata-bata dengan telunjuk yang menunjukan kehadiran sosok diriku di belakang tubuh kekasihnya. Aku hanya tersenyum melengkung sempurna.
"A-ada han-hantu, dik ...," gagap sang pemuda memberitahu. Sang pemuda berdiri, dan segera mendirikan kembali sepeda motornya.
Sang gadis bergindik, bulu tekuknya meremang. Dia menoleh ke belakang dengan perlahan, dan dia melihat diriku wanita bergaun pengantin yang terlihat melepaskan dua biji mataku dengan lidahku yang menjulur panjang akan mengikat lehernya.
"Malam-malam begini keluar dengan lelaki hanya pakai pakaian yang kaya kaos dalam aja, hi ... hi ... hi ...," tegurku konyol di akhiri dengan suara yang melengking panjang terbang di udara yang mengirimkan semilir angin yang kencang bertiup-tiup meremangkan bulu halus milik gadis berpakaian minim itu.
"Han-hantu!" Lian segera berdiri dengan peluh dingin yang tiba-tiba membasahi punggungnya.
"Bang, tunggu! Jangan tinggalkan aku!" seru sang gadis terhadap sang pemuda yang telah menaiki sepeda motor, dan menyalakan mesinnya, meninggalkannya.
Aku terkikik melihat sang gadis terlihat mengejar kendaraan yang melaju sangat cepat. Gadis itu terlihat berupaya mengejar dengan napas yang tersisa satu-satu. Namun, tetap saja sepeda motor melaju kencang, dan tidak memperdulikannya.
'๐๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ ๐ข๐ซ๐ข, ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ. ๐๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฃ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ค๐ข๐ญ๐ฐ๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช๐ฌ๐ถ,' kesalku dalam benakku.
Dengan satu telunjukku yang aku arahkan pada sepeda motor tersebut. Tiba-tiba saja motor berhenti bergerak, dan mesin mati.
"Lah pakai acara mogok segala," keluh sang pemuda bingung dan raga yang mulai bergetar kembali. Baru saja, dia berusaha menyalakan sepeda motornya. Tiba-tiba saja aku dengan sengaja ada menarik mundur dirinya beserta sepeda motor tersebut.
Sang gadis mengejar sepeda motor dengan napas tersengal-sengal, menghentikan kecepatan larinya. Dia mematung bingung melihat sepeda motor yang bergerak mundur dengan cepatnya, dan berhenti tepat di depannya.
"Kok, motornya bergerak mundur sendiri?" keluh Roni dan berusaha menyalakan mesin kembali. Namun, selalu gagal.
"Bang, jangan tinggalkan aku lagi" sang gadis menghampiri sepeda motor dan meraih tangan sang pemuda, dengan wajah meringis memohon.
"I-iya, dik. Tetapi, motornya nggak mau hidup." Sang pemuda turun dari sepeda motornya, dan baru saja dia berjongkok akan meriksa busi kendaraan. Tiba-tiba mesin sepeda menyala sendiri. Baru saja, Roni akan menaiki punggung sepeda motornya.
๐๐ณ๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ! Sepeda motor melaju sendiri, tanpa ada yang menungganginya.
Sepasang pemuda dan pemudi itu bergindik. Saling merangkul erat, dengan raga yang terus bergetar, dan bibir yang memohon ampun, "Am-ampun m-mba pengantin... ka-kami janji nggak akan mojok lagi di semak-semak ru-rumah Mba pengantin...."
Aku terkikik dan menampakkan diri, dan berkata seakan diriku adalah hantu yang mengelantur, "Aku benci perbuatan tersembunyi. Kalau nggak tahan lagi, yah ke penghulu dulu bukan ke semak-semak. Jika cinta, ajak menikah yah bukan di mesrain dalam gelap begini."
Sepasang pemuda pemudi bertukar pandangan, bergetar takut, dan lidah kelu. Aku pun sengaja berbalik memamerkan punggung bolongku, yang hanya terlihat tulang dengan usus yang menjulur keluar jatuh ke tanah.
๐๐ณ๐ข๐ฌ! Tiba-tiba terdengar suara dua raga jatuh limbung ke tanah, dan pandangan mereka mulai mengabur dan menjadi gelap perlahan.
"Yah, sudah pingsan ...," komentarku yang lalu dengan kekuatan telunjuk milikku, memindahkan dua tubuh tersebut ke semak-semak pinggir jalan.
"Aku bantu kalian, biar cepat nikah!" ideku tebersit begitu saja. Lalu, satu telunjuknya melorotkan celana sang pemuda, dan membuat pasangan itu tidur saling bersisian dengan tubuh saling merangkul erat.
"Pagi menjelang. Warga menemukan kalian, dan kalian akan segera di nikahkan. Tidak perlu bersembunyi lagi di balik semak-semak hanya untuk ...." Akupun tersenyum puas dan meninggalkan mereka dengan suara yang terkikik pecah di udara, "Hi ... hi ... hi ... Aku kan hantu baik,pasangan seperti kalian aku bantu di nikahin. Happy Wedding anak muda hi ... hi ... hi ...." ๐ก
****
Tamat.