Jomblo bukanlah takdir, melainkan pilihan. Itu adalah semboyan yang selalu kupegang setiap saat. -Yuu Sujono.
----
Aku adalah Yuu Sujono. Entah kenapa orang tuaku memberi nama seperti itu. Padahal Yuu adalah nama karakter anime terkenal. Namun, kenapa harus disertai marga? Namaku malah menjadi aneh. Yuu ... Sujono. Hahhh ...
💡💡💡
Pagi hari yang cerah, tetapi itu tidak berlaku bagi seorang penyendiri level elit sepertiku. Aku memang jarang bersosialisali eh ber-so-si-a-li-sa-si. Jika dibaca maka berbunyi, bersosialisali. Ee ... tuh kan, masih pagi aja otakku udah konslet. Canda konslet.
"Jon!" panggil seorang laki-laki dengan suara nyaring dari belakangku.
Aku menoleh dengan tatapan malas. Karena aku sudah tau siapa dia. Dia adalah Alex Robert Hamington, seorang remaja keturunan Amerika-Inggris. Dia lahir dari keluarga berada. Simpelnya, dia adalah diriku di versi 2.0.
Kenapa aku mengatakan begitu? Karena kami sama. Sama-sama laki-laki maksudnya. Tapi kalau masalah nasib ... ya jangan ditanya. Bagaikan bumi dan galaksi. Aku adalah seorang jomblo sementara dia adalah playboy. Aku selalu melihatnya berganti-ganti pacar setiap harinya. Nyehhh ... apalah daya aku yang jomblo yang cuma bisa jadiin Miku Nakano sebagai istri. Ya ... walaupun istri halu hiyak hiyak.
"Sopankah begitu? Wahai sahabat lucknutku?" sindirku meski sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengannya.
"Yee ... janganlah macam tu. Aku gurau je," ucapnya dengan bahasa asing entah apa itu.
"Gurau gurau Gawr Gura? ... aku nggak bisa bahasa enggres," ungkapku. ku akui, aku memang tidak begitu pintar dalam pelajaran bahasa inggris. Tidak begitu bukan berarti tidak bisa. Setidaknya, nilai bahasa inggrisku selalu di atas 50.
"Itu bahasa melayu ... macam mana lah kau ni?!" ujarnya yang menjurus ke arah merendahkanku.
"Oh," singkatku seraya berbalik dan kembali berjalan.
"Eh Yuu ... jangan tinggalkan daku!" ucapnya dengan nada manja. Hal itu jelas membuatku jijik sekaligus geli. "Ih geli tau oy!" bentakku berteriak.
Kami berdua berjalan bersama menuju sekolah. Dalam perjalanan, Alex selalu membicarakan tentang kejadian-kejadian menyenangkan antara dia dan pacar-pacarnya. Ah sial, dia memang ingin mengomporiku. Cih, dasar kang ngembat
Saat baru beberapa langkah kami memasuki gerbang sekolah. Tiba-tiba saja, ekspresi wajahku langsung berubah menjadi terkaget-kaget. Bagaimana tidak? Sekumpulan gadis-gadis cantik sedang bergerombol di depan kami. Ada yang besar, ada yang sedang, dan ada yang kecil. Maksudnya ukuran tubuh mereka, bukan hal-hal yang lain.
Meski seluruh gadis-gadis sekolah ini cantik, aku sama sekali tidak tertarik. Karena bagiku, 2D lebih baik. Jomblo is happines.
"Alex!" teriak mereka dengan pipi merah merona saat melihat ketampanan Alex. "I Love You, Alex!" sahut siswi lainnya. "Aku ingin menjadi istrimu, Lex!" teriak salah satu siswi dari barisan belakang.
"Eh tenang semuanya. Kalian semua boleh terus memandangi sang malaikat ini hehe ... tapi jangan lupakan monyet yang sedang berdiri di sisiku ini, ya. Kasihan matanya yang selalu menangkap hal-hal yang menyakitkan hati," ucapnya seraya menunjukku.
"Nah ...." Aku menganggukkan kepala. Eh tunggu, dia bilang monyet? Saha? Aing? Elahhh .... "Apa maksud anda, oy? Gini gini aku masih lebih ganteng dari Levi Ackerman. Ah dah ah, males aku di sini terus." Karena kesal, aku pun memutuskan untuk berjalan pergi meninggalkan Alex dengan kerumunan gadisnya.
Singkat cerita, ini adalah jam istirahat. Akhirnya, setelah sekian lama aku menahan rasa lapar di perut ini. Dengan langkah tergesa-gesa, aku berlari menuju kantin hanya sekedar beli mie ayam. Namun, tiba-tiba saja aku melihat Bu Fitri, sang guru BK yang terkenal akan kegarangannya ini, sedang melihat-lihat sampah plastik yang berserakan di tanah. Perasaanku menjadi tidak enak.
"E-eh kamu!" panggil Bu Fitri seraya menunjukku.
Hoho, tidak semudah itu ferguso. Aku membungkukan badanku sehingga membuat tunjukan Bu Fitri meleset ke arah siswa lain.
"Ehh kamu ngapain?" tanya Bu Fitri keheranan.
Aku mendongakan kepala, seraya berujar, "Bu Fitri nggak bisa menyuruh saya, karena Bu Fitri tidak menunjuk saya haha ...."
Suasana di antara kami berdua mendadak menjadi senyap. "MANA BISA GITU, BUJANK?!" tanya Bu Fitri dengan nada ngegas. Bahkan, air liurnya terlihat meluncur bebas dari mulutnya. Sebenarnya aku ingin tertawa ngakak, tapi aku takut dosa.
"pfft ... BWAHAHAHAA ...." Namun sepertinya aku memang tidak bisa menahannya. Tawaku langsung meledak begitu saja.
"...."
"Dasar murid durhaka kamu! Atas izin kepala sekolah, ibu menghukummu membersihkan seluruh lingkungan sekolah hingga bersih!" ujarnya.
"HAHAHA .. ha ... ha ... TIDAKKKK!" Aku berteriak dengan suara yang sangat keras.
💓💓💓
Pada akhirnya, aku pun terpaksa menjalani hukuman berat ini. Dengan langkah terpaksa, aku berjalan ke arah gudang untuk mengambil alat-alat kebersihan.
"Nyeh ... nasib-nasib," umpatku karena kesal.
Aku bergegas masuk ke dalam gudang. Saat baru beberapa langkah aku masuk ke dalam gudang, tanpa diduga-duga sebuah cairan berwarna merah pekat mengalir dari atap. Warnanya seperti merah darah.
Namun, aku tak menggubrisnya. Karena aku masih memiliki pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Ketika aku hendak mengambil sapu, tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan seorang perempuan.
Sontak hal itu membuatku kaget dan was-was. "SIAPA ITU?!" ancamku seraya menodongkan sapu untuk berjaga-jaga. Sesaat setalah aku berteriak, suara tawa itu pun langsung berhenti seketika.
"Hufttt ...." Aku menghela napas lega karena 'hantu' itu telah pergi.
Namun, tiba-tiba, aku merasakan seseorang memegang kedua bahuku dari belakang. Aku meneguk salivaku karena takut. Saking takutnya, badanku sampau gemetaran.
"Sttt ... jadilah kekasihku dan berhentilah menjomblo hihihi ...," ucapnya dengan nada hantu menyeramkan.
—Tamat—
Note : Miku tau cerpen ini jelek. Tapi, Miku sih gak berharap banyak, ya. Yang penting, Miku ingin menghibur warga desa berkabut yang amat sangat Miku sayangi. Arigatou ... nyah!