Saya hidup didunia ini sudah selama 25 tahun, hidup berkecukupan dari usaha yang kumiliki, yaitu sebuah restoran steak yang cukup terkenal didaerahku. Hanya satu yang tidak kumiliki. Bukan, bukan istri, pacar saja tidak ada bagaimana istri.
"Bos, kami pulanh duluan ya!" sapa karyawanku berpamitan pulang.
"Hei, dapur sudah beres?" tanyaku memastikan.
"Aman Bos, sudah beres semua." Jawab mereka.
"Makanan sisa sudah disimpan di kulkas?" tanyaku lagi memastikan mereka tidak membawa pulang makanan sisa yang ada.
"Sudah, Bos, aman!" jawab mereka.
"Bos juga pulang sana, istri nungguin tuh dirumah!" celetuk salah satu dari mereka.
"Hoi, si Bos kan nggak punya pacar." Sahut yang lain menanggapi.
"Punyanya apaan dong?" tanya anak itu kemudian.
"Sapi bakal steak. Hahahaha!" jawab anak itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tertawalah kalian sekarang, lihat saja nanti kalau saya sudah punya pacar, kalian pasti bakal menyesal!" gerutuku kesal.
Setelah menutup restoran, saya 'pun pulang kerumah saya yang berada dikawasan perumahan elit. Dirumah sebesar itu, saya hanya tinggal sendirian, kedua orang tuaku sama sekali tidak mau tinggal denganku, alasannya karena mereka lebih betah tinggal di kampung yang lebih ramah, katanya.
"Ha~ coba saja ya, tiba-tiba ada cewek cantik melintas jalan terus tidak sengaja tertabrak dan jatuh cinta padaku, ada tidak ya?" gumamku berandai-andai.
Hahahaha, seperti sinetron FTV saja. Tapi siapa yang tahu kan? Bisa saja beneran terjadi kan?
Radio dimalam jum'at begini siarannya kebanyakan cerita horor. Bikin merinding saja, mana jalan yang saya lewati sekarang lebihbsepi dari biasanya lagi. Semoga tidak bertemu dengan hantu. Kalau cantik saya nggak nilak sih.
Benerapa menit kemudian..
-Ckiiittt-
Seseorang benar-benar melintas didepan mobilku, untung saja saya langsung menginjak pedal rem, kalau tidak mungkin orang itu sudah terlindas kali ya? Jadi keripik manusia, hihihiii kalau dijual mau bikin rasa apa ya?
Sebagai pengemudi yang baik dan bertanggung jawab, saya langsung keluar untuk melihat keadaannya, dan ternyata benar, ada seseorang yang tergeletak dideoan mobil saya.
"Jangan-jangan begal?!" pikir saya begitu.
Pelan-pelan saya dekati orang itu, dan mencoba membangunkannya, karena kalau sudah mati pasti urusannya bakal panjang kan ya?
"Permisi, masih hidup tidak ya?" tanyaku dengan sopan.
"Apa aku sudah mati?" tanya orang itu balik.
"Eh, ternyata masih hidup." Seruku senang.
Ternyata orang itu adalah seorang wanita. Dan juga cantik, wajahnya juga blasteran gitu. Sikat nggak ya? Apa Tuhan mengabulkan do'aku tadi ya? Eh, apa yang tadi termasuk do'a? Kan saya sedang tidak beribadah. Sudahlah, tolong dia dulu saja.
"Saya minta maaf karena sudah menabrak Embaknya, apa ada yang luka? Atau kita kerumah sakit saja buat periksa?" tanyaku untuk memastikannya.
"Eh, kamu siapa? Kok bisa lihat aku?" tanyanya dengan wajah kebingungan.
"Loh, saya tidak buta. Ya tentu saja saya bisa lihat." Jawabku heran.
"Kok aneh?" gumamnya.
Bukannya dia yang aneh ya?
"Ck, aduh, kok sakit ya?" rintihnya tiba-tiba.
Saya lihat tangannya memegangi kepalanya, saya 'pun berinisiatif intuk mengeceknya, karena biar bagaimanapun itu karena kesalahan saya.
"Astag!" pekikku seketika.
Kepalanya berdarah banyak sekali, pasti karena bocor terhantam aspal. Karena panik, saya langsung membopong dia masuk kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Mas, kita mau kemana?" tanyanya ketakutan.
"Kerumah sakit, lah. Kepala kamu bocor begitu." Jawabku dengan nada tinggi saking paniknya.
"Masnya jangan marah, aku nggak apa-apa kok." Ujarnya sedih karena takut melihatku yang setengah membentaknya.
"Aduh, bukan begitu, saya tidak marah sama kamu, saya cuma panik soalnya kepala kamu bocor gara-gara saya." Jawabku mencoba menjelaskan.
"Eh, ini bukan karena Masnya kok, ini gara-gara...siapa ya? Kok aku nggak ingat sih?" jawabnya seperti orang linglung.
Jangan-jangan dia kena amnesia gara-gara luka dikepalanya. Harus cepat sampai rumah sakit!
Sesampainya dirumah sakit, saya langsung membawanya ke UGD. Saat dileriksa, dokter terus-terusan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada apa Dok?" tanyaku cemas.
"Saya heran, tapi ini memang terjadi." Jawab Dokter itu serius.
"Iya, apa?" tanyaku semakin panik.
"Istri anda ini, sudah kehabisan darah, tapi kok masih hidup ya?" jawab Dokter itu bertanya-tanya.
"Hah? Maksud Dokter apa?" tanyaku bingung.
Kok bisa dia bilang begitu, dia kan bukan istriku. Amin sih, tapi kan..eh! Maksud saya, kok bisa dia bilang 'kenapa si Embaknya masih hidup'.
"Mas lihat saja sendiri, masa darahnya 'nol'. Atau alat pengukur darah saya yang kurang ya? Tapi alat ini masih baru kok, baru berapa bulan saja." Jawab Dokter itu memperlihatkan angka pada alat pengujur tekanan darah.
Hah? Benaran 'nol' lho. Itu artinya kan kosong! Kosong!
"Te-terus bagaimana dong?" tanyaku panik.
"Karena istri anda masih terlihat baik-baik saja, kita akan tetap menangani lukanya dengan baik." Jawab Dokter itu sambil mengeluarkan peralatan dokternya.
Ya kan itu memang tugas dia.
Setelah selesai menjahit luka di kepala Mbak itu, Dokter langsung mengizinkan kami pulang setelah memberikan resep obat yang harus di tebus di apotek.
Singkat cerita, Mbak yang mengaku bernama Ningsih bekerja di restoran saya karena mengaku tidak punya uang dan butuh pekerjaan.
Kecantikannya yang luar biasa membuatku menjadi terus-terusan memandanginya, dan dia pun selalu tersenyum ramah pada saya. Ah, apa dia juga jatuh cinta pada saya, ya? Dan lagi, dia style retro dan vintage membuatnya terkesan lebih manis dan elegan.
"Ciee si Bos ngeliatin Ningsih terus, awas matanya copot, Bos!" seru oara karyawanku meledek.
"Kenapa memangnya, hah? Terserah saya dong, saya kan Bos!" jawabku karena kesal.
"Weits, sorry bang jago! Ampun bang jago, tet tetet tet tet,tet tetet tete tetet.."
Mereka malah nyanyi. Sudah lah, abaikan saja.
Apa kentara sekali ya kalau saya memperhatikan Ningsih? Padahal kan saya cuma duduk jadi sering keluar dari kantor saja buat ngelihatin dia, eh, mengawasi karyawan saya.
Ningsih itu unik, dia sering terlihat heboh dan berapi-api saat melihat seauatu yang munhkin aneh dan baru menurut dia. Selain itu dia jugamempunyai kebiasaan aneh seperti mengajak bicara kucing atau anjing di jalanan yang dia temui. Terkadang dia juga seperti sedang mengobrol dengan seseorang di gudang. Tapi saat keluar, ternyata dia sendirian dan tidak ada siapa-siapa lagi didalam. Mungkin dia mengobrol lewat telefon. Tapi faktanya, dia tidak punya ponsel. Lalu, dengan siapa dia mengobrol?
Saya tidak mau memikirkan hal itu, bagi saya yang sudah terlanjur jatuh cinta, apapun itu, saya akan menerimanya dengan setulus hati saya. Mau dia aneh lah, atau terkesan gila saya tidak perduli lagi.
Malam ini rencananya saya mau mengantarkan dia pulang. Yah, sekalian PDKT. Kalau difikir-fikir, saya tidak tahu apa-apa tentang dia selain namanya saja. Bahkan umurnya saja dia tidak mau menjawabnya sama sekali.
"Ningsih," panggilku.
"Ya Bos, ada apa?" tanyanya.
"Malam ini kamu pulang pakai apa?" tanyaku berbasa basi.
"Seperti biasa, Bos, jalan kaki." Jawabnya.
"Bagaimana kalau saya antar? Sekalian ada yang mau saya bicarakan sama kamu." Ujarku menawarkan diri.
"Ja-jangan Bos!" tolaknya dengan cepat.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Itu, ru-rumahku jelek." Jawabnya beralasan.
"Saya tidak punya masalah dengan itu. Bagaimana? Mau ya?" jawabku memaksa.
"Ta-tapi nanti Bos jangan kaget ya?" ujarnya mewanti-wanti.
"Iya. Kalau begitu nanti saya antar kamu pulang setelah saya menutup restoran ya." Ujarku memastikan sekali lagi.
"I-iya."
Setelah menutup restoran, kami pun berangkat menuju rumah Ningsih dan saya 'pun mulai menyatakan isi hati saya terhadap dia selama ini.
"Ningsih, sebenarnya saya itu sudab suka sama kanu sejak saya menabrak kamu malam itu. Tidak terasa sudah satu bulan berlalu ya." Ujarku memulai pembicaraan.
"Hah? Bos suka sama saya?" tanyanya kaget.
"Ta-tapi Bos.." Selanya.
"Kenapa? Apa kamu sudah punya pacar?" tanyaku penasaran.
"Tidak, pacar saya meninggalkan saya dengan wanita lain." Jawabnya sedih.
"Apa? Kok bisa dia meninggalkan wanita secantik kamu?" tanyaku kesal sendiri dibuatnya.
"Tapi itu sudah lama kok. Sekarang saya sudah ikhlas berkat Pak Bos." Jawabnya sambit tersenyum hangat.
Ough, manis sekali senyumannya. Hatiku sudah tidak tahan inhin memilikinya.
"Apaan sih, memangnya apa yang sudah saya lakukan buat kamu?" tanyaku sok cool.
"Karena Bos sudah memberikan aku kesempatan hidup yang sangat berarti dan menyenangkan. Seridaknya saya tahu kalau perasaan Bos ke saya itu tulus." Jawab Ningsih.
Tetiba saja suasana didalam mobil jadi sedikit berbeda. Seperti ada perasaan tegang dan mencekam, bahkan bulu kuduk saya berdiri seperti ada yang meniup dari belakag tengkuk saya.
"Saya juga sekalian mau pamitan sama Bos, soalnya mulai besok saya tidak bekerja lagi di restoran-nya Bos." Ujarnya tiba-tiba.
"Kok? Kamu kenapa? Apa tidak betah kerja ditempat saya? Apa ada karyawan lain yang menindasmu? Katakan saja, nanti biar saya yang bereakan." Tanyaku bingung sendiri.
"Tidak, saya bekerja di tempat Bos karena saya penasaran akan satu hal dan hatus memastikannya sendiri. Sekarang saya sudah tahu jawabannya, dan itu artinya waktu saya sudah habis, saya sudah hatus kembali ke tempat saya. Terima kasih ya, Bos ataa kesempatan uang Bos berikan pada saya selama ini. Saya sangat bersyukur yang menabrak saya malam itu adalah orang baik seperti Bos, akhirnya sekarang saya bisa istirahat dengan baik. Kalau ada kehidupan berikutnya, saya ingin kita dipertemukan lebih awal." Jawabnya panjang lebar dan saya semakin tidak faham dibuatnya.
"Ma-maksud kamu apa? Saya sama sekali tidak mengerti." Tanyaku lagi.
"Sudah sampai. Saya turun disini, rumah saya ada disana. Lain kali kalau Bos mau bertemh saya, Bos bisa datang lagi kesini, tanya saja pada penjaganya atas nama Ningsih Ningrum Oktovia De Vijk." Ujarnya tanpa menjawab pertanyaan saya.
"Eh, kamu keturunan Belanda?" tanyaku penasaran setelah mendengar nama panjangnya.
Dia hanya tersenyum tipis, lalu sebelum dia turun, dia kembali berpesan, "setelah saya turun, Bos langsung pergi saja, jangan lihat kebelakang atau mengintip spion ya. Kalau mau tahu rumah saya datang saja besok. Bawakan bunga sedap malam ya." Ujarnya.
Dia pun turun dari pintu dan melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah. Sesuai permintaan dia, saya langsung pergi dan tidak menoleh lagi. Tapi ada rasa penasaran dihati ini yang membuat saya ingin melirik kearah spion mobil.
Malam itu saya tidak bisa tidur karena terus terfikirkan apa yang saya lihat ditempat saya menurunkan Ningsih. Detik pertama saya masih bisa melihat Ningsih melambaikan tangannya, tapi oada detik berikutnya, saya melihat cahaya terang berpendar diatas kepala Ningsih, dan seketika Ningsih terbang melesat melewati cahaya itu.
Keesokan harinya, saya langsung pergi ke toko bunga untuk membeli bunga sedap malam yang dia minta. Setelah membelinya, saya bergegas menuju kawasan perumahan tempat tinggal Ningsih. Hari ini saya harus mendapatkan jawabannya.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba saya merasa haus lalu berhenti untuk membeli 2 botol air mineral. Kenapa 2 botol ya? Saya juga tidak tahu.
Sesampainya di kawasan perumahan tempat saya menurunkan Ningsih malam tadi, saya benar-benar terkejut karena ternyata itu adalah kawasan pemakaman Belanda yang sekarang menjadi tempat pemakaman umum.
"Aden ini mau ziarah ke makam siapa?" tanya Bapak berumur 70 tahunan yang menjaga areal pemakaman tersebut.
"Ning-Ningsih." Jawabku ragu.
"Ningsih yang mana nih?" tanya Bapak itu lagi.
"Ningsih...Ningrum..Oktovia De Vijk." Jawabku.
Entah mengapa lidah saya sangat lancar mengucapkan nama yang baru pertama kali saya dengar itu.
"Oh, mari saya antarkan, Den." Ujar Bapak itu kemudian.
Setelah beberapa saat mencari..
"Ningsih Ningrum Oktovia De Vijk."
Saya membaca nama yang tertera pada nisan batu yang tingginya menyamai tinggi badan saya. Air mata saya menetes tak terhenti sampai saya bersimpuh dihadapan makam kuno tersebut. Bagaimana tidak kuno, tertera angka 1899-1921. Itu artinya Ningsih lahir di tahun 1899 dan meninggal di tahun 1921 pada usia 22 tahun, yang artinya saya sudah mencintai hantu berusia 100 tahun. Bagaimana cara saya mempercayai semua ini?
^^^^^
Kok berasa nggak lucu ya? Menurut Sobat Readers gimana? Anggap lucu aja lah ya...