Angin malam berhembus kencang. Langit hanya ditemani sang rembulan, yang malam ini dengan setia menampakkan seluruh tubuhnya kepada semesta.
Gundukkan-gundukkan berbaris rapi di tanah tak berpenghuni ini. Aroma bunga melati menyerbak di seluruh penjuru. Papan-papan berjejer rapi di atas kepala setiap gundukkan. Menandakan kepemilikkan bagi orang-orang yang bersembunyi di bawahnya.
Menik duduk di depan sesajen yang sudah terususun rapi di hadapannya. Ia memejamkan matanya penuh khidmat, sambil merapalkan berbagai macam kalimat yang tak jelas.
Tiba-tiba gundukkan tanah di bawahnya terbuka perlahan. Suasana tiba-tiba terasa sunyi. Bahkan jangkrik pun enggan untuk berbunyi. Perlahan muncul tangan-tangan kurus, pucat dan agak membusuk berwarna keabuan. Tanah terbuka semakin lebar, menampakkan kepala seorangi wanita dengan rambut acak-acakkan, kusut dan di penuhi tanah. Matanya menyalang berwarna merah darah. Wajahnya seperti tak berdaging, dan hanya tampak seperti tulang yang dilapisi kulit.
Wanita menyeramkan itu berusaha naik ke atas permukaan, tapi tangannya tergelincir. Membuatnya kembali masuk ke dalam lubang kuburan lagi.
"Heh! Dukun Somplak! Bantuin napa? Aku gak bisa naik nih ke atas," seru Wati, arwah yang dibangkitkan oleh Menik.
Menik membuka matanya, menatap ke arah gundukkan tanah yang sudah terbuka lebar. "Yaelah, emang hantu gak bisa terbang ya? Cupu amat sih," kata Menik kepada Wati.
Wati yang berada di bawah berpikir sejenak lalu menganggukkan kepala. "Iya juga, ya. Ngapain aku repot-repot gali tanah terus manjat? Kan aku bisa terbang dan menembus apapun," Wati yang sadar akan kebodohannya segera terbang ke atas langit.
"Eh, kamu mau ke mana?! Aku belum ngasih perintah, tau!" teriak Menik dari bawah.
"Oh iya lupa. Maklum kelamaan tidur," ucap Wati sambil tersenyum cengengesan. Menampilkan gigi-giginya yang tak rata dan membuat wajahnya semakin menyeramkan. "Jadi apa yang kau inginkan hingga membuatku terbangun?" kata Wati sambil terbang rendah ke bawah.
"Aku ingin, Bright! Aku ingin ia jatuh cinta padaku!" perintah Menik kepada Wati.
"Baiklah," Wati mengangguk. "Berikan aku fotonya! Maka akan kubuat ia jatuh cinta kepadamu," Wati mengulurkan tangan-tangannya yang kurus ke arah Menik.
Menik lalu merogoh sakunya dan memberikan sebuah foto kepada Wati.
"Wah, tampan juga, ya. Mending untukku saja," kata Wati sambil menatap penuh binar ke arah foto di tangannya. Membuat Menik menatapnya tajam.
"Tenang saja aku hanya bercanda," ucap Wati sambil melambaikan tangan di depan wajahnya. "Apa yang kau berikan jika aku berhasil menemui Bright?" tanya Wati.
"Segalanya," ucap Menik mantap.
"Baiklah." Wati tersenyum mengerikan.
....
Di tengah hutan belantara terdapat rumah tua yang terbuat dari anyaman bambu. Duduklah seorang gadis tengil, dengan foto-foto di tangannya. Matanya menatap penuh binar ke arah foto-foto tersebut. Namanya Dewi. Ia tinggal sebatang kara di sini. Bersama temannya yang sudah mati, Whidie.
Whidie duduk di sampingnya sambil mengangkat satu kakinya. Bajunya putihnya compang camping. Kuku-kuku tangannya panjang, sepanjang setengah meter. Whidie tersenyum mengerikan sambil meletakkan salah satu ujung kuku panjangnya di atas foto yang Dewi pegang.
"Kau benar-benar menyukainya, hah?" tanya Whidie kepada Dewi. Dewi hanya menganggukkan kepalanya sambil bersemu merah.
"Siapa namanya?" tanya Whidie sambil menggores pelan foto di ujung kuku runcingnya.
"Bright," kata Dewi pelan.
"Aku bisa membuatnya menyukaimu, tapi dengan satu syarat," kata Whidie sambil tersenyum lebar dan mengerikan.
Dewi menatap Whidie sejenak. "Apa yang kau inginkan?"
"Kau harus berhenti menyimpan jasadku, dan segera memakamkannya," kata Whidie.
Dewi berpikir sejenak lalu menganggukkan kepala ragu-ragu.
....
[Di rumah kediaman Bright]
Bright tertidur dengan pulasnya. Lampu kamarnya sudah di padamkan. Suasana malam tiba-tiba terasa mencekam. Membuat Bright terbagun dari tidurnya. Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Ia merasa diawasi.
"Kenapa, sayang?" tanya Since, istrinya yang juga ikut terbangun.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa diawasi," kata Bright.
Since membuka matanya perlahan. Ia sebenarnya masih merasa mengantuk, tapi tampaknya suaminya itu sedang resah. Jadi, ia memegang tangannya untuk menenangkannya.
"Tenanglah, tak usah takut. Aku di sini," katanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Sedangkan di balik jendela rumah Bright nampak Wati dan Whidie yang mengintip sambil terbang bersisian.
"Wah, mereka romantis sekali," gumam Wati.
Whidie yang terbang di sampingnya ikut menganggukkan kepala setuju. "Iya juga, ya," gumam Whidie membuat Wati menolehkan kepala ke arahnya.
"Huaaa.... Setan!" teriak Wati ketakutan.
"Aaargghh...." Whidie berteriak tak kalah nyaringnya.
Teriakkan mereka membuat Since dan suaminya seketika merasa merinding. Mereka menolehkan kepala ke arah jendela yang sekarang sudah terbuka lebar. Gordennya pun sudah berterbangan terkena hembusan angin.
"Bukankah jendela itu tadi tertutup?" gumam Since takut-takut.
Since dan Bright mendekat ke arah jedela, sambil mengenggam tangan satu sama lain. Bertukar keberanian. Mereka mengintip ke luar jendela. Akan tetapi, tak ada siapapun di baliknya. Mereka pun buru-buru menutup jendela itu.
Sementara Wati dan Whidie sedang bertarung di atas langit. Adu kekuatan. Mereka saling menjabak, saling mencengkram dan saling mencekik. Hingga akhirnya mereka berdua tersadar. "Buat apa kita berkelahi?" tanya Whidie.
"Aku juga tidak tau," Wati mengangkat bahunya. "Sepertinya penulis cerpen ini tidak jelas. Buat apa ia menambahkan adegan perkelahian kita," imbuh Wati.
"Ya, dia memang tak jelas," Whidie mengangguk setuju.
"Lantas untuk apa, kau datang ke sini?" tanya Wati kepada Whidie.
"Aku ingin menjodohkan lelaki yang berada di balik sana dengan temanku," jawab Whidie.
Wati menganggukkan kepalanya. "Dukun Somplak yang membangkitkanku juga meminta hal serupa, tapi sudahlah. Kau bisa mengambilnya. Lagi pula aku tak pernah mengatakan kepada Dukun somplak itu, bahwasannya aku akan membuat lelaki tampan itu jatuh cinta kepadanya. Aku hanya bilang akan menemukannya. Jadi, misiku sudah selesai dan aku akan kembali. Kau bisa mengambil laki-laki itu untuk temanmu," kata Wati kepada Whidie.
"Baiklah. Terima kasih," Whidie melambaikan tangan ke arah Wati yang sudah terbang menjauh.
Whidie lalu terbang ke bawah, ke arah rumah Bright. Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya menjadi cahaya dan hilang perlahan.
....
Di kuburan tampak Menik yang masih menunggu kembalinya Wati. Ia tertidur pulas hingga air liurnya mengalir membentuk anak sungai.
"Hai, Menik! Aku sudah menyelesaikan misiku," bisik Wati di telinga Menik.
Menik tersentak dan terbangun. "Benarkah?" katanya. Binar bahagia memenuhi matanya. "Apakah sekarang ia sudah mencintaiku?"
"Aku tidak pernah bilang, akan membuatnya jatuh cinta kepadamu. Aku hanya bilang akan menemukannya. Misiku sekarang sudah selesai dan aku ingin bayaranku sekarang!" kata Wati sambil tersenyum mengerikan.
Menik bengkit dari duduknya ketakutan. Ia berjalan mundur hingga tersandung da jatuh. Masih dengan usahanya menjauh dari Wati, ia melempar apa pun yang berada di dekatnya. Seperti batu atau pun ranting pohon. Akan tetapi, semua itu percuma karena pada akhirnya apapun yang dilemparkannya akan menembus tubuh Wati dan tak akan melukainya. Bagaimana bisa ia melukai orang yang sudah mati.
Wati semakin mendekat ke arahnya dan meletakkan tangan-tangan dinginnya di leher Menik. "Aku ingin nyawamu sebagai bayarannya. Ha... ha... ha...," tawa Wati memenuhi malam. Sementara tangannya mencengkram kuat leher Menik. Membuat Menik tak lagi bisa bersuara dan akhirnya kesadarannya hilang ditelan kegelapan.
....
Sementara di rumah anyaman bambu milik Dewi, para warga berbondong-bondong membawa obor memasuki rumahnya.
Mereka menggeledah rumah Dewi untuk mencari mayat seorang gadis. Tidak sulit menemukan mayat gadis tersebut, karena Dewi menidurkan mayat temannya itu di atas kasur miliknya.
Para warga pun akhirnya membawa mayat Whidie dan menguburnya. Sementara Dewi di bawa oleh salah satu warga untuk diantarkan ke rumah sakit jiwa.
Malam itu, Dewi tak melawan mau pun meronta. Ia tak mengerti apapun yang di bicarakan oleh orang-orang yang tiba-tiba menghampirinya tersebut. Akan tetapi, satu hal yang ia ketahui, ia tak akan pernah bertemu dengan Whidie lagi. Air mata perlahan menetes membasahi pipinya. Ia belum mengucapkan salam perpisahan.
....
Akhirnya Since hidup bahagia selama-lamanya bersama suaminya.
End/Selesai.