Akhir-akhir ini ramai yang ikutan latah mengikuti trend. Tak ketinggalan juga bu Siti, apapun yang menjadi trend pasti ia ikuti. Bu Siti adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak yang sudah memasuki Sekolah Dasar dan seorang lagi Sekolah Menengah Pertama. Ia sangat menyukai tanaman hias. Bukan sembarang bunga tetapi bunga yang nggak ada bunganya. Nah loh?
Bunga yang ditanamnya adalah jenis keladi-keladian. Nggak ada bunganya tapi menjadi favorit disetiap kalangan. Hal ini disebabkan oleh tingginya harga bunga keladi di pasaran. Siapa yang menyangka bahwa bunga keladi bisa dihargai ratusan ribu bahkan puluhan juta. Bayangkan! Bukankah menggiurkan? Apalagi bisa dijual dengan harga fantastis sementara bu Siti bisa dengan mudahnya mengumpulkan tanaman tersebut dari hasil ngebolang keluar masuk hutan.
"Bu, udahan yuk. Panas nih!" Teriak si sulung yang menjadi korban "menemani" ibunya ngebolang di hutan.
"Sedikit lagi!" Teriak ibunya. "Nah, dapat!" Teriaknya penuh kesenangan. Lalu ia keluar dengan berbagai macam bunga aneh menurur anaknya.
"Ngambil bunga kok di hutan sih buk" Protes si sulung yang bernama Sinta.
"Udah jangan protes. Lumayan ini duitnya. Kan katanya mau beli baju" Ujar ibunya penuh senyum dan menyerahkan berbagai macam bunga. Ada yang berdaun lebar, berdaun panjang, berdaun gelombang. Anehnya satupun nggak ada bunganya. Sinta mengangguk terpaksa sambil menyeka keringatnya.
***
"Bu, kami beli yang keladi wayang, aglonema dan kaktus ya..." ucap seorang ibu menunjuk bunga yang terpajang rapi dan penuh di halaman rumah bu Siti. Dengan penuh semangat bu Siti memasukkan bunga yang sudah diberi pot kedalam kantong kresek.
Tak lama si ibu pembeli sudah berlalu dengan tiga pot bunga. Sinta geleng-geleng kepala. Bunga yang mereka temukan di hutan beberapa waktu lalu juga terjual. Terlihat bu Siti mengibaskan uang lembaran merah dan biru di depan Sinta.
"Jadi mau belanja baju?" Tanya si ibu penuh godaan. Sinta mengangguk penuh semangat. 'Lumayan' pikirnya.
***
Siang itu Sinta pulang sekolah. Tumben dilihatnya sang ibu cemberut duduk di teras rumahnya. Ada apakah gerangan?
"Kenapa bu?" Tanya Sinta.
"Suatu saat, kalau Sinta nggak sama ibu. Tolong bantu ibu rawat tanaman ini semua ya" Jawab bu Siti lesu. Sinta melongo.mendengar penjelasan ibunya.
"Emang ibu mau kemana?" Tanya Sinta.
Mendengar pertanyaan Sinta membuat bu Siti menangis. Air mata mengalir deras di kedua matanya. Sinta urung masuk kedalam rumah. Ia memilih menemani ibunya duduk di teras dan mencari tau ada apa sebenarnya.
"Tanya aja sama bapakmu, ibu nggak kuat!" Kata bu Siti lalu menangis sesenggukan. Sinta tak berani bertanya lagi. 'Kasihan ibu' pikirnya.
***
Sore itu Sinta berjingkat-jingkat menuju taman mini di belakang rumahnya. Ia melihat kelakuan aneh sang bapak. Bapaknya segera berlalu dari ruang keluarga ketika akan mengangkat telpon.
"Iya, jangan dibawa sekarang ya..."
"....."
"Nanti ketahuan istri saya. Nanti saja jandanya biar saya jemput sekalian kasih surprise untuk istri. Biar dia kaget" Bapaknya terkekeh bahagia saat menjawab telpon
"....."
"Baik, terimakasih yaaaa. Ingat jangan bilang-bilamg dulu ya" Ucapnya sesaat sebelum mematikan ponselnya.
Ternyata benar, inilah yang membuat ibunya menangis pilu saban hari di taman. Meratap melihat bunga-bunga yang sedikit sekali bunganya. Lebih banyak daunnya, ijo royo-royolah pokoknya.
Sinta pun menjadi tak suka melihat kelakuan ayahnya yang terang-terangan akan membawa seorang janda ke rumah ini. Sinta tak akan mau memiliki ibu baru. Ibunya cuma satu bu Siti. Titik. Meskipun kadang memiliki kelakuan absurd tapi bu Siti sangat pandai mencari uang. Lumayan untuk uang jajan dan baju baru incarannya.
Sinta segera melaporkan kejadian barusan pada ibunya yang sedang asyik menonton berita gosip di televisi.
"Bener bu, bapak mau bawa janda kesini. Ke rumah kita. Sinta nggak mau punya ibu baru!" Sinta mengadu
"Jadi bener bapak mau bawa janda itu kerumah kita? Benar-benar bapakmu itu, nggak ingat umur. Udah tua masih juga keganjenan nyari-nyari janda!" Ucap ibunya berapi-api.
Tak lama si bapak masuk sambil tersenyum melihat ibu dan anak perempuannya sedang ngobrol.
"Dimana Dimas?" Tanya bapak
"Main di luar!" Ucap bu Siti ketus. Si bapak tidak terpancing, malah dengan wajah penhh senyuman melenggang keluar rumah.
"Bapak mau kemana?" Tanya Sinta.
"Mencari angin segar atau.... sesuatu yang baru mungkin?" Jawab bapak sambil mengedipkan sebelah matanya. Sinta merinding, sementara bu Siti melotot kearah suaminya.
Hingga malam, si bapak tak juga kunjung pulang. Bu Siti semakin cemas. 'Pasti dia kerumah janda itu!' Batin bu Siti. Semakin gemas rasanya, karena bu Siti belim mendapatkan informasi janda man yang didatangi suaminya. Seandainya ia tahu, maka ia akan gerebek sendiri mereka berdua. Akan di jambak dan di cakar wajah si janda itu. Berani-beraninya menggoda suaminya yang sudah tua itu.
Akhirnya pukul 21.00 si bapak pulang dengan senyuman.
"Dari mana kamu?" Tanya bu Siti tanpa menjawab salam dari si bapak.
"Dari rumah Kardi" Jawabnya singkat dan masih tetap tersenyum. Lalu ia masuk ke kamar. Samar-samar tercium aroma parfum wanita. Semakin menambah kecurigaan bu Siti.
"Ya Allah, selama ini aku setia. Selama ini aku ikut membantu imamku mencari tambahan rejeki halal. Apakah ini balasannya? Aku tak tahu harus bagaimana untuk.selanjutnya. Jujur alu belum siap berpisah, apalagi sampai di madu" Ujar bu Siti sambil berderai air mata. Ia segera menghapusnya, lalu menyusul suaminya ke kamar. Suaminya langsung tidur, terdengar suara ngorok halus.
"Apakah kamu kelelahan bersama janda itu?" Bisik bu Siti sambil memegang dadanya. Nyeri disana, seperto ditusuk ribuan jarum. Besok ia berniat akan memata-matai suaminya. Tekadnya sudah bulat. Semua ini harus dihentikan sebelum semua terlanjur jauh.
***
Keesokan harinya, dilihatnya si suami sudah berdandan rapi dan sedang menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya. Membuat bu Siti bersin-bersin. Aromanya menyengat sekali. 'Aaaah semakin tampan saja suamiku' batin bu Siti melihat penampilan suaminya berkemeja dan bercelana ala orang kantoran. Tak lupa juga sepatu pantoefelnya
"Mau kemana?" Tanya bu Siti merengut. Masih diatas tempat tidur, belum mandi dan belum.membuat sarapan.
"Mau kerja dong" Jawabnya sambil tersenyum.
"Hari ini aku nggak masak, nggak buatin bekal dan sarapan" Ucap bu Siti sengaja ia mogok semua agar si suami perhatian padanya.
"Nggak apa-apa. Nanti di tempat kerja ada tukang jualan baru. Masakannya enak-enak. Kamu mau aku beliin? Pasti enak" Kata si suami panjang lebar.
"Nggak!" Ucapnya tegas. Si suami tersenyum berbalik.
"Ya udah, gak apa-apa. Padahal mbak nya baik. Suka ngasih diskonan loh" Kata si bapak.
"Oooh jadi karena ada dia, terus aku nggak masak nggak apa-apa. Besok-besok nggak nyuci, nggak ngapa-ngapain ada dia disini yang ngerjakan semua? Iya?" Kata bu Siti dengan nada tinggi. Si bapak mengerutkan alis.
"Aah kamu, pikirannya macam-macam. Mandi sana. Bau asem. Kalah sama tukang jualan, Subuh-subuh udah pada mandi" Jawabnya santai. Bu Siti semakin merasa terbakar.
"Oooh.... gitu? Ya udah sana, kamj sama tukang jualan aja. Yang pinter masak, yang ramah yang suka kasih senyuman. Di layani baik-baik" Kata bu Siti.
"Lah kan bener bu, coba liat matahari udah tinggi. Aku mau berangkat kerja kamu masih bau naga" Canda si suami. Bu Siti semakin marah.
"Aku ikut kamu kerja!" Teriak bu Siti. Suaminya melongo. Dan bersikeras agar bu Siti tidak ikut. Lalu ia melajukan motornya buru-buru menghindari rengekan istrinya yang tiba-tiba kelewat sensi dan mudah marah. Apakah si istri sudah memasuki masa PMS? Bisa gawat kalau iya.
***
Bu Siti uring-uringan seharian. Ia juga mendadak berdandan setelah mandi pagi. Biasanya boro-boro mandi pagi. Pagi sampai menjelang siang ia akan disibukkan merawat tanaman hiasnya. Membuang daun yang mulai layu dan kekuningan atau memangkas atau memindahkan ke pot lain yang lebih besar. Tapi tidak kali ini.
Sejak pagi yang ia lalukan selain berdandan juga mondar-mandir di rumahnya. Ia bingung bagaimana langkaj awal agar bisa memata-matai suaminya. Ketempat kerjanya jelas tidak mungkin. Semua di pagar dan akan di cek jika ingin masuk apalagi dirinya masuk tanpa alasan. Jelas akan di tolak si satpam.
Siang hari, bu Siti mendengar orang berbicara di halaman rumahnya.
"Iya, tunggu dulu. Nanti ketahuan, kamu pegang dulu janda itu. Nanti jika sudah siap, kamu bawa kesini ya" Terdengar perintab suaminya. Ooooh ternyata suaminya akan mengenalkan si janda itu dengannya. Ia harus siap dengan kondisi apapun. Untung ia tadi berdandan, maka ia tak akan merasa jelek dimata pelakor itu.
"Bu, sini aku punya kejutan!" Teriak suaminya sambil masuk kedalam rumah. Dilihatnya si istri sedang duduk berpangku tangan.
"Aku sudah tau, bawa dia!" Perintab bu Siti tegas.
"Ka... Kam... Kamu udah tau?" Tanya suaminya.
"Bawa dia, atau aku sendiri yang kesana?" Ancam bu Siti
"Oke-oke. Sebentar. Kar, bawa masuk aja kata istriku!" Teriak si suami.
Berani-beraninya Kardi bersekongkol dengan suaminya untuk membawa janda itu kerumah ini.
"Ketahuan ya?" Tanya Kardi tertawa.
"Hahahaha iya Kar, nasib. Nggak bisa bikin kejutan" Jawabnya santai. Kardi masuk sambil membawa pot bunga putih cantik dan tanaman hias terbaru. Daunnya bolong. Bu Siti melongo.
"Jadi, maksud kamu janda itu tanaman ini? Janda bolong?" Tanya bu Siti. Suaminya mengangguk.
"Kamu kira apaan?" Tanya suaminya. Bu Siti menggeleng tersipu malu. Akhirnya suaminya paham mengapa beberapa hari ini istrinya marah-marah dan cemburu. Sepertinya ada salah paham.
"Tapi yang kamu pulang semalam, wangi parfum cewek baru, itu siapa?" Tanya bu Siti.
"Oh iya Kar, keluarin kadonya!" Perintah sang suami. Kardi mengambil bungkusan di motornya. Ternyata isinya parfum 1 set untuk istrinya.
"Kardi sekarang bisnis parfum, sekalian aku beli aja. Nih, selamat ulang tahun ya bu." Kata Suaminya menyerahkan parfum tersebut.
"Aku ulang tahun?" Tanyanya, Suaminya mengangguk, dia benar-benar lupa bahwa hari ini tanggal kelahirannya.
"Tadinya aku mau kasih surprise tanaman baru yang lagi booming juga eeeh malah ketahuan sama ibu" Kata suaminya sambil terkekeh. Olala... Ternyata janda yang dimaksud sang suami adalah tanaman jenis baru, yaitu tanaman janda bolong.